
Yao Han tidak langsung menjawab, melainkan diam sejenak sambil menatap lekat makhluk didepannya.
"Bukan maksudku bersikap tidak sopan, tetapi aku yang bertanya terlebih dahulu."
Ucapan Yao Han ditanggapi tawa pelan Kirin itu, "Anak muda, aku bisa melihat kau bukan orang jahat, tetapi sikapmu cukup baik. Aku bisa mengetahui nama lengkap Angin Timur karena aku mengenalnya dekat, setidaknya cukup dekat dibandingkan orang kebanyakan."
"Hm? Apa maksudmu? Aku pernah tinggal di Pulau Bulan Bintang selama beberapa tahun, tetapi belum pernah mendengar beliau bercerita memiliki kenalan hewan roh sepertimu."
Mata Kirin itu melebar, "Kau pernah tinggal dengan Angin Timur?! Anak muda, kau..." Suaranya mengandung keterkejutan.
Yao Han menghela napas, "Namaku Yao Han, murid Guru Feng Xian sang Angin Timur."
"Murid?! Kau murid Angin Timur?! Mustahil!" Kirin itu semakin terkejut bahkan suaranya meninggi, "Anak muda, jangan berbohong padaku."
"Kenapa aku berbohong padamu? Tidak ada gunanya. Sekarang katakan siapa kau sebenarnya?"
"Tunggu dulu, jika kau murid Angin Timur, tidak heran kau mengetahui tentang Empat Penjuru cukup banyak. Bisa kau menyebutkan nama lengkap mereka? Setelahnya aku akan menjawab pertanyaanmu."
Tanpa ragu Yao Han menjawab, "Guru Feng Xian sang Angin Timur, Leluhur Bing Lizi sang Es Utara, Leluhur Xi Lei sang Petir Barat, dan Leluhur Chen Long sang Naga Selatan."
Kirin itu terbatuk pelan, "Anak muda, selain gurumu, kenapa kau memanggil mereka leluhur?"
Yao Han menaikkan sebelah alisnya, "Usia mereka sudah begitu tua, mendekati seribu tahun, wajar jika aku memanggilnya leluhur, bukan? Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku." Yao Han menahan kesal.
Kirin itu menghela napas panjang, "Mungkin kau tidak akan mempercayainya, tetapi aku adalah salah satu orang yang baru saja kau sebutkan itu..."
Tepat setelah Kirin itu selesai bicara, tubuhnya memancarkan cahaya putih kebiruan. Kemudian terlihatlah sosok pria memakai jubah biru langit. Wajahnya tampan, ramah, dan penampilannya terpelajar seperti seorang sarjana.
"Aku adalah Bing Lizi. Orang-orang memanggilku Es Utara," ucap pria itu lalu tersenyum hangat.
"Leluhur Bing?! Kau Leluhur Bing?!" Yao Han terkejut, itu juga karena mendengar seruan Meirong dari Dimensi Pagoda.
"Dia terlihat seperti Senior Bing, aku masih ingat wajahnya meski terakhir bertemu lebih dari seratus tahun yang lalu!"
Bing Lizi terbatuk pelan, "Anak muda, berhentilah memanggilku leluhur. Kau bisa memanggilku Senior Bing."
Yao Han tersadar, kemudian berlutut dan membungkukkan badan, "Junior Yao Han memberi salam pada Leluhur Bing."
Bing Lizi terbatuk lagi dan lebih keras, "Anak muda, apa kau tidak mendengarkanku?"
"Leluhur Bing, Junior mohon maaf jika bersikap tidak sopan sebelumnya."
'Anak ini...' Bing Lizi sedikit geram, "Berhentilah memanggilku leluhur, panggil saja aku Senior. Apa aku terlihat begitu tua sampai dipanggil leluhur? Berdirilah, jangan bersikap seperti menyembahku."
"Ng... aku belum pernah memanggil orang lain dengan sebutan Senior. Apakah aku bisa memanggil anda Paman Guru Bing?" Yao Han berdiri perlahan.
"Hm? Kau pikir aku dan gurumu bersaudara? Tetapi ya sudahlah, jika itu membuatmu nyaman. Panggil aku Paman Guru. Setidaknya itu lebih baik daripada dipanggil leluhur." Bing Lizi menghela napas panjang.
"Paman Guru Bing, apa yang Anda lakukan disini? Kenapa anda menyamar menjadi seekor Kirin? Dan bukankah tingkat praktik Anda seharusnya di Ranah Jiwa Agung?"
"Anak muda, pertanyaanmu terlalu banyak dan beruntun. Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin kau meyakinkanku bahwa kau benar-benar murid Saudara Feng."
Yao Han menggaruk pipinya canggung, sebelum mengibaskan tangannya. Muncul benda besar ditangan kanannya.
Mata Bing Lizi melebar, "Kipas Gunbai?!" Pandangannya menatap lekat benda ditangan Yao Han, "Hanya Saudara Feng yang memiliki benda itu sebagai pusaka, tidak kusangka dia mewariskannya padamu. Jadi kau sungguh muridnya, ya... Sungguh kejutan yang menarik."
Bing Lizi mengelus dagunya yang bersih tanpa janggut, menatap Yao Han dari atas ke bawah berulang kali dengan pandangan tertarik.
"Aku ingin melihat sejauh apa kemampuan murid Saudara Feng, aku harap kau tidak keberatan sedikit mengujimu, anak muda."
Bing Lizi tidak memberikan kesempatan Yao Han untuk mencerna ucapannya. Kaki kanannya menghentak ke tanah bersalju, dengan cepat muncul duri-duri es berukuran besar yang mengarah cepat ke Yao Han.
Pemuda itu sedikit terkejut, tetapi cukup sigap menghindar. Semakin banyak duri-duri es bermunculan dan mengejarnya seolah memiliki pemikiran sendiri.
"Paman Guru Bing-! Apa maksudnya ini?!" gerutu Yao Han sambil menghindari serangan duri es dengan lincah karena menggunakan Langkah Angin Surgawi. Bing Lizi tidak menjawab, melainkan tersenyum tipis memperhatikan Yao Han.
Tidak mendapat jawaban, Yao Han berdecak kesal. Sambil terus menghindar, Yao Han mengalirkan Qi unsur tanah dan logam dalam jumlah besar pada kipas Gunbai, lalu mengambil satu loncatan jauh. Yao Han mengangkat kipas Gunbai dengan kedua tangan lalu menghantamkannya ke tanah.
BAAMMM!!!
Krakk! Krakk! Krakk!
Tanah bersalju dalam radius dua puluh meter bergetar cukup hebat dan duri-duri es tidak hanya berhenti mengejar Yao Han, tetapi hancur menjadi butiran es rata dengan tanah.
Bing Lizi tertawa lantang, "Menarik, sungguh menarik! Tidak hanya mewarisi pusaka kipas Gunbai, kau juga menguasai Langkah Angin Surgawi. Tidak mengherankan jika kau bisa menguasai Jurus Penakluk Angin ciptaan Saudara Feng."
Bing Lizi tertawa lagi sambil mendekati Yao Han yang tersenyum masam dan bersikap waspada terhadapnya, "Jangan diambil hati, anak muda. Aku hanya sedikit bercanda padamu. Sekarang aku benar-benar yakin kau murid Saudara Feng. Jujur saja, hari ini aku sungguh menerima kejutan besar. Tidak hanya masih hidup, pria tua itu akhirnya memiliki murid di usianya yang hampir seribu tahun."
Yao Han sedikit mengerutkan dahinya, "Paman Guru Bing, sebaiknya kau menjaga ucapanmu. Tidak peduli kau mengenal guruku dan termasuk salah satu Jagoan Empat Penjuru, aku tidak akan membiarkan kau atau orang lain membicarakan hal buruk tentang guruku."
Senyuman Bing Lizi menghilang perlahan. Dia bisa melihat Yao Han sangat serius dengan ucapannya dan merasakan aura membunuh perlahan menguar dari tubuh Yao Han. Namun dirinya tidak tersinggung dengan ucapan dan sikap pemuda itu, melainkan dirinya tersenyum penuh makna.
'Saudara Feng sungguh beruntung memiliki murid yang tidak hanya berbakat, tetapi juga sangat berbakti padanya.'
"Baiklah, aku minta maaf." Bing Lizi bisa melihat dengan jelas Yao Han begitu sensitif jika ada yang membicarakan Feng Xian, "Ah, iya, siapa namamu tadi, anak muda?"
"Namaku Yao Han. Maaf jika sikapku tidak sopan pada Paman Guru Bing." Yao Han sedikit membungkuk, "Paman Guru Bing bisa memanggilku Xiao Han seperti Guru Feng memanggilku."
"Xiao Han? Hm, mengingat karakternya yang sudah dikenal luas banyak orang itu, ternyata dia bisa juga memanggil anak muda sepertimu dengan panggilan cukup akrab, ya. Baiklah, aku akan memanggilmu Xiao Han juga."
---
Catatan Author:
Akhirnya adegan pertemuan Yao Han dengan Empat Penjuru lainnya terwujud juga. Hahaha! Sesuatu yang belum sempat diwujudkan di novel Become The Greatest Cultivator dan Mortal to Immortal versi pertama.
Rencana awal di dua novel sebelumnya adalah Yao Han akan bertemu dengan Empat Penjuru yang lain dalam perjalanan setelah meninggalkan Kota Bukit Bunga.
Sedikit mirip untuk konsep awal novel Mortal to Immortal versi kedua ini, yaitu terlebih dahulu Yao Han akan bertemu dengan anggota Lembah Hati Racun dan salah satu jenius muda dari salah satu sekte bintang sepuluh, sebelum akhirnya bertemu dengan Bing Lizi.
Namun, konsep itu saya ubah dengan mempercepat pertemuan Yao Han dan Bing Lizi agar perkembangan alur cerita Pertemuan Kultivator Muda tidak mengalami hambatan.
Sekian dan jangan lupa like nya, Gaes.