
Like dulu sebelum membaca
***
Setelah menguburkan jasad penduduk desa kecil yang menjadi korban pembantaian oleh sekawanan hewan roh yang dipimpin oleh Serigala Malam bernama Yelang, Yao Han dan lainnya merasa lega. Setidaknya satu masalah sudah mereka atasi.
Masalah lainnya adalah kondisi desa yang buruk dengan terciumnya aroma darah yang kental. Jika dibiarkan, desa yang sudah tak memiliki penghuninya lagi ini akan berubah dari desa berdarah menjadi desa berhantu dan menjadi salah satu tempat paling menakutkan yang harus dijauhi oleh siapapun.
"Aku akan membuat hujan lokal, setidaknya itu bisa menyamarkan aroma darahnya..."
Yao Han tidak menunggu tanggapan yang lain, lalu melesat ke bagian tengah desa kecil dan berdiri di atas salah satu rumah.
Bersamaan dengan tangannya yang membentuk beberapa segel tangan, tubuh Yao Han memancarkan Qi berwarna biru keemasan yang cukup besar. Setelah segel tangannya selesai, Yao Han mengarahkan kedua tangannya ke atas.
Tidak lama muncul awan-awan kelabu yang berkumpul menutupi seluruh desa kecil. Warna awan-awan itu semakin menggelap dan tidak lama turun hujan gerimis yang lebat.
"Membuat hujan seperti ini tidak mudah. Saudara Yao terus membuatku berdecak kagum..." gumam Shenghao. Dia, Honghao, dan Bolang berteduh disalah satu teras rumah warga. Bolang memilih berdiri sedikit jauh dari di murid Sekte Teratai Putih itu.
Honghao sependapat dengan seniornya. Membuat hujan merupakan salah satu Sihir Dao mengendalikan cuaca yang paling sederhana dan bernilai tinggi. Biasanya yang bisa melakukannya hanya kultivator dengan kekuatan Ranah Inti ke atas, itupun sampai ke tahap tertentu.
Murid dari sekte besar sekalipun tidak mudah mempelajari atau menggunakannya, apalagi sampai membuat hujan dalam rentang jarak yang cukup luas. Terlepas dari latar belakangnya yang tidak biasa, kemampuan Yao Han memang luar biasa.
"Daripada itu, aku masih tidak percaya Saudara Yao memiliki praktik Ranah Dasar tingkat lima belas dengan akar roh lima unsur." Honghao menggaruk kepalanya.
"Mungkin Saudara Yao satu-satunya yang bisa mencapainya dalam kondisi seperti itu." Shenghao menanggapi.
Diam-diam, Bolang mendengar perbincangan kecil Shenghao dan Honghao. Sejak awal, dirinya merasa Yao Han bukan pemuda biasa. Bolang semakin terkejut dengan Qi Yao Han yang berwana biru keemasan. Bolang dengan praktik di Ranah Inti sudah hidup cukup lama, tetapi belum pernah mengetahui ada kultivator dengan warna Qi seperti Yao Han.
'Qi yang begitu murni... Ranah Dasar tingkat lima belas dengan akar roh lima unsur? Aku lebih percaya jika dia memiliki lebih dari satu akar roh... Jika benar, pemuda itu sungguh menakjubkan..." Bolang menatap Yao Han dengan pandangan berbeda.
Yao Han baru berhenti menurunkan hujan setelah setengah jam berlalu. Dengan praktiknya sekarang, hanya sampai disini yang bisa dilakukannya dan itupun sudah menghabiskan tiga puluh persen kapasitas Qi miliknya.
Sambil menelan beberapa Pil Pengumpul Qi untuk mengembalikan Qi yang hilang, Yao Han berjalan mendekati Shenghao dan lainnya. Tubuhnya tidak terlihat basah karena terlindung oleh Qi.
Yao Han tidak menyadari, selain memperlakukan tanaman sihir seperti camilan, dia juga memperlakukan Pil Pengumpul Qi seperti permen.
"Kurasa ini sudah waktunya mendengarkan penjelasan darimu." Yao Han menatap Bolang yang tersenyum canggung.
"Baiklah..."
***
Meskipun hewan roh lebih bersahabat dibandingkan para siluman, tidak semuanya demikian dan salah satunya adalah Serigala Malam.
Secara umum, mereka tidak membenci manusia tetapi juga tidak ingin berdekatan dengan manusia. Serigala Malam lebih menyukai hidup dengan sesama jenis mereka. Hal yang sangat wajar mengingat mereka hewan roh berwujud serigala.
Perjalanan Bolang bisa dikatakan cukup lancar, karena dia juga bisa membaur dengan mudah dan tidak ada yang menyadari dia hewan roh dalam wujud manusia. Bisa dikatakan, dirinya merupakan Serigala Malam yang ramah dengan manusia.
Demi keamanannya, Bolang juga memilih untuk menjauhi keramaian yang terdapat kultivator dengan praktik di Ranah Jiwa atau mereka yang berasal dari sekte besar.
Tidak lama berkelana sendiri, suatu hari Bolang menolong seorang pria tua dari seekor siluman. Pria itu sempat terluka, tetapi untungnya lukanya tidak begitu parah. Tanpa keberatan sama sekali, Bolang membantu pria yang bernama Zhang ini kembali ke rumahnya yang terletak di sebuah desa kecil.
Zhang mengetahui Bolang adalah pengelana dan dia menawarkan rumahnya yang sederhana sebagai tempat persinggahan dan Bolang menerima kebaikan hati Zhang. Pria tua itu tidak tinggal sendiri, melainkan berdua bersama putri satu-satunya yang bernama Fei.
Keramahan penduduk desa membuat Bolang memutuskan Bolang untuk tinggal lebih lama. Zhang dan putrinya sama sekali tidak keberatan. Para penduduk juga menyukai kehadiran Bolang yang ringan tangan.
Hubungan Bolang dan Fei semakin dekat sampai kemudian Bolang merasakan sesuatu yang asing tetapi menyenangkan baginya. Rasa itu terlarang tetapi Bolang tidak bisa menolak kalau dia jatuh cinta pada Fei sampai akhirnya dia dan Fei menikah beberapa hari sebelum Zhang meninggal dunia.
Saat cerita Bolang sampai disini, Shenghao dan Honghao menatap Bolang dengan pandangan curiga, bahkan tatapan mereka menajam.
"Kau dan istrimu... memiliki anak? Darah campuran?" tanya Yao Han.
"Itu memang benar."
Jawaban langsung Bolang tanpa berusaha ditutupi itu menimbulkan reaksi keras Shenghao dan Honghao. Mereka berdiri sambil melepaskan Qi yang kuat, mengejutkan Yao Han dan Bolang.
Terlihat begitu jelas tatapan tajam mereka mengandung nafsu membunuh yang kuat. Menyadari tindakan kedua temannya, Yao Han segera berdiri didepan Bolang menghadang mereka.
"Tenangkan diri kalian, dia masih belum selesai bercerita."
"Saudara Yao, dia sudah melewati batas. Apa menurutmu hal ini bisa terselesaikan hanya dengan sebuah cerita?" Shenghao melirik Yao Han sejenak lalu memandang tajam Bolang lagi.
"Apa kalian tidak mendengarku? Tenangkan diri kalian dan biarkan dia menyelesaikan ceritanya."
Meskipun terlihat tenang, sorot mata dan raut wajah Yao Han tidak demikian. Mau tidak mau, Shenghao dan Honghao menarik kembali Qi mereka dan mengambil posisi duduk lebih jauh dari sebelumnya.
Bolang sempat kaget, tetapi hanya sebentar. Dia sama sekali pasrah pada tindakan dua murid Sekte Teratai Putih itu karena dia mengetahui hal ini akan terjadi. Melihat tanda dari Yao Han, Bolang melanjutkan ceritanya.
Pernikahannya dengan Fei dikaruniai seorang anak perempuan. Sayangnya, Fei meninggal tidak lama setelah melahirkan putri mereka. Mungkin dikarenakan Fei yang merupakan manusia biasa dan tidak kuat menahan beban kekuatan dari kandungannya yang memiliki darah campuran.
Bolang merasa begitu terpukul, tetapi berjanji dalam hati akan membesarkan putri mereka satu-satunya. Namun sayang, putri mereka tidak bisa hidup lama dan meninggal sekitar dua minggu lalu sebelum kedatangan Yelang dan anak buahnya.
"Aku tidak tahu bagaimana Yelang dan anak buahnya bisa mengetahui keberadaan serta kabar tentangku yang menikah dengan Fei dan memiliki anak. Aku tidak pernah menyesal jatuh cinta pada manusia, tetapi aku menyesal tidak bisa melindungi para penduduk dari serangan mereka."
Bolang menunduk sedih, pertanda akhir dari ceritanya. Yao Han melirik dua temannya, yang menunjukkan raut wajah kesulitan setelah mendengar akhir kisah Bolang.
---