Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 46 - Restoran Kultivator



Tidak lama setelah Yao Han meninggalkan kamarnya, ada seorang perempuan yang terlihat berusia empat puluhan tahun menghampirinya.


Dia mengenalkan dirinya sebagai Manajer Luan, pengelola Penginapan Bintang Api cabang Kota Cahaya Bulan. Manajer Luan merasa Yao Han memang bukan orang biasa karena tidak semua orang bisa atau berani menyewa kamar di penginapan itu karena harganya yang tergolong mahal.


Orang pada umumnya lebih memilih kamar termurah dan menginap kurang dari tiga hari, tetapi Yao Han sanggup menyewa kamar kualitas menengah untuk lima hari.


Hal ini menunjukkan Yao Han memiliki latar belakang yang kuat, terlepas dari penampilannya yang tampak sangat muda. Melihat Yao Han secara langsung dengan mendengar informasi dari gadis penerima tamu memang berbeda.


"Jika ada yang bisa kubantu, Tuan Muda bisa mengatakannya."


"Manajer Luan terlalu sungkan." Yao Han tersenyum tipis. Dia tidak biasa diperlakukan begitu sopan oleh orang yang lebih tua usianya daripada dia, "Oh, Manajer Luan, kudengar ada restoran khusus kultivator di kota ini, bisa Anda menunjukkannya arahnya padaku?"


Manajer Luan termenung sejenak. Seperti yang dugaan Meirong, Manajer Luan mengatakan restoran yang dimaksud Yao Han bernama Restoran Nagarasa, letaknya cukup jauh dari penginapan karena lebih dekat dengan gerbang kota.


Yao Han berterimakasih setelah mendapatkan petunjuk kemana dia harus berjalan menuju restoran tersebut.


Manajer Luan memandang Yao Han yang semakin jauh dengan kebingungan. Dia berpikir Yao Han adalah pendatang baru, tetapi seandainya Yao Han memasuki kota melewati gerbang kota, seharusnya dia mengetahui letak restoran.


"Darimana asalnya Tuan Muda ini?"


***


Yao Han tidak terburu-buru menuju restoran, jadi dia berjalan santai sambil mengamati pemandangan sekitar. Saat melewati Toko Harta Giok, Yao Han berhenti sejenak.


"Perasaanku saja atau toko itu lebih ramai dari kemarin?" gumamnya melihat suasana Toko Harta Giok dipagi hari.


"Pihak mereka pasti mengumumkan tentang penjualan pil dengan kualitas lebih tinggi dari biasanya. Jadi orang-orang berebutan untuk bisa mendapatkannya."


Pendapat Meirong itu memberi arti lain bahwa para pelanggan yang mendatangi Toko Harta Giok dipagi hari itu membeli pil buatan Yao Han.


Setelah mengamati sejenak, Yao Han melanjutkan perjalannya, lalu beberapa saat kemudian, Yao Han tiba di depan bangunan yang terdiri dari lima lantai. Dari bangunan itu tercium aroma sedap menggiurkan yang menggugah selera.


"Hmm... baru kali ini aku mencium aroma seenak ini," gumam Yao Han.


Ada empat penjaga didepan pintu masuk. Dua dibagian kanan dua dibagian kiri pintu. Keempatnya berkekuatan Pondasi Fana tahap puncak.


Empat penjaga sempat memandangi Yao Han sejenak saat dia berjalan masuk, sementara Yao Han tidak mempedulikan mereka, dia lebih membayangkan citarasa dari setiap makanan di restoran ini.


Baru beberapa langkah dia masuk gedung restoran, Yao Han dihampiri oleh seorang gadis pelayan.


"Selamat datang, Tuan Muda. Apakah ada yang bisa kubantu?"


"Ng... apakah ada aturan tertentu untuk bisa makan disini?"


Belajar dari dua pengalaman sebelumnya di toko dan penginapan, Yao Han berkesimpulan restoran itu memiliki aturan khusus, karena melihat didepan bangunan ada penjaga dan restoran ini adalah restoran khusus kultivator.


Gadis itu segera memahami Yao Han adalah pelanggan baru dan pertama kali makan di Restoran Nagarasa. Dia menjelaskan restoran ini menyediakan menu dan harganya berbeda setiap lantainya. Harga akan semakin mahal seiring dengan ketinggian lantai yang dipilih.


Restoran Nagarasa hanya menerima batu roh sebagai bayaran, atau bisa juga pil dengan harga jual sama.


Yao Han ingin memilih langsung ke lantai lima, lagipula dia memiliki banyak batu roh. Namun, untuk tidak menarik perhatian yang tidak perlu, Yao Han mengurungkan niatnya.


Melihat lantai satu yang cukup banyak orang, Yao Han memilih makan dilantai dua. Disana, separuh meja sudah terisi dan gadis pelayan mengantarkan Yao Han ke meja disamping salah satu jendela.


Orang-orang sempat memperhatikan Yao Han sejenak sebelum mengalihkan perhatian.


Tidak butuh lama Yao Han memilih tiga macam menu yang menarik perhatiannya.


"Mohon, Tuan Muda menunggu sejenak. Selagi menunggu, Tuan Muda bisa mencicipi arak yang kami sediakan." Gadis pelayan itu menunjuk ke arah guci diatas meja.


Yao Han mengangguk pelan sambil menutupi senyuman canggungnya.


'Arak, ya...'


Yao Han kemudian teringat dengan Feng Xian yang pernah menginginkan dirinya juga membuat arak untuknya selain Teh Rumput Perak.


'Mungkin di Toko Harta Giok ada informasi cara membuat arak." Yao Han berpikir untuk mendatangi toko itu lagi.


Yao Han menanyakan latar belakang Restoran Nagarasa lebih jauh pada dua gurunya.


"Usaha dibidang kuliner ini didirikan oleh sekte dengan nama yang sama, yaitu Sekte Nagarasa..."


Seingat Meirong, sekte ini termasuk sekte besar bintang tujuh yang hampir naik tingkat. Jika tidak ada masalah berarti selama dua puluh tahun terakhir, seharusnya sudah menjadi sekte besar bintang delapan.


"Ada beberapa restoran yang juga menjual hidangan khusus untuk kultivator, tetapi masih kalah jauh dibandingkan restoran ini." Yutian menambahkan.


Koki yang bekerja di restoran ini bukan koki biasa, mereka juga adalah kultivator yang disebut sebagai Koki Kultivator. Setiap orangnya dibekali ilmu khusus sehingga peka terhadap bahan dasar makanan, yaitu tanaman sihir, siluman, dan terkadang hewan roh.


"Hm, menarik. Sekilas mirip seperti Alkemis, ya..." Yao Han mengelus dagunya.


"Kurang lebih seperti itu."


Tak lama kemudian, gadis pelayan yang berbeda membawa pesanan Yao Han, "Tuan Muda, silahkan dinikmati."


Yao Han mengangguk pelan. Setelah pelayan pergi, Yao Han menghirup aroma makanan dalam-dalam, sebelum mulai memakannya. Yang pertama menjadi sasaran Yao Han adalah makanan laut, yaitu kepiting.


Satu suapan membuat Yao Han terdiam cukup lama, "Enak sekali."


Yao Han makan dengan lahap, setiap beberapa kali suapan dia berhenti untuk memejamkan mata, mencoba menghayati rasa makanan dengan hikmat.


Yao Han menahan air mata bahagia karena rasa enak itu. Rasanya sangat jauh berbeda dengan daging siluman panggang yang biasa dia makan di Pulau Bulan Bintang karena hanya diberi bumbu seadanya.


"Han'er terlalu menikmati makanan sampai lupa menawari kita," gumam Yutian pelan.


Meirong berdecak pelan, "Biarkan saja. Memangnya kau lapar? Dasar menyedihkan."


Yutian menahan diri untuk tidak membantah ucapan Meirong.


Beberapa pelayan yang melihat cara makan Yao Han tertawa kecil. Reaksi Yao Han adalah hal biasa bagi orang yang pertama kali makan di restoran itu.


"Ini adalah surga..."


Yao Han mengelus perutnya setelah selesai makan. Meski hanya makan tiga macam hidangan, Yao Han merasa sangat kenyang dikarenakan faktor rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Yao Han memanggil pelayan untuk memesan menu yang sama.


"Han'er, kau masih belum cukup?"


---