
Kekesalan Xu Yin pada Yao Han hampir membuatnya ingin melempari pemuda itu dengan batu.
"Hei, kau ini pura-pura tidak mendengarku, ya? Jangan abaikan aku!"
Yao Han berhenti mengemil sejenak, "Nona Xu, namaku bukan 'hei'. Aku sudah memperkenalkan diriku sebelumnya dan sepertinya kau lupa. Namaku Yao Han. Karena aku lebih tua darimu, setidaknya kau bisa memanggilku sebagai Senior Yao."
"Hmph!" Xu Yin memalingkan muka sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Nona Xu, kau tidak bosan memakai topeng terus? Kau memakainya agar tidak dikenali orang lain atau tidak ingin ada yang melihat wajah cantik dan manismu?"
"Jangan bicara sembarangan!" Dibalik topeng, wajah Xu Yin bersemu merah karena Yao Han secara tidak langsung memujinya. Yao Han hanya mengedikkan bahu santai.
"Ehem, hanya perasaanku saja atau Xiao Han memang terlalu blak-blakan pada gadis?" bisik Bing Lizi pada Meirong.
"Setahuku Han'er tidak terbiasa berkomunikasi dengan perempuan, apalagi yang usianya tidak beda jauh dengannya. Ini semua salah Yutian yang tidak becus mengajarinya."
"Heh-! Kenapa aku yang kau salahkan?" Yutian tiba-tiba menyahut.
"Memangnya harus dipertanyakan lagi? Kau itu selalu menjadi tempatnya salah."
Yutian menunjuk Meirong dengan kesal, "Rongrong, suatu hari aku akan membuatmu tidak berkutik dihadapanku." Meirong tidak peduli dan kembali memperhatikan Yao Han.
"Senior Bing, kau tahu? Sungguh ajaib Han'er tahan dengan tingkah laku kedua gurunya ini." Tian Jian berbisik pada Bing Lizi.
"Lebih ajaib lagi Saudara Feng bisa bertahan dengan tingkah laku mereka selama beberapa tahun dan tidak menendang mereka keluar dari Pulau Bulan Bintang."
"Ah, kau benar sekali, Senior."
Yao Han sempat melirik tidak jauh darinya ada Bolang yang sedang terbaring santai. Masih dalam ukuran besar dan Yao Han sengaja tidak mengembalikan ke Dimensi Pagoda agar menjadi 'penjaga sementara' desa kecil.
Ada juga beberapa orang, terutama anak kecil hingga remaja yang berusaha mendekati Bolang. Mereka sedikit takut sekaligus penasaran dengan Bolang. Serigala Malam itu tidak terlihat terganggu, malah terkesan menikmati sikap 'mencoba ramah' warga desa padanya, lagipula dia menyukai anak-anak.
"Nona Xu, kau memakai topeng khusus yang tidak bisa ditembus Indera Surgawi kultivator tingkat tinggi sekalipun, tetapi itu tidak berguna dihadapanku. Kau boleh tidak percaya, tetapi aku bisa melihat jelas rupa wajahmu. Kenapa tidak kau lepaskan saja topengmu? Kau tidak merasa bosan?"
Xu Yin jelas tidak percaya, dia merasa Yao Han sedang membual, "Heh, tidak perlu mengatakan omong kosong. Kau mencoba mengakaliku agar aku membuka topeng hanya untuk melihat wajah cantikku, bukan? Sudah kuduga kau ini laki-laki mesum."
Yao Han terbatuk-batuk pelan, "Harus kuakui kau sangat percaya diri, Nona Xu dan aku tidak akan menyalahkanmu. Lupakan saja perkataanku sebelumnya."
Yao Han kembali mengemil. Xu Yin penasaran dengan apa yang dimakan Yao Han karena dia mencium aroma madu secara samar.
"Apa yang kau makan itu?"
"Rumput madu. Kau mau?" Yao Han mengulurkan kantung lain.
"Rumput... madu? Kau mengemil tanaman sihir?! Apa kau sudah gila?!"
"Hm? Kau bukan orang pertama yang menyebutku gila. Kau mau atau tidak?" Yao Han sama sekali tidak tersinggung.
Lalu pada akhirnya Xu Yin menerima kantung itu dan ikut mengemil rumput madu bersama Yao Han. Xu Yin hanya membuka sedikit topengnya saat menyuapkan rumput madu ke dalam mulut.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau masih disini, Nona Xu? Kau sudah tidak ingin mencari kakakmu lagi?"
"Aish, bukan itu maksudku." Yao Han menghela napas panjang, "Sudahlah, lebih baik aku tidak bertanya padamu."
"Hm... aku tidak tahu harus pergi kemana mencari Yang-gege, kupikir dia akan pergi ke wilayah Negeri Hutan Hijau, jadi aku menyusulnya sampai kemari."
"Bukan maksudku meremehkanmu, tim pencari yang dikerahkan Lembah Hati Racun saja belum tentu bisa menemukan kakakmu dalam waktu singkat, apalagi dirimu seorang. Namun karena kau sudah terlalu jauh dari rumah, berharap saja langit mempertemukanmu dengan kakakmu secepat mungkin."
Xu Yin terdiam cukup lama, tangannya meremas kantung rumput madu cukup kuat. Kalimat Yao Han memang benar dan itu membuatnya teringat dengan betapa frustasinya dia mencari kakaknya.
"Apa kau bisa membantuku mencari Yang-gege? Aku pastikan kau mendapat bayaran setimpal."
"Kesampingkan oal bayaran, tidak satupun diantara kita yang tahu posisi kakakmu dan itu membuat kita harus mencarinya secara acak, kecuali kau punya beberapa petunjuk. Apa yang membuatmu berpikir kakakmu pergi ke wilayah Negeri Hutan Hijau?"
"Hanya firasatku. Negeri Hutan Hijau termasuk wilayah aman untuk bepergian seorang diri."
"Hm, berharap saja saat kau berhasil menemukan kakakmu, dia tidak dalam kondisi yang semakin buruk."
"Kau tidak mau membantuku mencarinya?"
"Aku sudah punya urusan sendiri dan ingin pergi ke suatu tempat. Mungkin setelah itu aku bisa ikut mencari Saudara Xu. Jujur saja, kakakmu bukanlah prioritas utama bagiku, hanya saja aku diminta guruku untuk menyembuhkan kakakmu jika kami bertemu."
Xu Yin menatap Yao Han ragu, "Kau... menyembuhkan kakakku? Kau yakin bisa melakukannya?"
"Aku paham kau tidak akan percaya padaku. Tanpa bermaksud sombong, aku memiliki sebuah teknik yang tidak dikuasai pihak Lembah Hati Racun untuk membersihkan setidaknya separuh racun dalam tubuh Saudara Xu."
Xu Yin tidak ingin percaya, tetapi sorot mata Yao Han menunjukkan dirinya tidak berbohong. Perasaan Xu Yin campur aduk, membuatnya tidak bisa menanggapi.
Yao Han melirik ke arah Bolang lagi. Serigala Malam itu dikelilingi cukup banyak anak-anak dan beberapa orang dewasa. Malah ada yang bersender nyaman dan mengelus bulu-bulunya.
Malam hari pun tiba. Yao Han membuat api unggun didepan kubah sederhana buatannya. Ukurannya kecil, tetapi karena merupakan Api Feniks, itu sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan tubuh.
"Ini pertama kalinya aku melihat api berwarna merah keemasan." Xu Yin sedikit penasaran. Yao Han hanya tersenyum tipis tanpa berniat menjelaskan.
Kepala desa dan beberapa warga ada yang menawarkan makanan dan minuman pada Yao Han, tetapi ditolak dengan halus. Sebaliknya Yao Han mengeluarkan empat tubuh siluman tak bernyawa yang masih segar dan mengajak semua warga berpesta kecil makan daging siluman.
Tidak semua siluman di Pulau Bulan Bintang Yao Han jadikan nutrisi Dimensi Pagoda, ada beberapa yang disimpannya untuk bekal dalam perjalanan, contohnya adalah seperti ini.
Untuk pertama kalinya, warga desa berpesta dengan makan daging siluman. Itu termasuk pesta yang meriah bagi mereka dan suasana menjadi riang gembira. Semua berkat kedatangan Yao Han ke desa kecil mereka sehingga berulangkali mereka mengucapkan terimakasih.
Xu Yin melepaskan topengnya. Yao Han sempat menatap wajah Xu Yin selama dua detik sebelum mengalihkan pandangan.
'Apa-apaan reaksinya itu?'
Xu Yin merasa kesal karena Yao Han terlihat tidak peduli dengan wajah cantiknya.
---