
"Kenapa kau tertawa, Senior Bing?"
Yutian bertanya yang juga mewakili kebingungan Meirong, Tian Jian, dan Xiao Ni karena Bing Lizi tiba-tiba tertawa padahal dalam percakapan mereka tidak ada sesuatu yang lucu.
Bing Lizi mengusap tepi kedua matanya yang berair karena tertawa terlalu keras. Meskipun begitu, suaranya tidak akan terdengar sampai keluar karena ruangan yang mereka gunakan dipasangi penghalang.
Ruangan yang ditempati Yao Han dan dua Xu bersaudara juga dipasangi penghalang, tetapi berhubung penghalang itu dibuat oleh Bing Lizi, jadi hanya dia yang bisa mencuri dengar percakapan tiga anak muda itu.
"Ah, itu... aku tertawa karena keponakanmu yang sakit sebelumnya itu mencoba menjodohkan adiknya dengan Yao Han."
"Hah?" Yutian dan Meirong sama-sama kaget.
Bing Lizi kemudian menceritakan apa yang dia dengar dari ruangan sebelah, yang kemudian ditanggapi tawa keras Yutian, serta tawa pelan Meirong dan Tian Jian.
Yutian menghela napas panjang lalu tersenyum lebar, "Hm, ada bagusnya juga jika Han'er bisa bersama dengan Yin'er. Mereka terlihat cocok."
Meirong berdecak pelan sambil melirik Yutian sinis, "Cocok dari sisi mananya? Dasar kau ini..."
"Kau tidak bisa melihatnya, burung payah? Han'er dan Yin'er... yang satu tampan, yang satu lagi cantik, dan yang terpenting keduanya sama-sama berbakat dalam hal kultivasi. Dari sisi mananya yang menurutmu tidak cocok?"
Meirong mendengkus geli, "Apa kau tidak bisa melihat Han'er merasa tidak nyaman saat bersama dengan gadis kecil itu?"
"Ah, itu karena Han'er belum terbiasa dengan Yin'er saja. Ada sebuah pepatah mengatakan 'cinta datang karena terbiasa'. Aku yakin mereka bisa menjadi pasangan yang saling mencintai dan menyayangi jika menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi."
Mendengar kata-kata itu, Meirong merasa geli dan sedikit merinding. Tidak menyangka sosok seperti Yutian bisa mengatakan sesuatu seperti itu.
"Dasar guru yang tidak peka dengan perasaan muridnya. Salah apa Han'er memiliki guru seperti ular bodoh ini..." gerutu Meirong pelan, "Apa kau berniat menjodohkan Han'er dengan keponakanmu itu?"
"Hm? Setelah melihat Yin'er secara langsung, aku memang ada pikiran tentang itu. Kenapa? Kau menentangnya?"
"Tidak, karena aku juga akan berpikir hal yang sama denganmu. Aku rasa Sekte Gunung Langit juga memiliki generasi muda seusia Han'er yang cantik sekaligus berbakat dan akan menjadi pasangan yang cocok untuknya. Namun, nantinya kita akan bersaing dengan Raja Es."
Yutian mengerutkan dahi sebelum berseru pelan, "Ah, benar juga. Raja Es berniat menjodohkan putri sulungnya dengan Han'er." Yutian mengelus dagunya, tampak berpikir keras.
"Kalian sudah seperti orangtua yang sibuk memikirkan persoalan pasangan anak semata wayangnya saja." Tian Jian menanggapi.
Bing Lizi juga ikut berkomentar, "Aiya, kalian berpikir terlalu jauh. Bukankah Xiao Han masih belum memikirkan hal itu bahkan untuk beberapa tahun ke depan? Selain itu, kalian juga harus mendengar pendapat Saudara Feng sebagai guru pertama Xiao Han, meskipun aku ragu apakah dia tertarik dengan topik pembicaraan seperti ini."
Meirong melirik Bing Lizi, "Aku tidak merasa Senior Feng tidak tertarik. Lebih tepatnya, kurasa Senior Feng tidak terlalu peduli perempuan yang akan dipilih Han'er sebagai pasangannya, asal Han'er bahagia."
"Kalau kau mengerti tentang itu, kenapa kau masih berpikiran untuk menjodohkan Han'er dengan gadis pilihan kalian?"
"Ng, itu..." Meirong dan Yutian sulit menjawab yang sebenarnya karena jawaban mereka terkait perjodohan Yao Han mengandung unsur politik.
"Aish, sudahlah. Tidak perlu kalian jawab, biarkan semua mengalir apa adanya. Xiao Han berhak memilih. Jangan tersinggung, meskipun kalian berdua adalah gurunya, kalian tidak punya hak untuk memaksanya mengikuti kehendak kalian."
***
Situasi canggung menyelimuti ruangan yang ditempati Yao Han, Xu Yang, dan Xu Yin setelah Xu Yin menjerit kesal, marah, dan malu karena kakaknya yang melontarkan ide cukup gila.
Yao Han merasa ada yang salah dengan pikiran Xu Yang yang tiba-tiba saja melontarkan penawaran yang ingin menjodohkan dirinya dengan Xu Yin.
Yao Han tidak tahan jika terus berdekatan dengan Xu Yin, gadis berisik yang manja, judes, berisik, juga arogan. Tidak bisa dibayangkan jika dia akan menghabiskan waktu seumur hidup dengan Xu Yin sebagai pasangannya.
"Aku belum memiliki pasangan dan masih belum terpikirkan untuk memilikinya dalam waktu dekat. Selain itu, daripada aku, kurasa Nona Xu bisa memiliki pasangan yang lebih baik."
"Ah, kalau kau tidak baik untuk adikku, lalu siapa yang lebih baik darimu, Saudara Yao?" Xu Yang berdecak pelan, kemudian melirik adiknya, "Yin'er, bagaimana menurutmu tentang Saudara Yao? Dia laki-laki yang cocok untuk kau jadikan pasangan, bukan?"
"Hmph!" Xu Yin menyilangkan tangan didepan dada sambil memalingkan wajahnya yang merengut kesal, wajahnya memerah, "Siapa juga yang mau menjadi pasangannya? Dia itu laki-laki yang payah."
Xu Yang terbatuk pelan, sedikit gelagapan sambil melirik Yao Han yang tersenyum kaku mendengar ucapan Xu Yin.
"Yin'er, mana boleh kau berkata begitu. Dasar gadis tak punya sopan santun." Xu Yang menarik gemas telinga adiknya.
Sebenarnya Xu Yang merasa tidak enak hati pada Yao Han karena ucapan adiknya yang seringkali tidak pernah disaring itu, yang bisa saja membuat Yao Han tersinggung. Xu Yang khawatir Yao Han akan menggunakan latar belakangnya yang tidak biasa itu untuk membuat perhitungan dengan Lembah Hati Racun, walaupun kekhawatiran Xu Yang itu tidak akan pernah terjadi.
Xu Yang kemudian meminta maaf telah melontarkannya ide gilanya yang membuat suasana semakin canggung dari waktu ke waktu. Dia berjalan pelan ke arah Yao Han lalu duduk didepannya.
"Saudara Yao, lupakan saja ucapanku sebelumnya. Anggap semuanya omong kosong dan aku sedang melantur." Yao Han mengangguk pelan.
"Saudara Yao, kita memang baru sangat sebentar bertemu, tapi aku merasa nyaman saat berbincang denganmu. Entah kenapa aku juga merasa kita seperti dua orang yang sudah lama menjalin pertemanan. Jadi... aku ingin kita saling mengangkat sebagai saudara, bagaimana menurutmu?"
Kekagetan Xu Yin lebih besar daripada Yao Han, "Yang-gege, kau...."
Xu Yang mengangkat tangannya, meminta adik kesayangannya itu diam. Dia menatap Yao Han dan menunggu jawabannya dari pemuda bermata abu-abu itu.
Yao Han tertawa kecil, "Aku hanya anak tunggal, memiliki orang lain sebagai saudara angkat bukan hal yang buruk juga."
Xu Yang tersenyum lebar karena Yao Han bersedia menerima tawarannya. Mereka kemudian melakukan ritual pengucapan sumpah saling mengangkat saudara satu sama lain.
"Kalau begitu, mulai sekarang kau memanggilku Yang-gege dan aku akan memanggilmu Adik Han." Xu Yang menepuk pelan pundak Yao Han.
Ada perasaan hangat di hati Yao Han karena memiliki saudara angkat, "Baiklah, Yang-gege."
"Bagus, kalau kau ada kesulitan dan butuh bantuan, kau bisa mencari saudara angkatmu ini."