Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 89 - Firasat Buruk



Ada sedikit kesepian yang dirasakan Yao Han setelah Shenghao dan Honghao tidak lagi bersamanya. Kebersamaan mereka tidak terlalu lama, tetapi pengalaman berkelana bersama keduanya cukup berkesan, meski sebenarnya jika lebih diteliti mereka berdua hanya sekedar menemani Yao Han dalam perjalanan ke Kota Bukit Bunga.


"Tuan Yao, setelah ini apa yang ingin kau lakukan?" Bolang bertanya saat melihat tuannya itu diam seperti melamun.


"Hm? Entahlah... untuk saat ini aku ingin bersantai sejenak. Mungkin setelahnya aku akan memikirkan rencanaku selanjutnya..." Yao Han menjawab santai, "Ah, aku ingin menunjukkanmu sesuatu."


Yao Han menyentuh dahinya, tepat pada bagian yang bergaris merah tipis, lalu muncullah sebuah pagoda merah darah berukuran kecil di tangannya.


Melihat benda itu, Bolang menahan napasnya sejenak. Dia tidak merasakan aura aneh pada pagoda itu, tetapi dia merasa sedikit takut dengan benda yang dapat melenyapkan hewan roh dengan kekuatan Ranah Inti seperti Yelang dalam sekejap mata.


"Benda ini... sebenarnya pintu masuk menuju Dimensi Saku."


Bolang mengerutkan dahinya, berusaha mencerna kalimat Yao Han, tetapi dia menemukan kejanggalan.


"Jika benda itu pintu masuk Dimensi Saku, lalu apa yang terjadi dengan Yelang? Bukankah itu artinya kau hanya mengurungnya di dimensi itu? Berarti dia masih hidup?"


"Tidak, dia sudah terbunuh. Guruku yang membunuhnya di Dimensi Pagoda ini."


"Apa maks-"


Kalimat Bolang terhenti saat melihat dua bola cahaya berbeda warna, merah keemasan dan hijau giok, muncul dari pagoda kecil di tangan Yao Han. Dua bola cahaya itu melayang sejenak sebelum berhenti di dua sisi kanan dan kiri Yao Han lalu menampakan wujud aslinya.


Bola cahaya merah keemasan hinggap di pundak kanan Yao Han membentuk wujud burung merah dengan nyali api merah keemasan di seluruh tubuhnya, sementara bola cahaya hijau giok membentuk sosok ular.


Jika Meirong muncul dalam wujud Feniks berukuran kecil, Yutian justru menampakkan diri dalam wujud ular giok sepanjang lima meter, sedikit mengejutkan Yao Han.


Bolang terpana dengan kemunculan Feniks, tetapi karena sudah pernah melihatnya, dia tidak terlalu terkejut. Berbeda saat melihat Yutian dalam wujud hewan roh, tubuh Bolang gemetaran pelan.


"U-Ular Penguasa Langit Giok!" serunya tertahan. Bolang tidak menyangka dirinya akan bertemu dua jenis hewan roh tingkat tinggi dalam waktu bersamaan.


Apalagi seingatnya, ular giok yang menjadi wujud lain Yutian bukan hanya sekedar hewan roh tetapi juga Hewan Dao yang hanya bisa muncul jika kultivator memanggilnya melalui segel darah.


Kebingungan Bolang bercampur dengan kekagumannya pada Yao Han yang ternyata berhasil 'menaklukan' dua hewan roh tingkat tinggi sekaligus dan menjadikan keduanya sebagai pengikutnya, tetapi Bolang salah paham terhadap pemikirannya.


"Bolang, kau adalah pengikutku, jadi aku akan terbuka padamu. Perkenalan, mereka adalah guru kedua dan ketigaku..."


Yao Han menyebutkan nama asli kedua gurunya pada Bolang, pertemuannya dengan keduanya, lalu garis besar tentang pusaka pagoda yang aslinya milik Chen Long dan 'diwariskan' padanya oleh Feng Xian.


"Karena suatu kejadian, kedua guruku berakhir menjadi seperti ini..."


Bolang terdiam cukup lama sambil mencerna kalimat Yao Han. Dia masih tidak percaya dan terlalu terkejut saat menyadari Meirong dan Yutian memiliki tingkatan kultivasi yang sama dengannya, yaitu Ranah Inti, tetapi pancaran Qi keduanya jauh lebih kuat dan murni dibandingkan miliknya.


Saat menyadari jenis inti dalam tubuh Meirong dan Yutian, Bolang mendadak tersenyum canggung, "Hewan roh tingkat tinggi dan Inti Emas... aku memang pernah mendengar mereka bisa melakukannya, tetapi baru kali ini mengetahuinya secara langsung."


"Kau memang melihat mereka sebagai hewan roh, tetapi mereka adalah guruku."


"Ini adalah pertama kalinya aku mendengar ada kultivator yang berguru pada hewan roh. Bahkan anggota Sekte Taring Buas sekalipun tidak ada yang sepertimu, Tuan Yao."


Tepat setelah Bolang selesai bicara, tubuh Meirong dan Yutian bersinar dan tampaklah wujud manusia mereka. Mulut Bolang terbuka lebar, terkejut melihat Meirong dan Yutian dalam wujud manusia memiliki keindahan fisik yang mengagumkan, terutama Meirong.


"Guru Hong..." Yao Han memeluk hangat Meirong yang ada disamping kanannya, membuat Yutian merasa itu karena muridnya tidak pernah bersikap manja padanya. Meskipun harus dia akui, aneh juga jika Yao Han bersikap seperti itu pada sesama pria.


Yao Han bersikap manja karena dua hal. Pertama, aroma tubuh Meirong yang wangi membuat Yao Han betah didekat dan memeluknya. Kedua, Yao Han sudah menganggap Meirong sebagai ibu yang tidak pernah dia miliki sebelumnya.


"Tidak sepertimu yang terlahir sebagai hewan roh, kami menjadi seperti ini karena tersambar petir emas..."


Yutian tiba-tiba menjelaskan pada Bolang yang terpaku melihat sikap Yao Han pada Meirong. Dirinya tanpa sadar meluapkan isi hatinya. Yutian sedikit meratapi nasibnya yang menjadi hewan roh, tetapi setidaknya kejadian itu membuatnya berdamai dengan Meirong dan bertemu dengan Yao Han yang berakhir menjadi murid mereka bersama.


Yao Han kemudian mengajak Bolang pergi ke Dimensi Pagoda dan menjelaskan bahwa untuk ke depannya, Bolang akan tinggal di dalamnya bersama kedua gurunya. Yao Han juga menjelaskan cara kerja Dimensi Pagoda.


"Pada dasarnya pusakamu ini tidak menakutkan, Tuan Yao, tetapi penghuni di dalamnya..." Bolang meliirk ke arah Meirong dan Yutian.


"Selain kedua guruku, kau bisa membantuku menghadapi musuh yang sulit kuhadapi."


"Kau tenang saja, Tuan Yao. Sebagai pengikutmu, aku akan berusaha sebaik mungkin."


"Hmm, untuk saat ini fokuslah pada peningkatan praktikmu. Tidak lama lagi, kau dan kedua guruku akan mencapai puncak Ranah Inti. Lalu dalam waktu satu tahun akan mencapai Ranah Jiwa.


Pesan Yao Han bukan hanya untuk Bolang tetapi secara tidak langsung untuk dirinya sendiri. Terbesit dalam benaknya untuk mencapai Ranah Dasar tingkat delapan belas dalam waktu seminggu, tetapi hal tersebut bisa saja membahayakan tubuhnya karena baru beberapa waktu lalu Yao Han meningkatkan praktik kelima akar rohnya ke Ranah Dasar tingkat tujuh belas.


Karena hal ini, Yao Han berencana menjalani latihan lain, seperti latihan penempaan tubuh, pedang, atau ilmu beladiri tangan kosong yang cukup lama tidak dia jalani sejak dalam perjalanan.


"Guru Hong, apa ada yang mengganggu pikiran Guru?" tanya Yao Han yang melihat raut wajah cantik Meirong sedikit berbeda.


Meirong menjelaskan dirinya terpikirkan dengan Pertemuan Kultivator Muda yang tidak lama lagi diadakan di Kota Harta Giok. Meirong bisa mendengar semua penjelasan Wu San dan itu mengejutkannya.


Entah kenapa dalam hatinya timbul firasat buruk yang berkaitan dengan pertemuan ini. Pertemuan kultivator sesama aliran putih adalah hal biasa dan semuanya mengetahui tradisi ini. Namun jika aliran netral juga ikut dalam pertemuan, maka bisa menimbulkan gejolak.


Pertemuan kali ini bisa membuat pihak aliran hitam salah paham. Bukan tidak mungkin akan timbul prasangka bahwa sekte besar aliran putih dan netral membuat aliansi untuk memusnahkan aliran hitam.


"Aku harap firasatku salah atau tidak terjadi."


Meirong tidak bisa tidak khawatir jika firasatnya benar terjadi. Gejolak mungkin bisa terjadi, tetapi dia tidak berharap hal tersebut akan memicu terjadinya perang kultivator lagi yang bahkan jauh lebih besar daripada perang yang pernah terjadi.


---