Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 104 - Tidak Berubah



Bing Lizi menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan Chen Long sampai pertemuannya dengan Yao Han. Feng Xian diam tidak menanggapi cukup lama setelah Bing Lizi bercerita. Xiao Ni juga diam tetapi penasaran dengan isi percakapan Feng Xian dan Bing Lizi.


Yang menarik perhatian Feng Xian adalah kini Bing Lizi bernasib sama dengan Meirong dan Yutian. Menjadi hewan roh berwujud seekor Kirin Es yang memiliki kekuatan di Ranah Inti Emas tahap menengah. Hal yang sama kemungkinan besar juga menimpa Chen Long yang tidak diketahui rimbanya.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak ke Pulau Bulan Bintang saja? Kau bisa hidup tenang disini. Tanpa bantuanku sekalipun, kau bisa kembali mendapatkan kekuatanmu seperti dulu dengan sumber daya melimpah di pulau ini."


Bing Lizi menjelaskan dia juga berniat demikian, tetapi menunggu setelah mencapai Ranah Jiwa. Setidaknya dengan kekuatan Ranah Jiwa tahap awal, dirinya merasa lebih aman dalam perjalanan menuju Pulau Bulan Bintang.


"Kau bicara omong kosong? Dengan kekuatanmu yang sekarang pun, kau sangat aman berkelana." Feng Xian mendengkus geli.


Bing Lizi membantah, "Disamping itu, aku juga memikirkan cara membawa Tian Jian ke Pulau Bulan Bintang tanpa menarik perhatian."


Feng Xian terdiam sejenak. Sebelum ini, dirinya cukup terkejut mendengar tentang Tian Jian dalam cerita Bing Lizi. Dia tidak asing dengan nama itu, karena pernah mendengarnya dalam percakapan santai Meirong dan Yao Han. Hanya saja dia tidak menyangka nasib pria berjulukan Raja Pedang Langit itu yang lebih buruk dari nasib Bing Lizi.


"Apa kau memiliki sesuatu untuk membantu Tian Jian, Saudara Feng?"


"Membantu bagaimana maksudmu? Dan kenapa aku harus membantunya? Keuntungan apa yang aku dapatkan?"


"Kau masih sama menyebalkannya seperti dulu, Saudara Feng. Kau itu pura-pura bodoh atau bagaimana? Sesuatu yang kumaksud adalah untuk memperkuat roh. Akan lebih bagus kalau sesuatu ini bisa membantu Tian Jian membentuk kembali tubuh fisiknya."


Feng Xian tertawa yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Bing Lizi, hampir membuatnya mengumpati si Angin Timur itu.


"Tunggu sebentar, biar kuingat dulu..." Feng Xian mengelus dagu sambil menerawang jauh, "... Bunga Anggrek Pelangi Jiwa."


Bunga satu ini adalah tanaman sihir yang paling ampuh untuk memperkuat jiwa dan roh seseorang. Jika usianya melebihi seribu tahun, maka bisa digunakan untuk pembentukan tubuh fisik seperti yang diinginkan Tian Jian.


"Seribu tahun?! Yang benar saja! Apa di Pulau Bulan Bintang tidak ada tanaman sihir ini?"


"Tidak."


"Ah, sayang sekali." Bing Lizi mendadak lesu.


"Saudara Bing, harusnya kau tahu, meskipun Pulau Bulan Bintang selalu menjadi incaran semua kultivator karena terdapat sumber daya melimpah, beberapa tanaman langka tidak ada atau tumbuh di pulau ini."


Bing Lizi mengerti dan tidak lupa. Sejak dia pertama kali bertemu dengan Feng Xian dan menginjakkan kaki di Pulau Bulan Bintang, sebagian kecil tanaman sihir disana berasal dari luar pulau. Bukan Feng Xian, melainkan Chen Long yang membawakan tanaman sihir ini. Entah itu benihnya atau yang sudah berusia beberapa tahun bahkan yang sudah hampir siap panen.


"Kau tadi membahas peninggalan Si Naga Tua aneh itu, bukan? Meski hanya bisa mendapatkan benih Bunga Anggrek Pelangi Jiwa, dengan bantuan sihir aneh yang dia ciptakan itu, mudah mendapatkan Bunga Anggrek Pelangi Jiwa berusia lebih dari seribu tahun." Feng Xian merujuk pada sihir Serum Waktu.


"Ya, kau ada benarnya. Apa kau memiliki gambaran dimana kami bisa mendapatkan tanaman sihir ini?"


"Aku hapal semua tanaman sihir diluar kepala sejak lebih dari delapan ratus tahun lalu, bukan berarti aku mengetahui tempatnya berada." Feng Xian berdecak pelan, "Kecuali kau bertanya pada Si Naga Tua yang suka berpetualang itu, kemungkinan dia tahu."


Feng Xian sebenarnya sedikit tersinggung. Secara tidak langsung, Bing Lizi menyindirnya. Hidup hampir seribu tahun, Feng Xian menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Pulau Bulan Bintang dan hanya keluar pulau jika sekedar ingin saja.


"Ah, bisakah kau membantu? Kau masih memiliki hubungan dekat dengan mereka, bukan?"


"Masih. Perlu kau garis bawahi, hubunganku dengan mereka hanya sebatas bisnis. Dan kau perlu menyiapkan sesuatu yang pantas sebagai bayaran atas bantuanku untuk hal merepotkan seperti itu."


Bing Lizi tidak langsung menjawab, dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan beberapa kali untuk mengurangi emosinya yang hampir meledak. Hampir saja dia mengumpati bahkan mengutuk Feng Xian karena ucapannya itu.


"Kupikir kau berubah, rupanya tidak. Aku bertanya-tanya bagaimana bisa kau memiliki murid dengan sifat bertolak belakang denganmu. Beruntungnya kau memiliki murid kelewat berbakti seperti Xiao Han. Dia bahkan ingin membunuhku karena sedikit berkata buruk tentangmu."


"Oh, benarkah? Hahaha!" Feng Xian tertawa sangat lantang sampai perutnya terasa sakit dan hampir menangis. Xiao Ni menatapnya aneh karena Feng Xian seperti kehilangan akal sehatnya, "Bukankah aku diberkahi langit?"


"Hm, aku tidak bisa membantah jika kau menyombongkan diri karena memang pantas. Kau adalah monster tua, sedangkan Xiao Han adalah monster kecil yang akan menjadi monster lebih mengerikan dari gurunya. Aish..."


Bing Lizi berniat mengakhiri perbincangan mereka.


"Karena kau bersedia mengajari Xiao Han, aku tititpkan dia padamu, Saudara Bing."


Sebenarnya Bing Lizi ingin membalas dengan kalimat panjang, tetapi dia menahan diri dan hanya berkata, "Serahkan padaku."


"Kau tidak perlu terus berdiam di tempat tinggalmu yang sekarang ini. Ikutlah berpetualang menemani Xiao Han. Dia memiliki pusaka yang bisa membawa kalian kemanapun tanpa diketahui orang lain."


"Oh, aku belum tahu tentang ini. Baiklah nanti akan kutanya dia?"


Sebelum benar-benar mengakhiri perbincangan, Bing Lizi sempat menyampaikan kemungkinan keberadaan Xi Lei si Petir Barat.


"Hm... tempat itu berbahaya sekali. Lebih baik aku yang mencarinya kesana. Aku akan menyempatkan waktu karena begitu sibuk disini."


"Sibuk kepalamu. Aish, terserah kau sajalah."


Bing Lizi dengan kesal mematikan koneksi giok suara mereka.


***


Bing Lizi dan Tian Jian menatap penuh kagum pusaka unik Yao Han yang berbentuk pagoda dan berwarna merah darah. Kekaguman mereka didasarkan cerita Yao Han bahwa pagoda itu salah satu warisan Chen Long yang ditemukan Feng Xian yang berakhir ditangan Yao Han sebagai pemilik selanjutnya.


"Sekarang aku mengerti ucapan Saudara Feng tentang pusaka yang bisa membawa kami kemanapun tanpa masalah." Bing Lizi tersenyum tipis.


Tanpa keberatan sama sekali, Bing Lizi dan Tian Jian setuju ikut kemanapun Yao Han pergi. Bersama dengan Meirong, Yutian, dan Bolang, keduanya ikut membantu mengawasi dan melindungi Yao Han.


Setelah memanen beberapa Teratai Jiwa Es yang letaknya tidak jauh dari Gua Abadi itu, Yao Han terbang melesat kembali ke Kota Bukit Bunga.