
"Silahkan masuk, Saudara Yao. Semoga kau menyukai dan nyaman tinggal di ruangan yang kami sediakan ini."
Zi Dan menunjukkan sebuah tempat tinggal yang akan digunakan Yao Han selama berada di Sekte Bintang Ungu. Yao Han mengamati sekilas dan tersenyum tipis pada Zi Dan.
"Terima kasih, Senior Zi. Ruangan ini mengingatkanku dengan ruangan yang biasa kupakai di kediaman guruku."
"Eh?"
Memang ruangan yang ditunjukkan Zi Dan memiliki beberapa kesamaan dengan kamar yang dipakai Yao Han di kediaman Feng Xian. Perbedaannya adalah tidak tercium aroma tanaman sihir dan kepadatan Qi disana yang beberapa kali lebih tipis.
"Terimakasih sudah mengantarku kemari, Senior. Selanjutnya aku bisa mengurus diriku sendiri. Senior bisa beristirahat."
Zi Dan tertawa kecil, "Baiklah kalau begitu. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menemuiku." Kediaman Zi Dan berada tidak jauh dari ruangan untuk Yao Han.
Sepeninggalan Zi Dan, Yao Han masuk ke dalam ruangannya dan mengunci pintunya. Semua penghuni Dimensi Pagoda kecuali Bo Lang keluar. Bing Lizi membuat penghalang khusus demi keamanan.
"Aku rasa sudah cukup lama tidak berada di wilayah sebuah sekte. Bukan begitu, Rongrong?"
Meirong berdecak pelan dan sedikit kesal, tapi tetap menanggapi Yutian, "Kau benar, ular bodoh."
Mengabaikan dua gurunya yang mungkin akan terlibat perdebatan yang tidak penting lagi, Yao Han memilih untuk duduk bersila dan bermeditasi diatas kasur yang cukup empuk disana. Meirong ikut menemaninya, sementara yang lain menikmati Arak Persik Bulan dengan duduk melingkar mengelilingi meja kecil.
***
Dalam waktu beberapa jam, keberada Yao Han sebagai murid Angin Timur sekaligus sosok pemuda yang berjulukan Tabib Teratai Biru menyebar di seluruh Sekte Bintang Ungu. Semua orang yang baru mengetahuinya menjadi heboh, kaget, dan penasaran.
Namun mereka yang ingin bertemu untuk melihat sosok Yao Han tidak bisa melakukannya karena ada larangan dari petinggi sekte dengan alasan agar tidak menganggu bahkan sampai menyinggung Yao Han yang bisa berakibat buruk pada sekte.
Malam hari tiba, Yao Han mendatangi kediaman Zi Dan untuk memberitahu dirinya yang ingin menemui Hua Feng. Tetua itu hampir melupakan tujuan Yao Han berada di Sekte Bintang Ungu, kemudian meminta salah satu murid mengantarkan Yao Han. Kebetulan, murid itu mengenal cukup dekat Hua Feng.
Saat menuju ke tempat Hua Feng berada, murid yang mengantar Yao Han mencoba berbincang dan berusaha sedikit akrab. Meskipun sebenarnya dia agak takut juga, terlepas dari wajah dan pembawaan Yao Han yang ramah dan bersahabat.
"Semua orang sudah mengetahui keberadaanmu disini, Saudara Yao. Namun mereka tidak bisa bebas menemuimu karena Patriark melarangnya. Dan kau pasti tahu alasannya."
Yao Han tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku tidak tahu itu hal baik atau bukan."
Setibanya didepan kediaman Hua Feng, murid yang menemani Yao Han mengetuk pintu ruangan.
Tok. Tok. Tok.
"Hua Feng, ada yang mencarimu."
Meskipun tidak menggunakan kekuatan mata khususnya, Yao Han bisa merasakan di dalam ruangan itu ada seseorang dan jelas itu adalah Hua Feng.
Pintu ruangan itu terbuka, sosok didalamnya keluar dengan raut wajah bingung. Saat pandangan matanya mengarah pada Yao Han, kedua alisnya terangkat. Sementara Yao Han hanya tersenyum tipis.
Jika dihitung, sudah lebih dari sepuluh tahun keduanya tidak bertemu. Itu terhitung sejak Hua Feng bergabung menjadi murid Sekte Bintang Ungu saat berusia tujuh tahun. Meskipun demikian, Yao Han tetap bisa mengenali Hua Feng yang wajahnya mirip dengan Hua Ren, ayahnya yang merupakan pemimpin Kota Bukit Bunga.
"Kau kedatangan tamu khusus." Murid pengantar itu menoleh pada Yao Han, "Saudara Yao, tugasku sudah selesai."
"Apa yang..."
Murid itu merasakan Qi yang kuat masuk ke dalam tubuhnya dan setelah Yao Han menarik tangannya kembali, murid itu merasa tubuhnya menjadi jauh lebih ringan dan sehat dari sebelumnya.
"Barusan tadi anggap saja bantuan kecil dariku agar perjalanan kultivasimu lebih lancar, Saudara."
"A-ah, b-begitu. T-terima kasih banyak."
Murid itu tergagap menanggapi dan pergi menjauh karena merasa tugasnya sudah selesai. Jalannya begitu ringan sambil tersenyum senang. Murid itu tidak tahu jelas cara apa yang dilakukan Yao Han, tetapi dia percaya sepenuhnya pada Yao Han dan yakin Yao Han tidak berniat mencelakainya.
Yao Han menoleh pada Hua Feng, "Bisakah kita bicara sekarang?"
Hua Feng sedikit tergagap. Dia masih bingung dan mencerna situasi, terutama penasaran dengan identitas Yao Han yang tadi dikatakan sebagai tamu khusus yang ingin bertemu dengannya. Hua Feng kemudian mengajak Yao Han masuk dan menutup pintu.
Mereka duduk saling berhadapan yang dipisahkan sebuah meja kecil. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling melihat tanpa berkata sedikit pun. Sementara Yao Han tetap tenang dengan wajah ramah, Hua Feng merasa sedikit kikuk dan terintimidasi.
Meskipun tidak melakukan apapun, aura yang menyelimuti Yao Han membuat Hua Feng sedikit merinding.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Feng-gege."
Hua Feng baru saja ingin mengucapkan sesuatu, tetapi Yao Han terlebih dahulu membuka suara. Dan ucapan Yao Han itu cukup membuat Hua Feng terkejut. Rasanya sudah lama sekali tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan itu.
"Maaf, Saudara mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tentu saja aku mengenalmu. Kita pernah menjadi teman sepermainan dimasa lalu sebelum kau bergabung menjadi murid Sekte Bintang Ungu. Kau mungkin melupakanku dengan penampilanku saat ini, tetapi aku adalah Yao Han, apa kau masih mengingat nama ini?"
Hua Feng mengerutkan dahi, "Yao... Han?" Hua Feng diam beberapa saat, "Satu-satunya orang yang kukenal dengan nama itu biasa kupanggil Adik Han. Dia... yang kudengar dia menghilang secara misterius, bahkan tidak sedikit yang menganggap dia sudah tiada. Saudara, kau..."
Yao Han tersenyum lebar, "Orang yang kau kenal itu adalah aku, Feng-gege. Aku adalah Yao Han yang selalu kau panggil Adik Han, teman masa kecilmu dari Kota Bukit Bunga, cucu mendiang Nenek Yue."
Mulut Hua Feng terbuka lebar dan tanpa dia sadari, dia berdiri sambil tangannya menggebrak meja. Brak!
"Tidak mungkin-! Mustahil-! Bagaimana..." Suara Hua Feng tercekat ditenggorokan.
Yao Han mengangkat sebelah alis, "Hm, apanya yang tidak mungkin dan mustahil? Kau tahu, dalam dunia kultivator, apapun bisa mungkin terjadi."
"Kau jelas-jelas kultivator, sedangkan Adik Han itu hanya manusia biasa. Mana mung..."
Yao Han mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Hua Feng.
"Sepertinya aku harus membeberkan beberapa rahasia kecil agar kau percaya aku adalah Yao Han yang kau kenal."
Entah kenapa, Hua Feng merasa takut dengan senyuman penuh makna dari Yao Han.
---