Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 132 - Undangan Pernikahan



Sekedar mengingatkan, jadwal update novel ini memang tidak menentu. Suka tidak suka, kalian harus menerima (kemalasan) Author yang tidak (bisa) update tiap hari pada jam yang telah ditentukan.


Jangan lupa like sebelum atau setelah membaca.


*


Pada saat Chu Zi mendengar dari salah satu penjaga kediamannya tentang kedatangan seorang pemuda yang mengaku sebagai tabib dan ingin membantu menyembuhkan anggota keluarganya yang sakit, awalnya dia tidak percaya dan keheranan.


Namun penjaga itu mengatakan sesuatu yang menarik perhatiannya dan membuat Chu Zi mendatangi pemuda yang dimaksud didepan rumahnya.


Dalam benak Chu Zi setelah mendengar cerita salah satu penjaganya itu dan melihat langsung sosok pemuda yang dimaksud, dia merasa ragu dengan kemampuan pengobatan Yao Han.


Baru setelah melihat cara penyembuhan Yao Han yang tidak biasa dan melihat kondisi anggota keluarganya yang sembuh dalam waktu singkat, Chu Zi terkagum-kagum dengan kemampuan pengobatan Yao Han dan sikap meremehkan itu akhirnya menghilang.


Jawaban Yao Han atas pertanyaan Chu Fang itu membuat Chu Zi tersedak dan terbatuk-batuk. Sedangkan Chu Fang dan Chu Fu menahan napas kaget. Ketiga perempuan keluarga Chu kebingungan bereaksi karena tidak memahami situasinya.


"Kau seorang alkemis, Tabib Yao?!"


Yao Han mengelus dagunya, "Ya, singkatnya begitu."


"Eh? Kenapa kau menjawab begitu?"


"Hm, aku mendalami cukup banyak bidang ilmu, salah satunya alkemi. Jadi bisa dibilang aku ini alkemis."


Xu Yin meliriknya sedikit, 'Berapa banyak ilmu yang dipelajari sampai kebingungan menentukan apakah dia alkemis atau bukan?'


"Kediamanku sungguh diberkati langit dengan kedatangan alkemis semuda dirimu, Tabib Yao. Bukankah pil yang kau berikan itu adalah pil kualitas sempurna? Kau sungguh hebat bisa membuatnya." Chu Zi tersenyum lebar, sementara Chu Fang dan Chu Fu menatapnya dengan kagum.


Belum sempat Yao Han menanggapi, suara tawa cekikikan Xu Yin terdengar. Yao Han dan lainnya mengarahkan pandangan mereka pada gadis cantik itu.


"Apa ada yang lucu?" tanya Yao Han.


"Tentu saja ada. Mereka sudah begitu kaget mengetahui kau seorang alkemis. Mungkin mereka akan pingsan jika mengetahui kau bukan sekedar alkemis, tetapi juga murid Senior Angin Timur," jawab Xu Yin menyeringai di balik cadarnya.


"Angin Timur?!"


Benar saja tebakan Xu Yin, reaksi Chu Zi dan dua anaknya begitu keras saat mendengar nama Angin Timur. Mereka menjerit tertahan dan menatap Yao Han seperti hantu. Reaksi itu membuat tiga perempuan keluarga Chu memandang Yao Han sebagai orang paling istimewa yang pernah mereka temui.


Sulit untuk tidak mengetahui tentang Angin Timur. Terlepas sulit ditemui dan sifatnya yang dikenal secara umum, nama itu begitu terkenal khususnya di wilayah Negeri Hutan Hijau.


Ratusan tahun nama Naga Selatan selalu dikenang karena jasanya menghabisi siluman berbahaya, terutama Raja Siluman, tetapi setelah peristiwa mengejutkan dua puluh tahun lalu, giliran nama Angin Timur melekat dibenak hampir seluruh manusia Negeri Hutan Hijau karena menghentikan perang besar dunia kultivator terakhir.


"Kau murid Angin Timur?! Jadi kau yang disebut Tabib Teratai Biru?!" Suara Chu Zi bergetar bahkan anehnya wajahnya memucat.


Yao Han menggaruk pelipisnya, "Ya, guruku dijuluki Angin Timur. Dan... apa itu tadi? Tabib Teratai Biru? Itu julukanku? Aku baru tahu mendapat julukan seperti itu."


Chu Zi dan dua anaknya, begitu juga Xu Yin mengerutkan dahi dan menatap Yao Han dengan pandangan aneh, "Tabib Yao, bagaimana bisa kau tidak mengetahui julukanmu sendiri?"


Chu Zi menjelaskan kemunculan kembali Angin Timur sudah terdengar di seluruh Negeri Hutan Hijau, bahkan mungkin seluruh Benua Bulan Biru. Tidak lama setelah kabar itu, ada kabar lain tentang murid Angin Timur yang dijuluki sebagai Tabib Teratai Biru sedang berkelana di Negeri Hutan Hijau.


"Hm, begitu rupanya." Yao Han mengangguk pelan, reaksinya terlihat biasa saja.


Chu Zi entah harus senang atau menangis karena kediamannya kedatangan orang yang begitu penting. Jika hal ini diketahui orang lain, maka nama keluarganya akan terangkat menjadi lebih tinggi dan mendapat kemuliaan yang berlangsung lama.


"Sebuah kehormatan bagi keluarga kami atas kedatanganmu, Tabib Yao." Chu Zi menangkupkan tangan dan memberikan hormat, yang diikuti anggota keluarganya lainnya.


Bukannya senang, Yao Han malah tersenyum kecut, "Paman Chu, kuharap Paman dan lainnya berhenti bersikap seperti itu. Aku akan senang jika Paman bersikap biasa saja. Karena kalau tidak, bisa jadi aku akan mengembalikan kondisi mereka yang sudah sehat seperti sebelumnya."


Chu Zi tersentak kaget, begitupun dengan yang lain. Dia buru-buru merubah sikap, "Tolong jangan lakukan itu, Tabib Yao. Baiklah, aku akan bersikap biasa saja."


"Biasanya orang akan senang mendapat penghormatan oleh orang lain, kenapa kau tidak?" celetuk Xu Yin, menyuarakan isi pikiran yang lain.


"Ah, kalau begitu aku bukan orang biasa." Yao Han menjawab ringan setengah jahil, "Tidak semua orang suka dihormati seperti itu, terlebih Paman Chu lebih tua dariku. Seharusnya aku yang memberi hormat."


Satu hal yang Chu Zi dan lainnya simpulkan, murid Angin Timur berbeda sekali dengan gurunya. Sikapnya ramah dan pembawaannya cukup tenang, serta rendah hati.


"Ngomong-ngomong kenapa aku dijuluki Tabib Teratai Biru? Apa mungkin karena bunga ini?" Yao Han mengeluarkan sebuah Bunga Teratai Biru. Aroma wangi dan pancaran aura sejuk dari bunga itu menyebar ke seluruh ruangan, "Julukan hanyalah julukan, tidak terlalu penting juga." Yao Han mengendikkan bahu ringan.


Gumamam pelan Yao Han itu membuat yang mendengarnya tersenyum canggung. Orang lain mungkin senang memiliki julukan yang terkenal, sepertinya tidak berlaku untuk Yao Han.


"Aku sudah menduga kau bukan orang biasa, Tabib Yao, ternyata memang benar dan bahkan jauh lebih besar dari dugaanku sebelumnya."


"Yang memiliki nama besar adalah guruku, jika dibandingkan dengan beliau, aku bukanlah apa-apa. Paman tidak perlu melihatku sebagai murid Angin Timur, aku lebih suka jika diperlakukan sebagai orang biasa."


'Bagaimana mungkin? Tetap saja statusmu sebagai murid Senior Angin Timur akan mengejutkan banyak orang. Mustahil ada orang yang masih melihatmu sebagai orang biasa setelah mengetahui latar belakangmu.' Xu Yin berkomentar dalam hati.


Jamuan makan telah selesai, sehingga mereka berbincang lebih leluasa. Yao Han berniat pamit dan ingin melanjutkan perjalanan. Namun Chu Fu membuat rencananya berubah.


"Tabib Yao, apakah perjalananmu begitu mendesak? Aku ingin mengundangmu sebagai tamu kehormatan di hari pernikahanku."


Tawaran dari Chu Fu itu adalah sebuah undangan pernikahan. Dengan kata lain, pemuda itu tetap melanjutkan rencana pernikahannya yang hampir saja tertunda.


Yao Han bisa melihat Chu Zi yang tidak berdaya sekaligus tidak tega untuk membatalkan rencana Chu Fu meskipun sebelumnya Yao Han mencurigai ada yang ingin mencelakai keluarga Chu sebelum hari pernikahan tiba.


Namun Yao Han tidak berhak mencegah, lagipula menurut penyampaian penghuni Dimensi Pagoda, kemungkinan masalah yang sepertinya akan mendatangi keluarga Chu bukanlah masalah besar, jadi Yao Han tidak perlu khawatir berlebihan.


Merasa sungkan setelah diberi tawaran demikian, Yao Han kemudian menerimanya. Chu Zi juga meminta Yao Han dan Xu Yin menginap di rumah mereka sambil menunggu hari pernikahan Chu Fu tiba.


 


Catatan Author:


Kalian bisa memberikan dukungan pada author dengan memberikan tips melalui web kar*ya*kar*sa.


**********.com/ Maswaw, hilangkan tanda spasi.