Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 127 - Bukan Kekasih



Pemuda itu sudah mulai mengobati warga atau membuat kondisi tubuh mereka jauh lebih baik dari sebelumnya. Penduduk desa kembali menyembah Yao Han dan lagi-lagi Yao Han harus mengeluarkan 'ancaman'nya.


Xu Yin yang diam mengamati sedikit penasaran melihat Yao Han membersihkan racun menggunakan Qi, bahkan memberikan pil yang membuat penampilan semua penduduk desa menjadi beberapa tahun lebih muda, terutama yang sudah berusia lanjut.


'Dia ini Kultivator Racun atau Alkemis? Dan lagi... pil apa yang dia berikan itu?'


Pil Panjang Umur Yao Han menarik perhatian Xu Yin, tidak hanya bisa menambah usia beberapa tahun, juga mengembalikan penampilan menjadi lebih muda.


"Hei, pil apa itu? Bisa kau jual padaku?"


"Jangan panggil aku 'hei', setidaknya kau memanggilku Senior Yao, Nona Xu." Yao Han mendengkus pelan, "Ini Pil Panjang Umur, tidak perlu membeli, ambillah ini dan anggap sebagai hadiah untukmu."


Yao Han memberikan sebutir pil bersinar pada Xu Yin yang kemudian diprotes oleh gadis itu. Alasannya karena dia hanya mendapatkan satu butir pil, sedangkan semua penduduk desa kecil mendapat dua butir. Sikap protesnya itu mengundang tawa beberapa penduduk desa kecil.


"Nona Xu, dibandingkan protes, bukankah lebih tepatnya kau berterimakasih padaku?" Meskipun begitu Yao Han memberikan Xu Yin satu butir pil lainnya.


Yao Han juga menjelaskan pil buatannya yang satu ini paling banyak hanya bisa dikonsumsi sebanyak dua kali. Mengonsumsi pil yang ketiga tidak memberikan efek apapun.


"Menurutku kau belum membutuhkan pil ini."


"Memang, aku bisa menghadiahkan ini pada kakek atau nenek buyut."


Yao Han menambahkan setiap butir pil akan menambah usia dan mengembalikan penampilan fisik untuk kultivator sebanyak lima tahun dan sepuluh tahun untuk manusia biasa.


Dahi Xu Yun mengerut, "Tunggu dulu, setahuku khasiat pil ini tidak sebagus itu. Bukankah harusnya tambahan dua atau tiga tahun untuk kultivator dan lima tahun untuk manusia biasa?"


"Oh, itu karena resep Pil Panjang Umur yang satu ini tidak sama dengan yang umumnya. Aku melakukan beberapa percobaan dan berhasil mendapatkan resep yang baru, jadilah Pil Panjang Umur seperti yang ada di tanganmu, Nona Xu."


"Kau mengubah resep?!"


Xu Yin sangat terkejut. Hampir tidak ada yang melakukan hal yang sama seperti yang Yao Han lakukan, kecuali bagi mereka alkemis tingkat tinggi, setidaknya pada peringkat Alkemis Giok.


"Ya, kurang lebih begitu. Cukup sulit juga dan aku butuh waktu dua bulan untuk mendapatkan resep baru. Dan satu bulan berikutnya untuk menghasilkan pil kualitas sempurna."


Yao Han tersenyum tipis dan bersikap santai seolah penjelasannya bukan hal penting. Xu Yin tanpa sadar memuji dalam hati dan mengubah cara pandangnya terhadap Yao Han.


'Jenius, sangat jenius... tidak salah dia menjadi murid Senior Angin Timur.'


Tidak ada keraguan Xu Yin pada Yao Han karena dia yakin pemuda itu mengatakan yang sebenarnya.


"Sebaiknya kau simpan pil itu untuk dirimu sendiri. Kultivator sepuh seperti Kakek Kodok dan Nenek Ular lebih cocok mengonsumsi Pil Seratus Tahun."


"Oh, kau memilikinya?" Xu Yin terkejut dan mendadak antusias. Kedua tangannya terulur siap menerima pil.


"Seandainya aku memilikinya, tidak aku berikan padamu. Pil tingkat tinggi semacam itu akan berbahaya jika kau membawanya. Lagipula Pil Seratus Tahun termasuk pil kelas sembilan, hanya bisa dibuat oleh alkemis peringkat Raja Pil. Aku masih belum mencapai kemampuan setinggi itu."


"Ah, begitu. Lalu dirimu pada peringkat apa?" Xu Yin sedikit memahami peringkat alkemis, sehingga penasaran dengan seberapa tinggi bakat dan kejeniusan Yao Han dalam alkemi.


"Kenapa kau ingin tahu?" Yao Han tersenyum menggoda yang kemudian disesalinya.


"Kalau kau tidak mau memberitahu, ya sudah!" Xu Yin menendang tulang kering Yao Han, membuat pemuda itu sedikit meringis. Sebaliknya, Xu Yin justru kesakitan, "Aduh, kakimu ini terbuat dari baja, ya? Keras sekali..."


"Aku bukan kekasihnya!" sentak Xu Yin, "Hmph!" Gadis itu lalu menjauh lagi dari Yao Han, lebih jauh dari sebelumnya. Sementara wajahnya sudah bersemu merah.


"Hiiii, ibu, kakak cantik itu menyeramkan... aku takut." Bocah lelaki tadi memeluk tubuh ibunya ketakutan dengan sikap Xu Yin.


Yao Han hanya bisa tertawa pelan lalu duduk kembali didepan api unggun bersandarkan dinding kubah sulur tanaman buatannya.


Hari sudah hampir tengah malam, pesta kecil sudah usai menyisakan kenangan. Penduduk desa kecil sudah kembali ke rumah masing-masing untuk tidur.


Xu Yin menolak saat salah satu warga menawarkan rumahnya untuk tempat menginap bagi gadis itu. Dia justru duduk bersila didepan api unggun.


Yao Han mengeluarkan seruling giok dan mulai memainkannya. Nada-nada indah dan merdu terdengar ke seluruh penjuru desa kecil, menjadi musik latar belakang pengantar tidur nyenyak mereka.


Xu Yin terpana dengan kemampuan Yao Han yang satu ini dan tanpa dia sadari, permainan musik Yao Han membuat dirinya terlena. Perlahan, kedua kelopak mata Xu Yin menutup dan gadis itu tertidur.


Setelah bermain seruling, Yao Han menghela napas panjang. Bukan karena kelelahan bermain seruling cukup lama, melainkan karena melihat Xu Yin yang sama sekali tidak waspada dengan kondisi sekitar.


"Untunglah aku ini bukan pria jahat, Nona Xu..." Yao Han mendekati Xu Yin, lalu memindahkan gadis itu ke dalam kubah buatannya.


Yao Han memanggil Bolang mendekat. Pemuda itu berniat tidur di atas perut Bolang yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang tebal dan hangat.


***


Pagi harinya...


"Semalam kau tidak melakukan sesuatu yang lucu padaku, bukan?" Xu Yin menatap tajam Yao Han sambil menyilangkan tangan didepan dada.


"Lucu?" Yao Han menaikkan sebelah alis, "Ah aku mengerti. Tidak, aku hanya memindahkanmu ke dalam kubah. Itu saja."


Xu Yin menyipitkan matanya, "Kau yakin, bukan?"


"Nona, apa kau memang berharap aku melakukan sesuatu seperti dalam pikiranmu itu?"


"Tidak! Enak saja kau! Dasar mesum!"


Kekesalan Xu Yin dipagi hari membuatnya tidak bertanya tentang Bolang yang menghilang begitu saja.


Yao Han pamit, kepergiannya diantar oleh semua penduduk desa kecil. Yao Han hampir melupakan kebiasaannya semalam, yaitu membagikan Bunga Teratai Putih, jadi dia memberikannya dalam satu karung besar pada kepala desa.


"Kau pecinta bunga, ya?" komentar Xu Yin yang sudah tenang.


"Tidak juga, tetapi aku suka aroma bunga ini. Ambil satu dan botol ini." Yao Han menyerahkan sebuah Bunga Teratai Biru dan satu botol berisi cairan biru muda. "Ini wewangian yang kubuat dari Bunga Teratai Biru."


"Kau juga pembuat parfum? Kupikir kau hanya alkemis muda yang mesum."


"Nona Xu, tuduhanmu membuat hatiku sakit." Yao Han ingin menangis.