Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 239 - Dua Aliansi



Kabar tentang konflik di Kota Harta Giok menyebar dengan cepat ke seluruh Benua Bulan Biru dan menimbulkan pergolakan yang cukup hebat. Kalangan manusia biasa, kultivator bebas, maupun kultivator yang berasal dari sekte kecil menjadi pihak yang paling mengkhawatirkan situasi ini.


Alasannya hanya satu. Setiap perang dunia kultivator terjadi, merekalah yang menjadi pihak yang paling dirugikan, baik secara materi maupun nyawa. Meskipun berusaha tidak ikut campur dalam perang atau menjauhinya, mereka hampir selalu merasakan dampak dari perang, baik itu besar maupun kecil. Tidak sedikit khususnya sekte kecil yang binasa saat perang terjadi.


Sementara itu, sekte-sekte besar bintang sepuluh disibukkan dengan perang yang dimana mereka berperang didalamnya. Dipihak sekte besar aliran putih dan netral, terciptalah sebuah aliansi sebagai balasan atas konflik yang terjadi di Kota Harta Giok yang dimulai oleh Sekte Awan Bulan.


Sekte Pedang Suci dan Sekte Taring Buas adalah pencetus ide aliansi putih-netral ini, yang kemudian mengundang sekte besar aliran putih dan netral lainnya ikut bergabung. Yang pertama memberikan jawaban dan setuju ikut bergabung adalah Istana Bintang Api, disusul Sekte Gunung Langit, Sekte Teratai Putih, lalu yang terakhir Sekte Ombak Bunga.


Ketidakikutsertaan Benteng Es Utara dalam perang sudah biasa dan bisa diwajarkan, tetapi kali ini membuat sekte besar lain terheran-heran karena mereka bersedia membantu meskipun secara tidak langsung.


Yang paling membuat heran adalah sikap yang diambil oleh Menara Harta Giok yang menolak bergabung ke dalam aliansi putih-netral. Tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait hal ini, tetapi sekte besar lainnya membuat sebuah dugaan sehingga mereka bisa mewajarkan pilihan yang diambil Menara Harta Giok.


Di Sekte Awan Bulan, petinggi sekte mereka disibukkan dengan menyusun strategi perang. Sekte Awan Bulan tidak berperang sendirian, mereka membawa pasukan lain yang berasal dari sekte-sekte yang lebih kecil dibawah naungan mereka.


Ditengah kesibukan itu, Yun Ming dan Yue Song dikejutkan dengan kedatangan dua orang tamu dari sekte terbesar aliran hitam lainnya. Yun Ming dan Yue Song turun tangan langsung menyambut para tamu dikarenakan yang datang adalah orang nomor satu di sekte masing-masing.


"Patriark Yun, Sekte Awan Bulan terlibat dalam perang, tapi kalian tidak mengajak kami ikut didalamnya. Apa maksudnya ini?"


Yang barusan bersuara adalah seorang pria bertubuh subur dan pipinya gemuk bernama Gui Tian yang juga dikenal sebagai Gerbang Hantu, Patriark Sekte Langit Kelabu. Meskipun terlihat ramah dan bersahabat, sebenarnya dia termasuk orang yang berbahaya, bahkan dikalangan kultivator aliran hitam, karena menguasai sihir jiwa untuk memanipulasi roh dari orang yang sudah mati.


Gui Tian datang bersama dengan seorang pria bertubuh jangkung, berwajah datar cenderung dingin, dan tatapannya tajam bernama Mo Da, Patriark Sekte Darah Iblis yang juga dikenal sebagai Gerbang Iblis.


Sekte yang dipimpin oleh Mo Da beranggotakan kultivator yang menjalani praktik kultivasi menggunakan bantuan permata siluman. Hampir seluruh dari anggota sekte ini memiliki penampilan yang tidak normal karena memiliki bagian tubuh siluman pada anggota tubuh tertentu sebagai efek samping menyerap kekuatan permata siluman.


Yun Ming dan Yue Song tertawa mendengar kata-kata Gui Tian dan dapat mengerti arah pertanyaan itu.


"Patriark Gui, Patriark Mo, aku tidak menyangka kalian akan datang kemari. Kalian seharusnya memberitahuku sebelumnya agar kami bisa menyambut kalian dengan baik. Ditambah lagi, kami saat ini sedang sibuk."


Gui Tian mengibaskan tangannya beberapa kali didepan wajah. "Aiya, kau terlalu sungkan, Patriark Yun. Tentu saja kami tahu kalian sedang sibuk. Karena itulah kami datang kemari. Terlebih kudengar ternyata kau memiliki cucu perempuan yang sangat berbakat..."


Gui Tian memuji Yun Lian yang keberadaannya hampir tidak pernah terdengar dan mungkin tidak akan pernah terdengar dalam waktu yang lama jika saja tidak terjadi konflik di Kota Harta Giok.


Gui Tian memiliki tujuh orang murid dan muridnya yang termuda adalah yang paling jenius dalam bidang kultivasi. Meskipun termasuk generasi emas saat ini karena berpeluang membentuk Pondasi Langit, tetapi jika membandingkan dengan bakat kultivasi Yun Lian, tentu saja tidak sebanding.


"Cucu perempuanmu sangat hebat, bahkan dengan kemampuannya sendiri mampu mengalahkan beberapa kultivator muda aliran putih busuk itu. Sangat layak menjadi cucu Gerbang Maut dan pastinya masa depan Sekte Awan Bulan lebih cerah. Bukankah begitu, Patriark Mo?"


Mo Da mengangguk pelan. "Benar. Sulit diakui, tapi kurasa putraku Mo Feng yang paling jenius di Sekte Darah Iblis juga tidak bisa dibandingkan dengan cucu perempuanmu, Patriark Yun."


"Sampai kalian yang datang langsung kemari tentunya ada hal yang penting untuk disampaikan, bukan?"


Raut wajah jenaka Gui Tian perlahan menghilang. Untuk sesaat Gui Tian dan Mo Da saling melirik.


"Memang benar. Ini tentang perang yang akan datang..."


Gui Tian menyampaikan pihaknya dan Mo Da sepakat untuk ikut campur dalam perang yang dipicu oleh konflik di Kota Harta Giok beberapa waktu lalu. Sekte Awan Bulan memang sekte terbesar aliran hitam saat ini, sehingga keikutsertaan kedua sekte lainnya membantu mereka secara tidak langsung. Namun alasan kedua sekte ikut berperang bukanlah itu.


"Patriark Yun, kau pastinya sudah bisa menduga, saat ini pihak musuh membentuk aliansi besar, lebih besar dan kuat jika dibandingkan saat perang dua puluh tahun lalu. Bukan maksudku meremehkan kekuatan Sekte Awan Bulan, tapi kurasa lebih baik kalian juga melakukan hal serupa."


"Maksudmu membentuk aliansi hitam?"


"Benar."


Yun Ming dan Yue Song saling melirik. Ide itu tidak terlalu buruk, tapi mengingat mereka adalah kultivator aliran hitam, membentuk aliansi tidak sesederhana kedengarannya.


Sebelum Yun Ming bisa memberikan jawaban, terdengar suara seseorang.


"Apa aku melewatkan pembicaraan penting?"


Semua pandangan mengarah pada sosok itu yang mengejutkan mereka.


"Patriark Lei!"


Yun Ming segera mendekat lalu memberi salam. "Kenapa kau datang mendadak kemari, Patriark Lei? Seharusnya kau memberi kabar terlebih dulu."


Sosok yang dipanggil Patriark Lei adalah Lei Hai, pemimpin Sekte Guntur Hitam yang juga dikenal sebagai Gerbang Guntur. Sekte Guntur Hitam termasuk sekte bintang sepuluh sejak sepuluh tahun terakhir.


"Tidak perlu bersikap sungkan, Patriark Yun. Namun mengingat kita adalah kenalan lama, justru aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau tidak mengajakku dalam perang mendatang?"


"Jangan salah paham, Patriark Lei. Bukannya aku tidak ingin mengajakmu, tapi memang belum sempat memberi pesan ke Sekte Guntur Hitam. Harap kau bisa maklum karena kami sangat sibuk."


Yun Ming memberikan jawaban canggung yang membuat Lei Hai berdecak pelan.


Bersambung...