Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 109 - Bulu Ajaib



Dalam proses menumbuhkan kembali tangannya, Hua Ren memang merasakan rasa sakit sekaligus panas. Qi murni unsur kayu dan air Yao Han menekan rasa tidak nyaman itu. Namun setelah prosesnya selesai, Hua Ren seolah melupakan rasa sakit yang sebelumnya dia rasakan karena takjub pada keajaiban yang ditunjukkan Yao Han.


Selama beberapa waktu, Hua Ren larut dengan perasaan senangnya mendapatkan kembali tangan kirinya yang utuh. Kini dia tidak lagi menjadi orang cacat.


"Han'er, kau benar-benar anak ajaib."


Yao Han tersenyum tipis, "Walikota terlalu berlebihan, kemampuanku sebenarnya terbatas jika bukan karena bantuan bulu merah tadi."


"Boleh kutahu bulu apa itu? Darimana kau mendapatkan benda ajaib itu?"


"Aku tidak bisa memberi tahu secara rinci, Walikota. Lebih baik anda tidak mengetahuinya karena bisa membahayakan nyawa kita, bahkan penduduk kota..."


Yao Han hanya memberitahu bulu itu pemberian dari gurunya. Ada dua helai bulu yang dia miliki dan sekarang tersisa satu.


Terpaksa dia berbohong karena demi kebaikan Hua Ren juga. Lagipula tidak ada yang dirugikan jika dia berbohong pada Hua Ren.


Pemimpin Kota Bukit Bunga itu menelan ludah gugup, dia bisa melihat keseriusan pada ucapan dan sorot mata Yao Han, "Baiklah, baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak atas bantuan sangat berhargamu ini."


"Walikota terlalu sungkan. Setidaknya dengan ini anda tidak lagi kesulitan beraktivitas. Lagipula aku ingin membantu anda sebelum melanjutkan perjalananku."


Senyuman Hua Ren memudar, "Ah, kau ingin pergi lagi? Berapa lama? Apa kau akan kembali ke Kota Bukit Bunga?"


Yao Han menjelaskan dia 'harus' berkelana untuk melihat dunia yang lebih luas. Sejak dirinya menjadi kultivator tujuh tahun lalu, bisa dibilang dirinya bukan lagi menjadi bagian Kota Bukit Bunga.


Hanya karena pernah tinggal dan besar di Kota Bukit Bunga, membuat tujuan Yao Han pertama kali setelah meninggalkan Pulau Bulan Bintang adalah kota kelahirannya itu.


Saat ini, jika Yao Han ingin kembali pulang setelah puas berkelana, maka rumah yang dia tuju adalah kediaman guru pertamanya, Feng Xian di puncak gunung tertinggi Pulau Bulan Bintang. Keluarganya yang dia miliki sekarang adalah guru dan paman gurunya.


Yao Han tidak bisa memastikan apakah dia akan kembali ke Kota Bukit Bunga atau tidak, tetapi mungkin dia akan datang lagi jika ada waktu luang.


"Jadi begitu, aku mengerti."


Hua Ren masih berharap Yao Han akan tinggal selamanya di Kota Bukit Bunga dan menjadikan kota kecil ini berkembang menjadi kota besar.


Meskipun masih muda, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki Yao Han saat ini, Hua Ren merasa Yao Han cocok untuk menjadi walikota pengganti dirinya dimasa depan. Namun dia sadar, Yao Han bukan lagi anak muda seperti dulu sehingga dia tidak bisa mencegah kepergiannya.


"Han'er, kau mungkin menganggapku tidak tahu malu, apalagi aku tidak bisa membalas semua kebaikan yang kau lakukan. Namun aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi."


"Walikota tidak perlu sungkan mengatakannya."


"Jika dalam perjalanan kau bertemu dengan Feng'er, bisakah kau membantunya dalam praktik?"


"Feng gege? Hm, dia bergabung dengan sekte. Kemungkinan kami akan bertemu saat dia sedang menjalani misi di luar sekte. Atau bisa juga aku mendatangi sektenya dan mencari dia. Tenang saja, walikota, aku akan membantunya, tapi bantuan yang seperti apa?"


"Cukup dengan memberikannya sumber daya berupa pil. Bakat Feng'er terbatas, kuharap setidaknya dia bisa mencapai Ranah Pondasi meski hanya membentuk Pondasi Fana."


Dalam Dimensi Pagoda, Meirong dan Yutian kompak mendengkus kesal. Kata 'cukup' tidak pernah ada dalam kamus kehidupan kultivator. Omong kosong jika Hua Ren merasa puas dengan Hua Feng yang hanya bisa membentuk Pondasi Fana, karena perjalanan praktik kultivator akan berhenti sampai disana.


Jika bukan karena Yao Han, Meirong dan Yutian tidak akan menahan diri dan membuat perhitungan pada Hua Ren dengan cara membakar atau meracuninya.


"Baiklah, Walikota."


"Sekali lagi aku berterimakasih padamu Han'er."


Mengingat masa lalu, hubungan Yao Han dan Hua Feng terbilang cukup dekat sebelum anak walikota itu menjadi bagian dari sekte.


Setelah Hua Ren menyampaikan permintaannya, Yao Han berpikir untuk membantu Hua Feng agar bisa mencapai setidaknya Ranah Dasar tingkat dua belas dan berpeluang membentuk Pondasi Bumi, sehingga ada peluang tambahan lagi di masa depan mencapai Ranah Inti dengan membentuk inti terlemah, yaitu Inti Kuning.


***


Kelima akar roh murni Yao Han sudah mencapai puncak dari Ranah Dasar tingkat tujuh belas. Yao Han hanya perlu menembus dinding batas setipis helai rambut untuk menembus Ranah Dasar tingkat delapan belas.


Saat ini, Yao Han duduk bersila di pinggiran sungai di balik hutan kecil Kota Bukit Bunga. Di tiga sisi, berdiri Bing Lizi, Meirong, dan Yutian. Mereka baru saja menciptakan dinding formasi, sehingga orang lain tidak bisa melihat Yao Han dan segala aktivitasnya.


Setengah jam kemudian, dari tubuh Yao Han terpancar Qi dahsyat diikuti cahaya biru keemasan terang menyilaukan. Cahaya itu kemudian membesar dan membentuk pilar cahaya yang menjulang tinggi. Berkat formasi sihir, pilar cahaya itu hanya setinggi seratus meter dan tidak bisa menembus ke langit.


Tian Jian dan Bolang yang berada tidak jauh dari formasi sihir hanya bisa berdecak kagum. Yao Han adalah kultivator pertama yang mereka ketahui berhasil mencapai Ranah Dasar tingkat delapan belas, meskipun itu untuk akar roh murni unsur api saja.


Pilar cahaya biru keemasan dari tubuh Yao Han bertahan cukup lama sebelum perlahan menghilang. Yao Han tidak langsung membuka mata, karena ingin mengokohkan praktik dan membiasakan diri dengan kekuatan barunya.


Berdasarkan pengalaman di Pulau Bulan Bintang, Yao Han akan kembali memunculkan pilar cahaya sebanyak empat kali saat menaikkan praktik empat akar roh murni yang lain.


"Fiuhh..."


Yao Han menghembuskan napas panjang dan tersenyum lebar. Tubuhnya terasa lebih ringan juga kuat.


Bersamaan dengan dirinya berdiri, giok suara yang dia jadikan mata kalung itu menyala terang, tanda Feng Xian menghubunginya. Yao Han merasa heran karena baru beberapa waktu lalu dia berkomunikasi dengan Feng Xian terakhir kalinya.


'Mungkin ada kabar penting...'


Benar saja, kabar yang disampaikan Feng Xian tidak hanya mengejutkan dirinya, tetapi juga Yutian. Tidak lain adalah kabar tentang Xu Yang, anak pertama Patriark Lembah Hati Racun.


Yutian diam cukup lama sebelum menghela napas panjang.