
Orang-orang yang berada di pelabuhan masih ada yang membicarakan Yao Han. Karena menunjukkan kemampuan berjalan diatas air danau, orang penasaran dengan identitas aslinya.
"Jika dia pendatang, harusnya dia tidak memasuki kota dari arah danau..."
"Kau benar, aku juga berpikir demikian. Jika dilihat dari arahnya datang, yang paling mungkin dia dari Pulau Bulan Bintang."
"Mustahil, Pulau Bulan Bintang sudah lama tidak terlihat. Setidaknya sudah sepuluh tahun ini... Lagipula hanya satu orang yang tinggal disana dan dia masih menutup diri."
"Heh, bukan tidak mungkin dia sudah membuka pulau kembali dan kita mengetahuinya."
"Anggaplah itu benar, lalu siapa anak muda itu? Muridnya atau anaknya? Sekilas aku melihat auranya seperti aura Angin Timur..."
"Murid atau anak... jika itu benar, pasti sebuah kabar yang sangat besar."
"Atau mungkin... dia bukan manusia. Bisa jadi dia siluman atau hewan roh yang menyamar."
"Bisa jadi, bisa jadi... Dia juga bertingkah aneh tadi saat sampai di daratan..."
"Hush, jaga ucapan kalian. Kita tidak tahu siapa dia dan bagaimana wataknya. Jika dia orang yang mudah tersinggung dan ternyata kuat, habislah riwayat kita..."
"Aish, kau ada benarnya. Lupakan saja dia."
Sementara orang-orang membicarakannya, Yao Han malah menikmati keramaian kota yang sudah lama tidak dia lihat dan rasakan. Meirong dan Yutian berdecak kagum dengan Kota Cahaya Bulan.
"Aku hanya pernah mendengarnya, ternyata lebih ramai dari yang kuduga..." gumam Yutian.
"Aku pernah kemari sekali, hampir dua puluh tahun berlalu, kota ini semakin ramai," sahut Meirong.
"Kau pernah? Ada urusan apa kau kesini?"
"Menikmati pemandangan danau tentu saja," jawab Meirong enteng.
"Ah, kukira kau ada urusan penting, ternyata bukan. Dasar aneh."
"Kau yang aneh, dasar ular jelek." Meirong mendengkus kesal.
Pada akhirnya keduanya berdebat tentang hal sepele dan Yao Han yang mendengar itu menghiraukan keduanya, lebih fokus pada apa yang dilihatnya.
"Jadi seperti ini kota kultivator..."
Yao Han beberapa kali mendengar cerita tentang kota kultivator, yang biasanya didirikan di tempat dengan kepadatan Qi yang cukup tinggi. Namun, jika membandingkan dengan Pulau Bulan Bintang, kepadatan Qi Kota Cahaya Bulan tidak seberapa.
Dalam perjalanan meninggalkan pulau, Yao Han bisa merasakan semakin jauh dengan pulau, maka ketebalan Qi semakin berkurang. Setidaknya, ketebalan Qi di wilayah danau yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari tepi pantai menyamai ketebalan Qi di Pulau Bulan Bintang.
"Kondisi Qi dikota ini mengimbangi tempat berdirinya sekte besar bintang tujuh sampai delapan sekalipun..." ujar Meirong.
Setelah puas mengamati dan cukup beradaptasi dengan kondisi sekitar, Yao Han mulai berjalan kembali dan mencari sebuah bangunan dari toko dagang kultivator terkenal bernama Toko Harta Giok.
Meirong berpikir ada beberapa hal yang berubah di kota tersebut, jadi dia tidak memberitahukan arah toko tersebut dan menyarankan Yao Han bertanya pada seseorang.
"Paman, maaf jika aku mengganggu, bisakah aku bertanya satu hal?"
"Oh, silahkan anak muda." Yang ditanyai Yao Han adalah pria yang tampak berusia empat puluhan tahun. Dia juga kultivator dengan praktik Ranah Dasar tingkat sembilan.
"Dimana letak Toko Harta Giok?"
"Terima kasih banyak Paman, ambillah ini."
"Eh, tidak perlu. Kau hanya bertanya, anak muda. Kurasa ini berlebihan." Pria itu menolak dengan halus saat Yao Han menyodorkan sebuah botol giok. Dia mengira Yao Han memberinya upah.
"Tidak masalah, Paman. Botol ini berisi pil untuk meningkatkan praktik. Pasti sangat berguna bagi Paman."
Mendengar ucapan Yao Han, pria itu tidak menolak lebih jauh. Sumber daya untuk kenaikan praktik sangat penting dan dia tidak merasa Yao Han sedang membohonginya.
"Kau begitu baik, anak muda. Aku terima pemberianmu."
Yao Han tertawa pelan kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan. Setelah Yao Han agak jauh, pria itu memeriksa isi botol.
"Ini..." Pria itu sangat kaget melihat pil yang memancarkan cahaya dan beraroma kuat. Dia buru-buru menutup botol agar tidak ada yang menyadari isi pil, "Pil yang bersinar... artinya kualitas sempurna... Siapa sebenarnya anak ini?" Pria itu sangat yakin Yao Han memiliki identitas tidak biasa.
Tidak butuh lama akhirnya Yao Han menemukan apa yang dia cari. Beberapa meter dihadapannya berdiri sebuah bangunan besar dan mewah. Pada papan namanya bertuliskan 'Toko Harta Giok' dengan warna emas.
Yao Han juga melihat ada dua penjaga pria didepan pintu masuk Toko Harta Giok dan keduanya sama-sama memiliki praktik Pondasi Bumi tahap puncak.
Setiap orang yang ingin memasuki toko ini dimanapun bangunan ini berdiri, diwajibkan membayar pajak masuk sebesar sepuluh batu roh kuning.
"Apakah ada yang salah denganku?" tanya Yao Han heran karena dua penjaga menatapnya cukup intens padahal dia sudah membayar pajak masuk.
"Ah, maafkan aku. Silahkan masuk." Yao Han mengangguk pelan lalu melangkah masuk.
Salah satu penjaga itu berbisik pada temannya, "Aura disekitarnya aneh. Seperti mengingatkanku akan seseorang..."
"Iya, aku juga merasakannya."
Yao Han disambut oleh seorang gadis berpenampilan rapi dan menarik. Dia adalah salah satu gadis pelayan yang bekerja di Toko Harta Giok.
"Selamat datang, Tuan Muda. Apakah ada yang bisa kubantu? Anda bisa menyebutkan barang yang dicari dan aku akan mengambilkannya." Gadis itu tersenyum manis dan dibalas senyum tipis yao Han.
"Maafkan aku, Nona. Aku kemari datang bukan mencari sesuatu. Ada seseorang menitipkan surat dan medali ini untuk diberikan pada orang yang memiliki jabatan paling penting di toko ini." Yao Han mengeluarkan dua benda yang dia maksud.
Gadis itu berusaha mencerna ucapan Yao Han, "Jabatan paling penting disini adalah manajer, yang bertugas mengelola toko dan setiap toko akan memiliki satu manajer."
"Ya, seperti itulah yang kumaksud."
Gadis itu melihat surat dan medali di tangan Yao Han, "Saat ini manajer kami sedang ada di ruangan. Tidak sembarang orang bisa bertemu langsung dengan manajer. Maafkan aku, Tuan Muda..." Gadis itu menunduk sedikit takut.
Sebelum Yao Han menanggapi, gadis itu bicara lagi, "Namun, Anda bisa menitipkan itu padaku dan aku akan mengantarkannya pada manajer. Jika tidak keberatan, Anda bisa menunggu sebentar disini."
"Oh, baiklah, tidak masalah."
Yao Han menyerahkan surat dan medali, lalu si gadis pelayan meninggalkan Yao Han yang mulai mengamati sekitarnya.
Sejauh yang dia ketahui, toko ini adalah bangunan paling mewah, mengalahkan bangunan terbaik Kota Bukit Bunga. Ada juga puluhan kultivator yang berbelanja tempat ini.
Kurang dari lima menit, seseorang menghampiri Yao Han dengan tergesa-gesa.
"Maafkan kami yang telah membuatmu menunggu, Tuan Muda. Ini sungguh sebuah kejutan. Mari ikut denganku ke ruanganku."
---