
Malam hari di Kota Mawar Hitam jauh lebih dingin dibandingkan beberapa tempat yang pernah disinggahi rombongan Yao Han. Paman Kai mengatakan ini sudah dimulai sejak beberapa gadis menghilang tanpa kabar.
Hawa dingin malam hari memang tidak menusuk kulit, tetapi bisa membuat kulit merinding dan bulu kuduk berdiri. Ciri khas dari suasana mencekam yang membuat orang-orang ketakutan.
Yao Han mengeluarkan perbekalannya. Paman Kai juga diajak ikut makan malam. Paman Kai merasa malu, tetapi Yao Han mengatakan anggap saja makanan ini sebagai bayaran karena mereka bertiga menginap di tempat pria kurus itu.
"Semenjak dilanda teror, Walikota mulai menerapkan aturan agar semua warga mengurung diri saat sore hari. Setidaknya itu bisa sedikit mengatasi masalah menghilangnya anggota keluarga, terutama para gadis. Aturan semakin diperketat saat aku kehilangan istriku saat sore hari, waktu itu aku sedang pergi mencari kayu bakar." Paman Kai sedikit bercerita setelah makan malam.
Kota Mawar Hitam dipimpin oleh pria bernama Shi Ban. Orang-orang memanggilnya Walikota Shi dan sudah menjabat selama sepuluh tahun.
Dibawah kepemimpinannya, Kota Mawar Hitam jauh lebih damai dan makmur dari sebelumnya, terutama karena dia adalah kultivator terkuat di kota itu. Praktiknya berada di Ranah Pondasi tahap awal. Lalu semua berubah saat teror hantu dan orang menghilang menyerang.
Yao Han meminta Paman Kai untuk beristirahat, sementara dirinya dan yang lain akan berdiskusi. Paman Kai sedikit ragu membiarkan ketiga pemuda itu bergerak sendiri, sehingga menawarkan diri untuk ikut membantu.
Paman Kai hanya bisa pasrah karena pemuda itu bersikeras meyakinkan dirinya untuk tidak perlu khawatir. Jika semakin banyak orang yang terlibat, takutnya malah akan ketahuan oleh dalang dibalik teror ini. Mereka berencana bergerak diam-diam.
Sebelum masuk ke dalam kamar dan beristirahat, Paman Kai mengingatkan agar berhati-hati apalagi saat ingin keluar rumah memeriksa kondisi kota.
"Apa kita akan bergerak malam ini juga?" Honghao bertanya sambil menatap bergantian Shenghao dan Yao Han.
"Sebenarnya lebih cepat lebih baik, tetapi kita perlu persiapan. Kita tidak tahu seberapa kuat di peneror atau hantu yang dimilikinya ini. Bagaimana menurutmu, Saudara Yao?"
Shenghao mengalihkan pandangan pada Yao Han yang tampak merenung. Pemuda itu baru saja selesai meminta pendapat kedua gurunya.
"Hm... Kurang lebih aku setuju denganmu. Perkiraanku, kekuatan orang jahat ini paling kuat berada di Ranah Pondasi dan selama ini berusaha bergerak perlahan untuk menakuti semua orang di kota ini. Jika dia sudah mencapai Ranah Inti atau Ranah Jiwa, bukan hal sulit baginya untuk menjadikan seluruh kota ini sebagai pasukan hantu miliknya."
Yao Han menyampaikan kalimat seperti analisa Yutian. Sebagai orang yang dulunya berasal dari aliran hitam, dia memahami bagaimana cara kerja kultivator pengendali hantu. Penyampaian Yao Han membuat Shenghao dan Honghao mengangguk setuju.
"Kau ada benarnya, Saudara Yao."
Shenghao kemudian mengeluarkan dua buah kertas jimat, kemudian menempelkannya pada pintu masuk rumah dan pintu kamar Paman Kai. Ketika jimat itu diaktifkan, Yao Han merasakan sesuatu yang hangat dan tak terlihat menyelimuti rumah Paman Kai.
Jimat ini disebut Jimat Pelindung, fungsinya membentuk lapisan pelindung dalam area tertentu suatu bangunan. Hantu, roh jahat, dan sejenisnya yang bersifat gaib tidak akan bisa masuk ke dalam pelindung ini selama kekuatannya tidak melebihi Ranah Pondasi.
Malam itu, Shenghao sibuk membuat Jimat Pembersih Jiwa yang sangat ampuh untuk melukai bahkan memusnahkan roh jahat. Dengan kemampuannya saat ini, jimat buatannya akan berfungsi dengan baik selama musuh tidak memiliki kekuatan melebihi Pondasi Fana.
Yao Han sebenarnya tidak membutuhkan persiapan. Kalau lawan terlalu merepotkan, mau tidak mau dia mengirim musuh ke Dimensi Pagoda dan dihabisi oleh kedua gurunya. Sekedar mengisi waktu luang, dirinya memilih meneruskan pembuatan Jimat yang mengandung kekuatan petir. Honghao sendiri memilih bermeditasi.
Ditengah kesibukan mereka itu, suara alunan musik terdengar. Suara ini tidak asing karena berasal dari alat musik seruling. Namun kali ini bukan Yao Han yang memainkannya.
"Saudara Yao, kurasa ada yang menyamai keindahan dalam memainkan seruling sepertimu," celetuk Shenghao. Yao Han tertawa kecil.
Suara seruling itu memang merdu, tetapi Yao Han merasa ada yang sedikit tidak wajar mengingat situasi Kota Mawar Hitam sedang dilanda teror hantu.
"Aku keluar sebentar untuk memeriksa." Yao Han beranjak dari duduknya.
Honghao menawarkan diri untuk menemani, tetapi ditolak halus. Yao Han bisa menjaga dirinya sendiri dan hanya memeriksa disekitar rumah Paman Kai. Shenghao menyerahkan sebuah jimat yang berfungsi sebagai pelacak dan meminta Yao Han memasangnya di balik jubah yang dia kenakan.
"Oh, jimat yang sangat menarik." Yao Han berdecak kagum.
Shenghao menjelaskan semua anggota Sekte Teratai Putih wajib memasang jimat ini. Yang dipakai Yao Han bisa digunakan untuk melacak seseorang dalam jarak seratus meter, sementara yang digunakan anggota Sekte Teratai Putih bisa mencapai ratusan kilometer.
Yao Han keluar dan mengaktifkan kekuatan matanya. Selain para warga yang sibuk dengan kegiatan di rumah masing-masing, tidak ada hal yang mencurigakan. Suara seruling yang merdu sudah tidak lagi terdengar. Yao Han lalu meloncat ke atap rumah Paman Kai. Gerakannya halus karena menggunakan Langkah Angin Surgawi.
Hawa dingin malam tidak terlalu berpengaruh pada Yao Han karena dia memiliki akar roh murni unsur api. Setelah melihat sekitar sekali lagi, Yao Han bersila dan membuat mantra tangan. Yao Han menggunakan salah satu sihir unsur angin ajaran Feng Xian, yaitu Menyatu Dengan Angin.
Teknik ini sangat unik karena si pengguna dapat memanfaatkan angin sebagai media pelacak untuk melihat lingkungan sekitar, sekilas mirip seperti Indera Surgawi. Kelemahannya adalah si pengguna harus dalam posisi diam ditempat.
Berhubung mata khususnya tidak bisa melihat lebih dari seratus meter, Yao Han menggunakan sihir satu ini.
Selesai menyelesaikan gerakan mantra tangan, Yao Han memejamkan mata. Awalnya dia merasakan sesuatu melilit lengan kirinya. Tanpa membuka mata, Yao Han langsung tahu itu adalah Yutian dalam wujud ular giok keluar dari Dimensi Pagoda untuk menemaninya.
Area 'penglihatan' Yao Han perlahan melampaui jarak seratus meter, kemudian lebih luas lagi dan lagi. Yao Han memeriksa hati-hati agar tidak ada yang terlewat, sampai beberapa waktu kemudian dia merasakan sesuatu melayang terbang.
Dahi Yao Han mengerut dalam, sesuatu ini bergerak cukup cepat dan semakin jauh sampai menghilang di suatu tempat.
"Kau menemukan sesuatu yang mencurigakan, Han'er? tanya Yutian saat muridnya itu membuka mata.
Yao Han mengatakan hasil temuannya dan membuat Yutian berdecak pelan.
"Tidak salah lagi, itu pasti hantunya dan bergerak ke tempat persembunyian si pengendali hantu. Cepat beritahu dua temanmu itu."
---