
Menggunakan Indera Surgawi, Bing Lizi, Meirong, dan Yutian melacak sesuatu yang ditemukan Bo Lang. Jaraknya cukup jauh, agak ke bagian dalam hutan, tapi masih terjangkau oleh cakupan Indera Surgawi ketiganya.
"Hm? Ini... tanaman sihir? Bunga apa itu?" Bing Lizi mengerutkan dahi saat sesuatu yang ditemukannya adalah tanaman berbunga. Yutian bereaksi sama.
Reaksi berbeda ditunjukkan Meirong yang pengetahuannya tentang tanaman sihir jauh lebih mendalam dari keduanya. Kedua alisnya terangkat karena terkejut.
"Jika dilihat dari ciri fisiknya, itu adalah Bunga Anggrek Pelangi Jiwa."
Penjelasan Meirong membuat Yao Han yang tadinya penasaran menjadi terkejut. Dia mendadak antusias, karena jika ucapan gurunya benar, maka harapan untuk Tian Jian dapat membentuk tubuh fisiknya sangat begitu dekat.
"Benarkah, Guru Hong?"
"Sebenarnya aku tidak begitu yakin. Aku hanya pernah melihatnya sekali dimasa lalu dan itu sudah lama. Saat itu hanya bunganya saja yang kulihat, tapi tidak dengan bagian tanaman lain."
Yao Han tidak menunggu lama melesat masuk ke bagian lebih dalam hutan itu diikuti yang lain menuju lokasi bunga yang diduga Bunga Anggrek Pelangi Jiwa.
Sesampainya disana, mereka berdiri menjaga jarak sekitar dua meter dari tanaman yang mereka temukan.
"Inikah bunga yang kita cari?" Tian Jian muncul untuk melihat tanaman didepannya. "Saudari Hong?"
Meirong diam beberapa saat memperhatikan tanaman berbunga itu sebelum dia yakin dugaannya benar. "Tidak salah lagi, itu adalah Bunga Anggrek Pelangi Jiwa. Bentuk dan pola warnanya sama persis seperti yang tercatat dan kulihat dulu. Tapi..."
Bunga Anggrek Pelangi Jiwa dinamakan demikian karena memiliki tujuh kelopak bunga dengan warna berbeda sama seperti warna pelangi.
"Tapi apa?"
"Catatan mengenai bunga satu ini sangat sedikit karena kelangkaannya. Aku hanya tahu tentang ciri dan bentuk fisik bunga, serta khasiatnya, tapi tidak dengan tanamannya secara keseluruhan."
Tanaman didepan mereka memiliki tinggi satu meter. Bunganya hanya ada satu dan berada dibagian paling atas.
Yao Han berjalan mendekat untuk memeriksa bunga itu, tetapi langkahnya terhenti karena Bing Lizi menahan pundaknya.
"Ada apa, Paman Guru Bing?"
Bing Lizi menjawab tanpa menoleh pada Yao Han. Tatapannya mengarah lurus pada tanaman didepannya. "Jangan mendekat, bunga itu memancarkan aura yang tak biasa."
Ucapan Bing Lizi benar adanya setelah mereka memeriksa bunga itu lebih teliti. Namun Yao Han dan Bo Lang tidak mengenali aura yang mereka temukan.
"Aura apa itu?"
"Han'er, bunga itu memancarkan aura kekuatan ruang dan waktu. Tidak salah lagi, bunga itu adalah pintu masuk salah satu Dimensi Saku."
"Dimensi Saku?" Yao Han menaikkan sebelah alis mendengar jawaban Meirong. Rasa antusiasnya mendadak menghilang, tergantikan dengan rasa kecewa. "Artinya kita tidak bisa mendapatkan bunga untuk Paman Guru Tian."
Tian Jian menepuk pundaknya. "Jangan berkecil hati, kita masih punya peluang mendapatkannya di Kota Musim Semi."
Terlintas sebuah ide dibenak Yao Han. "Bagaimana kalau kita masuk ke dalamnya? Mungkin disana terdapat bunga yang kita cari."
Dalam waktu bersamaan, Yao Han menerima lima tatapan mata sekaligus.
"Lupakan saja, Xiao Han. Itu adalah salah satu tindakan paling tidak waras yang pernah dilakukan kultivator. Kalau kau lupa, kondisiku dan Senior Bing menjadi seperti ini karena pernah memasuki Dimensi Saku tak dikenal."
Tian Jian mengalami trauma karena pernah memasuki Dimensi Saku yang belum pernah terjamah siapapun dan tidak akan membiarkan Yao Han masuk ke dalam Dimensi Saku didepan mereka.
Dimensi Saku yang belum pernah dijelajahi berisi banyak bahaya. Kultivator dengan tingkat kultivasi sama sepertinya seperti tindakan bunuh diri jika nekat memasukinya. Setidaknya, perlu beberapa kultivator Ranah Inti untuk memeriksa. Namun, Yao Han yang memahami kekhawatiran Tian Jian malah menanggapi dengan santai.
"Disini aku dikelilingi orang-orang hebat, kenapa aku harus takut? Sebaliknya, aku merasa aman."
Tian Jian berdecak pelan. "Jika terjadi sesuatu denganmu, aku tidak bisa menjelaskannya pada Senior Feng."
Bing Lizi yang berada disisi Tian Jian ikut buka suara agar Yao Han mengurungkan niatnya. "Keberadaan bunga ini sebagai pintu masuk Dimensi Saku saja sudah aneh. Entah keanehan apalagi didalam sana."
Yao Han tetap bersikukuh dan satu-satunya yang mendukung idenya adalah Meirong.
"Guru Hong?"
Meirong tersenyum lembut sambil mengelus rambut Yao Han. "Selama kau yakin, Guru selalu mendukung dan menemanimu."
Yao Han tersenyum lebar. "Guru Hong saja sudah cukup. Aku akan pergi."
Bing Lizi menghela napas panjang. "Dasar keras kepala. Sekarang aku bisa melihat sifat Saudara Feng satu ini menurun padamu."
Mau tidak mau, Bing Lizi juga ikut karena Yao Han yang keras kepala. Begitupun dengan Tian Jian, Yutian, dan Bo Lang.
Tian Jian yang terpaksa harus ikut sempat mengancam akan bunuh diri dengan cara meledakkan dirinya jika terjadi sesuatu dengan Yao Han. Menurutnya itu lebih baik dibandingkan menerima amukan Feng Xian.
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi. Firasatku mengatakan kita perlu masuk ke dalam sana."
"Firasat macam apa itu? Namun kuharap firasatmu terbukti benar."
Kecuali Yao Han, yang lain kembali ke Dimensi Pagoda. Setelah menarik napas dalam, Yao Han mendekati tanaman sihir itu dan mengulurkan tangannya pada bunga yang memancarkan kekuatan aneh. Yao Han terhisap masuk dan menghilang dalam sekejap.
Tanpa Yao Han dan lainnya ketahui, setelah mereka masuk ke dalamnya, bunga itu melepaskan formasi penghalang yang membuat siapapun tidak dapat melihat keberadaannya. Pada saat yang sama, Feng Xian di Pulau Bulan Bintang merasakan tanda aneh.
**
Yao Han hampir menjerit saat menyadari dirinya sedang terjun bebas setelah memasuki Dimensi Saku Bunga Anggrek. Dengan pikiran yang masih cukup jernih, Yao Han segera mengeluarkan kipas Dong Feng dan melayang diatasnya lalu turun dengan perlahan.
Tempat mendaratnya adalah kaki gunung yang terlalu tinggi. Semua penghuni Dimensi Pagoda segera keluar untuk menjaga Yao Han dari bahaya sambil mengamati kondisi sekitar.
"Tempat ini tidak terlihat begitu berbahaya daripada yang kupikirkan." Yutian berpendapat.
"Gunakan Indera Surgawi kalian." Bing Lizi menimpali dengan raut wajah serius.
Meirong, Yutian, dan Bo Lang dibuat terkejut saat menyadari cakupan Indera Surgawi mereka tidak seluas sebelumnya. Hanya bisa mencakup radius satu kilometer.
"Kekhawatiranku menjadi kenyataan," keluh Tian Jian sambil melirik Yao Han yang ternyata masih bisa bersikap tenang.
"Tempat ini memiliki formasi penghalang, tapi tidak terlalu kuat jika dibandingkan formasi penghalang di Kota Harta Giok." Meirong berpendapat.
"Guru, kekuatan mata khususku tidak terpengaruh. Berfungsi dengan baik seperti biasanya." Yao Han menimpali.
"Baguslah, tapi ini dua kasus yang berbeda, Han'er."
- - -