Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 114 - Pandangan Pertama



"Bagaimana bisa kita terlambat mengetahui kabar sepenting ini?" gumam Xie Hong sedikit gusar.


"Kurasa ini wajar, mengingat beberapa waktu terakhir kita tidak berada di tempat banyak orang. Namun yang aneh adalah pihak sekte tidak segera menghubungi kita tentang ini." Yun Mohei menanggapi.


Menurut keduanya, Angin Timur mungkin tidak akan berkeliling ke beberapa tempat di wilayah Negeri Hutan Hijau karena cenderung tinggal menyepi dan menyendiri di Pulau Bulan Bintang yang terletak di tengah-tengah Negeri Hutan Hijau.


Namun bukan tidak mungkin rombongan kecil mereka bisa bertemu dengan Angin Timur. Jika sudah begini, sebaik mungkin mereka berusaha agar tidak sampai bertemu dengannya dalam perjalanan.


Teringat sekitar dua puluh tahun lalu, kedatangan Angin Timur dalam perang terakhir berakhir dengan menewaskan cukup banyak anggota penting sekte yang ada di medan perang, terutama bagi pihak aliran hitam.


Bahkan saat itu Sekte Awan Bulan kehilangan dua anggota Pasukan Barisan Awan yang berharga, sehingga sekarang tinggal tersisa sepuluh orang.


Secara kebetulan, giok suara milik Yun Mohei menyala terang. Dengan segera Yun Mohei mengangkatnya karena mengetahui Yun Ming yang menghubunginya.


Selama beberapa saat, Yun Ming berkomunikasi dengan Yun Mohei. Beberapa kali wajah salah satu pengawal Yun Lian ini berubah dari waktu ke waktu sebelum mengakhiri komunikasinya.


"Ada apa Paman Hei?"


"Aku mendapat pesan dari Patriark, tidak masalah kita tetap melanjutkan perjalanan, tetapi tidak menurunkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bertemu dengan Angin Timur. Lalu ada kabar lagi yang tidak kalah mengejutkan dari kemunculan kembali Angin Timur..."


Pesan kedua Yun Ming adalah tentang Angin Timur yang akhirnya memiliki murid. Belum diketahui nama muridnya ini, tetapi ciri-cirinya adalah seorang pemuda yang berusia kurang dari dua puluh tahun dan memiliki julukan Tabib Teratai Biru. Saat ini sedang meninggalkan Pulau Bulan Bintang dan berkelana di wilayah Negeri Hutan Hijau.


"Ini sebuah kejutan..."


"Kau benar, Tetua Mohei. Sudah lebih dari sepuluh tahun Angin Timur menutup diri dari dunia luar. Namun kabar saat dia muncul kembali sungguh mengejutkan. Aku penasaran dengan muridnya ini, seperti apa rupa dan bakatnya?"


"Menurutku lebih baik kita tidak mempedulikannya, lebih tepatnya kita tidak berurusan dengan sesuatu yang menyangkut Angin Timur. Meskipun harus kuakui, baru beberapa bulan muncul di dunia kultivator, murid Angin Timur sudah mendapat julukan untuk dirinya sendiri."


Yun Mohei dan Xie Hong sempat berpikir terkenalnya murid Angin Timur karena ada campur tangan Menara Harta Giok. Mengingat mereka memiliki cabang di hampir seluruh kota kultivator di Benua Bulan Biru dan mampu menyebarkan informasi dengan cepat, serta hubungan bisnis jual beli pil mereka dengan Angin Timur.


Bukan tidak mungkin julukan ini diberikan oleh Menara Harta Giok untuk mencari muka pada Angin Timur maupun muridnya.


"Namun jika dipikir kembali, Angin Timur bukan orang sembarangan. Tentunya dia mengambil murid yang bakatnya tidak biasa-biasa saja. Mungkin terdengar lucu, tetapi kuharap muridnya ini tidak mewarisi sifat mengerikan gurunya." Yun Mohei tertawa kecil.


"Kau tahu cara membuat lelucon, Tetua Mohei." Xie Hong ikut tertawa.


Mereka seolah melupakan kekhawatiran tentang kabar Angin Timur sebelumnya. Sementara Yun Lian hanya diam seolah tidak peduli terhadap apapun. Lagipula sulit membaca apa yang ada didalam pikiran gadis itu, karena wajahnya hanya menunjukkan ekspresi datar.


"Ini sangat menarik, generasi muda saat ini saling unjuk gigi. Bahkan Angin Timur melalui muridnya seolah tidak ingin ketinggalan."


Yun Mohei dan Xie Hong belum mengetahui bakat asli murid Angin Timur, tetapi mereka menduga bakatnya lebih ke arah pada Dao Alkemi karena Angin Timur juga dikenal sebagai Dewa Alkemi, alkemis nomor satu Benua Bulan Biru selama lebih dari lima ratus tahun terakhir.


Mengesampingkan beberapa kabar mengejutkan, rombongan kecil Yun Lian kembali melanjutkan perjalanan. Sesuai dengan penyampaian Yun Mohei sebelumnya, Yun Lian bertemu dengan lebih banyak siluman. Tidak terlalu kuat, tetapi jumlahnya banyak dan rentang waktu kemunculannya berdekatan.


Yun Lian pun bisa memahami bahwa Negeri Hutan Hijau menjadi surganya para siluman. Selain siluman, Yun Lian juga berhadapan dengan kultivator yang berlatarbelakang biasa, entah itu dari sekte atau tidak. Dia juga tidak memandang apa alirannya. Karena perbedaan kekuatan yang siginifikan, mudah bagi Yun Lian mengalahkan mereka semua.


"Paman Hei, apa dirimu juga seorang koki kultivator? Masakanmu selalu terasa enak."


Rombongan Yun Lian sedang beristirahat di pinggir sungai. Yun Lian berkomentar disela-sela menikmati makanan hasil masakan Yun Mohei berupa kelinci panggang.


"Nona Yun terlalu memuji, masakanku terlihat sangat biasa jika dibandingkan dengan koki Restoran Nagarasa."


Setelah ini mereka akan menuju Kota Harta Giok, kota kultivator terbesar Negeri Hutan Hijau. Yun Lian 'memaksa' pergi kesana, karena kota ini adalah sedikit hal yang dia dengar dan ingat tentang Negeri Hutan Hijau selama ini.


Baru saja mereka hendak berangkat, terdengar suara alunan seruling yang indah, membuat mereka diam sejenak menikmati permainan seruling itu.


"Orang yang memainkan seruling ini menguasai Dao Musik..." komentar Yun Mohei karena merasakan suara seruling itu dilapisi dengan Qi. Xie Hong mengangguk setuju.


Yun Lian mengikuti arah pandang dua tetua itu dan menebak suara indah seruling berasal sesuai arah pandang mereka. Sebagai perempuan, Yun Lian menyukai keindahan musik dan penasaran dengan orang dibalik permainan seruling yang dia dengar ini.


Tanpa meminta ijin dengan Yun Mohei dan Xie Hong, Yun Lian melesat cepat menuju arah pandangan dua tetua yang menjaganya itu. Bahkan dia menggunakan Langkah Naga Awan, ilmu meringankan tubuh terbaik Sekte Awan Bulan, untuk menemukan pemain seruling.


"Nona Yun!" Yun Mohei dan Xie Hong kaget dengan tindakan Yun Lian, kemudian segera mengikutinya.


Cukup cepat dan mudah bagi Yun Lian, beberapa ratus meter dari posisi sebelumnya, dia sudah menemukan si pemain seruling.


Seorang pemuda berjubah abu-abu gelap sedang fokus memainkan seruling giok dan duduk diatas sebuah batu besar di pinggir sungai. Yun Lian hanya menebak dia adalah laki-laki dari perawakannya. Posisi pemuda itu yang membelakanginya, membuat Yun Lian tidak bisa melihat rupa wajahnya.


Yun Lian disusul oleh Yun Mohei dan Xie Hong. Berbeda dengan Yun Lian yang berdiri sepuluh langkah dari si pemuda, kedua pengawal gadis itu bersembunyi dibalik pohon bersama dengan Mo Zha.


Lama permainan seruling itu sekitar lima menit. Setelah berhenti bermain, pemuda itu menghembuskan napas panjang lalu berbalik. Yun Lian bisa melihat wajah ramah pemuda didepannya.


Pandangan mata mereka saling bertemu selama beberapa detik. Lalu pemuda itu tersenyum tipis dan membuka suaranya.


"Nona cantik, apa ada yang bisa kubantu?"


---