Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 230 - Kasat Mata



Ribuan Arak Persik Bulan yang enak sekalipun tidak akan setara dengan satu helai bulu Feniks. Jiu Jinyu menolak tawaran Yao Han tersebut dan tetap bersikeras meminta seperti sebelumnya.


"Senior harus sepakat dengan tawaranku. Kalau tidak mau, Senior bisa melupakan semua yang kukatakan sebelumnya. Tetaplah tinggal di tempat ini sampai membusuk." Yao Han tiba-tiba menjadi acuh dan dingin, membuat Jiu Jinyu tercengang.


"Dasar bocah, berani sekali kau memaksa Ratu ini menuruti ucapanmu." Jiu Jinyu geram.


"Sepakat atau tidak sama sekali?"


Jiu Jinyu seolah sedang berhadapan dengan sosok Feng Xian yang keras kepala.


"Baiklah, kita sepakat untuk permintaan pertama."


Yao Han tersenyum lebar sebelum memberikan dua guci Arak Persik Bulan. Jiu Jinyu memandangi dua guci arak itu dengan tatapan datar.


"Permintaan kedua. Meskipun sulit, tapi masih bisa kau lakukan untuk Ratu ini. Temukan semua kaum Rubah Api Giok yang tersisa."


Yao Han mengerutkan dahi. "Paman Guru Chen bilang hanya Senior Jiu satu-satunya yang tersisa dari kaum Rubah Api Giok."


"Memangnya naga busuk itu tahu apa? Ratu ini lebih tahu darinya. Saat kejadian seratus tahun lalu, ada beberapa kaum Rubah Api Giok yang tidak ikut terbantai karena sedang berada di luar."


Menurut Jiu Jinyu, selama mampu berbaur dan tidak terlibat masalah, masih ada kemungkinan kaum Rubah Api Giok yang tersisa bertahan hidup setelah seratus tahun lalu berlalu.


"Bagaimana kalau ternyata tidak ada kaum Rubah Api Giok yang tersisa selain Senior?"


"Berarti aku hanya bisa menerima takdir hidup sebatang kara."


Yao Han terdiam lama sebelum berjanji akan berusaha sebaik mungkin mengabulkan permintaan kedua Jiu Jinyu.


"Permintaan kedua Senior lebih sulit, tapi aku harap Senior bisa bersabar."


"Sebenarnya Ratu ini tidak terlalu berharap, tapi siapa tahu langit masih berpihak pada Ratu ini."


Yao Han mengulurkan tangannya, bermaksud berjabat tangan sebagai tanda keduanya saling sepakat satu sama lain.


"Kau ini manusia aneh, bahkan jauh lebih aneh daripada gurumu Feng Xian itu dan semua manusia yang kukenal seumur hidupku."


"Aku sudah seringkali mendengarnya."


"Asal kau tahu saja, Ratu ini mau mendengarkanmu karena kau murid Feng Xian dan Ratu ini berhutang nyawa padanya."


"Kalau begitu, apa Senior keberatan kuanggap sebagai teman?"


Kedua alis Jiu Jinyu terangkat tinggi. "Kau menganggap Ratu ini teman? Leluconmu lucu sekali. Ternyata kau juga pandai bercanda."


Yao Han tersenyum canggung. "Sepertinya Senior keberatan. Baiklah, tidak masalah. Aku bisa mencari teman lainnya."


Jiu Jinyu tidak langsung menanggapi. Bukan masalah keberatan atau tidak. Ini pertama kalinya ada yang menawarkan pertemanan dengannya dari kalangan manusia. Apalagi perbedaan usia keduanya sangat jauh.


"Yao Zi, apa ada hal aneh lain lagi yang bisa Ratu ini temukan darimu?"


"Entahlah."


"Dunia kultivator pasti sudah banyak berubah. Kurasa tidak ada salahnya mencoba berteman dengan manusia sepertimu." Jiu Jinyu membalas uluran tangan Yao Han.


"Tangan Senior sangat halus dan lembut."


"Jangan berpikir yang tidak-tidak."


Baru saja Yao Han memuji Jiu Jinyu, satu detik setelahnya dia mendapatkan satu sentilan didahi.


"Senior bisa menganggapnya sebagai pujian. Aduh..." Yao Han mengeluh sambil mengusap dahinya yang memerah.


Yao Han kemudian mengirim Jiu Jinyu ke Dimensi Pagoda, sebelum akhirnya dia ikut menyusul.


Sementara itu, Chen Long dan lainnya tercengang karena Yao Han berhasil membuat Jiu Jinyu seolah-olah tunduk dengannya.


"Sepertinya aku harus belajar banyak dari Xiao Han," gumam Chen Long.


Di Dimensi Pagoda, Yao Han membuatkan sebuah rumah besar untuk tempat tinggal sementara Jiu Jinyu. Pastinya Ratu Rubah itu tidak mau sering berbaur dengan penghuni Dimensi Pagoda lainnya.


"Tidak buruk." Jiu Jinyu sedikit memuji hasil pekerjaan Yao Han saat memeriksa isi rumah itu. "Ratu ini menyukainya."


"Memangnya ada yang salah laki-laki menyukai bunga?"


"Tidak. Lupakan saja."


Yao Han meninggalkan Dimensi Pagoda sementara Jiu Jinyu berusaha mulai menikmati alur kehidupannya yang baru.


**


"Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan selanjutnya?"


"Saranku adalah menjelajahi bagian tengah dimensi ini. Aku belum sempat memeriksa sampai kesana."


Semua setuju dengan saran Chen Long, lalu terbang dengan kecepatan sedang menuju bagian tengah yang dimaksud.


Yao Han terbang menggunakan Kipas Dong Feng, Tian Jian menumpang bersamanya. Ada juga Meirong yang terbang disamping mereka.


Sisanya terbang berjarak satu kilometer dari Yao Han dalam formasi membentuk lingkaran sambil menggunakan Indera Surgawi. Chen Long lebih suka terbang dalam wujud naga yang kemudian diikuti lainnya.


Cukup lama mereka terbang sampai akhirnya tiba dibagian tengah Dimensi Bunga Anggrek. Tiba-tiba saja terdengar rintihan kesakitan Bo Lang di kejauhan.


"Bo Lang!"


Yao Han dan lainnya segera melesat ke tempat Bo Lang dan menemukannya sedang terbaring ditanah sambil mengusap seluruh tubuhnya.


"Bo Lang, apa yang terjadi?" Yao Han bertanya panik.


"Ada yang aneh, Tuan Yao. Baru saja aku menabrak sesuatu seperti dinding tak terlihat tapi tidak terlacak dengan Indera Surgawi."


"Apa kau terluka?"


"Tidak. Sesuatu yang kutabrak sangat keras, bahkan membuatku terpental."


Chen Long segera bergerak cepat memeriksa sekitar. Hanya dalam tiga tarikan napas dia menemukan sesuatu yang dimaksud Bo Lang. Bentuknya menyerupai kubah besar tapi wujudnya transparan.


"Formasi pelindung?"


Chen Long mengetuk-ngetuk sesuatu tak terlihat tapi terdengar suaranya. Ketika memukulnya cukup kuat, Chen Long terpental sejauh tiga meter.


"Keanehan apalagi ini?" keluh Chen Long.


"Han'er, coba kau periksa dengan mata khususmu."


"Guru, yang kulihat disana seperti langit malam penuh bintang." Yao Han tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.


Semua saling berpandangan satu sama lain sambil kebingungan. Yao Han lalu teringat dengan formasi pelindung tak terlihat dan tidak bisa ditembus dengan Indera Surgawi sesaat sebelum bertemu dengan Bing Lizi pertama kali dulu.


"Haruskah kita menghancurkan pelindung tak terlihat ini?" Yutian bertanya ragu.


"Kurasa harus. Mungkin didalamnya berisi petunjuk atau sesuatu yang menjadi kunci keluar tempat ini." Chen Long menanggapi.


"Kalau begitu, semuanya menghindar. Aku yang akan menangani ini."


Yao Han dan lainnya segera terbang menjauh dan menjaga jarak aman.


Yutian mengumpulkan sejumlah Qi pada kepalan tangan kanan, membuatnya diselimuti Qi berwarna keperakan berbentuk bola berukuran dua kali lebih besar. Setelah menahannya selama tiga tarikan napas, Yutian melepaskan serangan tinju.


"Tinju Penghancur Dunia!"



BAAMMM!!!


Terdengar suara benturan keras. Yang mengejutkan adalah bukannya pelindung tak terlihat itu hancur, justru sebaliknya serangan tinju Yutian berpentalan ke berbagai arah menimbulkan suara retakan keras dan merusak area sekitar begitu parah, termasuk berbalik menyerang dirinya.


Beruntungnya, Yutian berhasil menghindar tepat waktu dengan melesat cepat ke udara.


"Bukan hanya sekedar formasi pelindung, tapi juga formasi pembalik serangan. Ini menarik..."


Bersambung...