Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 124 - Desa Kecil



Yao Han tidak peduli tindakannya yang menghancurkan benteng batu dalam satu serangan sihir petir akan membunuh semua anggota kelompok Gagak Merah. Sekalipun mereka bisa bertahan hidup, mungkin hanya satu atau dua hari.


Tidak ada satupun penghuni Dimensi Pagoda yang berkomentar tentang tindakan Yao Han sebelumnya, karena cepat atau lambat Yao Han akan menghilangkan nyawa, baik secara langsung atau tidak langsung, selama dia menjadi bagian dari dunia kultivator.


Meskipun mengetahui Yao Han adalah penyelamat mereka, para perempuan yang menjadi korban dari kelompok Gagak Merah itu ketakutan melihatnya setelah menghancurkan benteng batu, membuat Yao Han menghela napas panjang.


Yao Han mengatakan dia berencana membawa pulang para gadis yang berasal dari desa kecil yang didatanginya sebelum ini. Sementara sisanya, Yao Han mungkin akan mengantarkan mereka pulang jika mereka meminta.


Namun tawaran Yao Han itu ditanggapi dengan wajah lesu dan sedih. Yao Han menanyakan penyebabnya.


"Terlepas dari kami semua adalah korban, tetapi kami sudah tidak memiliki kesucian lagi. Mungkin kami tidak akan diterima oleh warga tempat asal kami dan dikucilkan..." jawab salah satu dari perempuan itu.


Yao Han menghela napas panjang lagi, 'Pandangan masyarakat, ya...' Kepalanya sedikit sakit, karena dia sudah terikat janji untuk membawa pulang para perempuan, setidaknya yang berasal dari desa kecil.


Dari belasan perempuan muda yang dibawa paksa, yang tersisa tinggal tujuh orang. Yao Han menawarkan untuk membawa mereka pulang, jika pada akhirnya mereka tidak diterima, Yao Han bersedia mengantarkan mereka ke tempat yang mereka inginkan.


Para perempuan selain tujuh orang itu memilih untuk tidak pulang ke tempat asal mereka dan berencana berpencar untuk mengadu nasib di tempat lain. Yao Han tidak punya hak untuk mencegah dan hanya bisa memberikan mereka bekal.


Yao Han berhasil mengambil beberapa barang-barang berharga 'milik' kelompok Gagak Merah, kemudian membagikannya pada semua perempuan itu. Sisanya akan dia berikan pada desa kecil.


Sebelum para perempuan ini pergi, Yao Han membantu agar tubuh mereka kembali sehat bugar. Selain membersihkan racun dalam tubuh, Yao Han memberikan masing-masing dua Pil Panjang Umur, satu butir Pil Vitalitas, dan lima butir Pil Nutrisi.


Xu Yin terkejut saat melihat semua pil yang dibagikan Yao Han memancarkan sinar, 'Pil kualitas sempurna?! Dia...'


Meskipun kelompok Gagak Merah sudah 'tamat', Yao Han menyarankan agar selalu berhati-hati dalam perjalanan ke tujuan mereka masing-masing. Sementara Yao Han akan kembali ke desa kecil.


"Bolang, aku harap kau tidak keberatan membawa mereka ke atas punggungmu."


"Tidak, Tuan Yao."


Tujuh perempuan desa kecil menjerit kecil karena kaget mendengar suara Bolang, tetapi mereka lebih terkejut lagi ketika Bolang membesarkan tubuhnya, dengan panjang tubuh tiga meter dan tinggi dua meter.


"Jangan takut, Bolang adalah Serigala Malam yang baik. Kalian naiklah ke atas punggungnya."


Yang bereaksi pertama adalah Xu Yin. Dia mengembalikan pedang terbang pada Yao Han lalu segera naik ke atas punggung Bolang menjadi penumpang pertama. Sedikit ragu, tujuh perempuan itu akhirnya naik dengan tubuh menahan gemetar.


Yao Han tidak ikut naik, dia melayang menggunakan pedang terbang disamping Bolang. Tidak ada percakapan dalam perjalanan kembali ke desa kecil.


Xu Yin sedikit ragu mengajak Yao Han bicara karena wajah pemuda itu terlihat dingin. Sebenarnya Yao Han sedang gelisah karena untuk pertama kalinya dia 'membunuh'.


***


Penduduk desa kecil sempat panik melihat ada seekor hewan berukuran besar masuk ke desa mereka. Namun melihat ada Yao Han disamping hewan besar yang tak lain Bolang itu, mereka sedikit tenang. Suasana haru tercipta saat para perempuan yang diambil kembali pada keluarga mereka.


"Kelompok Gagak Merah tidak akan mengganggu kalian atau orang lain lagi, riwayat mereka sudah tamat. Namun aku harus minta maaf tidak bisa menyelamatkan semua perempuan yang pernah dibawa pergi."


"Tuan Muda tidak perlu minta maaf. Kami sudah bersyukur ada yang bisa kembali daripada tidak sama sekali. Kami juga tidak memikirkan lebih jauh kondisi mereka, bagaimanapun mereka adalah korban..."


Yao Han menghela napas lega mendengar para perempuan ini masih diterima oleh warga desa kecil dengan kondisi kekurangan mereka.


"Tidak perlu begitu, bukan masalah besar bagiku membantu kalian."


"Sebenarnya kami berniat membalas kebaikanmu, tetapi tidak banyak yang bisa kami lakukan dengan kondisi kami."


Kepala desa berniat menyerahkan kembali harta yang diambil kelompok Gagak Merah dari mereka pada Yao Han tetapi ditolak.


"Jika Paman dan yang lain tidak keberatan, aku ingin tinggal semalam di desa ini. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."


"Oh, tentu saja. Tuan Muda bisa menginap di rumahku."


"Tidak perlu, Paman. Aku bisa membuat rumah untukku sendiri."


Yao Han membuat beberapa segel tangan dan muncullah sulur-sulur tanaman hijau yang membentuk kubah sederhana. Yao Han mengejutkan semua orang, terutama Xu Yin.


"Nah, Paman, aku akan tinggal disana."


"Oh, i-iya, b-baiklah, Tuan Muda." Kepala desa tergagap dan mulai menganggap Yao Han bukan manusia atau kultivator biasa. Dia kemudian memerintahkan warganya untuk tidak mengganggu Yao Han.


"Hei, bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Xu Yin setelah kepala desa menjauh dari Yao Han.


"Hm, tentu saja aku bisa. Memangnya kenapa?"


Xu Yin berdecak pelan, "Bisa kau ajarkan padaku?"


Yao Han menaikkan sebelah alis, Xu Yin seolah mencoba bersikap akrab dengannya, "Tidak." Jawaban itu membuat Xu Yin cemberut dibalik topeng besinya, "Nona Xu, kusarankan kau segera kembali ke sekte. Kau tidak bersama orang yang mengawalmu pergi keluar dan berbahaya jika berkelana sendiri. Sudah cukup beruntung kau masih bisa selamat sampai tiba di Negeri Hutan Hijau."


"Apa maksud ucapanmu itu? Kau berharap aku mati? Bukan hakmu ikut campur urusanku."


Ingin sekali Yao Han menangis menghadapi sikap Xu Yin yang susah diajak bicara. Bahkan Feng Xian yang dikatakan bersikap sama lebih mudah dihadapi.


"Terserah kau sajalah, Nona Xu."


Yao Han mengibaskan tangannya, lalu duduk didepan kubah sederhana buatannya. Yao Han mengeluarkan kantung kecil berisi rumput madu dan mulai makan camilan kesukaannya.


Xu Yin belum terpikirkan untuk melanjutkan perjalanannya setelah bertemu dengan Yao Han. Dia merasa tidak ada salahnya untuk beristirahat satu malam dan ikut duduk tidak jauh dari Yao Han.


"Hei, kau benar murid Senior Angin Timur?"


Yao Han hanya melirik tanpa berniat menjawab. Mulutnya asyik mengunyah rumput madu dan suasana hatinya perlahan membaik.


"Hei, aku bertanya padamu."


Reaksi Yao Han masih sama seperti sebelumnya dan itu membuat Xu Yin sangat jengkel.


---