
Demi bisa membayar semua pil buatan Feng Xian, Qian Yue terpaksa menggunakan harta pribadinya.
Jika di hari sebelumnya Yao Han tidak memberi harga murah untuk pil buatannya dan bersedia dibayar dengan beberapa pusaka, mungkin pihak Toko Harta Giok tidak bisa mendapatkan pil dari Feng Xian yang kedatangannya mendadak itu.
Sempat terlintas dibenak Qian Yue agar Yao Han secepatnya mencapai gelar Kaisar Pil sehingga pihaknya bisa mendapatkan pil kelas tinggi dengan harga murah dan tidak mengandalkan Feng Xian lagi.
Feng Xian tidak lama berada di Toko Harta Giok dan dia segera pergi setelah urusannya selesai. Yao Han tidak mengantar kepergian gurunya karena tidak mau menarik perhatian orang-orang. Cukup pihak Menara Harta Giok saja yang sementara ini mengetahui bahwa dirinya adalah murid Feng Xian.
Feng Xian kembali ke Pulau Bulan Bintang dengan wajah ceria karena dia membawa puluhan guci arak enak. Raut wajahnya itu membuat orang-orang bertanya-tanya ada apa dengannya saat berjalan menuju pintu keluar Toko Harta Giok. Satu hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari sosok Feng Xian.
"Apa mataku salah melihat? Baru saja Angin Timur tersenyum?"
"Tidak, aku juga melihatnya. Menurutmu kenapa dia seperti itu?"
"Kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa?"
"Manajer Fu, Nona Qian, aku sudah cukup lama berada di kota ini. Sudah waktunya bagiku untuk melanjutkan perjalananku."
"Kemana tujuanmu, Saudara Yao?" tanya Qian Yue.
"Ke arah tenggara. Aku ingin pergi ke Kota Bukit Bunga."
Qian Yue mengerutkan dahi, asing dengan nama kota itu. Sepertinya itu bukan kota kultivator dan termasuk kota kecil.
"Kalau boleh tahu, ada urusan apa kau kesana?"
"Menemui teman yang sudah sangat lama tidak kutemui." Yao Han tersenyum tipis.
Yao Han tidak berbasa-basi lagi. Sebelum pergi, dia memberikan tiga botol minyak wangi dan sebuah Bunga Teratai Biru. Dengan perasaan sedikit bingung, Qian Yue menerima pemberian Yao Han.
"Semoga perjalananmu aman dan lancar, Saudara Yao."
"Terima kasih. Mungkin di lain waktu kita bisa berjumpa lagi, Nona Qian. Aku pergi dulu."
Yao Han sedikit membungkuk memberi salam pada Qian Yue dan Fu Mian.
Qian Yue masih merenung setelah kepergian Yao Han sambil melirik barang pemberian Yao Han. Dia berpikir Yao Han memiliki kebiasaan unik dengan menjadikan Bunga Teratai Biru sebagai cendera mata.
Meski baru mengenalnya sebentar, Qian Yue merasa Yao Han adalah sosok yang cukup misterius. Dia sempat berpikir Yao Han juga memiliki mata khusus seperti dirinya karena mata Yao Han yang berwarna abu-abu buaknlah warna mata yang umum.
Satu hal yang sedikit mengganggu Qian Yue adalah Yao Han yang terlihat tidak terpengaruh dengan keindahan parasnya. Qian Yue bukannya ingin menyombongkan diri, tetapi banyak orang yang mengatakan dan memuji dirinya sangat cantik.
Qian Yue merasa ada yang salah dengan Yao Han, tetapi satu hal yang tidak diketahui Qian Yue adalah Yao Han memiliki guru wanita yang sangat cantik. Jika Qian Yue bertemu dengan sosok Meirong, maka gadis itu akan merasa rendah diri karena membandingkan kecantikannya yang tidak seberapa dengan Dewi Pedang Api tersebut.
Yao Han menuju ke Restoran Nagarasa untuk membeli perbekalan atau lebih tepatnya sebagai sekedar pencuci mulut. Kali ini dia membeli banyak menu makanan di lantai tiga.
Sosoknya yang sudah dikenal hampir seluruh orang di Kota Cahaya Bulan, membuat Yao Han diperlakukan hormat di restoran itu. Bahkan mereka memberikan diskon beberapa ratus batu roh. Sebagai gantinya, Yao Han memberikan beberapa pil dan Bunga Teratai Biru.
Sebelum melewati gerbang kota, Yao Han berhenti sejenak lalu berbalik badan melihat ke arah Danau Cahaya Bulan. Pandangannya mengarah jauh ke Pulau Bulan Bintang yang sama sekali tidak terlihat.
Sebelumnya Yao Han tidak merasakan ini, tetapi terselip sedikit perasaan tidak rela meninggalkan Pulau Bulan Bintang yang merupakan tempat tinggal kedua baginya setelah Kota Bukit Bunga.
"Han'er, mana arak untukku? Kenapa kau lama sekali?"
Suara Yutian menyadarkan Yao Han dari lamunan singkatnya. Meirong berdecak menatap kesal pada Yutian, sementara Yao Han tertawa kecil.
"Mohon bersabar, Guru She..."
Setelah melewati gerbang kota, Yao Han segera mencari tempat sepi di balik pepohonan lalu masuk ke dalam Dimensi Pagoda.
"Maaf menunggu lama, Guru."
Yao Han mengeluarkan semua persediaan guci Arak Persik Bulan, membuat Yutian tersenyum lebar. Yao Han mengeluarkan dua cangkir kecil dan menyajikan arak untuk kedua gurunya.
"Ah, nikmat sekali..." seru Yutian pelan setelah menghabiskan arak dalam satu tegukan. Yao Han segera mengisi ulang arak ke dalam cangkir Yutian.
Meirong meminum arak dengan anggun. Meski bukan pecinta arak, dia harus mengakui arak buatan Yao Han sangat enak dan tidak memabukkan. Mungkin dia perlu menjadikan Arak Persik Bulan sebagai minuman favoritnya selain Teh Rumput Perak.
"Arak bagus..."
"Sayang sekali hanya ada sepuluh guci arak disini. Seharusnya kau memberikan banyak pada Senior Feng, Han'er," gerutu Yutian.
"Apa yang denganmu? Han'er bisa membuatnya lagi. Berhentilah merengek seperti anak kecil," omel Meirong membuat Yutian sedikit cemberut dan Yao Han tersenyum canggung.
***
Kabar mengenai kemunculan kembali Feng Xian di Kota Cahaya Bulan menyebar dengan cepat, terutama karena pengaruh dari Menara Harta Giok melalui Toko Harta Giok dan para kultivator yang sempat melihatnya di kota itu.
Dalam waktu hitungan hari, banyak kultivator yang berbondong-bondong ke Kota Cahaya Bulan demi satu tujuan, yaitu mendapatkan pil buatan Feng Xian. Mereka juga mendengar kabar tentang kultivator muda yang memberikan pengobatan gratis dan membagikan pil cuma-cuma.
Tidak sedikit yang mempercayai kabar yang satu ini, terlebih perhatian mereka lebih tercurah pada pil buatan Feng Xian daripada sosok pemuda yang dipanggil Tabib Teratai Biru ini.
Selain pil buatan Feng Xian yang selalu membuat Toko Harta Giok cabang Kota Cahaya Bulan ramai pada saat kemunculannya, pil buatan Yao Han juga menimbulkan dampak yang sama.
Pada akhirnya Toko Harta Giok itu lebih banyak didatangi kultivator dari sekte kecil dan menengah yang memburu Pil Pengumpul Qi dan Pil Hati Perak yang sangat berguna untuk perkembangan murid-murid mereka yang masih muda.
Cukup jauh dari Kota Cahaya Bulan, dua sosok pemuda berpakaian sederhana berjalan santai sambil bercakap ringan.
"Oh, Senior Angin Timur muncul kembali. Sepertinya perjalanan kita kali ini diberkahi langit," gumam salah satu pemuda.
Pemuda lain disampingnya tertawa kecil, "Itu kabar baik, tetapi yang lebih mengejutkan adalah kabar tentang Senior Angin Timur yang memiliki murid."