Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 184 - Tak Tahu Malu



Bao Wei menahan sebaik mungkin untuk tidak mencibir langsung tanggapan Shen Qi setelah mengetahui perwakilan Sekte Taring Buas akan tiba yang paling terakhir.


'Kau tidak lebih baik dari mereka. Kalian yang pertama menyetujui usulan Sekte Taring Buas tentang pertemuan ini, tetapi menjadi yang tiba terakhir kedua dari mereka. Seharusnya kau malu pada perwakilan Benteng Es Utara dan Sekte Ombak Bunga yang datang paling awal.' Bao Wei mencibir dalam hati.


Shen Qi dengan cepat tidak mempedulikan tentang Sekte Taring Buas dan mulai memasuki ruang pertemuan sebelum Bao Wei mengantarkannya masuk. Shen Bai yang belum melangkahkan kaki mengikuti Shen Qi diam-diam meminta maaf atas sikap sepupunya pada Bao Wei.


"Bukan masalah besar, mari silahkan masuk." Bao Wei berpura-pura tidak mempermasalahkan, tetapi tulus bersikap ramah pada Shen Bai yang sikapnya beberapa kali lebih baik daripada Shen Qi.


Memasuki ruang pertemuan, Shen Qi tersenyum lebar setelah melihat kecantikan dari para gadis, kecuali Shui Hua dan Shui Rong karena memakai topeng giok es.


"Hari ini pasti hari keberuntunganku. Mataku begitu segar melihat kecantikan kalian, wahai para gadis." Hanya ada tanggapan kosong dari ucapan Shen Qi, membuatnya menggerutu dalam hati.


Shen Qi kemudian mendekati meja Ji Wentian dan Huang Mingzhu.


"Ah, Nona Huang. Kecantikanmu sangat tinggi, tidak salah jika kau dinobatkan menjadi gadis paling cantik generasi saat ini." Shen Qi mulia melancarkan aksi menggodanya.


Sebuah senyuman tipis terbit dari Huang Mingzhu sebagai tanggapan. "Saudara Shen terlalu memuji. Apanya yang gadis paling cantik? Mungkin kau perlu melihat lebih teliti pada saudari yang lain."


"Ah, aku bukannya terlalu memuji, tetapi Nona Huang saja yang terlalu merendah. Kecantikanmu memang sangat memikat dan menyilaukan mata. Mungkin aku perlu mengubah julukanmu menjadi Nona Peri Cahaya dari Langit, kurasa itu cocok untukmu."


Shen Qi semakin menjadi-jadi dengan sikap manis menggoda berlebihannya dan segera mendapat cibiran dari pemuda disamping Huang Mingzhu.


Merasa cukup bersikap sabar karena seolah tak dianggap Shen Qi yang lebih dulu menyapa Huang Mingzhu daripada dirinya, Ji Wentian akhirnya buka suara.


"Hmph, untuk seseorang yang berasal dari salah satu sekte terbesar, ternyata mulutmu lebih besar daripada bakatmu, Saudara Shen."


Tidak tanggung-tanggung Ji Wentian mencibir Shen Qi karena menggoda Huang Mingzhu dengan tidak tahu malunya. Meskipun mereka berteman, Ji Wentian sendiri ragu bahkan cenderung takut untuk menggoda gadis cantik itu karena peringatan Ji Guang.


Mendengar cibiran Ji Wentian, suasana hati dan sikap Shen Qi berubah drastis. Dia menatap Ji Wentian dengan sengit.


"Apa maksudmu, Ji Wentian? Kau ingin membuat masalah denganku?" Shen Qi bertanya dingin.


"Kau tidak menyadarinya? Hm, kudengar kau menghabiskan begitu banyak sumber daya sekte. Melihat kau sekarang ini, sepertinya sumber daya itu terlalu sia-sia untukmu. Apa mungkin bakatmu tidak setinggi yang kudengar? Atau selama ini kau terlalu malas berlatih?" Ji Wentian menyeringai mengejek.


Raut wajah Shen Qi semakin memburuk, wajahnya memerah dan tangannya terkepal kuat menahan amarah.


"Ji Wentian..." desis Shen Qi.


Rupanya Ji Wentian tidak berhenti sampai disana.


"Sudah menghabiskan begitu banyak sumber daya yang diberikan sekte padamu, tetapi yang kulihat baik kultivasi maupun kemampuan pedangmu tidak setinggi yang kuharapkan. Kau terlalu mengecewakan untuk Kultivator Pedang, terutama karena ayahmu adalah Pilar Pedang."


"Ji Wentian-! Kau-!"


Ucapan Ji Wentian memang benar adanya, yang merupakan aib besar bagi Shen Qi. Apalagi itu diucapkan oleh saingannya sesama kultivator muda yang berasal dari luar sekte. Sangat menyinggung perasaan Shen Qi terlepas itu adalah sebuah kebenaran yang memalukan.


Ji Wentian tetap memasang tenang, tetapi juga bergerak cepat dengan menyentuh gagang pedang yang tersemat dipinggang kirinya. Sangat jelas terlihat bahwa Ji Wentian dan Shen Qi siap bertarung menggunakan pedang pusaka mereka.


Aura permusuhan menyebar dengan cepat dan suasana menjadi panas seketika. Bao Wei hampir mengumpat dan mendadak panik, begitupun dengan Shen Bai. Bao Wei cukup yakin permasalahan akan muncul dalam Pertemuan Kultivator Muda, tetapi tidak menyangka akan muncul secepatnya ini bahkan sebelum pertemuan dimulai.


Sebelum salah satu dari keduanya melakukan sesuatu untuk mengatasi situasi tersebut, terdengar suara merdu bernada peringatan.


"Tolong berhenti, Saudara Ji, Saudara Shen."


Seiring dengan kalimat itu, suhu ruangan yang panas akibat aura pertarungan dua pemuda itu perlahan menjadi turun karena hawa dingin yang terpancarkan dari Bing Xueyu.


Ji Wentian dan Shen Qi kompak mematung sejenak, sebelum menoleh pada Peri Es diikuti pandangan mata yang lain.


"Aku jauh-jauh datang kemari mewakili sekteku untuk menghadiri pertemuan ini. Aku masih merasa lelah karena perjalanan jauh, tetapi sampai disini aku disuguhkan tingkah laku konyol kalian. Jika tidak memberiku muka, setidaknya kalian tidak bersikap sama pada Saudara Bao dan Menara Harta Giok selaku tuan rumah."


Masing-masing dari Ji Wentian dan Shen Qi menjauhkan tangan dari pedang pusaka mereka, sambil perlahan mendinginkan isi kepala yang sempat panas.


Melihat perubahan sikap keduanya, Bing Xueyu menarik kembali hawa dingin yang dia pancarkan, mengembalikan suhu udara ruangan pertemuan menjadi normal. "Terima kasih atas pengertian kalian."


Huo Li yang sedari tadi diam mengamati, tersenyum tipis. Dia berniat menengahi keduanya untuk mencari muka agar terlihat lebih baik, tetapi tertinggal satu langkah dari Bing Xueyu. Sementara itu, Bao Wei menghela napas panjang lega. Hampir saja dia jantungan karena ulah dua pemuda ini.


Huang Mingzhu menepuk pundak Ji Wentian. "Lebih baik kau diam saja dan tidak perlu turun tangan. Aku bisa mengatasinya sendiri."


Ji Wentian pura-pura mengeluh karena seharusnya dia mendapatkan ucapan terima kasih.


Shen Qi menghampiri meja Bing Xueyu sambil memasang senyum sopan yang dibuat-buat.


"Nona Peri Es dari Utara, kau memang memiliki kecantikan yang tiada tara. Maafkan sikap dan tingkahku yang kurang berkenan dihatimu."


"Hm."


Berbeda dengan tanggapan Bing Xueyu yang tidak hangat tapi juga tidak dingin, Bing Xinhai bereaksi lebih keras terhadap Shen Qi.


Bing Xinhai merasa Shen Qi adalah pemuda tak tahu malu dan seolah melupakan kejadian memalukan yang disebabkan olehnya beberapa saat lalu.


Tidak mampu meluluhkan hati dengan cara menggoda Peri Cahaya untuk mendapatkan perhatiannya, Shen Qi justru terlihat mengganti sasarannya pada Peri Es.


"Saudara Shen, apa kau yakin tidak ada yang salah dengan pikiranmu? Kenapa kau tidak bisa duduk diam daripada bersikap tidak tahu malu?"


- - -