Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 191 - Ledakan Besar



Wang Hu mengerutkan dahi saat melihat beberapa tetua dan generasi muda dari sekte bintang sepuluh disana. Dia kemudian bertanya pada Bao Wei.


"Apakah kami perwakilan yang datang terakhir?"


"Benar, Senior." Bao Wei menjawab singkat saja.


"Lalu, siapa yang datang pertama?"


"Perwakilan dari Benteng Es Utara dan Sekte Ombak Bunga. Mereka datang dalam waktu bersamaan."


Mata Wang Hu sedikit melebar sebelum dirinya menghela napas panjang.


"Ini cukup memalukan. Sekte kami berjarak paling dekat dengan Kota Harta Giok, tetapi justru yang paling akhir tiba disini. Ditambah lagi kami membuat kekacauan."


Kalimat terakhir Wang Hu sengaja ditekankan untuk menyindir keponakannya. Wang Bei tentunya merasa tersindir, tetapi tidak bisa membantah karena malas mendapat ceramah panjang dari pamannya.


Semua tamu yang berada diluar gedung pertemuan menyadari kedatangan Bao Wei dan lainnya, juga cukup terkejut saat melihat sosok Yun Lian yang berpenampilan mencolok.


"Xiao Hei..."


Wang Bei berjalan cepat mendekati siluman keranya yang kemudian dia sadari sudah tak bernyawa. Satu pukulan keras Yun Lian ternyata berhasil membuat nyawa siluman kera itu melayang. Dia meratapi kematian silumannya yang sudah dia besarkan sejak kecil.


"Dasar Gadis Iblis, kau..."


"Hentikan. Kau ingin berulah lagi?" Wang Hu segera menahan bahu keponakannya yang ingin menghajar Yun Lian, sedangkan gadis itu menatap datar Wang Bei seolah tidak peduli.


"Siapa gadis ini?" tanya tetua pengawal dari Sekte Pedang Suci.


"Kita akan mengetahuinya tidak lama lagi. Yang jelas gadis ini bermasalah dengan keponakan yang bodoh ini. Aku harap pertemuan ini bisa ditunda sejenak untuk menyelesaikan masalah diantara mereka."


Melihat tidak ada yang protes, Bao Wei meminta semuanya masuk ke dalam gedung pertemuan. Yun Lian masuk yang paling akhir, dia menjadi pusat perhatian mereka terutama para pemuda. Sebagian kecantikannya yang terlihat dan aroma tubuhnya yang sangat wangi menjadi penyebabnya.


Huang Mingzhu yang sejak awal mengamati Yun Lian mengerutkan dahi saat menemukan praktik gadis itu berada di puncak Ranah Dasar.


'Ranah Dasar tingkat lima belas? Dia termasuk generasi emas saat ini! Darimana asalnya?'


Meskipun terkejut, Huang Mingzhu lebih memilih diam dan akan memberitahukan temuannya pada Ji Wentian secara diam-diam nanti.


Semua sudah terkumpul didalam gedung pertemuan. Perwakilan dari Benteng Es Utara dan Sekte Ombak Bunga terlihat juga ditemani oleh tetua masing-masing. Disatu sisi, Bao Wei merasa senang semua tamunya sudah berkumpul, tapi disisi lain dia dipusingkan harus menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh Wang Bei.


Bao Wei meminta ijin pada perwakilan Benteng Es Utara dan Sekte Ombak untuk menunda pertemuan sejenak yang kemudian disetujui. Akan lebih baik masalah ini diselesaikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke agenda sebenarnya.


Lagipula hampir semua tetua pengawal disana sepakat dalam pikiran masing-masing, bahwa pertemuan ini sebaiknya dibatalkan saja atau diundur lain waktu karena sebelum pertemuan dimulai sudah timbul kekacauan yang tidak perlu. Namun mengingat harus memberi wajah pada tuan rumah, mereka tidak menyuarakan isi pikiran mereka.


"Maaf sebelumnya, Nona. Boleh aku mengetahui namamu?" Bao Wei bersikap sopan pada gadis asing didepannya.


"Namaku Yun Lian. Aku biasa dipanggil Nona Yun."


Yun Lian tidak keberatan saat Bao Wei menanyakan namanya. Suaranya yang merdu dan memanjakan telinga itu seolah menyihir semua orang.


"Nona Yun? Yun..." Bao Wei mencoba mengingat-ingat asal marga Yun gadis didepannya. "Baiklah, Nona Yun. Darimana dirimu berasal?"


"Sekte Awan Bulan."


Tiga kata itu membuat semua orang terkejut dan menahan napas. Bao Wei mundur dua langkah dan menatap Yun Lian seolah gadis itu hantu menyeramkan.


"Benar." Yun Lian mengangguk pelan. "Apakah ada yang salah?"


"Apa hubunganmu dengan Senior Gerbang Maut?"


"Beliau adalah kakekku." Yun Lian menjawab polos.


Bao Wei menahan diri untuk tidak mengumpat. Reaksinya terbilang ringan dibandingkan anggota sekte aliran putih disana. Sebagian besar dari mereka mendadak pucat pasi. Namun reaksi yang paling keras ditunjukkan oleh Wang Hu. Pria sepuh itu mengerutkan dahi sambil menatap tajam Wang Bei.


"Kau begitu pintar menarik masalah besar...." Wang Hu menggeram tertahan, mencoba untuk tidak melayangkan tamparan pada putra Raja Buas itu. "Gadis ini pasti jenius muda dari Sekte Awan Bulan. Aish..."


Belum lagi reda keterkejutan mereka karena mengetahui identitas Yun Lian yang sebenarnya, sebuah suara keras dikejauhan kembali mengejutkan mereka.


BOOMMM!!!


Suara ledakan yang amat keras membahana dan bisa terdengar oleh semua orang di Kota Harta Giok. Bahkan dampak ledakan itu membuat lantai pijakan mereka bergetar hebat.


"Apa-apaan!"


Tiga tarikan napas berikutnya terdengar suara lonceng yang tidak kalah kerasnya dengan suara ledakan sebelumnya. Lonceng peringatan yang menandakan Kota Harta Giok dalam bahaya.


"Ada yang menyerang kota!" Bao Wei berseru panik.


Dari dalam gedung itu, semua orang bisa melihat kepulan asap ledakan yang berbentuk jamur raksasa berwarna putih.


"Sepertinya itu ulah Tetua Mo." Yun Lian hanya bergumam pelan, tetapi bisa terdengar jelas oleh semua orang.


"Gawat-! Gadis ini datang bersama pasukan khusus Sekte Awan Bulan!" Tetua dari Istana Bintang Api berseru panik.


Tetua lain tidak ada yang cukup bodoh untuk tidak menyadari gadis jenius kultivator muda seperti Yun Lian pergi tanpa pengawalan khusus. Wang Hu tidak berhenti mengumpat dalam hati karena ulah keponakannya yang sangat ceroboh. Mencari masalah dengan anggota Sekte Awan Bulan sama saja dengan mencari mati.


"Sekte Taring Buas harus bertanggungjawab! Kalian menyeret kami dalam masalah!" Tetua dari Istana Bintang Api menunjuk ke arah Wang Hu yang dibalas tatapan tajam.


Dengan masih tersisa sedikit ketenangan, Bao Wei segera mengambil tindakan.


"Jun'er, kita harus segera mencari bantuan dari pusat."


Fang Jun mengangguk dan berlari bersama seniornya itu meninggalkan gedung. Namun langkah mereka terhenti di pintu gedung saat mendengar ledakan kedua, yang suaranya lebih keras dan getarannya lebih kencang. Bao Wei dan Fang Jun hampir kehilangan keseimbangan dibuatnya.


"Kita harus cepat!"


Yun Lian melihat datar kepulan asap dikejauhan. "Sepertinya Tetua Mo terlalu bersemangat."


Para tetua disana segera mengambil tindakan setelah mendengar suara Yun Lian.


"Kita tidak bisa berdiam diri saja. Sebaiknya kita membantu mengamankan kota." Tetua dari Sekte Gunung Langit memberi usul. Semuanya setuju dan pergi melesat keluar menuju sumber dua ledakan itu, kecuali Wang Hu dan tetua Benteng Es Utara.


"Gadis ini pastinya tidak dikawal satu orang saja. Ledakan itu mungkin sebagai pengalih perhatian, memudahkan pengawal lain mencari gadis ini." Wang Hu berpendapat. "Aku akan pergi ke arah yang berbeda."


Wang Hu melesat pergi dan menyisakan satu orang tetua.


- - -