
Feng Xian belum ada keinginan pergi ke Lembah Petir Abadi untuk memeriksa dan menemukan keberadaan Xi Lei sesuai dugaan Bing Lizi yang pernah disampaikannya dulu melalui Giok Suara. Faktor utamanya adalah pancaran cahaya Qi pada Giok Jiwa Xi Lei yang tiba-tiba semakin terang selama beberapa minggu terakhir.
Bing Lizi yang mendengar penjelasan itu semakin kuat meyakinkan Feng Xian untuk segera menemukan Xi Lei.
"Kau tidak perlu khawatir, Saudara Bing. Petir Tua itu pastinya baik-baik saja. Tempat itu memang berbahaya bagi orang lain, tapi tidak untuknya."
Ucapan Feng Xian sebenarnya cukup masuk akal. Lembah Petir Abadi justru akan menjadi tempat yang paling menguntungkan untuk Xi Lei, meskipun Feng Xian berpikir tidak akan ada orang waras yang akan pergi kesana untuk berlatih dan meningkatkan kekuatan.
Bagi orang lain, mereka tidak akan bertahan lama setelah memasuki Lembah Petir Abadi, karena akan disambut sambaran petir yang jumlahnya belasan, puluhan, bahkan ratusan. Kekuatan satu sambaran petir saja sudah hampir membuat nyawa melayang, apalagi lebih dari itu.
Sedangkan untuk Xi Lei, petir-petir disana akan menjadi sumber kekuatan layaknya makanan. Namun meskipun tempatnya menguntungkan bagi Xi Lei, yang mengherankan adalah sosoknya yang tidak muncul setelah lebih dari seratus lima puluh tahun berlalu.
"Baiklah, urusan Petir Tua itu serahkan padaku. Jikapun dia berada disana, itu lebih baik karena monster kecil ini tidak perlu lagi mencarinya dan tinggal fokus menemukan Naga Tua Chen."
Feng Xian berharap Xi Lei memang berada di Lembah Petir Abadi karena jika tidak, Yao Han akan jauh lebih kerepotan menemukannya. Bahkan dengan kekuatannya sekalipun, Feng Xian juga kerepotan menemukan Xi Lei jika sedang berada di luar Pulau Bulan Bintang karena Xi Lei yang selalu menyamar.
"Kurasa menemukan Saudara Chen lebih mudah daripada menemukan Saudara Xi. Kita tahu sendiri seperti apa kebiasaannya." Bing Lizi menanggapi.
Selain Feng Xian dan Bing Lizi, Yao Han dan yang lain penasaran dengan kebiasaan Xi Lei yang dimaksud Bing Lizi, tetapi keduanya tidak memberi penjelasan lebih lanjut.
"Kau bisa menebak dimana si Tua Chen, Saudara Bing?"
Bing Lizi menggeleng pelan. "Aku tidak bisa mengira-ngira, tetapi aku yakin dia berada di wilayah Negeri Hutan Hijau. Selama ini, dia tidak pernah meninggalkan negeri ini, jadi aku menduga demikian. Aku harap begitu."
Feng Xian mengelus dagunya. "Saudara Bing, kau memiliki wujud lain sebagai Kirin Es, jadi kemungkinan si Tua Chen akan memiliki wujud lain sebagai naga sungguhan." Setelahnya, tawa keras Feng Xian menggelegar.
Bing Lizi hanya terkekeh pelan. Meskipun sebenarnya ucapan Feng Xian lebih mengarah pada olokan, tetapi tidak salah mengatakan demikian. Salah satu sihir unsur kayu warisan Chen Long yang dipelajari Yao Han dapat merubah penggunanya sebagai seekor naga kayu, sehingga jika Chen Long memiliki wujud lain sebagai naga, maka itu bukanlah sihir lagi.
"Aku hampir melupakan sesuatu. Ambillah ini."
Feng Xian menyerahkan sebuah cincin ruang yang termasuk Pusaka Langit tingkat tinggi. Yao Han menerimanya dengan bingung karena dia memiliki cincin ruang dengan tingkat yang serupa dari Feng Xian saat berhasil membuat pil kualitas sempurna pertama kalinya.
Yao Han memeriksa isi cincin ruang itu dan hampir tersedak karena didalamnya terisi penuh dengan batu roh kualitas menengah dan tanaman sihir.
"Guru, ini..."
"Jangan salah paham. Itu bukan dariku, melainkan Lembah Hati Racun. Kakek Kodok Xu dan Nenek Ular She yang memberikan hadiah itu melalui Xiao Ni."
"Oh, Guru She dan Paman Guru Xu." Yutian berseru pelan saat mendengar nama guru dan paman gurunya disebut.
Feng Xian melirik Yutian dan mengangguk singkat. Dia menjelaskan hadiah itu sebagai imbalan karena telah menyelamatkan Xu Yang, putra sulung Patriark Lembah Hati Racun Xu Gang.
Yao Han menggaruk sebelah pipinya sambil memandangi cincin ruang itu selama beberapa saat sebelum menyimpannya dengan baik. Dia sengaja tidak memakainya karena merasa cukup dengan memakai cincin ruang pemberian Feng Xian sebelumnya.
"Terima kasih, Guru. Maaf membuat Anda repot datang kemari memberikannya padaku."
"Sudah kubilang aku hanya sekedar lewat kota ini dan mampir. Kau bisa menganggapnya sebagai kebetulan."
Yao Han tersenyum, tetapi dia dan lainnya tidak mempercayai ucapan Feng Xian begitu saja.
Feng Xian tidak tinggal lebih lama dan pergi meninggalkan Kota Rubah Salju. Sebelum itu, dia sekali lagi mengingatkan Yao Han agar tidak lupa mencari pasangan hidup selain rajin berlatih dan mendalami ilmu. Feng Xian tidak akan membiarkan Yao Han sama sepertinya yang memilih hidup tanpa memiliki pasangan.
Yao Han yang diingatkan Feng Xian tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
**
Di Sekte Awan Bulan, tepatnya di ruang pertemuan, Yun Lian dan tiga tetua yang mengawalnya selama bepergian keluar sekte menjalani sidang dalam posisi duduk berlutut. Dihadapan mereka ada Yun Ming dan Yue Song, sementara disekitar mereka ada beberapa petinggi penting sekte sebagai penonton.
Kondisi Yun Mohei, Xie Hong, dan Mo Zha sudah cukup membaik, mungkin perlu beberapa waktu perawatan untuk kembali seperti semula.
Tiga tetua pengawal Yun Lian diwakili Yun Mohei menjelaskan pada para petinggi, sedangkan Xie Hong dan Mo Zha menambahkan beberapa hal yang dirasa perlu disampaikan.
Yun Lian tidak ikut buka suara dan hanya diam sampai kakeknya meminta dia menjelaskan kejadian yang membuat dirinya terseret.
Gadis itu menjelaskan secara rinci dengan lancar tanpa ada yang dia tutupi. Namun setelah dia selesai berbicara, suasana mendadak hening cukup lama sampai dipecahkan oleh suara gelak tawa Yun Ming.
"Kau dengar itu, Saudara Yue? Cucuku berhasil mengalahkan sampah-sampah muda aliran putih itu dengan Tapak Awan Maut."
Yue Song tersenyum kecut sambil melirik Yun Ming penuh rasa iri. Jika dibandingkan keturunannya atau klan Yue yang lain, Yun Lian akan menjadi pemenangnya sebagai generasi muda paling berbakat.
Yue Song mau tak mau mengakui bakat alami Yun Lian, tetapi dia perlu menyadarkan Yun Ming untuk tidak terlalu larut dalam kesenangan karena mendengar cucunya yang lebih kuat dibandingkan generasi muda aliran putih.
"Ehem, maaf aku lepas kendali..." Yun Ming berdeham dan kembali bersikap tegas, seolah reaksinya tadi tidak pernah terjadi. Jika tidak menahan diri, namanya sebagai Gerbang Maut akan kehilangan pamor.
"Kakek tentu bangga padamu, Lian'er, tapi kejadian ini membawa berdampak besar."
Yun Ming berniat menghela napas panjang, tetapi saat Yun Mohei menyampaikan mereka sempat bertemu dengan murid Angin Timur, napas Yun Ming tertahan.
Sempat sibuk, terus niatnya refreshing sebentar. Eh, kebablasan. Malah sempat keasikan main game jadul monopoli. Ada yang pernah main juga?