Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 121 - Gagak Merah



Sejak kecil, Yao Han selalu mendapat ajaran dari Nenek Yue, bahwa dirinya sebagai laki-laki harus selalu menghargai dan menghormati perempuan.


Ajaran ini tertanam kuat dibenak dan hati Yao Han, terlebih salah satu gurunya adalah seorang perempuan yang sudah dia anggap sebagai ibu kandung.


Oleh karena itu, melihat cara pria-pria jahat dari kelompok Gagak Merah memperlakukan para gadis dari desa kecil membuat Yao Han geram dan marah.


Terutama setelah mendengar dari salah satu dari mereka bahwa para gadis ini sebagai ganti akibat penduduk desa tidak bisa memberikan upeti perlindungan, yang jelas kata perlindungan adalah sebuah omong kosong.


Tindakan Yao Han yang menyerang para pria jahat ini mengejutkan bagi mereka yang bisa melihatnya, terutama Xu Yin yang terkejut dengan kecepatan gerak Yao Han.


Para gadis yang menjadi 'tahanan' sementara beberapa pria jahat menjerit takut lalu setelah diri mereka bebas, segera berlari ke keluarga mereka.


Yao Han dengan raut wajah dingin mendekati pria yang baru saja ditendangnya. Setelah muntah darah beberapa kali, wajah pria itu terlihat pucat dan napasnya terasa sesak. Organ dalamnya seolah berpindah tempat hanya dengan satu tendangan dari Yao Han.


"Katakan padaku, bagaimana kau ingin mati?" Yao Han bertanya dingin menatap tajam pria didepannya.


"Ugh..."


Pria itu bisa mendengar jelas suara Yao Han, tetapi rasa sakit pada tubuhnya membuat pria itu tidak bisa menjawab.


Faktor lain yang membuat Yao Han marah adalah karena para pria dari kelompok Gagak Merah ini merupakan kultivator, dengan rentang praktik di Ranah Dasar tingkat tiga sampai lima.


Yao Han tidak senang ada orang yang menyalahgunakan kekuatan mereka sebagai kultivator untuk menindas manusia biasa dan membawa paksa para gadis untuk dijadikan sebagai mainan dan budak hawa nafsu.


"Kau tidak perlu menjawab, aku sudah mendapatkannya."


Pria itu merasakan sesuatu yang buruk akan dilakukan Yao Han, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain meringis kesakitan dan mengumpat dalam hati.


Tangan kanan Yao Han mengepal, diselimuti Qi unsur tanah dan logam. Dengan sekali pukulan diperut, Yao Han menghancurkan Dantian pria itu.


BAMMM!!!


"ARRRGHHH!!!"


Sebuah adegan yang membuat merinding hebat. Xu Yin menahan napas dan wajah dibalik topeng besi itu agak pucat.


Pria yang menjadi korban 'kekejaman' Yao Han menjerit kencang lalu pandangannya menggelap karena tak sadarkan diri. Yao Han tidak berniat membunuh atau membiarkan pria itu terbunuh. Yao Han mengeluarkan sebuah botol kaca dan memasukkan cairan bening ke dalam mulut pria itu.


Cairan yang akhirnya diberi nama Serum Penyembuh ini menunjukkan hasilnya dalam sekejap. Luka pada pria itu sama sekali menghilang, tetapi jelas dia bukan lagi kultivator karena Dantiannya hancur. Serum Penyembuh bisa menyembuhkan semua luka fisik, tetapi pengecualian untuk Dantian.


Pria jahat lain semakin pucat, karena merasa Yao Han akan melakukan hal yang sama pada mereka. Tebakan mereka memang sangat tepat, karena selama beberapa waktu berikutnya, Yao Han menjalankan aksi 'kekejaman'nya.


"Masalah pertama sudah beres," gumam Yao Han. Wajahnya sudah tidak sedingin sebelumnya.


"Han'er, mereka ini adalah bagian kecil dari kelompok Gagak Merah yang sebenarnya. Kalau kau ingin membantu warga desa ini, lebih baik kau mencabut sampai ke akarnya," kata Bing Lizi.


Dia menyarankan Yao Han menanyakan tentang kelompok Gagak Merah lebih banyak pada penduduk desa, karena Yao Han terlanjur membuat semua pria jahat itu tidak sadarkan diri dalam kondisi 'cacat'.


Ketakutan penduduk desa pada kelompok Gagak Merah tidak sebanding dengan ketakutan mereka pada Yao Han setelah menunjukkan sisi 'kejamnya'. Bahkan Xu Yin reflek mundur dua langkah saat Yao Han mendekatinya.


"Tuan Muda, tolong ampuni kami..." Pria tua yang terluka bersujud kemudian diikuti penduduk desa lain.


Yao Han tampak canggung, "Tolong kalian berhenti menyembahku. Aku hanya ingin membantu kalian lepas dari mereka."


Pria tua itu ternyata adalah pemimpin desa kecil dan dia bersujud sekali lagi pada Yao Han. Yao Han mencoba mengorek informasi Gagak Merah darinya.


Kepala desa memberitahukan semua yang dia ketahui. Kelompok Gagak Merah sudah beroperasi selama dua tahun terakhir. Desa kecil ini sangat sial ditemukan oleh kelompok Gagak Merah sejak enam bulan lalu.


Desa kecil ini memang desa yang miskin, tetapi kondisi mereka lebih baik dibandingkan sebelum kedatangan kelompok Gagak Merah. Mereka selalu mengambil upeti dalam jumlah besar setiap bulannya dan saat tidak bisa membayar, ada beberapa gadis yang akan diambil.


Sejauh ini jumlah gadis yang diambil dari desa kecil mencapai belasan orang.


Yao Han menghela napas panjang dan berusaha tidak menunjukkan wajah marahnya dihadapan kepala desa.


"Apakah Paman tahu dimana markas Gagak Merah ini?"


Kepala desa kecil hanya tahu setengah rute perjalanan kelompok Gagak Merah yang rutin datang ke desa mereka.


"Baiklah, itu sudah cukup."


Yao Han menyampaikan rencananya pada kepala desa yang ingin membasmi kelompok Gagak Merah sampai ke akarnya. Mendengar ini, kepala desa menangis terharu dan menyembah Yao Han.


"Dewa Muda, Dewa Muda, aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu..."


Yao Han menggaruk kepalanya, "Kalau Paman tidak berhenti menyembah dan tetap memanggilku Dewa Muda, aku tidak akan membantu kalian."


Kepala desa buru-buru bangkit, "Maafkan aku, Tuan Muda."


"Aku harap Paman dan lainnya bersabar. Semoga aku bisa membawa korban yang sudah dibawa pergi sebelumnya dengan selamat."


Saat hendak melangkah pergi, suara Xu Yin terdengar.


"Tunggu, aku ikut denganmu."


Yao Han hampir saja melupakan gadis ini, "Nona Xu, sebaiknya kau disini saja. Aku akan kembali secepatnya."


"Tidak mau, aku ingin melihatmu membereskan kelompok Gagak Merah."


"Nona Xu, kita ini adalah dua orang asing yang baru saja berkenalan kurang dari satu jam. Apa kau tidak takut ditengah perjalanan aku mencelakai dirimu?"


"Oh, murid Senior Angin Timur ternyata bisa berbuat demikian? Aku ragu kau melakukan itu padaku." Xu Yin menunjuk wajah Yao Han, "Matamu menunjukkan bahwa kau bukan orang jahat."


Yao Han hanya bisa menghela napas, berusaha membuat Xu Yin tinggal di desa kecil, tetapi gadis itu tetap bersikeras untuk ikut.


"Terserah kau sajalah." Yao Han kalah, membuat gadis itu tersenyum lebar dibalik topengnya, "Ambil ini." Yao Han mengulurkan sebuah pedang besi tanpa sarung.


"Apa-apaan ini? Kau ingin aku membantumu mengatasi kelompok Gagak Merah? Enak saja!"


"Kau salah paham. Pedang ini termasuk Pedang Terbang, kau gunakan ini agar tidak kesusahan mengimbangi kecepatan gerakku menuju markas kelompok Gagak Merah."


Xu Yin berdeham menutupi salah tingkahnya, "Bilang dong daritadi!"


'Gadis ini...'


---