
Bing Lizi dan Chen Long sama-sama penasaran dengan kondisi Xi Lei. Mereka beranggapan Xi Lei juga menjelma menjadi hewan roh seperti mereka dan mulai menebak-nebak wujud hewan roh Xi Lei.
"Mungkinkah kera? Selain menguasai beragam sihir unsur petir, Saudara Xi juga menguasai ilmu tongkat." Bing Lizi meminta pendapat Chen Long.
"Aku pikir juga begitu. Kera dan petir... Kera Petir? Sedikit tidak masuk akal? Masih mungkin jika itu Kirin atau Naga." Chen Long menjawab agak ragu.
Bo Lang kemudian ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka berdua. "Sebenarnya ada jenis hewan roh langka yang memiliki kekuatan petir. Leluhur dari semua jenis hewan roh dan siluman berwujud serigala, yaitu Serigala Petir yang memiliki ciri khas tanduk perak dan berekor dua.
"Oh, benarkah? Serigala Petir..." Chen Long merasa terkejut tapi kemudian mengingat-ingat tentang Serigala Petir. "Tapi... hewan roh satu itu harusnya sudah punah. Aku pernah bertemu dengan salah satunya dan langsung membunuhnya mengingat serigala satu itu sangat tidak bersahabat dengan manusia."
"Benar, Tuan Besar Chen. Dan hanya sedikit hewan roh berwujud serigala yang cukup bersahabat dengan manusia. Contohnya kaum Serigala Malam sepertiku."
Bing Lizi dan Chen Long mengangguk-angguk mendengar penjelasan Bo Lang.
"Serigala Petir, ya..."
Bing Lizi dan Chen Long kemudian membayangkan Xi Lei dalam wujud Serigala Petir.
"Saudara Xi dan Serigala Petir... kurasa itu sangat cocok dengannya."
Bing Lizi dan Chen Long kemudian tertawa bersama, membuat yang lain kebingungan. Yao Han meminta salah satu diantara mereka menceritakan lebih banyak tentang Xi Lei.
"Senior Xi? Seperti yang kukatakan sebelumnya, dia memiliki kekuatan unsur petir dan mendalami ilmu tongkat. Seingatku, Senior Xi hanya memiliki sebuah pusaka berbentuk tongkat. Namanya Tongkat Penguasa Langit dan termasuk Pusaka Kuno tingkat tinggi."
Chen Long menambahkan bahwa Xi Lei terlihat seperti pria berusia empat puluhan tahun awal. Tubuhnya tinggi dan sangat kekar. Penampilan Xi Lei yang sebenarnya akan sangat jauh berbeda dari yang bisa dibayangkan oleh Yao Han dan lainnya.
"Senior Xi adalah yang tertua kedua setelah Senior Bing diantara kami berempat. Senior Xi mungkin terlihat seperti orang jahat, tapi sifatnya sama sekali jauh berbeda. Senior Xi sangat kuat dan kultivator yang bisa mengalahkannya satu lawan satu hanya Senior Feng. Senior Xi bisa mengungguli Senior Bing yang memiliki dua akar roh murni karena kekuatannya adalah kelemahan alami Senior Bing."
Chen Long juga menjelaskan dia belum pernah melihat ada yang bisa menandingi ilmu tongkat Xi Lei. Dengan kata lain, sejauh ingatan Chen Long, Xi Lei adalah ahli tongkat terbaik di Benua Bulan Biru.
"Yang perlu kau ingat, satu kata yang menggambarkan Senior Xi adalah kecepatan. Bahkan Senior Feng sangat sulit mengimbangi kecepatan Senior Xi."
Yao Han semakin antusias, tidak sabar bertemu dengan Xi Lei dan belajar banyak ilmu darinya.
Tidak ada perbincangan penting lagi dan mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
Chen Long mengamati sekitar dan baru menyadari mereka sedang berada di tengah hutan lebat yang tercipta dari sihir unsur kayu miliknya. Dia kemudian berubah wujud menjadi naga dan bermeditasi dalam posisi melingkar.
Jiu Jinyu memiliki kesibukan tersendiri yang menarik perhatian Yao Han. Ratu Rubah Api Giok itu menyentuhkan sehelai bulu Feniks yang didapatkan dari Meirong ke bagian belakang tubuhnya. Seketika tubuh Jiu Jinyu dilapisi api kemerahan dan bulu Feniks menghilang.
Tidak lama kemudian, dari belakang tubuh Jiu Jinyu muncul sebuah ekor berwarna keemasan sepanjang satu meter.
"Akhirnya aku memiliki ekor lagi..." Jiu Jinyu tersenyum lebar sambil mengelus satu ekornya yang tumbuh kembali dengan penuh kelembutan.
Yao Han tertarik dengan ekor Jiu Jinyu. Tangannya terulur hendak menyentuh ekor itu. Namun tiba-tiba Jiu Jinyu menepuk tangannya sambil menatap Yao Han sambil melotot.
"Maafkan aku, Senior. Aku hanya penasaran dengan ekor Senior. Apakah lebih lembut dan halus dari ekor Bo Lang?" balas Yao Han enteng seolah tanpa dosa.
"Apa? Berani sekali kau membandingkan ekor Ratu ini dengan ekor Serigala Malam. Hmph!"
Bo Lang berbisik pada Yao Han. "Tuan Yao, bagaimana bisa kau membandingkan ekor kami berdua? Jelas seperti langit dan bumi. Semua ras rubah sangat sensitif terhadap ekor mereka, jangan asal membicarakannya apalagi berani menyentuhnya..."
Menurut penjelasan Bo Lang lebih jauh, kaum hewan roh atau siluman berwujud rubah selalu menganggap ekor dan jumlah ekor sebagai tolak ukur kekuatan, keagungan, dan keistimewaan. Dalam kasus Jiu Jinyu saat ini, meskipun ekornya baru tumbuh kembali satu buah, setidaknya Jiu Jinyu mendapatkan kembali kehormatannya sebagai Ratu Rubah.
"Baiklah, aku mengerti." Yao Han hanya bisa diam mengamati ekor Jiu Jinyu yang berusaha dijauhkan dari jangkauannya.
Warna ekor Jiu Jinyu sangat indah dan dilihat dari teksturnya, sepertinya sangat lembut dan halus. Yao Han berusaha dengan baik menahan keinginannya.
Yao Han kemudian memilih tidur karena sudah lama sejak terakhir kali dirinya tidur. Bo Lang menawarkan diri menjadi alas tidur Yao Han yang diterima dengan senang hati.
Keesokan paginya, Jiu Jinyu mendesak Chen Long melepaskan gelang kayu yang melingkar pada pergelangan kaki dan tangannya. Chen Long menolak dengan tegas, tapi Jiu Jinyu terus berusaha membujuk dengan menyinggung perjanjian antara dirinya dengan Yao Han.
"Atas nama Dao, Ratu ini bersumpah tidak akan berbuat macam-macam. Jika melanggar, Ratu ini akan menerima hukuman disambar petir seratus sekali."
Sumpah Dao adalah sumpah tertinggi dalam dunia kultivator dan Jiu Jinyu mengetahuinya. Dengan berat hati, Chen Long melepaskan gelang kayu yang menahan kekuatan Jiu Jinyu.
"Akhirnya kekuatanku kembali."
Jiu Jinyu tertawa panjang. Yang hanya dia inginkan untuk sementara ini adalah kebebasan. Dia juga beralasan agar bisa melindungi Yao Han dalam perjalanan karena tidak mau terlalu berlama-lama berada di Dimensi Pagoda.
Kekuatan Jiu Jinyu yang setara Ranah Inti Emas tahap awal sudah cukup melindungi Yao Han. Bahkan dia lebih kuat dibandingkan Bo Lang yang kekuatannya setara Ranah Inti Biru tahap akhir.
Yao Han melanjutkan perjalanan menuju ke utara sambil bersiap-siap menghadapi hadangan setelah berhasil keluar dari jalur aman hutan buatan Chen Long itu.
Sebelumnya Feng Xian mengingatkan situasi Benua Bulan Biru yang semakin kacau, bukan tidak mungkin Yao Han akan disambut pemandangan mengerikan akibat perang yang sudah dimulai.
Yao Han hanya bisa berharap perang tidak menyebar ke Negeri Hutan Hijau atau Feng Xian akan kembali turun tangan untuk kedua kalinya menghentikan perang dengan melenyapkan semua sekte yang terlibat.
"Aku harap itu tidak pernah terjadi..."
Bersambung...
Catatan:
Beberapa chapter ke depan, Yao Han dll tidak muncul. Akan ada cerita lebih rinci tentang perang dunia kultivator, tapi ya gak rinci-rinci amat.
Chapter yang ada Yao Han lagi akan ada tanda dibagian atasnya.
Salam panas dingin,
Author, Maswaw.