
Wajah Hua Feng sedikit memucat dan ada sedikit keringat dingin muncul di dahinya setelah Yao Han membeberkan semua rahasia kecil yang hanya dirinya dan Yao Han yang tahu. Melihat senyum santai Yao Han, Hua Feng merasa sedikit percaya dengan identitas pemuda didepannya ini.
"Jadi... kau benar-benar Adik Han?"
Ada yang masih mengganjal dipikiran Hua Feng. Pertama, seingat Hua Feng, Yao Han tidak memiliki akar roh yang membuat dirinya tidak bisa menjadi kultivator, bahkan tidak hanya satu Tetua Kota Bukit Bunga saja yang memeriksanya. Kedua, penampilan Yao Han yang sama sekali jauh berbeda dari yang dia ingat, terutama warna matanya.
Yao Han mengedikkan bahunya, "Kalau kau masih tidak percaya, aku tidak tahu dengan cara apalagi untuk meyakinkanmu. Dan jika kau masih mengingat sifatku, Adik Han yang kau kenal ini tidak terlalu pandai berbohong."
Hua Feng terdiam sambil menggaruk pipi dan menatap Yao Han, kemudian menghela napas panjang, "Aku pernah beberapa kali pulang ke rumah saat ada kesempatan. Setiap aku pulang, masih saja belum ada kabar tentang Adik Han."
"Kapan terakhir kali kau pulang?"
"Satu tahun yang lalu, kurasa."
"Hm, aku kembali ke Kota Bukit Bunga beberapa bulan yang lalu. Aku sempat tinggal disana selama beberapa hari sebelum pergi meninggalkan kota untuk mencarimu."
"Jika kau memang benar orang yang sama dengan yang kukenal... sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kemana kau selama ini?"
Yao Han kemudian hanya bercerita garis besar yang sekiranya sebaiknya diketahui Hua Feng.
"Kau tersambar petir dan masih bertahan hidup? Bahkan setelahnya kau memiliki akar roh? Ah... tidak salah jika dulu kau dipanggil Bocah Ajaib, Adik Han."
Hua Feng terkejut cukup lama, kemudian dia penasaran dengan jenis dan kualitas akar roh, juga perubahan warna mata Yao han. Namun Yao Han menolak untuk memberitahunya.
"Aku tidak bisa memberitahumu, karena guruku melarangnya."
"Oh, kau memiliki guru? Eh, tunggu... apa kau bergabung dengan sebuah sekte? Tapi jubah yang kau kenakan tidak menunjukkan kau anggota sekte."
"Aku memang bukan anggota sekte dan tidak berniat bergabung dengan sekte manapun. Guruku adalah yang menjadi penyelamatku dari kejadian yang menimpaku beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, aku tinggal bersama guruku dan berlatih disana sampai aku pergi untuk berkelana."
"Dimana tempat tinggal gurumu?"
"Pulau Bulan Bintang."
Hening sesaat sebelum Hua Feng bertanya kembali, "Maaf, sepertinya aku salah dengar. Pulau apa tadi kau bilang? Aku sedang tidak berminat untuk mendengar gurauanmu, Adik Han."
"Kau tidak salah dengar dan aku tidak ada niatan bergurau. Selama beberapa tahun terakhir dimana aku dianggap menghilang bahkan mati, aku tinggal dan berlatih kultivasi bersama guruku di Pulau Bulan Bintang."
"Kau..." Hua Feng menunjuk wajah Yao Han dengan tangannya bergetar dan mata terbuka lebar, "Kau murid Senior Angin Timur?! Tunggu... kau juga yang disebut Tabib Teratai Biru?!"
Yao Han mengangguk kecil, "Baru-baru ini aku mengetahui ada sebutan untukku atau apalah itu. Dan benar guruku adalah yang kau kenal sebagai Angin Timur."
Hua Feng berdiri dan sedikit menjauh. Dirinya berjalan mondar-mandir sambil bergumam tidak jelas dan menjambak rambutnya.
"Haish, banyak sekali kejutan yang kuterima malam ini. Adik Han masih hidup, dia menjadi kultivator, dia juga seorang Alkemis, dan yang paling mengejutkan dia adalah murid kultivator nomor satu saat ini..."
Hua Feng merasa dirinya sedang bermimpi kemudian menampar kedua pipinya bergantian.
Plak! Plak!
Hanya rasa sakit dan memar warna merah dikedua pipi yang Hua Feng dapatkan. Sampai kemudian dia baru menyadari Yao Han adalah tamu istimewa yang kedatangannya sempat menggemparkan seluruh Sekte Bintang Ungu beberapa saat lalu.
"Aku tidak pernah percaya ada orang yang akan mati karena terlalu terkejut, tapi kurasa akan menjadi salah satunya. Ini semua karenamu, Adik Han."
Yao Han tertawa kecil melihat reaksi Hua Feng yang dia rasa berlebihan, "Tenanglah sedikit, Feng-gege. Kembalilah duduk."
"Hm, bagaimana aku bisa tenang? Setelah mendengar dan mengetahui tentangmu, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ah, banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku bingung harus memulai dari mana..."
Sekali lagi Yao Han mencoba meminta Hua Feng sedikit lebih tenang. Karena sifatnya terlalu pribadi, Hua Feng tidak bertanya tentang kehidupan Yao Han selama tinggal di Pulau Bulan Bintang, jadi dia meminta Yao Han bercerita pengalamannya sejak meninggalkan Pulau Bulan Bintang.
"Menara Harta Giok, Sekte Teratai Putih, Sekte Awan Bulan, lalu Lembah Hati Racun..." Hua Feng menelan ludah gugup saat Yao Han menyebut keempat nama sekte itu. "Kesampingkan tentang Menara Harta Giok, meskipun berbeda aliran, ketiga sekte lain adalah sekte bintang sepuluh dan kau terlihat biasa saja bertemu dengan anggota tiga sekte ini... kau benar-benar membuatku kagum, Adik Han."
"Feng-gege, selama bertahun-tahun aku diajarkan untuk tidak mempedulikan tentang aliran maupun tingkatan sekte oleh guruku. Dan karena pola pikirku dengan guruku kurang lebih sama, baik kultivator, kelompok, atau sekte manapun menjadi sama dimataku."
Hua Feng tertawa canggung, "Hanya kau satu-satunya kultivator yang berkata seperti itu. Namun wajar saja mengingat gurumu adalah salah satu Jagoan Empat Penjuru. Bisa dibilang, latar belakangmu lebih tinggi dari sekte bintang sepuluh manapun."
"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan latar belakang dalam dunia kultivator, tapi sulit juga untuk tidak bisa berpikir demikian."
"Aku masih ingat pola pikirmu, Adik Han, dan itu cukup sulit diubah. Namun karena kau sudah menjadi bagian dari dunia kultivator, pola pikirmu yang terlalu lurus itu tidak bisa diterima kultivator lain, bahkan kau akan ditertawakan. Orang baik sepertimu tidak bisa bertahan hidup lama di dunia kultivator yang keras ini. Aku tidak tahu sejauh apa pengalaman hidupmu, tapi kau masih saja bersikap naif."
"Aku naif?" Yao Han menaikkan alis, lalu tertawa keras, merasa geli dengan penjelasan Hua Feng, "Bukan pertama kalinya aku mendengar kata itu ditujukan padaku. Feng-gege, kau menjadi kultivator lebih lama dariku, menurutmu apa yang menjadi alasan kota kecil seperti Kota Bukit Bunga selalu damai dan tentram?"
"Hm, kurasa ada dua. Sikap saling pengertian dan... tidak adanya kepentingan pribadi."
"Nah, itu dia!" Yao Han berseru, "Dua hal inilah yang luntur bahkan menghilang selama ribuan bahkan ratusan ribu tahun dalam kehidupan dunia kultivator. Penyebab munculnya aliran dan tingkatan sekte juga dikarenakan ini. Jika tidak demikian, mana mungkin konflik dan perang kultivator akan terjadi."
Hua Feng menghela napas panjang, "Adik Han, sayangnya politik dunia kultivator tidak sesederhana itu."
Yao Han tersenyum tipis, "Kau salah, Feng-gege. Kesalahan dalam pola pikir yang didasari hasrat dan ***** tak berkendalikan yang membuatnya tidak sederhana." Yao Han diam sejenak, "Kedamaian dunia dimanapun kita berada selalu bisa dicapai dengan hal yang sangat sederhana."
---
Catatan:
Cie, pesan moral. Uhuy, asek-asek, joss!!!
Udah tiga mingguan gak update, kalo seminggu lagi gak update, wah, jadi terpaksa harus tamat nih kayak omongan author dulu. Kepaksa juga, cuma kasih garis besarnya doang sampe tamat. Tapi biarpun gitu, kan udah bisa ditebak lah ya, si MC bakal jadi kultivator nomor satu yang melampaui kehebatan semua gurunya. Ya kali, MC cuma jadi kultivator ecek-ecek. Hahaha.
Pesan saya satu, kalo sabar ya monggo ditungguin author update, kalo enggak ya monggo ditinggalkan dan batalkan favorit. Simpel kok.
Tetap jaga kesehatan, ya. Semoga pandemi dan ppkm level sekian segera berlalu. Amiiin.
Salam panas dingin,
Author, Maswaw.