
Jika sebelumnya Huang Mingzhu tidak bereaksi sama dengan Ji Wentian seperti yang diharapkan Yun Lian saat dirinya menggunakan kekuatan Mata Giok Darah, kali ini Huang Mingzhu mendadak menghentikan langkahnya karena hal lain.
Penyebabnya adalah wajah Yun Lian yang sebelumnya tertutup sebagian kini terlihat sempurna. Bahkan Huang Mingzhu yang diam-diam percaya diri dengan keindahan paras yang dia miliki terpikat atau lebih tepatnya terpukau dengan kecantikan luar biasa Yun Lian yang baru dia lihat pertama kalinya.
Untuk sesaat, Huang Mingzhu merasa tidak percaya diri berhadapan dengan Yun Lian jika membandingkan kecantikan wajah mereka. Tubuhnya mematung sambil terus memandangi wajah Yun Lian. Pikirannya mendadak kosong karena satu hal yang sebenarnya konyol.
Huang Mingzhu bukan satu-satunya yang bereaksi demikian. Hampir seluruh orang disana juga bereaksi sama. Diam mematung dan tidak bisa berpikir jernih cukup lama karena terpana dengan kecantikan Yun Lian yang sangat tidak biasa. Bahkan mata dan mulut Bing Xinhai terbuka lebar sambil hatinya berpikir kecantikan sepupunya itu kalah telak dibandingkan Yun Lian.
Berbeda dengan Yun Lian, naluri bertarungnya masih terjaga sehingga dia tidak teralihkan pada apapun. Tidak tahu atau tidak mau tahu penyebab Huang Mingzhu hanya berdiri diam mematung, Yun Lian bergerak menyerang balik Peri Cahaya itu.
Tepat sebelum Yun Lian berhasil mendaratkan sebuah serangan yang mengenai tubuh Huang Mingzhu yang berusaha menenangkan diri, sebuah tombak air melesat diantar keduanya. Tombak air itu jelas mengincar kepala Yun Lian dan sekali lagi, berhasil dia hindari dengan baik.
"Pengganggu lainnya..." Yun Lian mendesis geram. Sepasang mata merah darahnya yang indah melihat ada seorang gadis bertopeng warna biru dan memakai jubah bermotif ombak dan bunga sedang berlari mendekat, Shui Hua.
"Saudari Huang!"
Shui Hua menepuk sekali pundak Huang Mingzhu, mencoba menyadarkan gadis Peri Cahaya itu sambil membuat mantra tangan. Huang Mingzhu mengerjap beberapa kali dengan wajah yang terlihat linglung.
Shui Hua ikut turun tangan karena dia juga bagian dari aliran putih dan tidak bisa melepaskan Yun Lian setelah melukai jenius muda lainnya. Lagipula dia berpikir Yun Lian tidak sekuat sebelumnya karena sudah melewati beberapa pertarungan.
Dugaan Shui Hua tidak meleset, tetapi juga tidak tepat sepenuhnya tepat. Beberapa serangan sihir unsur air yang dilepaskan Shui Hua berhasil dihindari Yun Lian, tetapi sebagian besar berhasil dihancurkan seolah tanpa perlawanan berarti.
Tidak hanya mengandalkan serangan sihir unsur air, Shui Hua juga menggunakan serangan tangan kosong. Namun, setelah beberapa kali bertukar serangan dengan Yun Lian, Shui Hua kemudian menyadari kemampuannya ternyata dibawah jauh jenius muda aliran putih lainnya.
Terlihat dari kecepatannya tidak bisa mengimbangi Yun Lian yang kondisinya kelelahan, ditambah pengalaman bertarung Yun Lian memang diatasnya. Jika bukan karena topeng giok es yang menutupi, maka akan terlihat keterkejutan dan ketidaktenangan pada wajah Peri Bunga itu.
Meskipun situasinya masih memungkinkan, tetapi kondisi tubuhnya tidak demikian. Yun Lian merasa tidak bisa bertarung lebih lama lagi atau dia masuk ke dalam masalah yang lebih besar dan lebih buruk.
Yun Lian menarik napas dalam dan melepaskan Tapak Awan Maut yang mengenai dada Shui Hua. Darah mengalir dibalik topeng giok es yang dikenakan Peri Bunga itu. Tubuhnya memang tidak terpental, tetapi ambruk diikuti kehilangan kesadaran seketika.
"Saudari Shui!"
"Senior!"
Huang Mingzhu yang sudah sadar sepenuhnya menjerit bersamaan dengan Hua Mei. Adik seperguruan Shui Hua itu berlari kencang menuju seniornya.
"Cukup!"
Teriakan lantang terdengar menghentikan tindakan Yun Lian selanjutnya. Sumbernya berasal dari Bing Xueyu yang berjalan lurus ke arahnya. Tatapannya begitu dingin, sedingin suhu sekitar yang mendadak turun karena gadis Peri Es itu melepaskan kekuatannya.
"Xuexue..." Bing Xinhai dilanda dilema apakah dia harus menghentikan sepupu cantiknya itu atau tidak.
Bing Xueyu berdiri beberapa meter dari Yun Lian. Tidak hanya suhu sekitar yang mendadak turun, tetapi perlahan juga terbentuk lapisan es yang menutupi tanah dan dinding ruang pertemuan yang sudah sebagian hancur. Lapisan es yang sama juga menutupi beberapa bagian tubuh Yun Lian.
Bing Xueyu sedikit mengerutkan dahi saat melihat lapisan es pada tubuh Yun Lian menguap terkena Qi merah darah gadis itu.
"Benteng Es Utara..." Yun Lian bergumam menyebutkan asal gadis bercadar biru muda didepannya. "Aku tidak berurusan denganmu."
Yun Lian terdiam sesaat sebelum menjawab, "Tujuanku tidak tercapai hari ini, tetapi aku akan menyelesaikannya dimasa depan. Satu hal yang perlu kalian ingat, kalian begitu lemah."
Setelah berkata demikian, Yun Lian melesat pergi melarikan diri. Bing Xueyu tidak mencoba menghentikan gadis itu dan hanya menatap kepergiannya dengan dingin, sebelum mendekat dan menolong Shui Hua.
"Saudari Shui..." Sorot mata dan suaranya menunjukkan kekhawatiran yang besar.
Bing Xinhai buru-buru mendekat ke arahnya. "Xuexue, kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja?"
"Diam. Tidak perlu memikirkannya lagi. Prioritas kita sekarang adalah menolong Saudari Shui dan lainnya."
Huang Mingzhu sebenarnya berpikiran hal yang sama dengan Bing Xinhai, tetapi jawaban Bing Xueyu menyadarkan ada hal yang lebih penting untuk diurus. Hua Mei dibantu Bing Xueyu membawa Shui Hua ke tempat pengobatan para korban serangan Yun Lian.
**
Setelah berlari beberapa puluh meter, Yun Lian berhenti sejenak. Dikejauhan dia melihat ada sosok pria yang tidak asing mendekat ke arahnya.
"Nona Yun, akhirnya aku menemukanmu..."
Pria yang tidak lain adalah Yun Mohei itu menghela napas lega. Sedangkan Yun Lian, terlepas dari raut wajah datarnya, terkejut melihat kondisi salah satu tetua pengawalnya itu begitu buruk.
Pakaian Yun Mohei rusak dibeberapa bagian dan terdapat cukup banyak luka. Terlihat darah masih mengalir pada pelipis kanannya.
"Paman Mohei, apa yang terjadi?"
Yun Mohei memaksakan senyum. "Aku menemui sedikit halangan saat sedang mencarimu."
"Sedikit?"
"Nona, kita harus segera keluar dari kota ini. Lebih baik lagi kembali ke sekte."
Yun Lian mengangguk sebagai jawaban dan Yun Mohei segera membawa gadis itu menemui dua tetua pengawal lainnya.
**
Meskipun hanya melawan dua anggota pasukan khusus Sekte Awan Bulan, nyatanya para tetua dari aliran putih disana kewalahan menghadapi keduanya. Menang secara jumlah tidak berarti bagi mereka. Dua orang lawan mereka itu sama-sama merepotkan.
Xie Hong menggunakan makhluk 'hidup' yang dia lukis dari dalam kanvasnya, sedangkan Mo Zha dengan bom ledakan tanah liatnya. Kemampuan mereka membuat siapapun lawannya kerepotan.
"Ini sudah terlalu lama dan Tetua Mohei belum juga terlihat. Bocah Mo, perubahan rencana. Habisi mereka semua, lalu kita cari Tetua Mohei dan Nona Yun."
Mo Zha menyeringai lebar. "Itu yang kutunggu-tunggu."
- - -