
Jauh dari posisi Xiao Ni yang berada di Lembah Hati Racun atau Yao Han yang sedang dalam perjalanan menuju Sekte Bintang Ungu, di Pulau Bulan Bintang, Feng Xian berdiri menghadap ke hutan luas sambil menatap langit gelap berbintang. Memang saat itu sedang malam hari.
Tidak terlihat bulan dalam bentuk apapun di atas langit. Pandangannya tampak menerawang. Tidak terlihat ada ekspresi pada sorot mata maupun wajahnya.
Setelah beberapa saat, raut wajah datarnya berubah. Sorot matanya sedikit menajam dan jika diperhatikan lebih teliti, ada sorot kekhawatiran disana. Dahinya mengerut tipis, ciri khas orang yang sedang gusar atau memikirkan sesuatu yang cukup berat.
"Akhir-akhir ini perasaanku tidak baik. Semakin lama semakin besar saja..."
Feng Xian kemudian berjalan menuju teras rumahnya dan duduk disana. Dia mengeluarkan guci kecil berisi Arak Persik Bulan buatan Yao Han yang menjadi minuman kesukaannya.
"Ahh... arak manis ini membuatku jauh lebih tenang." Feng Xian tertawa kecil setelah menegak satu guci arak kecil itu.
Dalam cincin ruangnya, guci arak yang tersisa tinggal tiga buah saja. Itulah kenapa sebelum Xiao Ni pergi ke tempat Yao Han dan mengantarkan dua kakak beradik Xu kembali pulang ke Lembah Hati Racun, Feng Xian minta dibawakan semua Arak Persik Bulan yang dimiliki Yao Han.
Feng Xian menghela napas lagi, pandangannya mengarah pada kejauhan, "Perasaan ini... apakah akan terjadi perang lagi? Aish, orang-orang bodoh itu benar-benar tidak punya otak."
Sepanjang hidupnya, Feng Xian selalu merasakan firasat tidak baik saat terjadi sesuatu menggemparkan yang berkaitan dengan kehidupan dunia kultivator, terutama saat akan terjadinya perang besar. Tidak hanya belasan kali, melainkan puluhan kali dan itu biasanya dia rasakan setidaknya setiap sepuluh tahun sekali.
"Xiao Han..." Feng Xian bergumam menyebut nama murid satu-satunya, Yao Han.
Semua orang yang mengenal Feng Xian sang Angin Timur, pasti akan menyebutkan perangainya sebagai orang yang tidak peduli pada apapun, baik itu pada dunia manusia biasa maupun dunia kultivator. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Bagi orang-orang yang mengenalnya cukup dekat, perangai Feng Xian tidak seburuk itu.
Tiga dari Jagoan Empat Penjuru, Xiao Ni si Bangau Pelangi, bahkan Meirong dan Yutian yang kurang dari dua puluh tahun tinggal bersama Feng Xian di Pulau Bulan Bintang dapat mengetahui bahwa pria berwajah tegas itu memiliki sikap kepedulian yang cukup tinggi pada orang terdekatnya.
Jika ada yang menanyakan siapa orang terdekat dan paling dipedulikan oleh Feng Xian saat ini, maka akan ada satu nama yang disebutkan. Siapa lagi kalau bukan Yao Han, murid satu-satunya.
Tidak ada yang tahu, tetapi sejak Feng Xian menerima Yao Han sebagai murid, dia bersumpah dalam hati hanya akan menjadikan Yao Han sebagai murid satu-satunya yang dia dimiliki sepanjang hidupnya.
Semenjak ada Yao Han dan menghabiskan waktu dengan tinggal bersama di Pulau Bulan Bintang, ketidakpedulian Feng Xian perlahan berkurang seiring dengan kepeduliannya yang bertambah.
Namun Feng Xian memang tidak menunjukkan kepeduliannya secara terang-terangan dan tertutupi dengan sikap tegas ataupun ucapan tanpa disaring yang pernah dia lontarkan.
Feng Xian teringat pada sebuah percakapan kecil dengan Yao Han beberapa tahun lalu, tentang dirinya yang akan melenyapkan seluruh kultivator yang menurutnya tidak bisa membuat Benua Bulan Biru benar-benar damai.
Namun memiliki murid seperti Yao Han, pemikiran liar Feng Xian itu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Mengingat watak dan perangai Feng Xian dan muridnya bertolak belakang. Feng Xian sendiri tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih terhadap muridnya.
Harus Feng Xian akui, muridnya sangat berbakat, tetapi pola pikir Yao Han berbeda cukup jauh dengan dirinya. Feng Xian memiliki pandangan berbeda dengan Yao Han terhadap terbentuknya ketenangan dan kedamaian kehidupan semua makhluk di Benua Bulan Biru.
"Jika perang kultivator akan terjadi lagi, apakah aku perlu turun tangan seperti dua puluh tahun lalu?"
Cukup serius Feng Xian merenung, tidak lama setelahnya dia tertawa kecil, "Kita lihat saja nanti. Monster kecil itu pasti protes jika aku kembali beraksi."
***
Setiap orang dalam ruangan itu, terutama yang mengenal nama marga Angin Timur, menahan napas dan berkeringat dingin saat Xiao Ni menyebut tentang Feng Xian dan tindakan yang mungkin akan dilakukannya jika perang kultivator terjadi lagi.
Masih segar dalam ingatan petinggi Lembah Hati Racun itu saat Feng Xian muncul di medan perang besar dua puluh tahun lalu, karena Lembah Hati Racun adalah salah satu pihak utama yang terlibat, selain Sekte Gunung Langit dan Sekte Pedang Abadi, yang berujung pada keikutsertaan sekte bintang sepuluh aliran hitam dan putih yang lain dalam perang selama dua tahun itu.
"Aku harap perang tidak lagi terjadi di wilayah Negeri Hutan Hijau. Sekedar saran saja, jangan mau diajak kerjasama dengan Sekte Awan Bulan dan terlibat dalam perang. Yao Han, murid Senior Feng itu sedang sibuk berkelana mengelilingi Negeri Hutan Hijau. Menurut kalian, apa yang akan dilakukan Senior Feng jika muridnya terjebak dalam situasi yang membahayakan nyawa?"
Xiao Ni menambahkan, jika Feng Xian mengetahui Yao Han terseret dalam perang kultivator yang kemungkinan akan terjadi di wilayah Negeri Hutan Hijau dan Lembah Hati Racun menjadi salah sekte yang ikut terlibat dalam perang itu, maka kemungkinan besar Lembah Hati Racun menjadi salah satu sekte yang akan tinggal nama.
Xiao Ni tidak berencana tinggal lebih lama, dia menangkupkan tangan dan sedikit membungkuk, "Terima kasih atas jamuan dan hadiah yang kalian berikan. Aku pamit undur diri."
Xiao Ni tidak menunggu tanggapan mereka, lalu membalikkan badan dan keluar ruangan. Mereka bisa melihat sosok Xiao Ni yang keluar dari bangunan paling besar di sekte itu. Xiao Ni melayang tinggi dan terbang melesat cepat menjauhi Lembah Hati Racun dalam wujud Bangau Pelangi.
"Senior Xu, siapa sebenarnya dia?"
Hui Jin tahu Xiao Ni adalah hewan roh yang mengantarkan Xu Yang dan Xu Yin kembali ke sekte, tetapi dia tidak tahu latar belakang Xiao Ni sebenarnya.
"Dia bernama Xiao Ni, hewan roh yang menjadi bawahan Senior Feng sang Angin Timur." Xu Lao menghela napas panjang lalu melirik She Liu, "Sekarang aku mengerti alasan Xiao Ni dalam wujud aslinya tidak asing bagi kita. Dia adalah Bangau Pelangi yang datang bersama dengan Senior Feng ke medan perang dua puluh tahun lalu."
Semua orang disana kemudian memahami, Xiao Ni adalah sosok yang ikut dengan Feng Xian mengacak-acak medan perang untuk menghentikan perang besar kultivator kala itu.
---