Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 144 - Gadis Ganas



Sikap Zi Dan menjadi lebih hormat pada Yao Han setelah mengetahui identitas aslinya sebagai murid Feng Xian, salah satu Jagoan Empat Penjuru, Angin Timur.


Dibandingkan ketakutannya terhadap nama Lembah Hati Racun, rasa hormat terhadap Angin Timur lebih tinggi karena menjadi sosok pahlawan baru Negeri Hutan Hijau yang selama ini menjadi area perang dunia kultivator, terutama setelah tiga dari empat jagoan lainnya dikabarkan menghilang misterius.


Zi Dan mengucapkan terima kasih dan berusaha sebaik mungkin tidak menyinggung Yao Han. Enam murid didekatnya tidak perlu diingatkan harus bagaimana bersikap dihadapan Yao Han.


Zi Dan tidak banyak bertanya lagi setelah mengetahui identitas Yao Han, tetapi tetap penasaran dengan kemampuan yang dimiliki Yao Han selain dalam bidang alkemi dan pengobatan.


"Kalau aku tidak salah, dirimu juga memiliki julukan, Saudara Muda. Tabib Teratai Biru... Apa aku harus memanggilmu Tabib Yao?"


"Senior bisa memanggilku dengan bebas, tolong jangan bersikap sungkan padaku." Yao Han tersenyum tipis, sedikit menyesal memberitahukan identitas aslinya karena tahu sikap orang lain akan berubah seperti ini.


Yao Han kemudian pamit kembali ke ruangan dimana Xu Yang dan Xu Yin berada setelah memberitahukan manfaat pil dalam botol giok yang dia berikan.


"Fiuhh... aku hampir saja pingsan mendengar dua hal mengejutkan dalam waktu kurang dari satu jam."


Zi Dan menghela napas lega lalu bergumam pelan sambil mengelus dada. Pantas saja dia merasa sesuatu yang tidak biasa saat melihat Yao Han.


"Ada kabar lain yang hampir tidak dipercaya orang banyak, sifat murid Senior Angin Timur berbeda dari gurunya dan aku bisa melihat kabar itu benar adanya..."


Zi Dan memperhatikan kembali pil-pil dalam botol yang memancarkan sinar, lalu melirik ke enam murid yang memperhatikan pil-pil ditangan mereka dengan antusias dan terkagum-kagum.


"Kita sudah setuju untuk menunda waktu kepulangan. Sebaiknya manfaatkan waktu sebaik mungkin dengan berlatih. Jangan sia-siakan pil yang diberikan murid Senior Angin Timur."


"B-Baik, Tetua." Enam murid itu menjawab kompak penuh semangat.


Mendapat pil kualitas normal sudah biasa bagi mereka, sementara pil kualitas baik susah didapatkan. Terlebih lagi pil kualitas super dan sempurna. Sekarang ditangan mereka ada pil kualitas sempurna, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka juga penasaran seberapa jauh peningkatan praktik mereka setelah mengonsumsi pil dari Yao Han.


***


"Oh, kau kembali... Bagaimana?" Xu Yin bertanya melihat Yao Han masuk ke dalam ruangan yang dia dan kakaknya tempati.


"Bagaimana apanya?" Yao Han balik bertanya.


Xu Yin berdecak pelan, "Urusanmu dengan Sekte Bintang Ungu itu."


"Oh." Yao Han tertawa kecil, lalu duduk bersila menyandar pada dinding disamping Xu Yin, "Aku meminta mereka menunggu selama semalam dan mereka tidak keberatan."


"Kau seenaknya menyuruh mereka menunggu? Apa yang salah dengan pikiranmu?"


"Aku tidak seenaknya dan tidak ada yang salah dengan pikiranku." Yao Han mendengkus pelan, "Bukankah kau menyebut tentang dirimu sendiri?" sindir Yao Han.


"Apa maksudnya itu? Kapan aku bersikap seenaknya? Memangnya ada yang salah dengan pikiranku?"


Yao Han tertawa pelan, "Kau tidak menyadarinya? Wajahmu cantik tapi kau tidak menggunakan akalmu untuk berpikir sedikit?" Yao Han berdecak beberapa kali, "Kecantikan yang sia-sia."


Xu Yin menjadi jengkel dan kedua tangannya mengarah pada rambut Yao Han. Ya, Xu Yin menjambak rambut Yao Han dengan sepenuh hati.


"Aw-! Hentikan-! Rambutku ada yang rontok!" Yao Han menjerit sakit karena jambakan Xu Yin pada rambutnya kencang sekali, "Aduh rambut kesayanganku..."


"Hmph, dasar laki-laki menyebalkan. Aku sumpahi tidak ada gadis yang jatuh hati padamu!"


"Kasihan Han'er..." komentar Meirong, lalu cekikikan geli sendiri, "Hihihi..."


"Aku tidak ingat sifat Adik Liu seperti itu." Yutian menimpali dan teringat dengan Liu Yin, "Gadis kecil ini pasti mewarisi sifat Guru She."


Yao Han lebih peduli dengan rambutnya daripada sumpah serapah Xu Yin padanya. Gadis itu menyilangkan tangan didepan dada sambil memasang wajah cemberut. Pandangannya ke arah Xu Yang, malas melihat dan meladeni Yao Han.


"Kau harusnya berterimakasih, bukannya bersikap kasar padaku."


"Untuk apa aku berterimakasih padamu?"


"Kau pura-pura lupa atau bodoh? Tentu saja berterimakasih karena aku menyelamatkan kakakmu."


"Cih, dasar pamrih."


"Menurutmu aku pamrih? Oh, bagus. Lebih baik aku mengembalikan racun ganas ke dalam tubuh kakakmu."


"Eh, jangan!" Xu Yin menahan Yao Han yang akan berdiri. Ancaman itu sangat ampuh pada Xu Yin, karena gadis itu lemah terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kakaknya, "Baik, aku minta maaf dan... terima kasih."


"Lihat wajahmu. Memangnya ada orang yang meminta maaf dan berterimakasih dengan wajah cemberut sepertimu."


"Kau ingin aku tersenyum? Baik, aku berikan." Xu Yin tersenyum lebar dengan sangat terpaksa, "Kau puas?"


Yao Han menghela napas, "Sudahlah, lupakan." Lalu dia duduk bersila dan memejamkan mata. Xu Yin menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan.


Mereka berdua diam sambil menunggu Xu Yang sadarkan diri. Cukup lama dalam kondisi senyap, membuat Xu Yin merasa bosan. Ada beberapa pertanyaan dibenak gadis itu, jadi dia mencolek Yao Han untuk mendapatkan jawaban.


"Ada apa?"


"Ular hijau giok yang muncul tadi... bukankah itu Ular Penguasa Langit Giok, jenis hewan roh berwujud ular yang langka itu? Bagaimana bisa kau memilikinya? Kau memiliki hubungan dengan Lembah Hati Racun? Bagaimana bisa? Bukankah kau murid Senior Angin Timur?"


"Pertanyaanmu banyak sekali." Yao Han menggeleng pelan, "Yang pertama harus kau tahu adalah ular yang kau lihat memang benar Ular Penguasa Langit Giok yang langka itu dan bukan peliharaanku. Bisa dibilang aku memiliki hubungan dengan sektemu, bisa juga tidak. Tergantung dari sudut pandang pemahaman masing-masing orang."


Xu Yin mengerutkan dahi bingung, "Apa-apaan jawabanmu itu? Tidak jelas sama sekali."


"Itu karena kapasitas otakmu yang kecil tidak bisa langsung memahaminya."


Tanggapan Yao Han yang asal itu membuahkan hasil berupa cubitan keras pada pinggangnya.


"Aduh... kenapa kau suka sekali menyiksaku? Tidak bisakah kau bersikap anggun sedikit saja?" Yao Han meringis sambil mengusap bagian yang dicubit. Rasanya sangat menyakitkan dan panas.


"Itu karena kau terus saja mengejekku, dasar menyebalkan. Tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku dengan kalimat yang tidak berbelit-belit?"


Yao Han menghela napas panjang, tetapi belum lagi dia menanggapi Xu Yin, Yutian muncul dalam wujud ular giok dan melilit lengan kanan Yao Han.


"Guru She?"


"Biarkan aku yang menjelaskan, Han'er. Cepat atau lambat, gadis ini atau anggota Lembah Hati Racun lainnya akan mengetahui kebenarannya."


---