Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 233 - Berpindah Tempat



Baru saja Yao Han merasa lega setelah berhasil mencabut pedang karatan itu dan mendekati lainnya untuk memeriksa lebih jauh tentang pedang itu, tetapi tidak lama kemudian terjadi sesuatu dengan Dimensi Bunga Anggrek itu.


Seluruh daratan bergetar hebat, membuat pijakan kaki Yao Han dan lainnya goyah.


"Firasat burukku benar-benar terjadi!" Tian Jian berseru panik.


Semuanya memang panik, tapi Tian Jian adalah yang paling panik. Dia seolah mengalami hal dimasa lalu untuk kedua kalinya.


Yao Han bertindak cepat mengirim Tian Jian ke dalam Dimensi Pagoda, bermaksud menyelamatkan pria itu karena kondisinya paling rentan diantara mereka semua.


"Xiao Han! Keluarkan aku!"


Tian Jian berteriak ingin dikeluarkan. Dia tidak bisa keluar secara alami seperti biasanya karena Yao Han sengaja menahannya. Padahal Tian Jian berniat melindungi Yao Han tidak peduli resiko yang akan dia terima nanti.


Daratan berguncang lebih kuat, sampai kemudian udara di sekitar ikut terpengaruh. Sebelum ada salah satu dari mereka bisa melakukan sesuatu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kondisi mereka yang kehilangan pengendalian diri tanpa bisa menggerakkan satu pun anggota tubuh.


Hal itu membuat semuanya menjadi luar biasa panik. Bing Lizi dan Chen Long yang berusia sangat tua dan punya banyak pengalaman sekalipun tidak bisa menghilangkan rasa panik mereka. Rasa takut mulai menyelimuti mereka semua.


Ditengah kepanikan, pedang karatan yang masih dalam pegangan Yao Han menunjukkan keanehan. Secara perlahan pedang itu memancarkan cahaya biru terang menyilaukan mata, membuat Yao Han dan lainnya terpaksa menutup mata, begitu pun dengan Tian Jian dan Jiu Jinyu yang berada dalam Dimensi Pagoda.


Mereka tidak menyadari cahaya biru menyilaukan itu semakin membesar, seolah menyelimuti Yao Han dan lainnya.


"Guru Hong! Guru Hong!"


Yao Han yang pertama kali mengalami hal itu menjadi sangat takut lalu memanggil nama Meirong.


"Tenang, Han'er. Guru ada disini."


Meirong yang paling dengan muridnya itu berusaha menenangkan Yao Han, begitupun dengan dirinya sendiri. Namun dalam kondisi seperti itu, rasanya sangat sulit menenangkan diri.


Dalam kondisi tubuh tidak bisa digerakkan dan mata tertutup, mereka semua kemudian merasakan hawa hangat yang tidak mereka ketahui berasal dari cahaya biru yang dipancarkan pedang karatan itu.


Sesaat kemudian, mereka merasakan ketakutan yang lebih besar. Daratan semakin berguncang keras, udara bergetar hebat, lalu terdengar suara retakan sangat keras membawa teror.


"Guru Feng, maafkan aku belum bisa menjadi murid yang berbakti. Terima kasih atas semuanya. Selamat tinggal..."


Yao Han sudah tidak lagi takut dan kemudian pasrah dengan kondisinya. Sesaat kemudian, Yao Han dan lainnya merasakan tubuh mereka terhisap oleh suatu kekuatan. Dalam sekejap mata, mereka menghilang dari sana.


Tepat setelah mereka berhasil keluar tanpa mereka sadari, Dimensi Bunga Anggrek hancur berantakan tanpa sisa.


"Hm? Ini..."


Bing Lizi mengerjapkan mata melihat ke sekitarnya. Yao Han dan lainnya terbaring dalam bentuk melingkar.


Chen Long mengubah posisinya dan ikut melihat ke sekitar. "Ini... kita dimana?"


"Kurasa kita berhasil keluar..."


Bing Lizi menanggapi lalu pandangannya tidak sengaja mengarah pada tanaman Bunga Anggrek Pelangi Jiwa yang dalam kondisi layu, tidak tegak seperti sebelumnya. Bahkan bunga pada bagian pucuknya jauh lebih layu dan membusuk.


"Dimensi itu hancur dan pintu gerbangnya ikut terpengaruh..."


Bing Lizi merasa lega berhasil selamat, tapi tidak bertahan lama karena mendengar suara panik Meirong.


"Han'er! Han'er!"


Meirong sedang menepuk-nepuk pipi Yao Han yang tidak sadarkan diri. Yao Han adalah satu-satunya diantara mereka tidak sadarkan diri. Meirong yang paling khawatir dengan Yao Han, lebih dulu memastikan kondisi muridnya itu.


Tian Jian dan Jiu Jinyu keluar dari dalam Dimensi Pagoda. Berbeda dengan Tian Jian yang memasang wajah panik, Jiu Jinyu menatap datar ke arah Yao Han.


"Tidak perlu panik. Anak itu akan baik-baik saja."


"Diam kau, rubah busuk," maki Chen Long.


"Hmph. Cepat atau lambat dia akan sadarkan diri. Tunggu saja. Dia tidak mungkin mati dengan mudah." Jiu Jinyu balas menanggapi dengan santai lalu melihat ke sekitar. "Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali menikmati hawa Benua Bulan Biru."


Satu jam setelahnya, Yao Han membuka mata perlahan.


"Han'er!"


Meirong yang merasa lega memeluk Yao Han.


"G-Guru H-Hong..."


"Nona Hong, pelukanmu terlalu erat." Chen Long memberitahu.


"Ah." Meirong melonggarkan pelukannya dan menatap canggung Yao Han. "Maafkan Guru, Han'er."


"Tidak apa-apa, Guru Hong."


Yao Han membenarkan posisi duduknya dan melihat semua orang disekitarnya.


"Ternyata kita semua selamat..."


"Baguslah kau baik-baik saja, Xiao Han. Kalau tidak, aku akan bunuh diri."


Yao Han tertawa pelan menanggapi kekhawatiran Tian Jian. "Setidaknya aku masih hidup dan tidak mengalami sesuatu yang buruk."


Jika Yao Han mengajak Tian Jian bertaruh sebelum memasuki Dimensi Bunga Anggrek, maka dia akan menang dari Tian Jian.


Yao Han mencari pedang karatan itu dan menemukannya berada disampingnya.


"Guru, saat tidak sadarkan diri, aku mendengar sebuah suara yang memberitahuku tentang pedang ini."


"Oh, apa itu?" tanya Meirong penasaran.


Yao Han menjelaskan pedang itu memang bukan pedang biasa. Meskipun tidak bisa dirasakan auranya, pedang karatan itu termasuk salah satu pedang pusaka dengan tingkatan tertinggi, Pusaka Abadi dan bernama Pedang Kaisar Langit.


"Suaranya juga tidak asing, mirip dengan suara Paman Bai."


"Paman Bai? Maksudmu seseorang bernama Bai Tian yang mengubah akar rohmu menjadi lima akar roh murni dulu itu?" Meirong bertanya memastikan yang dibalas anggukan pelan Yao Han.


"Sebenarnya aku penasaran dengan sosok Bai Tian ini, tapi kita kekurangan petunjuk. Apakah dia manusia atau bukan, kita sulit menebaknya..."


Chen Long yang sudah mendengar cerita lengkap masa lalu Yao Han berpendapat demikian, tapi tidak terlalu memikirkannya lebih jauh.


"Apapun itu, setidaknya kita masih bisa selamat. Dan pedang itu..." Bing Lizi mengamati Pedang Kaisar Langit dengan pandangan tertarik. "... terbukti benar sebagai kunci jalan keluar."


"Pusaka Abadi? Bagaimanapun aku melihat, pedang ini tidak lebih dari pedang karatan biasa. Namun mengingat pedang ini menunjukkan keanehan yang luar biasa, memang pantas menyandang nama Pedang Kaisar Langit..."


Tian Jian dan Meirong memiliki penilaian yang sama. Pedang Kaisar Langit sama sekali tidak memancarkan aura ataupun terlihat seperti pusaka tingkat tinggi. Berbeda dengan Pedang Langit Perak Meirong ataupun Tombak Taring Naga Yutian, yang keduanya memancarkan aura Pusaka Kuno tingkat tinggi.


Bersambung...