
Di Sekte Awan Bulan, Yun Lian bukan hanya dikenal karena status, bakat kultivasi, ataupun kecantikannya, melainkan juga karena kepribadiannya. Orang lain yang tidak mengenalnya secara dekat akan menilainya sebagai gadis dingin tak tersentuh yang tidak terlalu peduli pada sekitar.
Keceriaan yang dia miliki pada masa kecil seolah menghilang setelah kehilangan kedua orangtuanya yang tiada pada saat mengikuti perang skala kecil lanjutan dari perang besar dunia kultivator dua puluh tahun lalu yang sempat terhenti.
Sejak saat itu, Yun Lian tidak terlihat menampakkan senyum atau lebih tepatnya seolah kehilangan kemampuan dalam menunjukkan ekspresi. Seringkali tatapannya datar bahkan pada saat dia merasa antusias atau tertarik pada suatu hal.
Memiliki bakat kultivasi yang tinggi dan beberapa keistimewaan seperti mata dan tubuh khusus, membuat Yun Lian larut dalam latihan kultivasi begitu lama sejak kecil hingga masa remaja. Sayangnya, menjalani latihan yang begitu lama membuat Yun Lian kesulitan dalam berinteraksi dan memahami lingkungan sekitar, tetapi bukan berarti gadis itu bodoh.
Saat mendengar ledakan besar pertama yang mengejutkan seluruh isi Kota Harta Giok, Yun Lian langsung mengerti bahwa ledakan itu berasal dari salah satu tetua pengawalnya, Mo Zha. Alasan Yun Lian bisa mengetahuinya karena pria itu selalu senang menceritakan kecintaannya pada ledakan seolah hal itu sesuatu yang pantas dibanggakan.
Terjebak dalam situasi canggung bersama jenius muda dari sekte terbesar aliran putih dan netral, membuat Yun Lian penasaran juga antusias. Dia bisa merasakan bakat kultivasi para jenius muda itu tidaklah buruk dan cukup mengimbangi dirinya.
Tanpa Yun Lian sadari, hal pahit yang dia alami dimasa lalu mendorong dirinya untuk membalaskan dendam pada dua sekte aliran putih yang selalu diingatnya sejak kecil, yaitu Sekte Gunung Langit dan Sekte Pedang Suci. Melihat didepannya ada jenius muda dua sekte tersebut, Yun Lian ingin memberi pelajaran dengan cara melenyapkan mereka.
Sayangnya, ada beberapa jenius muda yang menghalangi Yun Lian untuk mencapai tujuannya. Padahal, setelah berhasil melenyapkan jenius muda dari dua sekte yang dia incar, Yun Lian berniat kabur dari sana, karena menyadari dirinya sedang dicari oleh ketiga tetua pengawalnya.
Yun Lian tidak berencana berhadapan dengan jenius muda lainnya, tetapi karena mereka terus menghalangi, Yun Lian juga tidak terlalu merasa keberatan. Lagipula pertarungan itu bisa menambah pengalamannya sekaligus memberi peringatan agar mereka lebih baik menyingkir daripada terluka. Atau lebih buruknya terbunuh.
Berhadapan dengan Shen Qi dan Honghao secara bersamaan tidak membuat Yun Lian takut. Dia menjadi bersemangat saat salah satu jenius muda yang ingin dia habisi akhirnya menunjukkan diri. Dia hanya memusatkan perhatian pada Shen Qi, tetapi Honghao yang menggunakan teknik tingkat tinggi tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Yun Lian. Honghao bisa menjadi penghalang baginya.
Baik Shen Qi maupun Honghao merasa percaya diri dengan pengalaman bertarung maupun kecepatan yang mereka miliki. Kepercayaan diri itu berasal dari Shen Qi yang baru saja masuk ke dalam pertarungan dan Honghao yang mengeluarkan teknik tertingginya. Namun, semakin rasa percaya diri mereka perlahan luntur saat bertarung lebih lama dengan Yun Lian.
Dua lawan satu, apalagi yang satu lawannya ini adalah perempuan, tidak membuat Yun Lian tersudut. Gadis itu berhasil membaca gerakan maupun arah serangan pedang Shen Qi. Juga berhasil menghindari serangan mematikan Honghao.
Meskipun keduanya menyerang tanpa henti secara bergantian agar bisa melukai atau tidak memberikan kesempatan Yun Lian memberi serangan balik, tetap saja usaha mereka gagal total.
"Dia lebih berbahaya daripada kelihatannya. Bakat dan kemampuannya mungkin diatas kita semua yang ada disini, terutama pengalaman bertarungnya." Bing Xinhai yang berdiri disamping Bing Xueyu memberi pendapat sambil mengerutkan dahi.
"Bukan mungkin lagi, karena semuanya memang benar. Sayang sekali kita dalam posisi yang sulit untuk ikut turun tangan membantu." Bing Xueyu membalas pelan, lalu menghela napas panjang.
"Jadi kita hanya diam saja dan melihat?" Bing Xinhai sejak awal ingin masuk ke dalam pertarungan, tetapi juga tidak gegabah dalam bertindak. Jika salah mengambil keputusan, bisa berujung pada permusuhan antara Benteng Es Utara dan Sekte Awan Bulan.
"Hm... lihat perkembangannya. Setidaknya kita akan ikut membantu secara tidak langsung."
Bing Xueyu kemudian mendekati Shui Hua yang membantu Huo Lin. Gadis Peri Es itu berniat membantu meringankan luka Huo Lin dengan mengalirkan Qi unsur es.
Kembali pada pertarungan dua lawan satu antara Shen Qi dan Honghao melawan Yun Lian. Tanpa mereka sepakati, keduanya melepaskan serangan besar bersamaan, menimbulkan suara ledakan keras dan lubang besar pada tanah. Kepulan debu tercipta menghalangi pandangan.
Mereka yakin, setidaknya Yun Lian terluka parah dengan serangan gabungan itu. Namun, senyuman mereka memudar saat melihat Yun Lian berdiri tegak diseberang mereka agak jauh dari ledakan besar hasil serangan mereka.
"Aku tidak bisa percaya ini..." Shen Qi menggenggam pedangnya kuat dengan tangan gemetar.
Yun Lian berhasil menghindar tepat waktu. Dia merasa kesal karena hanya bisa menghindar, tetapi beruntung berhasil menghindar pada serangan terakhir. Serangan itu sebenarnya cepat, tetapi Yun Lian sedikit lebih cepat mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya.
"Giliranku..." Yun Lian bergumam pelan.
Shen Qi dan Honghao terlambat bertindak satu tarikan napas saat menyadari Yun Lian membentuk beberapa mantra tangan sederhana. Cahaya merah terang menyelimuti Yun Lian dan membutakan penglihatan keduanya.
"Ah, mataku..."
Lari keduanya berhenti dan melindungi mata mereka. Cahaya itu hanya sebagai pengalihan yang berbuah hasil menurunkan kewaspadaan keduanya. Tepat saat cahaya itu meredup, aura pembunuh mendekati mereka disertai serangan tapak mematikan yang mendarat di dada masing-masing.
"Argh!"
"Ugh!"
Shen Qi dan Honghao terpental bersamaan. Shen Qi terjatuh ditanah dengan keras, begitupun dengan Honghao. Hanya saja kondisi mereka berbeda jauh.
Honghao sedikit lebih baik, karena Yun Lian menyerangnya tidak terlalu kuat dengan tangan kiri. Selain itu, perisai harimau api yang digunakannya menjadi pelindung terakhir sebelum kemudian menghilang. Honghao muntah darah sekali dan mengalami sesak napas.
Kondisi Shen Qi jauh lebih buruk. Dia mendapatkan serangan kuat dari Yun Lian menggunakan tangan kanan. Tubuhnya menjerit kesakitan ketika berusaha mengalirkan Qi, setelah sebelumnya muntah darah beberapa kali.
"Gawat!"
Ji Wentian tidak bisa tinggal diam dan akhirnya turun tangan. Terlebih melihat kedua tangan Yun Lian saat ini berwarna hitam dan diselimuti Qi merah kehitaman.
Dari perubahan itu, Ji Wentian menyadari Yun Lian menggunakan teknik yang sengaja belum digunakan pada pertarungan sebelumnya.