
Budayakan like, sebelum membaca.
*
Penerangan seadanya yang hanya dibantu beberapa obor di dalam benteng batu yang menjadi markas kelompok Gagak Merah bukan masalah berarti bagi Yao Han menggunakan kekuatan mata khususnya.
Pemandangan menjijikkan tak bermoral oleh pria-pria jahat kelompok Gagak Merah membuat amarahnya tak bisa dia tahan. Bagaimana bisa mereka memperlakukan para perempuan yang mereka ambil secara paksa dengan begitu tak manusiawi?
Sangat jelas di mata Yao Han para perempuan disana dijadikan budak nafsu bejat para pria jahat kelompok Gagak Merah dan diperlakukan lebih rendah daripada binatang.
"Siapa disana?!"
Teriakan pemimpin kelompok Gagak Merah yang memiliki badan gempal besar dan kultivasinya berasa di Ranah Dasar tingkat sembilan membuat Yao Han menatapnya sinis. Dalam penerangan yang tak seberapa jelas itu, ada kilat kejam di kedua mata Yao Han.
"Kurasa kalian sudah cukup bersenang-senang beberapa waktu terakhir ini."
Suara Yao Han terdengar dingin dan tanpa menunggu tanggapan salah satu dari mereka, Yao Han mulai bergerak cepat. Tangan dan kakinya yang diselimuti Qi unsur tanah dan logam menghantam bagian tubuh para pria disana.
Terdengar suara pukulan dan tendangan, yang disusul dengan suara jerit kesakitan. Jerit ketakutan dari para perempuan juga terdengar karena perubahan situasi yang terjadi tiba-tiba.
Pemimpin kelompok Gagak Merah sedikit banyak mengerti bahwa markasnya sedang disusupi oleh seseorang, tetapi belum sempat mengambil tindakan, dia terpental menabrak dinding. Dada dan perutnya sakit luar biasa, beberapa kali pria berbadan besar itu muntah darah.
Dalam waktu singkat, semua pria jahat disana tumbang dalam kondisi luka-luka. Tidak satupun dari mereka bisa berdiri dan yang hanya bisa mereka lakukan adalah meringis kesakitan.
Sebenarnya kekuatan fisik Yao Han sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan mereka, tetapi hasil latihan pertarungan hidup dan mati dengan Feng Xian membuat Yao Han tidak ingin main-main sejak awal.
Memanfaatkan peluang 'tenang' yang dia ciptakan, Yao Han mencarikan sesuatu untuk menutupi tubuh telanjang bulat para perempuan.
"Nona Xu, tolong bantu aku memberikan kain pada mereka."
Yao Han berhasil menemukan beberapa kain, tetapi tidak dengan pakaian. Meskipun nafsunya tidak terpancing, Yao Han terhalang moral untuk mendekati para perempuan itu sehingga meminta bantuan Xu Yin.
'Kenapa juga aku harus turun tangan...'
Dengan sedikit enggan, Xu Yin menuruti permintaan Yao Han yang sedang tidak bisa diajak berdebat.
"Jangan takut, kami kemari untuk mengeluarkan kalian dari tempat busuk ini."
Xu Yin berniat menenangkan para perempuan yang gemetaran ketakutan, tetapi nada bicaranya terdengar datar.
"Tolong bawa mereka keluar, tunggu aku bersama dengan Bolang disana."
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Menyelesaikan sedikit urusan dengan mereka."
"Kau ingin membunuh mereka?" tanya Xu Yin sedikit berbisik.
"Bisa iya, bisa tidak."
"Terlalu cepat bagi mereka untuk mati, kau tahu? Setidaknya kau perlu bersenang-senang dengan mereka."
"Aku mengerti apa yang kulakukan. Cepatlah antar mereka keluar dan tunggu aku sampai selesai."
Setelah memastikan Xu Yin dan lainnya berada diluar benteng, Yao Han mengalihkan perhatian ke para anggota kelompok Gagak Merah yang terbaring kesakitan. Kilat kejam pada mata Yao Han kembali menyala dan aura pembunuhnya menguar lebih hebat dari sebelumnya.
Ada dua tiga orang yang langsung tidak sadarkan diri, sementara sisanya gemetar hebat penuh ketakutan. Yao Han membentuk segel tangan, menggunakan jurus Lentera Api sebagai penerangan.
Kini ruangan dalam benteng terang benderang dan semua anggota kelompok Gagak Merah bisa melihat siapa dibalik dalang 'kerusuhan' ke markas mereka.
"S-Siapa... kau...?" tanya pemimpin kelompok Gagak Merah dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Hm? Bagaimana aku menjawab?" Yao Han mengelus dagu, "Mimpi buruk... atau malaikat maut kalian, mungkin?"
Pemimpin kelompok Gagak Merah menggertakkan giginya. Sebagai kultivator, dia memahami Yao Han memiliki kekuatan jauh diatasnya.
"Aku tidak ingin berlama-lama, jadi maafkan aku..."
Yao Han berkata datar. Satu jentikkan jarinya membuat salah satu bola api dari jurus Lentera Api melayang ke arah pria berbadan gempal dan besar itu, tepatnya ke arah 'masa depan berharga'nya bersembunyi.
"ARRRGHHH!!!"
Tindakan Yao Han tidak hanya membuat pria berbadan besar itu meraung keras begitu kesakitan, tetapi juga membuat semua anak buah pemimpin kelompok Gagak Merah disana memucat, wajah mereka seperti mayat, seolah darah meninggalkan wajah mereka.
Teriakan yang sangat nyaring itu menyakiti pendengaran, tetapi Yao Han tidak peduli karena telinganya terlindungi dengan Qi. Teriakan yang sama juga terdengar sampai keluar benteng.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" gumam Xu Yin bergidik ngeri.
Tidak hanya Xu Yin, para perempuan disana juga ketakutan. Seandainya melihat aksi Yao Han, mereka pasti langsung tidak sadarkan diri.
Bolang yang melihat melalui Indera Surgawi menelan ludah gugup. Tidak menyangka di balik wajah ramah Yao Han, tuannya bisa melakukan hal 'kejam' seperti itu.
"Jangan khawatir tidak ikut kebagian, kalian akan merasakan hal yang sama dengan pria itu." Yao Han tersenyum lebar melirik ke arah anggota kelompok Gagak Merah yang lain.
Beberapa waktu selanjutnya, Yao Han mengarahkan bola api dari jurus Lentera Api pada bagian vital semua pria jahat disana. Kembali suara teriakan yang beberapa kali lebih kuat terdengar.
Bagi para pendengar diluar benteng, mereka hanya bisa menahan napas dan merinding hebat disekujur tubuh.
Cukup 'puas' dengan apa yang dilakukannya, Yao Han keluar benteng. Semua anggota kelompok Gagak Merah tidak ada yang mati, hanya sekarat dan Yao Han tidak peduli lagi pada mereka.
"Sudah selesai?" tanya Xu Yin melihat sosok Yao Han dan dibalas anggukan ringan.
Yao Han melirik para perempuan dan mengerutkan dahi. Jumlah dari mereka lebih banyak dari yang dia dengar. Salah satu dari mereka menjelaskan, perempuan yang diambil paksa berasal dari beberapa kota dan desa kecil berbeda.
Semua perempuan sudah dipastikan kehilangan kegadisannya. Ada yang mati bunuh diri sebelum hal buruk itu terjadi, ada juga yang mati karena tidak kuat menanggung penderitaan, dan sisanya yang Yao Han lihat adalah mereka yang masih mencoba bertahan sambil berharap akan ada keajaiban.
Mendengar itu, Yao Han menggertakkan gigi. Dikedua tangannya, muncul petir biru keemasan dalam jumlah besar lalu dia arahkan pada benteng dan menghancurkan markas kelompok Gagak Merah itu.
Xu Yin dan khususnya para perempuan menjerit pelan, bahkan mereka hampir menangis. Yao Han tidak peduli apakah tindakannya bisa membunuh semua anggota kelompok Gagak Merah yang sedang sekarat atau tidak.
Namun sedikit akal sehat Yao Han 'mengatakan' tindakannya tepat untuk memastikan mereka tidak bisa 'bangkit' lagi.
---