
Dalam kondisi normal, aroma wangi nan segar Bunga Teratai Biru bisa membuat orang mual karena terlalu pekat menutupi seluruh desa kecil, apalagi kondisi desa juga segar setelah turunnya hujan lokal buatan Yao Han.
Tiga pemuda sedang duduk di bawah pohon rindang, tidak jauh dari pintu masuk desa kecil. Yao Han dan dua temannya sedang menunggu Bolang yang sedang berkunjung sekaligus berpamitan ke makam Zhang, Fei, dan putrinya untuk yang terakhir kali.
Selagi menunggu, Yao Han mengeluarkan sebuah kertas cukup besar berisi gambar peta wilayah Negeri Hutan Hijau yang cukup rinci. Peta ini pemberian Feng Xian, tetapi aslinya milik Chen Long.
"Desa kecil ini kurasa letaknya disini, selanjutnya kota yang kita akan lewati adalah Kota Rumput Besi disini." Honghao menunjuk satu titik pada peta.
Yao Han mengangguk pelan sambil tersenyum lebar karena rombongannya tidak lama akan mencapai Kota Bukit Bunga.
Nama Kota Rumput Besi tidak asing bagi Yao Han karena kota ini adalah kota manusia biasa yang paling dekat dengan Kota Bukit Bunga. Ukurannya juga lebih besar dan lebih banyak penduduknya. Setidaknya butuh tiga atau lima jam, agar sampai di Kota Bukit Bunga setelah melewati Kota Rumput Besi.
Melihat kedatangan Bolang, Yao Han menyimpan peta dan berdiri diikuti yang lain. Mereka siap melanjutkan perjalanan.
"Kalau boleh tau, kemana kita akan pergi?" tanya Bolang.
"Kota Bukit Bunga, aku ingin mengunjungi teman lama."
"Kota Bukit Bunga... sepertinya aku pernah mendengarnya..." Bolang berpikir keras.
Yao Han menyarankan mereka berjalan sambil Bolang berusaha mengingat.
"Nama kota ini tidak terdengar asing, tetapi dimana aku mendengarnya?" Bolang menggaruk kepalanya.
"Kota Bukit Bunga merupakan kota kecil, wajar mungkin kau tidak pernah mendengarnya. Perjalanan kita selanjutnya melewati Kota Rumput Besi, lalu setelahnya kita akan sampai di Kota Bukit Bunga." Yao Han menjelaskan, secara tidak langsung memberi petunjuk pada Bolang.
"Kota Rumput Besi... aku pernah mendengarnya. Memang tidak terlalu jauh dari posisi kita... Rumput Besi... Bukit Bunga... Ah, aku ingat!"
Bolang berseru dan berhenti, membuat yang lain juga ikut berhenti.
"Beberapa tahun lalu, Kota Bukit Bunga dikenal cukup luas sampai ke beberapa daerah. Sayangnya..."
Dahi Yao Han mengerut, kalimat Bolang yang menggantung membuat dirinya berfirasat buruk.
"Terkenal bagaimana? Sejauh yang kuingat, Kota Bukit Bunga terkenal karena terdapat bukit yang ditumbuhi banyak bunga, begitupun dengan setiap sudut kotanya yang juga ditumbuhi banyak bunga."
Bolang menggeleng pelan menanggapi ucapan Yao Han, "Tuan Yao, mungkin kau lupa atau bisa juga tidak mendengarnya... tetapi Kota Bukit Bunga hampir musnah beberapa tahun lalu."
"Apa?!" Yao Han menjerit kaget. Jantungnya seolah berhenti sejenak. Tidak banyak yang bisa membuat Yao Han kaget, tetapi ucapan Bolang barusan mampu mengguncang ketenangan Yao Han, "Apa maksudmu dengan musnah?!"
"Hampir musnah, Tuan Yao..."
"Apapun itu!" sanggah Yao Han cepat, "Ceritakan semua yang kau tahu!" Yao Han bahkan memegang kedua pundak Bolang dan mengguncangnya beberapa kali.
Shenghao dan Honghao juga dibuat terkejut lalu berusaha menarik Yao Han agar dirinya menenangkan diri. Ini pertama kalinya mereka melihat Yao Han kehilangan ketenangannya.
"Ehm... ini..." Bolang menggaruk kepalanya, merasa sedikit bersalah atas ucapannya melihat reaksi berlebihan Yao Han.
Bolang kemudian bercerita, sekitar lima tahun lalu, Kota Bukit Bunga mendapat serangan siluman. Kabarnya jumlah siluman yang terlihat sekitar dua puluhan ekor.
Meskipun sudah memiliki persiapan dalam menghadapi para siluman, para penduduk tetap kewalahan. Bantuan yang diterima dari tempat lain juga cukup terlambat.
Melihat kondisi kota yang memprihatinkan, cukup banyak orang memilih pergi dan tinggal di kota lain karena takut mendapat serangan serupa. Kebanyakan memilih pindah ke Kota Rumput Besi.
"Hanya itu yang kudengar, Tuan Yao..." Bolang menutup ceritanya.
"Lagi-lagi siluman..." Kedua tangan Yao Han mengepal erat. Wajahnya sedikit pucat yang kemudian memerah. Tubuhnya juga gemetaran.
Yao Han berusaha mengeyahkan pikiran tentang kejadian penyerangan siluman ke Kota Bukit Bunga. Lima tahun lalu... dengan kata lain Yao Han baru dua tahun tinggal di Pulau Bulan Bintang.
Saat itu praktiknya masih cukup rendah dan belum menguasai ilmu melindungi diri yang baik. Jika masih tinggal di Kota Bukit Bunga, dia hanya berakhir menjadi korban luka atau paling buruk menjadi makanan siluman.
"Kau tidak berbohong tentang ini, bukan?" tanya Honghao meragu, dia berharap ini hanya bualan.
"Aku hanya mendengarnya, tetapi saat itu cukup banyak yang menceritakannya sampai menjadi kabar hangat cukup lama."
Yao Han berusaha menenangkan diri dengan menarik napas berulangkali.
"Saudara Yao, kau baik-baik saja?" tanya Shenghao sedikit khawatir.
"Cukup baik, aku minta waktu untuk menyendiri."
Shenghao dan yang lainnya mengganguk. Yao Han berjalan menuju sebuah pohon pendek dan mulai duduk bersila kemudian memejamkan mata.
"Han'er..." Meirong terlihat begitu khawatir. Dirinya dan Yutian baru pertama kali melihat wajah pucat ketakutan Yao Han setelah sekian lama. Terakhir kali mereka melihatnya saat Yao Han menerima penglihatan sisi gelap dunia kultivator dari Feng Xian secara tiba-tiba.
Shenghao dan yang lain sabar menunggu dan tidak sampai setengah jam Yao Han mendekati mereka lagi. Meski wajahnya terlihat tenang, tetapi tidak dengan matanya.
Yao Han kemudian mengeluarkan kipas Gunbai, sedikit mengejutkan ketiga orang lainnya. Setelah membentuk segel tangan sederhana, Yao Han mengalirkan Qi pada kipas Gunbai dan membuat ukurannya membesar sampai tiga kalinya.
Ini menjadi salah satu keistimewaan kipas Gunbai. Ukurannya bisa dibuat lebih besar, tetapi tidak bisa dibuat lebih kecil.
"Sebaiknya kita naik kipas ini supaya lebih cepat sampai ke Kota Bukit Bunga."
Kipas Gunbai kemudian melayang datar setengah meter dari permukaan tanah, Yao Han naik dan duduk diatasnya, lalu meminta yang lain mengikuti.
Shenghao dan lainnya terpana melihat bukan hanya kipas Gunbai bisa dibuat lebih besar, tetapi juga bisa dijadikan alat bantu terbang Shenghao ingin memuji Yao Han memiliki pusaka yang begitu bagus dan unik, tetapi momennya sama sekali tidak tepat.
"Pegangan yang erat, aku akan menggunakan kecepatan tertinggi."
Yao Han memperingati yang lain sambil membuat segel tangan yang lain. Tubuhnya diselimuti Qi biru keemasan yang kemudian juga menutupi seluruh kipas Gunbai. Shenghao dan lainnya buru-buru memegang pinggiran kipas sesaat sebelum Yao Han mulai terbang.
Tidak lupa juga Yao Han membentuk pelindung tak terlihat agar para penumpang tidak terganggu dengan gesekan angin.
Berbeda dengan Yao Han yang jantungnya berdetak lebih kencang karena khawatir dengan nasib Kota Bukit Bunga, ketiga orang lainnya lebih khawatir akan jatuh dari kipas karena terbang cukup tinggi.
Delapan jam kemudian, Yao Han melihat sebuah kota dan menurunkan kecepatan terbang kipasnya. Shenghao dan lainnya menarik napas lega setelah dibuat nyaris jantungan berjam-jam lamanya.
Mereka turun dari kipas Gunbai beberapa meter jaraknya dari pintu gerbang kota. Sambil menyimpan pusakanya, Yao Han menatap sendu kota kelahirannya.