
Dalam sistem kepengurusan sekte, hubungan antara Xu Gang dan Yutian adalah ketua dan wakilnya, dalam hal ini adalah Patriark dan Tetua Agung Lembah Hati Racun. Sementara dari segi keanggotaan sekte, hubungan keduanya adalah junior dan senior.
Sehingga bisa dibilang, kedua anak Xu Gang, yaitu Xu Yang dan Xu Yin merupakan keponakan tak langsung Yutian yang belum pernah dia lihat, tetapi hanya pernah pria serba hijau itu dengar dari cerita Bing Houyi saat mendatangi Pulau Bulan Bintang.
Setelah mendengar kabar dari Feng Xian yang diceritakan ulang oleh Yao Han, Meirong berpikir Yutian akan meminta murid mereka itu ikut mencari keberadaan Xu Gang yang pergi kabur dari sekte. Meirong tidak berniat melarang, karena soal tolong menolong anak Patriark Lembah Hati Racun itu sepenuhnya hak Yao Han.
'Senior Feng tidak memberitahukan lokasi Han'er pada dua leluhur Lembah Hati Racun, sedangkan keberadaan anak sulung Gerbang Racun yang baru tidak jelas. Situasinya rumit sekali...' Meirong menggelengkan kepalanya.
"Guru She?" panggil Yao Han pada gurunya yang sejak tadi diam sambil memasang wajah kesulitan.
"Aish, apa yang dipikirkan keponakanku satu itu?" Yutian menghela napas panjang sambil menggaruk kepala, "Tidak perlu kau pikirkan, Han'er. Fokus saja pada rencanamu ke depannya."
"Eh, maksud Guru? Aku tidak perlu menolongnya begitu?" Yao Han keheranan.
Belum sempat Yutian menjawab, suara Meirong terdengar lebih dahulu, "Kau sepertinya sengaja membiarkan anak itu mati di luar sana, ular jelek. Ternyata kau setega itu pada keponakanmu." Meirong tertawa sinis.
Yutian berdecak pelan, "Bukan begitu maksudku. Coba kau pikir berapa persen peluang untuk menemukan anak ini? Pihak Lembah Hati Racun sekalipun butuh waktu untuk mencarinya, apalagi Han'er hanya seorang diri. Mencoba mencari tanpa petunjuk akan butuh waktu sangat lama, kecuali bertemu secara kebetulan."
Meirong tidak menyahut. Memang peluang untuk berhasil menemukan Xu Yang kurang dari lima puluh persen. Hanya berharap saja langit mempertemukan Yao Han dengan Xu Yang lebih cepat.
"Efek samping mempelajari ilmu racun tingkat tinggi dari Kitab Racun Langit tidak bisa dianggap enteng. Semoga anak itu tidak menggunakan ilmu racun yang tidak seharusnya digunakan secara sembarangan."
Yutian terlihat gelisah dan berusaha menyingkirkan pikiran buruknya tentang kondisi Xu Yang. Pada akhirnya Yao Han tidak lagi memikirkan tentang Xu Yang.
Rencana Yao Han kedepannya tidak terlalu berbeda dari sebelumnya. Menikmati waktu berkelana, mencari petunjuk keberadaan Chen Long dan Xi Lei, serta petunjuk tentang misteri ranah praktik kultivasi.
Yang sedikit berubah adalah Yao Han akan meninggalkan Kota Bukit Bunga meskipun baru satu akar roh murninya yang baru mencapai Ranah Dasar tingkat delapan belas, yaitu akar roh unsur api.
Tiga hal utama yang ingin dicari Yao Han kedepannya adalah mencari tanaman atau setidaknya bibit Pohon Naga Langit, petunjuk keberadaan Chen Long, dan informasi tentang Bunga Anggrek Pelangi Jiwa.
Sebenarnya Yao Han tidak sedang dikejar waktu, tetapi dia beranggapan lebih cepat lebih baik. Yao Han juga tidak sabar memasuki Ranah Pondasi. Namun sebelum itu dia harus menemukan petunjuk tentang Pondasi Surgawi dan Pondasi Abadi.
Setelah berhasil meningkatkan praktiknya, Yao Han segera pulang. Karena tidak memiliki banyak barang di rumahnya, Yao Han tidak perlu repot-repot berkemas.
Yao Han tidak membutuhkan tidur. Semalaman dia bermeditasi untuk menenangkan pikiran dan jiwanya. Sementara dalam Dimensi Pagoda, para penghuninya menghabiskan waktu bersama dengan menikmati Arak Persik Bulan, kecuali Yutian.
Pria serba hijau itu hanya bisa memasang wajah masam karena Meirong sekali lagi mengingatkan tentang taruhan konyol mereka. Yutian pikir Meirong akan melupakan taruhan itu, tetapi rupanya tidak. Bo Lang merasa canggung karena mendapat tatapan iri dari Yutian.
***
"Han'er, hati-hati dalam perjalananmu."
Hua Ren dan cukup banyak orang berkumpul untuk melepaskan kepergian Yao Han. Pemuda itu merasa berlebihan tetapi tidak berkomentar. Dia hanya berterimakasih karena hampir semua dari mereka memberikannya bekal perjalanan.
"Baik, Walikota, aku pergi."
Yao Han terus melangkahkan kaki sampai dirinya tiba di kota tetangga, yaitu Kota Rumput Besi. Disana dia melihat beberapa orang yang dikenalinya adalah warga asli Kota Bukit Bunga. Mereka pindah ke kota ini sejak peristiwa mengerikan beberapa tahun silam yang menimpa Kota Bukit Bunga.
Di Kota Rumput Besi, tidak banyak yang Yao Han lakukan selain terus berjalan sambil melihat-lihat. Beberapa orang memperhatikannya tetapi itu tidak lama.
Selepas melewati Kota Rumput Besi, Yao Han beristirahat sejenak ditepi sebuah sungai kecil. Yao Han duduk diatas salah satu batu besar menghadap ke arah sungai sambil memangku seruling gioknya.
"Xiao Han, kau pernah bertemu dengan Xiao Ni? Bagaimana kabarnya?" tanya Bing Lizi.
"Xiao Ni? Siapa itu?" Bukan hanya Yao Han yang bingung, tetapi juga Meirong dan Yutian yang baru pertama kali mendengar nama itu.
"Hm? Mengejutkan kau tidak mengetahuinya, padahal kau tinggal di Pulau Bulan Bintang cukup lama. Sepertinya Saudara Feng juga tidak pernah bercerita, ya." Bing Lizi mengelus dagunya.
Bing Lizi kemudian menceritakan bahwa Xiao Ni adalah hewan roh berwujud bangau bersayap empat dan memiliki ekor panjang. Bulu-bulunya berwarna pelangi yang menyatu sempurna.
"Bangau Pelangi? Kenapa kami tidak pernah bertemu, ya?"
"Mungkin dia sedang berdiam diri dan melakukan sesuatu didalam hutan Pulau Bulan Bintang."
Bing Lizi menambahkan Xiao Ni diselamatkan dan dibawa Chen Long ke Pulau Bulan Bintang saat masih baru beberapa hari menetas. Induknya tewas setelah bertarung melawan seekor Ratu Siluman.
"Xiao Ni memiliki akar roh murni unsur angin yang sangat langka seperti Saudara Feng. Dan jika aku tidak salah ingat, usianya hampir delapan ratus tahun."
Yutian terbatuk pelan karena usia Xiao Ni hampir menyamai usia gurunya.
"Uhuk-! Tua sekali. Usia setua itu pasti memiliki kekuatan di Ranah Jiwa Agung."
"Benar. Kekuatan Xiao Ni memang sudah mencapai itu. Kalau saja dia bukan hewan roh, mungkin akan ada Jagoan Lima Penjuru. Namun jika dibandingkan kalian bertiga saat dalam kondisi puncak dimasa lalu, kekuatan Xiao Ni masih belum bisa mengimbangi."
"Tetap saja itu adalah hal mengagumkan, Senior. Butuh sumber daya besar untuk mencapai Ranah Jiwa Agung bagi hewan roh. Dia bisa mencapai itu pasti karena tinggal di Pulau Bulan Bintang."
Bing Lizi mengangguk pelan, menyetujui tanggapan Meirong, "Ngomong-ngomong tentang usia tua, kalian sepertinya belum mengetahui fakta bahwa Saudara Feng bukanlah yang paling tua diantara kami berempat."
"Eh, itu artinya Guru Feng bukan manusia paling tua di Benua Bulan Biru?" Yao Han mewakili yang lainnya yang ikut terkejut.
"Bukan, jika diurutkan dari yang paling tua, itu mulai dari aku, Saudara Xi, Saudara Feng, lalu Saudara Chen. Selisih usia kami bertiga tidak terlalu jauh, hanya beberapa tahun. Sedangkan selisih usia Saudara Feng dan Saudara Chen sekitar seratus tahun."
Yao Han tercenung cukup lama mengetahui informasi baru itu. Kemudian dirinya memainkan seruling gioknya untuk mengisi waktu.
"Hm? Cinta tiada akhir... sudah sangat lama aku tidak mendengar irama seruling satu ini." Bing Lizi berkomentar.
Ditengah permainan serulingnya, Yao Han merasakan seseorang mendekat dan berdiri tidak jauh dibelakangnya.
---