
Zi Xing ingin mengucapkan sesuatu yang lain, tapi terhalang dengan kedatangan seorang pria yang berjalan terburu-buru mendekat. Pria ini biasa dipanggil Tetua Shi. Zi Xing mengurungkan niat untuk menegur salah satu tetua sektenya ini setelah melihat wajah Tetua Shi yang pucat dan berkeringat.
"Salam Patriark, Tetua sekalian, dan Saudara Yao. Maafkan kedatanganku yang tidak sopan ini." Tetua Shi memberi salam setelah tiba didekat Zi Xing dan Yao Han. Nafasnya sudah sedikit teratur.
"Ada apa denganmu, Tetua Shi?" tanya Zi Xing yang mulai merasakan firasat tidak baik.
"Patriark, aku baru saja kembali dari Toko Harta Giok cabang Kota Rubah Salju. Dari pihak mereka aku mendengar kabar mengejutkan yang bisa mempengaruhi sekte kita. Ah, tidak, bukan hanya sekte kita tapi seluruh sekte yang setingkat dengan kita bahkan sekte yang lebih besar."
"Jangan berbelit-belit, Tetua Shi. Katakan langsung ke intinya."
"Tolong tenang, Tetua Shi." Yao Han mendekati Tetua Shi dan menyentuh bahu kanannya, lalu mengalirkan Qi. Ada hawa hangat yang menenangkan hati dan pikiran Tetua Shi.
"Terima kasih, Saudara Yao." Yao Han mengangguk pelan.
"Sekarang bicara yang jelas, Tetua Shi."
Tetua Shi menelan ludah, agak gugup, "Patriark, tidak lama lagi akan terjadi perang besar."
"Hah?!"
"Apa?!"
Sekarang giliran orang-orang disana yang kehilangan ketenangannya. Yao Han mengerutkan dahi dalam.
Isi kepala petinggi sekte langsung berputar cepat. Perang besar memang selalu berakibat buruk pada sekte menengah seperti mereka. Tidak sedikit sekte kecil maupun menengah yang musnah, walaupun tidak terlibat secara langsung dalam perang.
"Apa kau yakin tidak salah dengar, Tetua Shi? Kita sudah melewati masa tenang setidaknya selama dua puluh tahun. Dan kau baru saja mengatakan tidak lama lagi akan terjadi perang besar?"
Dunia kultivator tidak asing dengan perang, baik itu skala kecil maupun besar. Namun, yang paling ditakutkan adalah perang skala besar yang seringkali pemicu utamanya adalah pertikaian antara dua sekte besar. Seringnya antara sekte bintang sepuluh atau sembilan.
"Pendengaranku masih berfungsi dengan baik, Patriark. Informasi selanjutnya yang kudengar adalah perang besar kali ini melibatkan seluruh sekte bintang sepuluh aliran putih dan netral dengan salah satu sekte bintang sepuluh aliran hitam."
"Apa nama sekte aliran hitam itu?"
"Sekte Awan Bulan."
Wajah Zi Xing dan petinggi sekte memucat. Nama Sekte Awan Bulan menjadi sangat terkenal selama puluhan tahun terakhir mengalahkan nama Lembah Hati Racun. Sekte Awan Bulan juga menjadi sekte aliran hitam terkuat saat ini.
Dunia kultivator mengetahui, nama Sekte Awan Bulan saat ini bahkan lebih besar dibandingkan Lembah Hati Racun yang pernah menjadi sekte terkuat nomor satu aliran hitam saat masih memiliki Gerbang Racun She Yutian.
Kerutan dahi Yao Han semakin dalam mendengar nama sekte itu. Fokusnya sedikit teralihkan dengan percakapan penghuni Dimensi Pagoda.
"Firasatmu terbukti benar, Rongrong." Yutian menyeletuk ringan.
Meirong melirik Yutian yang disampingnya, "Ini akan berakhir buruk."
"Tentu saja buruk. Tidak ada perang yang berakhir baik, kecuali bagi pemenang perang. Dari jumlah pihak yang terlibat, kedepannya akan banyak korban tak bersalah berjatuhan."
Yao Han terlihat merenung dan kemudian terpikirkan satu nama, yaitu guru pertamanya, Feng Xian. Yao Han menghela napas panjang, kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Hatinya gelisah membayangkan perang akan terjadi dan diketahui oleh gurunya satu itu.
"Benar, tapi pihak Toko Harta Giok cabang Kota Rubah Salju juga hanya mengetahui garis besarnya saja. Tidak serinci yang kau pikirkan, Saudara Yao."
"Tidak masalah, untuk sementara sudah lebih dari cukup."
Tetua Shi kemudian melanjutkan cerita yang didengarnya. Perang yang diperkirakan terjadi tidak lama lagi ini disebabkan konflik di Kota Harta Giok. Akibat konflik ini, beberapa generasi muda terbaik sekte aliran putih dan netral terluka, sementara dari pihak Sekte Awan Bulan berhasil kabur.
"Kota Harta Giok dan generasi muda... Tidak salah lagi, itu pasti berkaitan dengan Pertemuan Kultivator Muda. Sepertinya rombongan kecil Sekte Awan Bulan yang pernah kau temui sebelumnya membuat ulah disana, Han'er." Meirong berpendapat.
Yao Han mendengus kesal, bukan karena ucapan gurunya, melainkan karena pendapat guru cantiknya itu bisa dipastikan memang benar adanya tentang Sekte Awan Bulan yang menjadi biang masalah.
'Sekte Awan Bulan...'
Yao Han kemudian beranjak dari duduknya, "Patriark, aku pamit kembali ke ruanganku."
"A-ah, b-baiklah." Sedikit tergagap Zi Xing membalas karena masih terguncang dengan berita yang disampaikan.
"Sepertinya ada yang dipikirkan oleh Saudara Yao. Wajahnya terlihat buruk." Salah satu tetua menyeletuk.
Zi Dan menyahut, "Mana ada orang yang tidak terlihat buruk jika mendengar tentang perang besar. Saudara Yao menjadi bagian dari dunia kultivator dimasa tenang dua puluh tahun terakhir. Sudah tentu jelas perang menjadi beban pikirannya."
"Hm, apakah terlalu berlebihan jika mengharapkan Senior Angin Timur menghentikan perang besar seperti dua puluh tahun lalu?" Semua pandangan mengarah pada Tetua Agung.
"Untungnya kau berkata demikian setelah Saudara Yao pergi dari sini." Zi Xing menghela napas panjang, "Satu kali adalah sebuah kebetulan, kedua kalinya belum tentu terjadi. Terlepas apakah Senior Angin Timur akan turun tangan lagi atau tidak, kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan bersiap-siap."
Zi Xing kemudian memerintahkan semua anggota sekte yang berada diluar, baik itu menjalankan misi atau tidak untuk segera kembali.
Sementara itu, Yao Han tidak jadi berjalan menuju ruangannya. Langkahnya berbelok menuju tempat Hua Feng berada. Cepat atau lambat, semua anggota sekte akan mengetahui kabar besar ini, jadi tidak ada salahnya Yao Han membagikan informasi yang baru didengarnya.
Padahal beberapa hari terakhir suasana hati Yao Han sedang baik karena berhasil mengubah semua kualitas pil menjadi sempurna dan menyelesaikan pesanan pil untuk Sekte Bintang Ungu. Kemudian mendapatkan bayaran besar yang menambah pundi-pundi hartanya.
Kabar tentang perang membuat suasana hatinya menjadi buruk dan pikirannya menjadi tidak tenang karena terus saja terpikirkan dengan tindakan yang akan diambil Feng Xian kedepannya.
"Kenapa denganmu, Adik Han? Wajahmu tegang sekali."
"Ada kabar buruk yang harus kau dengar, Feng-gege. Ini..."
Hua Feng tadinya berniat bercanda dengan Yao Han, tapi mendengar penyampaian Yao Han niat itu hilang sama sekali. Wajahnya memucat. Suasana saat perang terjadi tidak sama dengan suasana saat menjalankan misi berat dari sekte, karena jauh lebih buruk daripada itu.
"Sebelumnya aku ingin menghabiskan waktu satu hari lagi untuk berbincang banyak hal denganmu, tetapi aku pikir lebih baik aku pergi saja dari sini."
"Kau mau pergi kemana?"
"Entahlah, setelah dari Kota Bukit Bunga aku langsung menuju kemari. Sebelum mendengar kabar tentang perang, aku tidak terpikirkan tujuan pasti, tapi sekarang aku ingin pergi Kota Rubah Salju."
---