Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 134 - Hadiah Pernikahan



Jamuan makan malam di kediaman keluarga saudagar Chu menjadi lebih meriah karena kedatangan calon besan mereka. Yao Han sempat menjadi topik perbincangan utama selama beberapa saat.


Chu Zi dan anggota keluarganya seringkali memuji Yao Han sampai-sampai Xu Yin merasa itu terlalu berlebihan. Kalau bukan karena ada Yao Han, dia sudah melemparkan kalimat menusuk karena keluarga saudagar Chu berusaha menjilat alias mengambil sisi baik Hao Han.


Saat bertemu dan berkenalan dengan calon istri Chu Fu yang bernama Jia Lin, Yao Han mengerti alasan dibalik keras kepalanya anak kedua Chu Zi itu ingin melanjutkan acara pernikahan meskipun anggota keluarganya sedang sakit dan belum sembuh sebelum diobati olehnya.


Bisa dibilang, Jia Lin memiliki paras diatas rata-rata menurut kebanyakan orang, terlebih gadis itu memiliki pembawaan seperti perempuan dari kalangan terhormat dan latar belakang keluarganya yang kaya.


Yao Han tidak ingin berasumsi jelek, tetapi sempat terlintas dalam benaknya bahwa Chu Fu ingin sekali menikahi Jia Lin karena kecantikan wajahnya atau latar belakang keluarganya.


Keluarga Jia sendiri memiliki usaha yang terbilang sukses dalam bidang kuliner. Mereka memiliki rumah makan terbesar sekaligus terbaik di kota yang disinggahi Yao Han saat ini, serta masih memiliki hubungan kekerabatan dengan walikota. Jia Wu masih bersaudara sepupu dengan walikota.


Selain itu, Jia Wu dan putrinya, Jia Lin termasuk kultivator. Praktik Jia Wu di Ranah Dasar tingkat empat, sedangkan praktik Jia Lin di Ranah Dasar tingkat satu.


"Tabib Yao, dirimu adalah Alkemis, bukan? Bisakah kami membeli pil darimu?" Jia Wu bertanya dengan sopan. Awalnya dia takut dengan identitas Yao Han, tetapi karena pembawaan Yao Han yang ramah dia menjadi lebih tenang.


"Kenapa tidak? Tentu saja bisa. Pil apa yang ingin Paman Jia beli dariku?" Yao Han tersenyum tipis.


"Hm, mengingat aku tidak punya banyak batu roh, lebih baik aku membeli Pil Pengumpul Qi saja untuk menaikkan praktik."


"Oh, Paman Jia tidak perlu khawatir tentang batu roh. Paman Jia bisa membayarku dengan koin emas."


Yang mendengar itu terkaget-kaget, karena Yao Han mau menerima koin emas yang tidak terlalu berharga dibandingkan batu roh.


"Kau itu terlalu baik atau bodoh? Kenapa kau menawarkan agar pil yang kau jual dibeli dengan koin emas?" Xu Yin berkomentar pedas, tidak habis pikir dengan pola pikir Yao Han.


Jia Wu dan lainnya memiliki keheranan yang sama dengan Xu Yin, tetapi mereka tidak seberani gadis itu yang bisa berkata pedas pada Yao Han.


Yao Han sama sekali tidak tersinggung, lalu melirik Xu Yin, "Bukankah aku yang menjual pil? Kenapa seakan kau protes aku mau dibayar dengan koin emas atau tidak?"


Xu Yin mendengkus kesal. Lalu perhatian Yao Han kembali beralih pada Jia Wu, "Bagaimana Paman Jia?"


"Ehem, begini. Aku berterimakasih Tabib Yao menerima pembayaran dengan koin emas, tapi aku ingin tahu harga asli Pil Pengumpul Qi buatanmu."


Umumnya pil yang satu ini dijual satu batu roh per butir dan itu untuk kualitas normal. Sementara Yao Han menjual pil kualitas sempurna dengan harga sepuluh batu roh tiap butir pil atau lima sampai sepuluh kali lebih murah dari yang mungkin akan dijual oleh orang lain.


'Bodoh sekali.' Xu Yin yang mendengar harga terlalu murah pil kualitas sempurna yang akan dijual Yao Han mencibir dalam hati.


Jia Wu tersenyum pahit saat mendengar harga sepuluh batu roh atau kira-kira setara dengan lima ratus koin emas. Hanya satu butir pil bisa menguras hartanya begitu banyak.


"Paman Jia bisa membeli satu pil dengan harga satu koin emas. Aku tidak masalah."


Jia Wu hampir tersedak, "Tabib Yao, apa aku salah dengar? Kau yakin?"


Sementara Jia Wu dan lainnya kaget, Xu Yin menatap Yao Han seperti orang paling bodoh didunia.


"Tentu saja yakin. Paman jadi membelinya atau tidak?"


Merasa Yao Han akan menarik kembali penawaran baik hatinya, Jia Wu buru-buru mengatakan dia ingin membeli pil. Tindakan Jia Wu kemudian diikuti oleh Chu Zi, dia juga membutuhkan sumberdaya untuk keluarganya.


Jika bukan karena kebaikan hati Yao Han yang menjual pil dengan harga murah dan mau dibayar dengan koin emas, mereka hanya bisa membeli paling banyak lima butir pil saja.


Yao Han tersenyum lebar menerima kotak berisi koin emas, sedangkan Xu Yin disampingnya cemberut. Meskipun bukan dirinya yang menjual pil, Xu Yin merasa sedikit tidak terima ada kultivator yang mau-mau saja menukar pil berharga dengan koin emas.


Baik Chu Zi maupun Jia Wu mematung saat memeriksa botol pil, semua isinya adalah pil yang memancarkan cahaya dan aroma obat yang kuat.


Yao Han menawarkan diri untuk memeriksa sekaligus menghilangkan racun tubuh pada keluarga Chu dan Jia yang segera diterima mereka.


"Aku tidak pernah merasa tubuhku seringan ini..."


"Kau benar calon besan, ini semua berkat Tabib Yao."


Chu Zi dan Jia Wu tertawa lepas saat merasakan tubuh mereka jauh lebih sehat dan kuat setelah Yao Han menggunakan Teknik Dewa Racun pada mereka, sehingga perjalanan praktik mereka lebih lancar.


"Ngomong-ngomong, karena Saudara Chu Fu akan menikah, aku ingin memberikan hadiah pernikahan lebih awal."


Ucapan Yao Han mengejutkan Chu Fu, tetapi belum sempat pemuda itu menanggapi, Yao Han sudah mengeluarkan dua kotak dan dua kantung kain.


Yao Han menjelaskan didalam kotak ini ada botol-botol berisi Pil Panjang Umur, Pil Vitalitas, dan wewangian yang terbuat dari ekstrak Bunga Teratai Biru, sedangkan kantung kain berisi beberapa Bunga Teratai Biru.


Suasana di ruangan itu mendadak hening, dan semua perhatian mengarah pada Yao Han dengan pandangan terpana.


"Apa ada yang salah dengan kata-kataku?"


Chu Fu berdeham pelan, "Tabib Yao, kau datang ke pernikahan kami saja sudah sebuah kehormatan, tidak perlu memberi kami hadiah pernikahan."


"Tolong jangan sungkan, aku akan sedih jika kalian menolaknya."


"Tabib Yao, hadiahmu sangat luar biasa. Kami tidak berani menerima hadiah sebesar ini." Chu Zi menyahut, "Lagipula aku belum memberikan imbalan untukmu karena sudah menolong keluarga kami."


"Paman Chu, apa menurutmu aku menolong keluargamu karena mengharapkan imbalan?" Yao Han tersenyum tipis, "Kalau Paman berpikir demikian, aku sangat kecewa sekali."


Chu Zi mendadak takut, wajahnya memucat, dan berkeringat dingin, merasa dia baru saja mengatakan kalimat yang menyinggung Yao Han.


"Tabib Yao, kau salah paham. Aku... aku..." Tidak menemukan kalimat yang cocok, Chu Zi menghela napas panjang, "Aku minta maaf, Tabib Yao. Bukan itu maksud perkataanku sebelumnya."


---


Catatan:


Maaf sudah libur 2 hari, tapi hari ini cuma bisa up 1 chapter, padahal rencana 2 chapter. Beberapa hari terakhir 'sibuk' revisi chapter-chapter sebelumnya. Hahaha.


Selamat menikmati hari terakhir di bulan Mei.


Salam panas dingin,


Author, Maswaw.