
Selepas kepergian Hua Ren, Yao Han menemui Shenghao, Honghao, dan Bolang lalu mengatakan dirinya akan mengurung diri semalaman. Ketiga orang itu mengangguk mengerti dan mengira Yao Han ingin menjalani latihan tertutup sejenak.
Perkiraan mereka memang tidak salah. Yao Han tidak ingin menunda terlalu lama untuk menaikkan praktiknya. Selepas memasuki sebuah kamar kecil dan menutup pintu, Yao Han pergi ke Dimensi Pagoda dan disambut kedua gurunya.
Yao Han khawatir saat dirinya berhasil mencapai Ranah Dasar tingkat tujuh belas, akan muncul fenomena pilar cahaya menjulang ke langit. Dia juga tidak ingin praktiknya yang sebenarnya diketahui oleh Shenghao dan yang lain, sehingga mau tidak mau Yao Han berlatih di Dimensi Pagoda.
Dikarenakan kepadatan Qi Dimensi Pagoda yang lebih tipis daripada Kota Bukit Bunga, Yao Han memutuskan mengonsumsi pil untuk menaikkan praktik. Sesuatu yang hampir tidak pernah di lakukan karena biasanya dia menyerap Qi secara alami.
Pil yang dia konsumsi bukan yang biasa digunakan untuk kultivator Ranah Dasar, melainkan Ranah Pondasi bahkan Ranah Inti. Dikarenakan kondisi tubuhnya, kebutuhan Qi untuk kenaikan praktik Yao Han jauh lebih besar dibandingkan sesama kultivator Ranah Dasar.
Kurang lebih setengah jam sejak Yao Han menelan dua puluh pil secara bersamaan dan dilanjutkan dengan berlatih, dari tubuhnya memancarkan cahaya biru keemasan terang menyilaukan dan Qi yang besar.
Meirong dan Yutian tersenyum lebar melihat keberhasilan Yao Han memasuki Ranah Dasar tingkat tujuh belas untuk akar roh unsur api miliknya. Tidak berhenti sampai disitu, Yao Han terus saja berlatih untuk meningkatkan akar roh yang lain.
Setelah menelan puluhan pil dan menghabiskan kurang lebih delapan jam berikutnya, Yao Han berhasil membuat kelima akar roh murni miliknya berada di puncak Ranah Dasar tingkat tujuh belas.
"Sepertinya kekhawatiran Yao Han tidak terjadi." Meirong berkomentar dijawab anggukan pelan Yutian.
Bagi orang lain, latihan yang dijalani Yao Han sangat beresiko membuat praktik menjadi rapuh, tetapi hal itu tidak terlalu berlaku bagi dirinya. Selama beberapa waktu berikutnya, Yao Han menstabilkan praktik dan mencoba terbiasa dengan kekuatan baru yang dia capai.
Saat membuka mata, Yao Han melihat Meirong didekatnya dan mengelus kepalanya dengan lembut sambil tersenyum manis. Tidak ada yang lebih dibanggakan Meirong selain memiliki murid super langka dan ajaib seperti Yao Han.
"Selamat Han'er, kau memang hebat."
"Terima kasih, Guru Hong." Yao Han membalas senyum Meirong.
Wanita cantik itu juga tidak ingin kalah dengan muridnya. Bersama dengan Yutian, Meirong berlatih menggunakan tanaman sihir yang diberikan oleh Feng Xian pada mereka. Praktik kedua guru Yao Han itu hanya sedikit lagi mencapai Ranah Inti Emas tahap puncak.
Yutian mengusulkan untuk merayakan keberhasilan Yao Han menaikkan praktik dengan pesta minum Arak Persik Bulan, Meirong sempat berdecak pelan karena Yutian seolah mengajarkan Yao Han menjadi peminum di usia muda. Namun, Arak Persik Bulan berbeda dari jenis arak lain karena tidak memabukkan, bahkan berkhasiat meregenerasi luka dan mengembalikan Qi yang hilang, sehingga Meirong pun membiarkannya.
Yao Han menyajikan Teh Rumput Perak untuk Meirong serta Arak Persik Bulan untuk Yutian dan dirinya sendiri. Yao Han tidak langsung kembali ke kamarnya karena merasa sudah cukup lama tidak berkumpul dengan gurunya. Sambil minum arak, Yao Han sesekali memperhatikan kebun kecil tidak jauh dari ketiganya.
Jika Feng Xian memiliki kebun tanaman sihir pribadi disamping kediamannya, Yao Han juga memilikinya di Dimensi Pagoda. Hanya saja, waktu panen tanaman sihir yang ditanam Yao Han jelas jauh lebih lama dibandingkan jika dia menanamnya di Pulau Bulan Bintang.
"Han'er, sudah cukup lama kami memberimu sari darah kami, sampai kapan kau menunggu menyerapnya?" tanya Meirong membuat Yao Han mematung sejenak sebelum menghela napas panjang.
Yao Han memunculkan dua botol kaca. Masing-masing berisi cairan berwarna merah keemasan dan hijau giok abu-abu dalam jumlah kecil. Kedua cairan ini tidak lain adalah sari darah yang dimaksud Meirong.
"Entahlah, Guru Hong... murid tidak yakin..." Yao Han menghela napas lagi.
Sari darah merupakan bagian darah termurni yang dimiliki hewan roh dan siluman. Setiap sari darah memiliki khasiat berbeda-beda tergantung tingkat maupun jenis hewan roh dan siluman, tetapi yang paling umum berguna meningkatkan kekuatan fisik kultivator sampai beberapa kali lipat.
Beberapa bulan setelah mencapai Ranah Inti, masing-masing dari Meirong dan Yutian memberikan tiga tetes sari darah mereka. Pertama kali saat menerima sari darah kedua gurunya, Yao Han terguncang dan menolak keras untuk menyerapnya.
Yao Han memahami jika sari darah hewan roh dan siluman juga sebagai penanda bahwa mereka akan menjalin kontrak darah dengan kultivator. Efek sampingnya, jika kultivator mati maka hewan roh atau siluman tersebut akan mati, tetapi tidak berlaku sebaliknya.
Dalam dunia kultivator, ada beberapa kultivator yang menyadari bahwa kontrak darah ini menciptakan ketidakadilan bagi hewan roh atau siluman yang menyerahkan sari darah mereka.
Hal yang sama terjadi pada Meirong dan Yutian. Namun kondisi mereka pulih cukup cepat karena Feng Xian membantu keduanya mencarikan tanaman sihir yang berguna memulihkan sari darah mereka. Menurut Feng Xian, andai di Pulau Bulan Bintang terdapat tanaman sihir bernama Pohon Naga Langit, mereka bisa memanfaatkan buahnya untuk mengembalikan kondisi keduanya jauh lebih cepat.
Yao Han jelas tidak mau menjadikan kedua gurunya sebagai 'budak' setelah menyerap sari darah mereka. Meirong dan Yutian memahami penolakan Yao Han dan terharu melihat murid mereka begitu berbakti. Namun mereka memberikannya sari darah hanya karena ingin Yao Han menjadi kultivator yang lebih kuat, setidaknya jiak dibandingkan dengan kultivator muda yang satu generasi dengannya.
Feng Xian ikut menjelaskan bahwa Meirong dan Yutian sepertinya tidak akan menerima efek samping seperti kontrak darah karena sejatinya Meirong dan Yutian tidak 'terlahir' sebagai hewan roh. Namun begitu, sampai berbulan-bulan Yao Han hanya menyimpan dari darah kedua gurunya dan menunggu waktu yang tepat.
"Masih tersisa beberapa jam lagi menjelang pagi, waktu yan kau punya lebih dari cukup untuk menyerap sari darah kami."
Meirong berusaha membujuk Yao Han dengan halus karena mengetahui Yao Han keras kepala dalam hal yang sedikit atau banyak bertentangan dengan hati kecilnya.
"Guru Hong, Guru She... murid berjanji akan rajin berlatih dan menjadi murid yang membanggakan para guru..."
Yao Han tiba-tiba bersujud di hadapan Meirong dan Yutian, membuat keduanya saling berpandangan dan tersenyum tipis.
"Kau akan selalu menjadi murid yang membanggakan kami, Han'er." Meirong mengelus lembut rambut Yao Han. Muridnya itu akhirnya memutuskan menyerap sari darah yang mereka berikan.
Yao Han kemudian menjauh tiga langkah dan duduk bersila. Terlebih dahulu Yao Han menyerap sari darah Feniks yang berwarna merah keemasan. Anehnya, setiap sari darah Feniks yang diserapnya berbeda saat dia menelan beberapa tetes air mata Feniks yang langsung meningkatkan suhu tubuhnya.
Yao Han bisa merasakan khasiat setelah menyerap habis sari darah Feniks. Kemampuan regenerasinya meningkat beberapa kali lipat begitupun dengan energi kehidupannya.
Selanjutnya Yao Han menyerap sari darah ular giok milik Yutian. Khasiat yang dirasakan Yao Han adalah tubuhnya menjadi lebih kebal terhadap racun, kulitnya terasa keras, dan pori-pori tubuhnya terbuka seolah menyerap Qi secara perlahan dengan sendirinya tanpa dia harus berlatih.
"Coba kau munculkan bola api dengan ukuran kecil."
Yao Han menuruti Meirong dan yang mengejutkannya warna bola api ditangannya menjadi berwarna merah keemasan. Apinya sekarang menjadi Api Feniks seperti Meirong.
"Butuh beberapa waktu sampai kau terbiasa dengan api itu. Sementara ini, kau baru bisa menggunakan Api Feniks untuk menyerang lawan."
Yao Han mengangguk penuh antusias. Dirinya tidak sabar menggunakan Api Feniks sebagai media penyembuhan juga.
"Terima kasih, Guru..." Yao Han dengan cepat mendekati Meirong dan memberikan pelukan erat. Meirong tertawa pelan dan membalas pelukan Yao Han tidak kalah eratnya.
"Ehem... apa kau tidak ingin memeluk gurumu yang tampan ini, Han'er?"
Yao Han sedikit melirik Yutian, "Maaf, Guru She, aku masih normal..."
Yutian berdecak pelan dan melampiaskan sedikit kekesalannya dengan minum Arak Persik Bulan.
Catatan:
Sari Darah adalah padanan kata yang digunakan author untuk menggantikan kata "Blood Essence".