Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 120 - Rombongan Berkuda



Sudah sampai di chapter 120, yosh!


*


Dari cerita Bing Houyi yang disampaikan ulang oleh Yutian beberapa bulan lalu dan penyampaian Feng Xian melalui giok suara sebelum dirinya meninggalkan Kota Bukit Bunga, Yao Han mengetahui kultivator generasi muda paling berbakat Lembah Hati Racun saat ini adalah anak kedua Gerbang Racun terbaru.


Oleh karena itu, saat mengetahui praktik kultivasi gadis didepannya dan Yutian yang menyampaikan gadis ini berasal dari Lembah Hati Racun, Yao Han langsung menduga identitas gadis ini sebagai Xu Yin.


Dugaan Yao Han memang tepat meskipun Xu Yin belum menjawab pertanyaan Yao Han. Disaat yang hampir sama, perhatian Yao Han sedikit teralihkan dengan suara samar dari kejauhan.


Suara yang berasal dari derap langkah kaki kuda yang menjadi bagian dari rombongan kecil terdiri dari tujuh orang pria dewasa berwajah sangar. Melihat penampilan mereka, Yao Han sedikit penasaran dengan keperluan mereka. Wajah mereka tidak terlihat seperti orang baik.


'Apakah mereka ini yang disebut kawanan bandit?' Yao Han belum pernah melihat bandit sebelumnya, hanya pernah mendengar ceritanya dari Nenek Yue, orang-orang Kota Bukit Bunga, dan kedua gurunya.


Yao Han mengalihkan pandangan ke Xu Yin, "Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona. Apakah dirimu adalah Xu Yin, anak kedua Patriark Lembah Hati Racun?"


"Hmph! Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Benar atau tidak, apa urusanmu?" Xu Yin berkacak pinggang.


Yao Han menggaruk kepalanya, baru pertama kali menghadapi gadis yang susah diajak bicara. Meskipun tidak langsung menjawab, Yao Han memiliki dugaan kuat dan itu didukung oleh Yutian.


"Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi kau sungguh berani menyebut nama Lembah Hati Racun seenaknya."


"Apakah aku harus takut karena Lembah Hati Racun adalah salah satu sekte besar aliran hitam bintang sepuluh?" Yao Han tertawa kecil, "Aku tidak takut, bukan berarti aku meremehkan Lembah Hati Racun, lebih tepatnya aku menghormati mereka. Hanya satu orang dari Lembah Hati Racun yang paling aku takuti."


Orang yang dimaksud Yao Han tentu saja adalah Yutian. Terlepas dari sikap dan pembawaannya yang aneh dan konyol, Yutian tetaplah salah satu guru yang dia takuti dan hormati.


"Siapa itu?"


"Hm? Kenapa aku harus memberitahumu? Memangnya apa urusanmu?" Yao Han mengembalikan kata-kata Xu Yin sebelumnya.


Dibalik topeng besinya, Xu Yin merengut lucu. Kalau bukan karena gadis ini cukup galak, Yao Han mungkin akan mencubit gemas pipinya yang sedikit tembem.


"Jadi, Nona Xu..."


"Aku bukan Nona Xu!"


"Eh, benarkah? Tapi aku yakin kau adalah Nona Xu Yin. Apa yang membuatmu pergi dari Lembah Hati Racun dan berada disini?"


"Aku bukan Nona Xu Yin dan bukan berasal dari Lembah Hati Racun." Xu Yin tetap menyangkal.


"Tidak perlu berbohong. Apa mungkin kau ikut mencari kakakmu, Saudara Xu Yang yang kabur dari sekte?"


"Ng? Kau tahu tentang kakakku?"


"Aha-! Kau akhirnya mengaku adik dari Saudara Xu Yang!" Yao Han tertawa karena merasa berhasil 'menjebak' Xu Yin.


Gadis itu berdecak kesal karena keceplosan, lalu menatap kesal Yao Han, "Kenapa kalau benar? Kau ingin mengambil keuntungan dariku?"


"Nona, hentikan sikap kelewat percaya dirimu itu. Kalau kau memang mencari kakakmu, seharusnya kau dikawal beberapa senior. Namun melihat kau hanya sendiri, sepertinya kau pergi keluar tanpa memberitahu orang terdekatmu."


"Bukan urusanmu!"


"Memang bukan urusanku. Namun aku penasaran dengan reaksi Kakek Kodok dan Nenek Ular mengetahui kelakuan cicit perempuan mereka."


"Hm, bisa dibilang aku cukup banyak mengetahui tentang mereka dan Lembah Hati Racun secara keseluruhan." Yao Han berpikir tidak ada salahnya membuka identitasnya pada Xu Yin, "Oh ya, namaku Yao Han, murid Guru Feng, Angin Timur dari Pulau Bulan Bintang. Salam kenal, Nona Xu."


Xu Yin tidak asing dengan nama Angin Timur ataupun Pulau Bulan Bintang. Saat Yao Han mengenalkan dirinya sebagai murid Feng Xian, Xu Yin memberikan sikap menilai dengan melihatnya dari atas ke bawah berulang kali.


"Jangan membual. Mana mungkin Senior Angin Timur memiliki murid sepertimu."


"Kau tidak percaya? Aku mendengar dari guruku, kondisi kakakmu sedang tidak baik karena mengalami efek samping dari mempelajari Kitab Racun Langit. Guruku sendiri tahu dari Kakek Kodok dan Nenek Ular yang datang berkunjung ke Pulau Bulan Bintang."


Xu Yin terdiam cukup lama, sementara pandangan Yao Han sesekali ke arah rombongan berkuda yang semakin menjauh. Firasatnya sedikit buruk tentang mereka.


"Nona Xu, kita tunda pembicaraan kita, aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu."


Yao Han segera melesat meninggalkan Xu Yin, membuat gadis itu kaget dan berdecak kesal.


"Hei-! Dasar tak punya sopan santun!"


Xu Yin pergi menyusul dengan susah payah karena Yao Han menggunakan Langkah Angin Surgawi.


Rombongan berkuda yang dilihat Yao Han memasuki sebuah desa kecil. Sedikit menjaga jarak dari mereka, Yao Han mengambil posisi di atas salah satu rumah warga.


"Aish, kau cepat sekali. Ada apa denganmu?" Xu Yin akhirnya berhasil menyusul Yao Han dengan napas tersengal-sengal. Tanpa Xu Yin sadari, dia malah mengikuti Yao Han yang merupakan orang asing baginya.


Tidak ada jawaban dari Yao Han karena tatapan pemuda itu fokus pada apa yang dilakukan para pria berwajah sangar penunggang kuda. Salah satu dari mereka memukul pria tua dan beberapa pria lain mulai memasuki rumah-rumah warga dan menyeret beberapa gadis yang mereka temukan.


Merasa geram dengan tingkah mereka, Yao Han turun dan melemparkan sebuah batu kerikil ke arah pria yang memukul pria tua dari desa kecil.


"Sialan-! Siapa yang berani melempar batu padaku?!" raungnya marah.


"Siapa yang memberimu hak memukul paman itu dan menyeret para gadis? Lepaskan mereka."


Semua pandangan mengarah pada Yao Han, dibelakangnya ada Xu Yin.


"Siapa kau anak muda?! Jangan ikut campur urusan kami!"


"Hm? Harusnya aku yang bertanya seperti itu? Siapa kalian dan apa maksud tindakan kalian?"


"Hmph! Kami dari kelompok Gagak Merah, pelindung wilayah disekitar sini! Mereka tidak bisa membayar upeti perlindungan pada kami, sebagai gantinya, kami mengambil para gadis. Hahaha!"


Yao Han tidak cukup bodoh untuk mengetahui ucapan pria itu adalah omong kosong. Dia juga mengetahui nasib buruk yang akan dialami para gadis jika berhasil dibawa paksa oleh rombongan berkuda ini.


Memanfaatkan celah kelengahan mereka, Yao Han bergerak cepat. Dia mendekati semua pria jahat, terutama yang menahan para gadis, lalu memberikan pukulan dan tendangan keras.


Semua pria jahat itu meronta kesakitan, terutama pria yang berbicara pada Yao Han yang mendapat tendangan keras di perut. Setelah berguling-guling, dia memuntahkan darah segar berulang kali.


"Katakan padaku, bagaimana cara kau ingin mati?" Yao Han bertanya dingin.


 


Pembaca yang beradab, cerdas, dan baik hati adalah pembaca yang selalu memberikan like dan spam komen.


Hari ini author update tiga chapter lagi, bagaimana cara kalian menghargai kerja keras otak author?