Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 72 - Lawan Aku



Jangan lupa like sebelum membaca.


***


Wuneng menjelaskan dirinya ingin membantu bukan semata-mata karena peduli pada penduduk kota, melainkan dia tidak ingin masalah ini menjadi lebih besar. Sekte Langit Kelabu bisa menjadi sasaran empuk karena dianggap sebagai dalang masalah oleh pihak aliran putih dan netral yang ada di wilayah Negeri Hutan Hijau.


"Penjelasanmu cukup masuk akal, setidaknya kau masih memiliki sedikit kepedulian." Yao Han manggut-manggut pelan.


"Tentu saja. Pelaku teror sudah ditemukan dan dilumpuhkan, jadi sekarang aku bisa tenang meninggalkan kota ini."


Wuneng hendak berbalik disaat bersamaan dengan Shenghao yang berseru lantang.


"Kau pikir aku percaya ucapanmu dan membiarkanmu pergi begitu saja?!"


Shenghao melepaskan Qi yang kuat dan tidak lama warna Qi nya menjadi keemasan membentuk naga petir yang melilit tangan kanannya. Honghao mengikuti tidak lama, dikedua tangannya terbentuk kepala macan api berwarna biru.


Wuneng mengerutkan dahi dalam dan wajahnya begitu serius, "Naga Petir Emas dan Macan Api Biru... Cih! Sudah cukup buruk aku bertemu dengan anggota Sekte Teratai Putih dan ternyata kalian adalah anggota Pasukan Teratai."


Wuneng menghela napas panjang, "Tidak hanya satu, melainkan dua Pasukan Teratai... mau tidak mau aku harus memberikan perlawanan agar bisa pergi dari sini, bukan?"


Wuneng mengeluarkan sebuah batu nisan seukuran telapak tangan lalu mengangkatnya ke udara. Batu itu memancarkan cahaya hijau. Butiran-butiran cahaya kemudian membentuk beberapa sosok pria melayang berwarna hijau agak transparan.


"Selamat, kalian baru saja menyaksikan pasukan hantu milikku." Wuneng tersenyum dengan wajah yang tidak lagi terlihat malas.


Didepannya melayang tujuh hantu pria. Enam berkekuatan Pondasi Fana tahap puncak dan satu yang terlihat seperti pemimpin pasukan hantu itu berkekuatan Pondasi Bumi tahap menengah.


"Oh, dia benar-benar murid Gerbang Hantu Gui Tian." Yutian berkomentar melihat pasukan hantu Wuneng.


Shenghao dan Honghao melepaskan Qi lebih banyak, bersiap menyerang Wuneng dan pasukan hantunya saat terdengar suara seruan Yao Han.


"Berhenti!"


Tiga pemuda itu segera menghentikan langkah mereka dengan tetap bersikap waspada.


"Ada apa, Saudara Yao?"


Yao Han mendekati mereka dan berada ditengah-tengah seolah sebagai wasit.


"Dia sudah memberikan penjelasan, kenapa tidak kita biarkan saja? Lagipula dia tidak membuat kekacauan disini."


"Aku tidak percaya kau termakan omong kosongnya, Saudara Yao." Shenghao menggeleng pelan, "Mengingat identitasmu, kau mungkin tidak peduli dengan hal ini, tetapi kami tidak bisa membiarkan murid Gerbang Hantu lolos atau dia akan menjadi ancaman besar di masa depan."


Wuneng berdecak pelan dan mengerutu, "Tidak salah aku menyebut kalian sebagai orang yang keras kepala dan sok suci. Kau dan temanmu itu pasti tidak akan percaya kalau aku mengatakan diriku kultivator pengendali hantu yang berbeda dari yang lain."


Yao Han melirik Wuneng sejenak, lalu memandang Shenghao lagi, sikapnya masih tenang seolah pertarungan yang akan terjadi bukan masalah besar baginya.


"Dia tidak terlihat terlalu buruk."


"Kau benar, tetapi diantara murid Gerbang Hantu, dia adalah yang paling jenius. Dia dianggap bisa mencapai Ranah Dasar tingkat lima belas dan berpeluang membentuk Pondasi Langit. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia bisa mencapai Ranah Jiwa?"


"Aku mengerti. Lalu... jika dirimu dan Saudara Honghao berhasil membunuhnya disini, menurutmu apa yang akan dilakukan Sekte Langit Kelabu? Dia murid jenius dan gurunya adalah salah satu Gerbang aliran hitam, bukankah mereka punya alasan untuk menyerang Negeri Hutan Hijau? Dan bukan tidak mungkin perang kultivator akan terjadi lagi setelah dua puluh tahun berlalu."


Yao Han memberikan tatapan dan senyuman penuh makna. Kalimat yang dilontarkannya membungkam Shenghao. Honghao yang tadi ingin membela seniornya ikut terdiam. Mereka saling berpandangan tanpa bisa berkata-kata.


Wuneng sangat penasaran dengan Yao Han karena begitu mudah bicara seperti itu pada dua anggota sekte besar bintang sepuluh.


'Apa dia juga berasal dari sekte besar?'


Yao Han beralih pandangan sepenuhnya pada Wuneng dan tersenyum ramah.


"Saudara Gui, namaku Yao Han. Tidak perlu berterimakasih, karena sebenarnya aku juga tidak bisa membiarkanmu lolos begitu saja."


Tidak hanya Wuneng, Shenghao dan Honghao juga dibuat bingung dengan ucapan Yao Han.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Aku mencegah dua temanku ini bertarung dan membunuhmu karena itu bisa menyebabkan perang kultivator. Jika itu terjadi dan berakhir menjadi seperti perang dua puluh tahun lalu, aku khawatir seseorang akan melenyapkan semua sekte agar tidak ada lagi kekacauan di daratan tempat tinggal kita ini."


Wuneng mencibir, "Omong kosong apa yang kau katakan? Tidak ada yang mampu melakukannya, kecuali dia sudah kehilangan akal sehatnya berbuat nekat seperti itu."


Yao Han tersenyum tipis, "Saudara Gui, kau beruntung tidak mengetahui seseorang ini. Kalau kau mengetahuinya dan tetap berkata demikian, maka aku tidak segan akan langsung membunuhmu, tidak peduli kau seorang kultivator Ranah Jiwa sekalipun."


Wuneng bisa merasakan Yao Han begitu serius. Disisi lain dia kebingungan dengan orang yang dimaksud pemuda itu. Sementara Shenghao dan Honghao mengerti makna dibalik ucapan Yao Han.


Orang yang dimaksud Yao Han adalah gurunya sendiri, Feng Xian sang Angin Timur.


Shenghao dan Honghao sempat menahan napas cukup lama mendengar kemungkinan Feng Xian melakukan tindakan gila tersebut, karena dia memang mampu.


Terbukti ada beberapa sekte yang lenyap karena sempat menyinggungnya dimasa lalu. Dan kalau bukan karena Feng Xian muncul dan turun tangan, perang besar dua puluh tahun lalu akan berlangsung lebih lama sampai salah satu aliran menghilang.


"Saudara Gui, sebagai gantinya bagaimana kalau kau melawanku?"


Shenghao dan Honghao mengerutkan dahi, semakin bingung dengan tingkah aneh Yao Han. Wuneng terdiam sejenak lalu tertawa pelan.


"Saudara Yao, bukan? Aku sebenarnya kagum pada kemampuan yang kau tunjukkan sebelumnya. Namun melawanku yang merupakan kultivator pengendali hantu dari Sekte Langit Kelabu bukanlah hal mudah. Dua temanmu itu bekerja sama sekalipun belum tentu menang dariku, apalagi dirimu seorang."


"Benarkah? Aku hanya ingin melawanmu, tetapi tidak perlu sampai saling membunuh."


"Menarik, apakah ini maksudmu tidak bisa membiarkanku pergi begitu saja?"


"Kurang lebih seperti itu."


"Baik, meski sebenarnya aku heran kau menawarkan hal seperti itu padaku yang berasal dari aliran hitam."


"Bukankah kau mengatakan dirimu berbeda?"


Wuneng tersenyum tipis, tidak menjawab. Yao Han memintanya menyerang terlebih dahulu menggunakan tujuh hantu sekaligus.


"Kurasa kau sudah kehilangan akal sehat. Atau mungkin kau tidak menyadari batas kemampuanmu?"


"Aku masih waras dan mengetahui batas kemampuanku. Oleh karena itu aku memintamu menyerang dengan seluruh hantumu itu. Ada satu hal yang ingin kupastikan."


Wuneng menatap Yao Han geram karena merasa diremehkan, "Baik kalau itu kemauanmu, aku tidak akan sungkan."


Wuneng segera mengarahkan tujuh hantu menyerang Yao Han. Pemuda itu masih berdiri dengan tenang. Saat jarak Yao Han dan ketujuh hantu tinggal beberapa langkah, Yao Han menyentuh dahinya, memunculkan pagoda merah darah.


Yao Han mengarahkan pusaka warisan Chen Long itu ke para hantu. Dalam satu tarikan nafas, ketujuh hantu Wuneng menghilang.


"Apa-apaan?!"


---