Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 169 - Kota Rubah Salju



"Kau yakin ingin pergi, Saudara Yao?"


Zi Xing bertanya ragu saat Yao Han mendatanginya. Dia cukup terkejut saat Yao Han menemuinya untuk pamit pergi. Padahal sebelum kedatangan Tetua Shi dan mendengar kabar tentang perang, Yao Han berniat tinggal satu hari lagi.


Yao Han tertawa kecil, "Ini bukan tentang yakin atau tidak. Aku rasa memang sudah waktunya melanjutkan perjalanan. Hanya saja kabar tentang perang membuatku berencana pergi lebih cepat. Aku juga ingin menggali informasi lebih rinci dari Toko Harta Giok di Kota Rubah Salju."


"Sebenarnya kau bisa tinggal disini sementara waktu, aku akan meminta tolong salah satu tetua untuk mencarikan informasi untukmu sekaligus untuk kami."


"Tidak perlu, Patriark. Aku bisa melakukannya sendiri dan tidak ingin merepotkan kalian. Lagipula aku memiliki agenda perjalanan sendiri yang menjadi alasanku meninggalkan Pulau Bulan Bintang." Yao Han menolak halus.


"Ucapanku sebelumnya bukan bermaksud untuk menahanmu lebih lama, tapi aku hanya khawatir karena kau berkelana sendirian. Situasi sedang memanas saat ini dan berbahaya bagi seseorang dalam sebuah perjalanan, kecuali ada yang menemani atau mengawal."


"Oh, untuk keamanan, aku yakin bisa menjaga diriku dengan baik. Aku memiliki cara tersendiri."


Zi Xing menarik napas dalam, "Baiklah kalau begitu yang kau inginkan."


Yao Han kemudian berpesan dua hal. Pertama, meminta pihak sekte memastikan keamanan Hua Feng yang merupakan teman masa kecilnya. Zi Xing langsung menyanggupinya, walaupun terkesan tidak adil bagi murid lain tapi dia memberi pengecualian karena yang meminta adalah Yao Han.


Kedua, pil buatannya akan membuat perubahan besar bagi hampir seluruh anggota dan bisa menarik perhatian yang mungkin akan merugikan Sekte Bintang Ungu. Sejak awal, Zi Xing dan tetua lain sudah menyadari hal ini, jadi mereka akan lebih berhati-hati terhadap praktik anggota sekte agar tidak terlihat meningkat terlalu tajam.


"Apa kau memiliki pesan lain? Ah iya, kau sudah berpamitan dengan temanmu itu?"


"Cukup itu saja, Patriark. Dan aku sudah berpamitan dengan temanku. Dia sedang menunggu diluar."


"Hm, baiklah. Karena kau ingin pergi sekarang, mari kuantar kau keluar."


Yao Han tidak menolak. Zi Xing dan beberapa tetua mengantarkan kepergian Yao Han didepan gedung petinggi Sekte Bintang Ungu.


"Sekali lagi kami berterimakasih atas bantuan yang kau berikan pada kami, Saudara Yao."


"Patriark terlalu sungkan. Aku juga berterimakasih karena Sekte Bintang Ungu bersedia menerima dan memperlakukanku dengan baik." Yao Han memberikan salam hormatnya.


Kemudian Yao Han mengeluarkan satu karung berukuran sedang. Zi Xing penasaran dengan isinya dan menemukan ada banyak bunga berwarna biru yang memancarkan aroma wangi dan hawa sejuk menyegarkan.


Yao Han menghampiri Hua Feng yang sejak tadi berdiri diam memperhatikan lalu memeluk teman masa kecilnya itu.


"Jaga dirimu, Adik Han. Walaupun dunia kita sekarang berbeda, tolong jangan lupakan temanmu ini."


Yao Han tertawa kecil, "Omong kosong apa yang katakan, Feng-gege? Jaga dirimu juga. Kita akan bertemu lagi dimasa depan."


"Aku berjanji saat kita bertemu lagi, praktikku setidaknya sudah mencapai Pondasi Bumi."


"Aku yakin kau bisa melakukannya."


Yao Han memberikan satu Bunga Teratai Biru. Hua Feng diam sejenak mengamati bunga ditangannya.


"Jadi ini sebabnya kau dijuluki Tabib Teratai Biru, Adik Han."


Yao Han tertawa kecil, "Aku tidak peduli dengan julukan atau sejenisnya. Fokus utamaku adalah rajin berlatih sebaik mungkin dan melakukan hal yang menurutku benar."


Yao Han mengayunkan tangannya, muncullah kipas berukuran besar, yang membuat heran semua orang yang melihatnya.


"Benda apa ini? Bentuknya seperti kipas tapi aneh sekali," tanya Hua Feng.


"Oh, begitu." Hua Feng kagum karena merasakan pancaran aura kuat dari kipas besar itu. Saat ingin menyentuh Kipas Gunbai, Yao Han segera melarangnya.


"Aku hanya ingin sedikit menyentuhnya, kau pelit sekali."


"Aku bukannya pelit, tapi kipas ini bukan pusaka biasa. Jika bukan dipegang pemilik asli atau pemilik kipas ini sebelumnya, maka kau akan terluka."


Melihat wajah kurang yakin Hua Feng, Yao Han menambahkan, "Kalau kau memang penasaran, tidak masalah. Tapi jangan salahkan aku jika jarimu terpotong saat menyentuhnya."


Wajah Hua Feng langsung berubah menjadi masam, "Tidak jadi, lupakan saja. Aku tahu kau tidak pernah berbohong."


Yao Han tertawa panjang lalu mulai mengalirkan Qi pada Kipas Gunbai. Benda itu berdengung pelan lalu melayang setinggi lutut Yao Han.


"Oh, ternyata kipas ini seperti pedang terbang. Kau menjadikannya sebagai alat transportasi, Adik Han."


Yao Han hanya membenarkan tanpa menjelaskan lebih jauh, kemudian menoleh pada Zi Xing dan tetua sekte.


"Patriark Zi, tetua sekte sekalian, aku pamit pergi. Semoga Sekte Bintang Ungu terus berkembang dan saat aku datang lagi kemari menjadi sekte yang lebih baik."


Zi Xing dan tetua yang bersamanya tertawa lepas, "Tidak ada yang mengucapkan hal demikian pada kami sebelumnya. Terima kasih dan kami nantikan kedatanganmu lagi, Saudara Yao."


Yao Han memberikan salam hormat perpisahan terakhir kali dan duduk bersila diatas Kipas Gunbai.


"Sampai jumpa lagi, Feng-gege." Hua Feng membalasnya dengan lambaian tangan.


Yao Han mengetuk pelan dua kali kipas itu dan mulai melayang tinggi secara perlahan. Setelah mencapai ketinggian tertentu, Kipas Gunbai melesat membawa Yao Han meninggalkan Sekte Bintang Ungu.


Semua yang melihatnya kaget, "Cepat sekali."


"Tidak perlu heran. Dari auranya, menunjukkan kipas besar itu termasuk Pusaka Bumi."


Beberapa jam kemudian, Yao Han tiba di Kota Rubah Salju saat sore hari. Dia turun ditempat yang sepi kemudian menyimpan kembali Kipas Gunbai sebelum menampakkan diri dikeramaian.


Selama beberapa saat, Yao Han menjadi pusat perhatian beberapa orang. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari penampilannya, mungkin karena dia pertama kali menginjakkan kaki di Kota Rubah Salju, wajahnya terlihat begitu asing.


Menurut informasi Bing Lizi, Kota Rubah Salju termasuk dari sepuluh kota kultivator terbesar di Negeri Hutan Hijau. Pemimpinnya bukan salah satu sekte kelompok kultivator, tapi kultivator bebas biasa yang ditunjuk sebagai walikota. Sistem kepemimpinan kota tetap seperti itu walaupun Bing Lizi sempat menghilang selama seratus tahun.


Yao Han tidak perlu bertanya pada orang-orang tentang letak Toko Harta Giok di kota itu berada karena Indera Surgawi Bing Lizi, Meirong, dan Yutian sudah sangat membantunya.


Setengah jam berjalan, Yao Han mulai melihat bangunan besar empat lantai. Itu adalah salah satu cabang Toko Harta Giok dan didepannya berdiri bangunan besar yang hanya satu lantai lebih rendah, yaitu Restoran Nagarasa.


"Hm, tapi tidak ada Penginapan Bintang Api. Sepertinya mereka belum membuka cabang disini. Aneh sekali, atau mungkin tidak berniat membuka usaha disini?" Yao Han bergumam pelan, sibuk dengan analisanya sendiri.


Setelah mengamati dan beradaptasi sebentar dengan Kota Rubah Salju, Yao Han menuju Toko Harta Giok.


---


Visual Yao Han kurang lebih seperti berikut.