
Setiap sekte besar selalu memiliki kelompok atau tim khusus yang menjadi penopang utama kekuatan mereka.
Sekte Teratai Putih memiliki kelompok khusus yang diberi nama Pasukan Teratai, yang terdiri dari tujuh orang. Mereka akan mendapatkan sumber daya berlatih yang lebih baik dan banyak daripada murid yang satu generasi dengan mereka
Pasukan Teratai akan dipilih setiap sepuluh sampai lima belas tahun sekali dari murid terbaik dengan praktik di Ranah Dasar. Di masa depan mereka akan menjadi tokoh penting dan kekuatan rahasia sekte.
Wu Bai di masa mudanya juga terpilih menjadi Pasukan Teratai, dia tidak lagi menjadi bagian dari kelompok khusus itu sejak menjabat menjadi pemimpin tertinggi sekte.
Ketiga murid langsung Wu Bai juga menjadi bagian dari Pasukan Teratai, dan tidak mengherankan jika murid generasi Ranah Dasar ketiganya juga terpilih menjadi anggota Pasukan Teratai.
Untuk generasi saat ini, Pasukan Teratai dipimpin oleh Shenghao. Awalnya dia menolak dan menginginkan Honghao yang menjadi pemimpin, tetapi Honghao dengan dibantu oleh kelima orang lainnya berhasil memaksa Shenghao menjadi pemimpin mereka, karena merasa Shenghao sangat pantas diposisi itu.
***
Bukan pertama kalinya baik Shenghao atau Honghao pergi keluar sekte. Mereka pernah melakukannya beberapa kali bersama guru masing-masing.
Selama ini perjalanan tidak jauh dari sekte, sekedar untuk menambah pengalaman hidup baik terutama yang berhubungan dengan pengalaman bertarung melawan kejahatan dan membasmi siluman.
Diantara ketiga murid jenius generasi baru Sekte Teratai Putih yang berada di Ranah Dasar, Shenghao adalah murid dengan pengalaman bertarung yang paling banyak karena gurunya, Wu Yi sering mengajaknya keluar sekte.
Honghao juga memiliki pengalaman bertarung, tetapi itu lebih banyak berasal dari latih tanding dengan anggota sekte. Selain itu sebagian besar waktunya dihabiskan belajar pada gurunya, Wu Er.
Bukan tanpa alasan dia menjadi murid alkemis nomor satu di Sekte Teratai Putih itu, karena dengan akar roh dua unsur api dan kayu, Honghao memiliki bakat dalam alkemi.
Shenghao juga memiliki bakat diatas rata-rata. Akar rohnya mengandung dua unsur, yaitu petir dan tanah. Murid terbaik lainnya, yaitu murid Wu San yang bernama Wu Youzhi juga memiliki akar roh dua unsur, logam dan air.
Selama dalam perjalanan dari sekte menuju Pulau Bulan Bintang, Shenghao dan Honghao mendapat pengalaman baru seperti tidur beratap langit, berteduh di bawah pohon saat sinar matahari begitu menyengat atau berteduh di gua saat hujan.
Memasuki wilayah Negeri Hutan Hijau, keduanya sering ditawari oleh penduduk untuk menginap satu dua malam karena mengenali latar belakang mereka.
Hal ini juga dipengaruhi oleh nama baik Sekte Teratai Putih yang sering membantu banyak orang membasmi kejahatan dan keburukan di wilayah Negeri Hutan Hijau, seperti roh jahat atau siluman.
Cuaca di wilayah Negeri Hutan Hijau lebih bersahabat. Udara begitu sejuk karena tumbuh banyak pepohonan. Hanya saja, Shenghao dan Honghao menguras tenaga lebih banyak disini untuk membasmi siluman yang menggangu.
Perjalanan kali ini juga menjadi perjalanan paling jauh dan lama yang pernah mereka tempuh untuk sementara ini.
"Hari sudah menjelang malam, sebaiknya kita mencari tempat istirahat," ujar Shenghao yang dijawab anggukan pelan oleh Honghao.
Setelah hampir setengah jam mencari, mereka menemukan sebuah rumah kosong.
"Lebih tepat mengatakan ini sebagai gubuk. Sangat tidak terawat dan terburuk dari yang pernah kulihat." Honghao berkomentar melihat bangunan kecil didepannya.
"Ini lebih baik daripada kita tidak mendapat tempat istirahat sama sekali." Shenghao menyahut sambil tersenyum tipis.
"Apa kau yakin masuk ke dalam sana, Senior?" usia Shenghao yang lebih tua beberapa bulan darinya membuat Honghao memanggilnya Senior.
"Kenapa tidak? Bangunan ini tidak terlalu buruk, tinggal membersihkan beberapa bagian agar lebih nyaman ditempati. Lagipula sebentar lagi akan turun hujan."
"Eh? Hujan?"
Honghao sedikit kaget, dia mendongak dan telihat awan-awan gelap mulai berkumpulan. Sebelumnya dia hanya melihat langit senja tanpa memperhatikan lebih jauh.
"Cuaca bisa saja mudah berubah dalam waktu singkat dan tidak ada yang bisa menebaknya, seperti halnya hati perempuan."
"Senior, darimana kau belajar berkata-kata seperti itu?" Honghao menatap Shenghao takjub.
"Paman Guru Wu San."
Honghao menepuk jidatnya kemudian berdecak pelan, "Seharusnya aku sudah mengetahui jawabannya."
Shenghao tertawa pelan, lalu mengeluarkan sebuah kertas kuning yang memiliki pola unik. Ini adalah kertas jimat. Shenghao mengalirkan Qi pada jimat itu lalu melemparkannya ke dalam bangunan yang sudah tidak memiliki pintu masuk.
Hanya beberapa hitungan, jimat yang dilempar itu kemudian melepaskan cahaya kuning menyilaukan. Terdengar suara teriakan kesakitan yang kemudian menghilang perlahan.
"Nah, sudah beres. Tinggal menghilangkan debu di beberapa tempat."
Honghao terlihat sedikit heran dengan apa yang dilakukan seniornya. Melihat tindakan Shenghao membuat Honghao harus mengakui bahwa insting Shenghao jauh lebih tajam darinya. Jimat yang dikeluarkan tadi memang berfungsi untuk mengusir bahkan menghilangkan roh jahat.
Aura gelap dari dalam rumah tua itu menghilang karena 'penghuninya' sudah sirna terkena cahaya suci dari jimat Shenghao.
Udara semakin dingin, tetapi bukan masalah berarti bagi keduanya karena bisa menghangatkan tubuh dengan Qi. Honghao mengeluarkan perbekalan untuk mengisi perut di malam hari.
"Andai ada Youzhi disini pasti lebih ramai," ujar Shenghao.
"Melihat perangainya, mana mungkin dia mau ikut pergi jauh dari sekte. Jika dia ikut pun, perjalanan kita akan semakin lama dan perbekalan pasti cepat habis mengingat dia tukang makan."
Shenghao tertawa pelan, mau tidak mau dia setuju dengan Honghao. Youzhi yang mereka sebut tukang makan sebenarnya memiliki bakat lebih besar dalam kultivasi daripada keduanya, hanya saja rasa malas seringkali menyerang adik seperguruan mereka itu.
Honghao kemudian mengalihkan pembicaraan mengenai Angin Timur dan muridnya yang mereka dengar dari orang-orang tadi siang. Bahkan salah satu dari orang yang memberi informasi itu melihat langsung sosok Feng Xian muncul di Toko Harta Giok cabang Kota Cahaya Bulan.
"Senior, menurutmu seperti apa murid alkemis nomor satu ini?"
Shenghao mengelus dagunya sebelum menjawab, "Kurasa dia masih muda. Tidak jauh berbeda usianya dengan kita. Karena dia murid Senior Angin Timur, sudah pasti memiiki bakat sangat tinggi dalam alkemi."
Honghao setuju dengan Shenghao, "Aku rasa dengan bakat tinggi dan dibawah bimbingan Senior Angin Timur, pemuda ini sudah menjadi Alkemis Perak."
Shenghao menaikkan alisnya, dia tidak memahami alkemi tetapi tahu tentang tingkatan gelar pencapaian alkemis. Menurutnya, ucapan Honghao mengandung pujian tinggi. Honghao yang dia ketahui berbakat sekalipun masih di tingkat Alkemis Perunggu.
"Kita sudah mendapat kabar Senior Angin Timur muncul kembali, dengan begitu kita bisa melihat muridnya ini saat tiba di Pulau Bulan Bintang."
"Ah, satu hal yang kuharapkan adalah semoga pemuda ini tidak seperti gurunya. Mungkin aku bisa bertukar pikiran satu dua hal tentang alkemi dengannya."
"Hm, ya, kuharap begitu."
Jauh dari posisi mereka berteduh, Yao Han yang sedang duduk bermeditasi dibawah pohon rindang terganggu karena bersin-bersin.
"Aish..." Yao Han mengusap hidungnya yang tidak gatal.
"Sepertinya ada yang membicarakanmu, Han'er." Yutian berkomentar.
---