Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 126 - Tidak Peduli



Kecuali Yao Han yang menggunakan kekuatan mata khususnya dan bisa melihat rupa wajah Xu Yin dibalik topeng, penghuni Dimensi Pagoda tidak bisa melakukan hal yang sama menggunakan Indera Surgawi.


Baru setelah gadis berjulukan Peri Racun dari Lembah Hati Racun itu membuka topengnya mereka bisa melihat dengan jelas wajahnya.


"Hm, gadis ini... kecantikannya menurun dari Adik Liu..." gumam Yutian.


"Maksudmu istri Patriark Lembah Hati Racun?" sahut Meirong yang dijawab anggukan oleh oleh Yutian.


Mantan Gerbang Racun itu sedikit sedih mengingat tentang Liu Yin, ibu Xu Yang dan Xu Yin, yang meninggal tidak lama setelah melahirkan Xu Yin.


Liu Yin merupakan adik seperguruan Yutian, murid kedua She Liu si Nenek Ular. Usianya berselisih hampir delapan puluh tahun lebih muda dari Yutian dan termasuk penggemar Yutian karena wajah rupawannya.


Namun karena Yutian memang belum berencana memiliki pasangan meski sudah berusia ratusan tahun, pada akhirnya perjuangan Liu Yin untuk mendapatkan hati Yutian berhenti dan beralih membuka hati pada Xu Gang.


"Hm... sedikit yang kuherankan adalah kenapa Xiao Han terlihat tidak tertarik dengan gadis ini? Apa dia mengalami kelainan?" celetuk Bing Lizi.


Tiga orang yang didekatnya terbatuk pelan. Mereka tidak menyangka Bing Lizi bisa melontarkan pertanyaan penasaran cukup kasar itu. Tidak mengherankan jika yang berkata demikian adalah Feng Xian.


"Senior Bing, kau tidak sadar? Salah satu guru Han'er adalah Saudari Hong, Dewi Pedang Api yang kecantikannya belum ada yang menandingi selama hampir lima ratus tahun. Kupikir Han'er sudah terbiasa dengan kecantikan Saudari Hong, sehingga dia bisa mengabaikan gadis cantik yang usianya tidak beda jauh dengannya." Tian Jian berpendapat.


Bing Lizi melirik Meirong yang sedikit salah tingkah dan kedua pipinya agak merona.


"Hm, kau ada benarnya. Cukup masuk akal juga ucapanmu. Tadinya kukira Xiao Han yang masih usia remaja memiliki pengendalian diri yang baik dihadapan gadis cantik. Namun jika pola pikirnya tidak berubah, bukankah satu-satunya perempuan yang dia 'tahu' hanya Meirong? Bagaimana dia akan mendapatkan pasangan hidupnya di masa depan?"


Sedikit kekhawatiran Bing Lizi adalah Yao Han yang memiliki obsesi dan jatuh cinta pada gurunya sendiri. Suatu hal yang sangat tabu karena seorang guru memiliki derajat dan kedudukan yang sama dengan orang tua. Namun sebenarnya kekhawatiran itu tidak akan pernah terjadi.


Perasaan Yao Han pada Meirong tidak lebih dari perasaan sayang seorang anak pada ibunya. Sejak bertemu dengan Meirong dan mendapatkan ajarannya, Yao Han sudah menganggap Dewi Pedang Api itu sebagai ibu kandung yang tidak pernah dia miliki.


"Senior Bing tidak perlu khawatir. Han'er sudah memiliki setidaknya satu calon pasangan hidup."


"Oh, aku baru mendengarnya. Ceritakan padaku."


Meirong kemudian menceritakan tentang Bing Xueyu pada Bing Lizi. Setelah mendengar cerita itu, Bing Lizi justru bersemangat mendukung hubungan keduanya, padahal Yao Han dan Bing Xueyu belum pernah bertemu sekalipun.


Perbincangan penghuni Dimensi Pagoda didengar Yao Han dengan jelas. Dan sedikit banyak Yao Han memahami alasan dibalik raut wajah cemberut Xu Yin setelah membuka topeng.


Bukannya Yao Han tidak peka terhadap kecantikan perempuan. Dia masih seorang pemuda normal. Namun karena memang terbiasa dengan kecantikan Meirong, tanpa sadar Yao Han membandingkan gadis cantik yang dia temui dengan guru perempuannya.


Peri Harta Qian Yue, Peri Awan Darah Yun Lian, dan Peri Racun Xu Yin. Salah satu dari tiga gadis ini bisa membuat diri mereka menjadi pusat perhatian lebih dari seratus pemuda, baik lajang atau yang sudah berpasangan, baik muda atau tua. Namun hati Yao Han tidak goyah seperti batu karang di tepi pantai.


Terlepas dari Yao Han yang tahan terhadap kecantikan perempuan, memang dalam pikirannya sama sekali tidak terpikirkan untuk hal-hal berbau romantis.


Ditambah lagi tidak ada satupun guru atau paman gurunya yang memiliki pasangan. Yao Han bahkan berencana untuk menikah ratusan tahun kemudian atau setelah dia mencapai puncak praktik kultivasi.


"Guru She, bisa kita hentikan itu? Anda membuatku tidak nyaman."


"Huuu, kau pemuda yang membosankan," cibir Yutian. Anehnya Meirong seolah mendukung Yutian dengan tawa kecilnya.


Yao Han sebagai kultivator bebas dan tidak terikat dengan sekte manapun, sehingga dia bebas memilih gadis manapun yang dia sukai tanpa melihat latar belakangnya. Namun begitu Yutian berusaha mendekatkan muridnya dengan Xu Yin agar Yao Han memiliki jalinan erat dengan Lembah Hati Racun, sekte yang dulu dia tempati.


"Hoho, ular jelek, aku bisa membaca niatmu. Aku tidak akan menghalangi Han'er berhubungan dengan siapapun, termasuk gadis ini. Namun harus kau ingat tidak hanya Lembah Hati Racun satu-satunya yang memiliki gadis cantik, Sekte Gunung Langit pun juga memilikinya."


Dari cerita Bing Houyi, Meirong mendengar anak angkat sekaligus murid langsung Ji Guang sang Pilar Cahaya dari Sekte Gunung Langit adalah gadis cantik yang berbakat. Meirong jelas tidak ingin kalah dengan Yutian untuk menjodohkan Yao Han dengan gadis ini.


"Oh, kau ingin bersaing denganku? Siapa takut. Aku yakin Han'er akan memilih keponakanku ini."


"Heh, kau terlalu percaya diri, ular bodoh."


"Hentikan, kalian berdua sepertinya melupakan gadis dari Benteng Es Utara itu." Bing Lizi seolah tidak mau ketinggalan.


Tian Jian menepuk jidatnya, 'Dimasa depan Han'er akan memiliki banyak calon pasangan. Bahkan bukan tidak mungkin dia akan memiliki banyak istri.' Sedikit banyak Tian Jian merasa iri dengan Yao Han, karena pemuda itu seolah dikelilingi banyak gadis cantik.


Yao Han sama sekali tidak mempedulikan perdebatan tidak penting penghuni Dimensi Pagoda. Dia mendekati penduduk desa dan mengumumkan akan memberikan pengobatan gratis. Dia meminta mereka membentuk barisan rapi.


"Pengobatan gratis? Kenapa kau mau melakukan itu?" tanya Xu Yin terheran.


"Karena ingin, itu saja."


"Jawaban macam apa itu?"


"Kau mengharapkan jawaban seperti apa, Nona Xu?" Yao Han tertawa kecil, "Aku hanya melakukan sesuatu yang kuanggap bisa mengurangi beban hidup mereka. Tidak ada salahnya, bukan?"


"Kau yakin murid Senior Angin Timur dan beraliran netral? Tindakanmu seperti kultivator aliran putih yang sok suci itu."


Yao Han tertawa geli, "Nona Xu, aku tidak peduli tentang aliran kultivator. Aku hanya melakukan hal yang kuanggap benar dan sesuai dengan hati nuraniku."


"Hm, kau terlalu baik untuk ukuran kultivator bebas. Juga terlalu naif."


Bukannya tersinggung, Yao Han malah tertawa geli, "Nona Xu, jika aku kultivator aliran putih, maka nyawamu dalam bahaya, bahkan nyawamu melayang tidak lama setelah aku mengetahui identitasmu, bukan begitu?" Yao Han memberikan senyuman penuh makna.


"Hmph!" Xu Yin memalingkan muka dan sedikit menjauhi Yao Han.