
Xiao Ni hanya diam saja memperhatikan interaksi Yao Han dengan dua Xu bersaudara itu. Sementara Yao Han sedikit banyak memahami alasan Xu Yun tidak ingin kembali ke sekte.
Gadis itu merasa bosan lama berada disekte dan ingin mencari pengalaman lebih banyak diluar. Namun Yao Han malas bepergian bersama dengan orang yang bisa mengurangi kadar kesabarannya.
"Ah, sampai mana pembicaraan kita tadi? Oh, soal pil..." Yao Han melanjutkan penyampaiannya pada Xu Yang, "Saudara Xu, dengan pil yang kuberikan padamu, kau memiliki peluang untuk menembus Ranah Dasar tingkat dua belas. Dan dengan semua keberuntungan milikmu dan usaha yang kau kerahkan, bukan tidak mungkin mencapai Ranah Dasar tingkat lima belas. Namun saat kau ingin membentuk pondasi, kecil kemungkinan untuk bisa membentuk Pondasi Langit, jadi kau hanya bisa membentuk Pondasi Bumi."
Yao Han merasa tidak terlalu yakin Xu Yang bisa membentuk Pondasi Langit. Xu Yang mungkin bisa melewati cobaan Api Pondasi saat proses pembentukan Pondasi Bumi, tetapi menghadapi cobaan Petir Surgawi yang mengerikan, meski dibantu oleh petinggi sekte, Xu Yang masih tidak cukup kuat untuk menahan sambaran dan menyerap kekuatan Petir Surgawi.
Mendengar hal itu, Xu Yang sebenarnya cukup kecewa, tetapi setelah dia pikir kembali, dirinya merasa sudah cukup beruntung masih bisa bertahan hidup dengan bantuan Yao Han.
Mencapai Ranah Dasar tingkat lima belas meski nantinya tidak bisa membentuk Pondasi Langit sudah sangat bagus untuknya. Jika memaksakan diri, ada kemungkinan dirinya akan berakhir tewas akibat tidak kuat menghadapi cobaan Petir Surgawi
"Baiklah, Saudara Yao. Terima kasih atas saranmu." Yao Han membalas dengan anggukan pelan.
"Kalian sudah selesai bicara?" Xiao Ni buka suara setelah merasa percakapan ketiga anak muda didekatnya selesai.
Yao Han menoleh ke arahnya, "Ya, Senior, ada yang ingin kau tanyakan?"
"Bisa kita bicara berdua saja?"
Yao Han bersama Xiao Ni kemudian meninggalkan dua Xu bersaudara, lalu pindah ke ruangan kosong lainnya.
"Ada apa, Senior?"
"Hm, tidak ada yang penting. Aku hanya ingin bertemu dengan Senior Bing." Xiao Ni tersenyum lebar.
Yao Han belum sempat menanggapi, saat semua penghuni Dimensi Pagoda menampakkan diri satu per satu, mulai dari yang pertama adalah Bing Lizi dan yang terakhir adalah Bo Lang yang dalam wujud manusianya.
Xiao Ni tersenyum lebar saat melihat Bing Lizi, "Senior Bing, senang bisa melihatmu lagi." Xiao Ni memberi salam hormat.
"Aku juga senang melihatmu lagi. Kau bertambah semakin kuat dari terakhir kali yang kuingat." Bing Lizi menghampiri Xiao Ni dan menepuk pundaknya beberapa kali.
"Meskipun aku semakin kuat, tapi aku belum bisa mengimbangi kekuatan para senior dalam kondisi puncak. Meskipun pada akhirnya aku harus terkejut karena Senior saat ini memiliki wujud lain sebagai hewan roh."
Bing Lizi menghela napas panjang, "Berakhir menjadi hewan roh tidak buruk juga, setidaknya aku masih bisa bertahan hidup. Dengan bantuan Xiao Han, mungkin aku bisa mengembalikan kekuatanku beberapa tahun lebih cepat."
"Kudengar wujud lain Senior adalah Kirin Es. Senior memiliki dua akar roh murni dan praktikmu sudah mencapai Ranah Inti, mungkin untuk mencapai Ranah Jiwa akan butuh waktu kurang dari sepuluh tahun. Lalu bagaimana dengan Senior Chen? Bukankah kalian pergi bersama waktu itu?"
Bagi Xiao Ni, sosok Chen Long sudah seperti sosok ayah karena menjadi penolongnya ratusan tahun lalu dan membawanya ke Pulau Bulan Bintang.
"Memang benar, entah dimana keberadaannya saat ini, tapi kemungkinan besar dia memiliki nasib yang sama sepertiku."
Xiao Ni mengelus dagunya, "Kalau demikian Senior Chen akan menjadi seekor naga seperti julukannya."
Keduanya lalu tertawa, kemudian Xiao Ni memperhatikan penghuni Dimensi Pagoda lainnya, "Serigala Malam, Raja Pedang Langit, Gerbang Racun, dan Dewi Pedang Api..."
Saat pandangannya mengarah pada Meirong, Xiao Ni memperhatikannya cukup lama, "Hm... Dewi Pedang Api atau Dewi Alkemi, wanita tercantik yang pernah dimiliki Benua Bulan Biru..."
"Terima kasih pujiannya, Senior."
Xiao Ni mengibaskan tangannya, merasa Meirong bersikap terlalu sopan padanya.
Sementara itu, Meirong dan lainnya berpikir dengan kekuatannya, Xiao Ni bisa menjadi hewan roh pelindung sebuah sekte bintang sepuluh sekalipun. Dan sepertinya dia menjadi pelindung Pulau Bulan Bintang selama ratusan tahun terakhir.
Yao Han yang saat itu berada disamping Meirong memasang senyum lebar, "Tentu saja, Senior. Aku beruntung memiliki guru cantik seperti Guru Hong."
Meirong mengelus lembut kepala Yao Han, "Semakin lama mulutmu semakin manis, ya Han'er."
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Guru Hong. Tidak ada perempuan yang lebih cantik dari guru."
"Itu karena kau belum pernah melihat perempuan cantik yang lain."
"Tapi aku yakin tidak ada yang secantik Guru Hong."
Meirong hanya tertawa kecil, entah merasa harus senang atau sedih mengetahui pola pikir murid satu-satunya itu.
Senyuman lebar Yao Han luntur saat Xiao Ni menyampaikan sesuatu padanya.
"Aku diminta Senior Feng mengambil Arak Persik Bulan darimu, apa kau memilikinya?"
Yao Han terbatuk pelan sebelum mengeluarkan beberapa guci Arak Persik Bulan yang dia buat jauh-jauh hari sebelumnya.
"Hm, lumayan banyak juga. Seharusnya Senior Feng tidak akan marah jika aku mengambil satu, bukan?"
Yao Han tersenyum kecut lalu berkomentar, "Guru Feng mungkin perlu mengganti julukannya dari Dewa Alkemi menjadi Dewa Arak."
Hanya Xiao Ni dan Bing Lizi yang tertawa terbahak-bahak, sementara yang lain tersenyum tipis. Berhubung ruangan itu sudah dipasang penghalang, suara tawa keduanya tidak sampai terdengar ke luar.
"Kurasa kau benar, tapi Senior Feng sepertinya harus bersaing dengan Senior Xi untuk mendapatkan julukan itu, mengingat Senior Xi lebih menggilai arak dibandingkan Senior Feng."
"Oh, benar juga. Guru Feng pernah mengatakan itu padaku."
"Ah, kebetulan kau menyebut tentang Saudara Xi, apa Saudara Feng sudah pergi mencarinya?"
"Belum, Senior. Lagipula kemana Senior Feng harus mencari? Petunjuk keberadaannya jauh lebih sulit karena dia menghilang lebih lama darimu dan Senior Chen."
Bing Lizi berdecak pelan, "Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Padahal aku sudah memberitahukan tempat kemungkinan Saudara Xi berada."
"Benarkah? Aku baru mengetahuinya. Senior Feng sibuk dengan kegiatan melukisnya, terkadang dia berlatih tapi lebih sering bersantai ria untuk mengisi waktu luangnya." Xiao Ni tidak melewatkan kesempatan menistakan Feng Xian, "Tempat apa yang kau maksud, Senior?"
"Lembah Petir Abadi."
Terdengar tarikan napas tertahan dari Meirong, Yutian, dan Tian Jian.
"Lembah Petir Abadi? Tempat itu terlarang karena sangat berbahaya, apa mungkin Senior Xi ada ditempat itu."
"Saat itu dia mengatakan ingin pergi ke tempat tersembunyi untuk meningkatkan kekuatannya dan berusaha menembus ke tingkat praktik yang lebih tinggi dari Ranah Jiwa. Mengingat kegilaan dan kenekatan Saudara Xi diatas kami bertiga, kurasa kemungkinannya cukup besar dia ada disana."
"Senior Xi sudah menghilang lebih dari seratus lima puluh tahun. Meskipun giok jiwanya masih menyala, dia bahkan tidak kembali ke Pulau Bulan Bintang dalam rentang waktu ini sampai sekarang."
Bing Lizi mengedikkan bahu ringan, "Aku hanya memikirkan satu tempat itu saja. Seandainya memang benar, pasti ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan disana dalam jangka waktu yang lama."