Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 91 - Pesan Penting



Ji Wentian memang anak Patriark Sekte Gunung Langit, Ji Tianshan, tetapi dirinya menjadi murid Ji Guang yang menjabat sebagai Tetua Agung.


Ada beberapa alasan, diantaranya adalah karena Ji Guang merupakan kultivator terkuat Sekte Gunung Langit sekaligus Pilar aliran putih terkuat kedua setelah Wu Bai sang Pilar Bumi.


Alasan lainnya karena Ji Guang mendalami Dao Pedang dan menjadi kultivator pedang terbaik di sekte, sementara Tianshan yang saat ini sebagai orang terkuat nomor dua di sekte lebih mahir dalam Sihir Dao.


Wentian mendalami dua macam ilmu, yaitu Dao Pedang dibawah bimbingan Ji Guang karena bakat bawaan tubuh khususnya dan mempelajari ilmu pedang Naga Pembalik Langit milik Pilar Cahaya, serta sihir unsur tanah dari sang ayah karena unsur dalam akar roh yang dia miliki.


Dalam hal praktik, Wentian mempelajari manual yang digunakan oleh Wu Bai, setelah Sekte Gunung Langit memberikan sumber daya begitu banyak sebagai ganti peminjaman manual praktik pada Sekte Teratai Putih.


Sedikit berbeda dengan Mingzhu yang meski menjadi murid langsung dari Ji Guang, gadis itu belajar semua ilmu pedang milik Hong Meirong yang disimpan dengan baik oleh Ji Guang, termasuk Tarian Pedang Bunga Api.


Sayangnya, Ji Guang hanya bisa memberi masukan sederhana tanpa bisa membuat pemahaman Mingzhu terhadap jurus pedang terkuat Dewi Pedang Api itu menjadi lebih baik.


Mingzhu sudah mendengar begitu banyak pujian terhadap kecantikan maupun kemahirannya dalam ilmu pedang, tetapi tidak membuatnya tinggi hati. Sering dibandingkan dengan Dewi Pedang Api sedikit membuatnya tertekan, tetapi gadis itu ingin menyamai bahkan melebihi prestasi sosok yang paling dihormatinya setelah Ji Guang.


Selepas berlatih tanding ilmu pedang cukup lama, Wentian dan Mingzhu saling membungkuk memberi hormat. Dalam hal teknik pedang, bisa dikatakan keduanya berimbang, tetapi tidak dengan tingkat praktik.


Wentian sudah berada di Ranah Dasar tingkat empat belas cukup lama, lebih unggul dibandingkan Mingzhu yang sedikit lagi memasuki tingkat praktik yang sama.


Perhatian keduanya teralihkan saat ada seorang murid laki-laki dengan praktik Pondasi Bumi tahap menengah berjalan mendekati mereka.


"Adik Ji, Adik Huang, kalian diminta menghadap menemui Patriark dan Tetua Agung di aula utama."


Wentian dan Mingzhu mengerutkan dahi lalu saling berpandangan, kebingungan terlihat di wajah mereka.


"Apa kau mengetahui alasan kami dipanggil, Senior?" tanya Wentian setelah menyarungkan pedangnya.


"Tidak, aku hanya diminta menyampaikan pesan ini saja."


"Baiklah, Senior. Terima kasih sudah menyampaikan. Sebentar lagi kami akan pergi kesana."


Murid itu mengangguk pelan, lalu menoleh ke Mingzhu, "Adik Huang, kau terlihat semakin cantik," katanya sambil memberikan sebuah kedipan mata menggoda, lalu pergi menjauh sambil melambaikan tangan pada Mingzhu.


Gadis berjulukan Peri Cahaya itu tertawa geli sedangkan Wentian hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka kemudian pergi ke aula utama sekte sambil berdiskusi.


"Sepertinya ada hal yang begitu penting sampai kita dipanggil ke aula utama," celetuk Wentian mengusap dagunya.


"Kurasa ini berkaitan dengan pertemuan yang akan kita hadiri tidak lama lagi." Mingzhu yang berjalan berdampingan di sampingnya.


Sesekali dirinya akan menyapa anggota sekte lain yang terlihat dengan wajah ramah, Wentian juga melakukan hal sama tetapi dengan wajah cenderung datar.


"Pertemuan? Memangnya pertemuan apa?" alis Wentian naik sebelah.


"Kau pura-pura lupa atau tidak tahu? Pertemuan Kultivator Muda..."


"Ah... pertemuan itu, mungkin kau ada benarnya."


Wentian dan Mingzhu tiba di aula utama Sekte Gunung Langit. Mereka cukup terkejut karena disana tidak hanya ada Ji Tianshan dan Ji Guang selaku Patriark dan Tetua Agung, melainkan ada lima Tetua Gunung dan sebagian besar tetua penting.


Tetua Gunung adalah sebutan bagi pemimpin gunung kecil yang mengelilingi Gunung Pencakar Langit. Posisinya hanya berada dibawah Tetua Agung.


"Junior memberi salam..."


"Junior memberi salam..."


Wentian dan Mingzhu memberi salam hormat pada para sesepuh disana.


"Tian'er, Zhu'er, praktik dan kemampuan kalian berkembang dengan baik..." Ji Guang mengamati dua muridnya sejenak sebelum menggangguk pelan dan tersenyum lebar.


"Semua berkat bimbingan Guru." Keduanya menjawab bersamaan.


Ji Guang tidak berencana berbasa-basi dan langsung menyampaikan alasan keduanya dipanggil. Tepat seperti yang diperkirakan Mingzhu, keduanya dipanggil berkaitan dengan Pertemuan Kultivator Muda.


Wentian dan Mingzhu mengetahui pertemuan akan diadakan di Kota Harta Langit, tetapi mereka terkejut karena pertemuan kali ini diadakan di Kota Harta Giok, kota kultivator terbesar di wilayah Negeri Hutan Hijau.


Keduanya kembali dikejutkan bahwa pertemuan tidak hanya akan dihadiri generasi muda terbaik aliran putih, melainkan generasi muda dari aliran netral juga ikut hadir.


"Ini mungkin akan menjadi sesuatu yang merepotkan, tetapi pasti ada hal menarik yang akan terjadi," keluh Wentian yang langsung membuat Mingzhu menyikut lengannya.


"Tadinya aku mengusulkan agar mengirim kultivator Ranah Jiwa tahap puncak, tetapi ditolak," celetuk Tianshan lalu menghela napas panjang.


"Bukankah kita sudah sepakat sebelum mereka datang kesini? Kenapa kau mengeluh lagi? Dasar kau ini..." balas Ji Guang sedikit geram.


Wentian dan Mingzhu berusaha keras menahan tawa mereka. 'Pertikaian' dua orang tua di hadapan mereka bukanlah hal baru dan sudah diketahui oleh sebagian besar anggota sekte terutama para senior.


Ji Tianshan dan Ji Guang pada dasarnya bersaudara sepupu. Ji Guang lebih tua beberapa tahun. Di masa lalu Tianshan sempat menolak menjadi Patriark, tetapi Ji Guang memaksanya karena mendapat amanah dari Patriark generasi sebelumnya.


"Ada dua hal lagi yang kusampaikan pada kalian, dengarkan baik-baik."


Wentian dan Mingzhu memasang wajah serius.


"Pertama, Zhu'er, dalam pertemuan itu kau pasti akan bertemu dengan pemuda seumuranmu seperti perwakilan dari Sekte Pedang Abadi, Menara Harta Giok, Istana Bintang Api, dan Sekte Taring Buas... Dengan kecantikan yang kau miliki, mereka pasti akan mencoba menarik perhatian dan menggodamu, jadi acuhkan saja jika mereka melakukannya."


Belum sempat Mingzhu menjawab, terdengar suara Tianshan menyela.


"Saudaraku, kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau mau membuat Zhu'er tidak mendapat pasangan dan menjadi perawan tua? Aiyo, jangan sampai hal itu terjadi. Kasihan dia sepertimu yang tidak menikah..."


Ji Guang melotot pada Tianshan yang segera memalingkan wajahnya sambil bersiul pelan. Ji Guang kemudian menatap Wentian.


"Dan untukmu, Tian'er... kau harus menjaga Zhu'er agar tidak digoda pemuda lain, ingat itu."


"Baik, Guru."


"Tian'er anakku, kau harus menjalankan tugasmu yang satu ini dengan baik. Aku tidak ingin kau berakhir dengan mendapat pukulan di bokong lagi."


Ji Guang langsung mendelik karena ucapan Tianshan seolah menyindirnya. Wentian hanya tersenyum canggung. Tiba-tiba dia teringat beberapa tahun lalu, saat dirinya menghadap Ji Guang untuk meminta ijin agar Mingzhu menjadi kekasihnya.


Hasilnya? Wentian justru mendapat hukuman pukulan di bokong seratus kali. Ji Guang yang langsung menghukumnya dan membuat Wentian tidak bisa bangkit dari tempat tidur selama seminggu penuh.


Ji Guang tidak pernah menikah, apalagi punya anak, dan statusnya adalah ayah angkat Mingzhu, tetapi dirinya memperlakukan Mingzhu seperti anak kandung. Kasih sayang dan perlindungan yang dia berikan sangat besar bahkan orang lain melihatnya terlalu berlebihan.


"Lalu kedua, kurasa lebih penting daripada yang pertama karena berkaitan dengan Senior Angin Timur..."


Suasana mendadak hening dan dua remaja itu sempat menahan napas saat Ji Guang menyinggung Angin Timur.


"Kalian tentunya sudah mendengar tentang Senior Angin Timur yang muncul kembali setelah menutup diri selama beberapa tahun, tetapi ada kabar mengejutkan dirinya yang kini memiliki murid. Seorang pemuda seusia kalian."


"Murid?!" Wentian dan Mingzhu kaget bersamaan, "Orang yang paling tidak peduli terhadap dunia luar akhirnya memiliki murid? Ini sungguh keajaiban..." sambung Wentian.


Ji Guang tertawa pelan, "Kami juga terkejut dan jika bukan karena Menara Harta Giok yang menyebarkan kabar ini, maka tidak akan ada yang percaya, tetapi itu bukan poin terpentingnya..."


Ji Guang menyampaikan pada mereka bahwa murid Angin Timur saat ini sedang berkelana di wilayah Negeri Hutan Hijau. Karena keduanya akan pergi ke Kota Harta Giok, sebaiknya berhati-hati jika bertemu dengan murid Senior Angin Timur ini.


"Guru, maafkan aku. Apa yang Guru khawatirkan jika kami bertemu dengannya?" tanya Wentian.


"Karakter Senior Angin Timur sudah dikenal luas yang kurang menyukai kita dari aliran putih, tetapi tidak ada informasi tentang muridnya. Anggap saja dia tidak berbeda jauh dengan gurunya, sehingga sebaiknya kalian menjaga sikap didepannya. Akan lebih bagus jika kalian bisa menjalin hubungan baik dengannya."


Wentian dan Mingzhu hanya bisa tersenyum canggung.


"Guru, bagaimana jika kami bertemu dengannya dan dia tertarik dengan Mingzhu? Kurasa aku tidak bisa melarangnya, bukan?"


"Itu..." Ji Guang kesulitan menjawab.


---


Catatan penulis:


Tian: langit, Shan: gunung.


Tingkat praktik Ranah Jiwa akan diubah. Awalnya tingkatannya adalah Jiwa Bumi-Jiwa Langit-Jiwa Surgawi-Jiwa Suci-Jiwa Agung.


Kemudian diubah menjadi: tahap awal-menengah-akhir-puncak-Agung.


Sekian.