
Teknik rahasia tingkat tinggi Istana Bintang Api hanya bisa dipelajari oleh orang-orang tertentu, Huo Li dan Huo Lin termasuk didalamnya.
Meskipun belum menguasainya dengan sempurna, Huo Li yang masih berada di Ranah Dasar mampu menyulitkan bahkan melukai kultivator Pondasi Bumi dengan cukup fatal. Namun melihat Yun Lian yang sama sekali belum terluka, teknik tingkat tinggi itu seolah tidak berarti.
Huo Li sendiri tidak bisa menerima bahwa dirinya harus kalah dengan gadis aliran hitam didepannya. Ini juga menyangkut harga diri sebagai putra Raja Api dan murid paling jenius di Istana Bintang Api generasi saat ini. Dia mengabaikan luka yang dia terima pada beberapa bagian tubuhnya.
"Ough!" Huo Li muntah darah dan jumlahnya tidak sedikit.
"Li gege-! Uhuk... uhuk..." Huo Lin menjerit sebelum terbatuk-batuk. Dirinya begitu cemas melihat kembarannya dalam kondisi parah.
Ji Wentian berniat membantu, tetapi terhenti saat Huo Li yang tadinya dalam posisi setengah berlutut, dapat berdiri lagi meski dengan susah payah.
"Kau belum juga menyerah? Aku tidak tahu harus menyebutmu tangguh atau keras kepala." Yun Lian terdengar mengejek, sengaja menyulut emosi lawannya.
Disisi lain, Huo Li memikirkan cara untuk segera mengalahkan Yun Lian. Dia menarik napas dalam dan panjang, lalu membentuk mantra tangan.
"Semua yang kau lakukan percuma saja. Menyerahlah dan aku akan membiarkanmu tetap hidup." Yun Lian mencibir.
Huo Li mengabaikan kata-kata itu. Perisai api ditubuhnya membesar dan jumlah bola-bola api disekitarnya semakin banyak dan panas. Dikedua tangannya juga terbentuk pedang api pendek. Huo Li menggunakan teknik tingkat tinggi sekali lagi yang jauh lebih banyak menguras Qi daripada sebelumnya. Jika bukan karena terpaksa, dia tidak akan menggunakan cara ini.
Huo Li kembali menyerang, kali ini gerakannya lebih cepat dan mematikan. Yun Lian tidak menyambut serangan itu, melainkan memilih menghindar terlebih dahulu. Bola api Huo Li tidak menghilang setelah gagal melukainya, melainkan terus mengejar sampai mengenai sasaran.
Tidak seperti yang diharapkan Huo Lin, bola-bola apinya tidak memberikan luka sedikitpun. Jangankan melukai, merusak gaun merahnya saja tidak. Ini menunjukkan gaun merah Yun Lian termasuk salah satu pusaka dan kualitasnya lebih baik dibandingkan jubah yang dikenakan Huo Li.
Seiring waktu, Huo Li semakin terdesak. Luka yang dia terima maupun kerusakan pada beberapa bagian jubahnya semakin banyak. Qi miliknya mulai terkuras dan nyaris habis, membuat perisai api pada tubuhnya menipis.
Yun Lian langsung menyadari hal itu dan tidak melewatkan kesempatan. Dia menyerang dengan serangan tapak yang mendarat telak pada tubuh Huo Li. Perisai api yang masih tersisa sama sekali tidak bisa menahan serangan itu.
"Tidak! Uhuk! Uhuk!" Huo Li menjerit histeris dan kembali terbatuk. Kali ini lebih keras dan diikuti dengan muntah darah.
Dua sosok melesat menuju Huo Li yang terpental jatuh dari atap gedung pertemuan. Salah satunya menangkap tubuh Huo Li sebelum jatuh menghantam tanah.
"Senior, tolong kau bantu Saudara Huo. Biarkan aku yang menangani Nona itu."
Yun Lian sedikit mengerutkan dahi saat melihat dua sosok ini. Penampilan mereka terlihat berbeda dari yang lain. Yun Lian memperhatikan cukup teliti.
"Kepala nyaris botak dan jubah sederhana..." gumam Yun Lian. "Ah, kalian berasal dari Sekte Teratai Putih."
Sosok yang berdiri berhadapan dengan Yun Lian membenarkan. Dia adalah Honghao, sedangkan Shenghao menyangga tubuh Huo Li dengan hati-hati.
"Honghao, seharusnya aku yang berkata seperti itu. Kau lebih ahli dalam pengobatan, seharusnya kau yang membantu mengobati Saudara Huo."
"Kemampuan bertarungku memang dibawahmu, Senior. Namun aku juga ingin menguji kekuatan baruku."
Honghao mengabaikan ucapan Shenghao dan mendekat tiga langkah pada Yun Lian yang sudah turun dari atap gedung.
"Hm... jadi kau ingin berakhir sama dengan orang itu? Baiklah, aku turuti kemauanmu."
"Aku tidak berniat demikian. Aku juga terpaksa melakukan ini karena kau tidak berniat berhenti."
"Dengan tingkat praktikmu ingin membuatku berhenti? Kau ini pandai melucu."
Tawa sinis Yun Lian dibalas senyuman tipis Honghao.
"Nona, apa kau tidak pernah mendengar sebuah ungkapan bahwa jangan pernah meremehkan seseorang meskipun kau lebih kuat daripada mereka?"
"Hmph, hukum pertama dunia kultivator mengatakan kekuatan adalah segalanya. Apa aku lupa?"
"Tidak. Aku memang tidak sekuat seniorku ataupun saudara-saudari yang lain. Namun sebaiknya kau tidak meremehkanku."
"Kau ini terlalu banyak bicara, ya."
Honghao menggeleng pelan, sebelum menarik napas dalam. Kemudian dia melepaskan Qi dari seluruh tubuhnya. Pancaran kekuatannya membuat generasi muda disana terkejut, begitupun dengan Yun Lian yang mengerutkan dahi.
Honghao, begitupun dengan Shenghao, sama-sama menunjukkan tingkat kultivasi Ranah Dasar tingkat dua belas. Namun pancaran Qi Honghao saat ini menunjukkan tingkat kultivasinya lebih dari itu.
Satu-satunya yang tidak terkejut adalah Huang Mingzhu, yang tersenyum tipis dibalik cadarnya. Tebakannya tepat sasaran.
Yun Lian tidak ingin berpikir lebih jauh alasan Honghao menyamarkan tingkat kultivasinya. Satu-satunya yang dia pikirkan adalah menyingkirkan Honghao secepat mungkin, agar dia bisa menyelesaikan tujuannya.
Honghao membuat mantra tangan. Perlahan, Qi biru diseluruh tubuhnya berubah menjadi berwarna lebih pekat dan berkumpul pada kedua tangannya yang kemudian membentuk kepala harimau api berwarna biru berukuran cukup besar.
Yun Lian berdecak pelan, karena lagi-lagi dia harus berhadapan dengan harimau dan api. Hanya berbeda wujud saja. Dirinya berpikir sedang berhadapan dengan Wang Bei dan Huo Li sekaligus.
Honghao mengambil langkah cepat menyerang. Yun Lian segera menyadari setiap serangan Honghao lebih berbahaya daripada yang terlihat. Honghao menggunakan teknik Tinju Harimau Api yang mengeluarkan gelombang kejut berhawa panas.
Menurut Yun Lian, melawan Honghao ternyata sedikit lebih merepotkan daripada Huo Li. Tidak seperti Huo Li, Honghao lebih pandai dalam mengatur Qi dan emosi, sehingga serangannya lebih mematikan dan sulit dihindari atau dilawan balik.
Shenghao hanya mengamati jalannya pertarungan sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya pada Huo Li. Dia mengeluarkan botol kaca berisi cairan bening tak berwarna. Saat dibuka, tercium aroma obat yang wangi.
"Saudara, kau mau apa?" tanya Huo Lin yang sudah berada disamping kembarannya bertanya dengan nada sesenggukan. Wajah dan matanya memerah, juga mengalirkan air mata deras karena menangis. Kondisinya menjadi sedikit lebih baik setelah menelan pil penyembuh.
"Aku hanya ingin menolongnya. Cairan ini bisa membantu kondisi saudaramu cepat pulih dalam waktu singkat. Percayalah padaku."
Huo Lin tidak menanggapi lebih jauh dan membiarkan Shenghao membantu menuangkan cairan bening itu masuk ke dalam mulut Huo Li.
- - -