
Bukan hanya Qi berwarna biru keemasan yang menyelimuti tubuh Yao Han, tetapi juga dua aura yang salah satunya adalah aura pembunuh.
Gabungan dua aura ini membuat Lulu dan Langui mengerutkan dahi. Dua hantu ini sedikit terganggu dengan aura disekitar Yao Han.
"Hei, anak muda, aku tidak merasa kau berasal dari aliran hitam, tetapi berapa banyak korban yang kau bunuh untuk mendapatkan aura menakutkan seperti itu?" tanya Lulu penasaran.
"Kau menyebutku anak muda... bukankah kau terlihat seumuran denganku, Nona Hantu?" Yao Han malah balik bertanya.
"Hmph! Meskipun aku terlihat seperti gadis belasan tahun, tetapi usiaku ini jauh lebih tua darimu! Berani sekali kau membahas tentang usia pada seorang gadis!" Lulu berseru marah. Rambut panjangnya yang terbuat dari api berwarna hijau berkobar, membuatnya terlihat lebih menakutkan.
Yao Han menggaruk pipinya canggung, 'Hantu ini ternyata juga bisa marah, ya? Lagipula aku hanya bertanya.'
Langui si hantu pria berwarna biru berdecak kesal. Rekan hantunya ini justru mengajak berbincang musuh yang harusnya segera dihabisi.
"Ehem... berkaitan dengan pertanyaanmu nona hantu atau apalah itu, aura pembunuh yang kau rasakan ini... kudapatkan setelah membunuh cukup banyak siluman."
"Kau pikir aku akan percaya? Itu mustahil mengingat aura pembunuhmu itu cukup pekat. Selain itu kau juga memiliki aura aneh lainnya." Lulu sedikit waspada pada Yao Han karena aura aneh ini.
Yao Han sedikit mengangkat bahunya, "Terserah kau mau percaya atau tidak. Sampai detik ini, aku belum pernah membunuh manusia. Aku harap akan tetap seperti itu sampai kapanpun..."
Yao Han mengayunkan tangannya, kipas Gunbai muncul ditangan kanannya.
"Benda aneh apa lagi yang dikeluarkan Saudara Yao?" gumam Shenghao melihat benda besar yang dimunculkan Yao Han.
"Entahlah Senior," sahut Honghao.
Shenghao sedikit melirik Honghao, "Aku tidak bertanya padamu."
"Aku hanya menanggapi gumamanmu, Senior." Honghao menyahut lagi dengan santai, membuat Shenghao berdecak pelan sebelum mengalihkan pandangan ke arah Yao Han.
Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya Yao Han menggunakan kipas Gunbai dalam pertarungan di luar Pulau Bulan Bintang.
"Maaf membuatmu lama terkurung, mari bantu aku menghadapi mereka." Yao Han berbisik pelan pada kipas Gunbai sambil mengelusnya. Tingkahnya itu membuat pandangan yang melihatnya merasa Yao Han sebagai orang aneh.
"Tidak hanya aneh, sepertinya dia sudah gila." Wuneng berkomentar.
"Sudah cukup bicaranya. Langui, ayo serang bersama." Lulu melesat diikuti Langui tanpa banyak bicara.
Yao Han mengangkat kipas Gunbai tanpa kesulitan berarti lalu mengayunkannya sekali. Satu ayunan itu menghasilkan tiupan angin kuat yang membuat Lulu dan Langui terhempas sampai kembali ke posisinya awal di dekat Wuneng.
Bukan hanya itu, dampak serangan Yao Han membuat beberapa bagian tubuh dua hantu Wuneng mengeluarkan asap tipis seperti melepuh. Lulu dan Langui terkejut dengan hal ini karena tubuh mereka sedikit kesakitan.
"Anak itu berbahaya..." Langui menatap Yao Han dengan pandangan berbeda.
"Apa kalian baik-baik saja?" Wuneng sedikit khawatir karena dua hantu andalannya tampak diam setelah menerima satu serangan Yao Han.
"Wuneng, apa kau tidak merasakannya? Hembusan angin tadi mengandung Qi dengan kemurnian tinggi dan bersifat positif yang berlawanan dengan kekuatan kami. Sederhananya, kekuatan yang dia miliki adalah musuh alami semua makhluk dengan energi negatif." Lulu menjelaskan.
"Sudah dipastikan, dia harus mati ditempat ini atau dia akan menjadi masalah bagimu atau Sekte Langit Kelabu secara keseluruhan," sahut Langui.
Pembicaraan mereka masih bisa didengar oleh Yao Han dan dia tidak berniat membiarkan ketiga musuhnya berbincang lebih jauh. Mengandalkan Langkah Angin Surgawi, Yao Han bergerak cepat mendekati ketiganya.
"Ck, apa kau tidak bisa menunggu sebentar saja?!" umpat Lulu, yang dibalas dengan satu ayunan kipas Gunbai.
Hantu gadis hijau itu terhempas beberapa meter. Yao Han bergerak cepat dengan melakukan hal yang sama pada hantu pria tua. Bedanya Yao Han menghantamkan langsung kipas Gunbai pada hantu biru itu.
"Argh!"
Langui menjerit kesakitan, tubuhnya terasa melepuh terkena Qi Yao Han yang menyelimuti kipas Gunbai, ditambah gerakan Yao Han begitu cepat sehingga sulit dihindari.
Wuneng juga tidak sempat bereaksi dan hasilnya dia mendapat tendangan begitu keras di perut.
"Beraninya kau menyakiti Wuneng!" Lulu menjerit marah. Rambut api hijaunya semakin menyala terang, "Rasakan ini-! Bola Api Hantu!"
Lulu mengibaskan rambutnya, kemudian muncul belasan bola api berwarna hijau yang melesat cepat ke arah Yao Han.
"Kecuali kau berada di Ranah Inti ke atas, maka bersiaplah menjadi abu!" seru Lulu.
Yao Han merasa bola api hijau itu memiliki hawa panas yang berbahaya, jadi dia berusaha menghindar dengan mengandalkan kelincahan. Meskipun berhasil menghindar, ternyata belasan bola api itu tetap mengejarnya, seolah memiliki pikiran sendiri.
Yao Han mengambil sebuah loncatan jauh lalu mengibaskan kipas Gunbai, 'Angin Musim Dingin!'
Satu ayunan itu berhasil menjauhkannya dari bola-bola api hijau, tetapi belum berhasil memusnahkannya.
"Merepotkan juga..." gumam Yao Han.
Yao Han mencoba fokus sejenak, perlahan kipas Gunbai diselimuti oleh api berwarna ungu kebiruan. Dia menggunakan api alkeminya.
Lulu memerintahkan bola-bola api hijaunya menyerang Yao Han kembali. Untungnya Yao Han sudah jauh lebih siap. Gerakan Yao Han kali ini seperti sedang bermain pedang, menebas setiap bola api hijau yang menyerangnya.
"Bagaimana bisa?!" Lulu menjerit tak percaya saat melihat serangan Yao Han berhasil memadamkan bola-bola api hijaunya.
Yao Han sedikit merasa lega dan berusaha memikirkan menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Diliriknya hantu pria biru, dia merasa hantu itu sedikit lebih lemah daripada Lulu.
Memanfaatkan Lulu yang masih terkejut, Yao Han bergerak cepat ke arah Langui. Kipasnya masih diselimuti api ungu kebiruan dan ditangan kirinya muncul petir biru keemasan.
"Musnahlah!" seru Yao Han.
"Argh!!!"
Langui menjerit kesakitan menerima gabungan dua serangan Yao Han. Dalam waktu cukup singkat, sengatan panas api alkemi dan petir biru keemasan itu mengubah Langui menjadi butiran cahaya. Hantu pria biru itu musnah seperti yang diharapkan Yao Han.
"Tidak!"
"Langui!"
Wuneng dan Lulu menjerit bersamaan melihat hantu peliharaan sekaligus rekan mereka musnah.
"Kau... berani-beraninya-!" Tindakan Yao Han memancing emosi Lulu lebih besar lagi, "Wuneng-! Gunakan irama musik kematian-!"
"A-apa? T-tapi..."
"Cepat!"
Wuneng menarik napas dalam, mencoba untuk tenang setelah kehilangan satu hantu kesayangannya. Bukannya menuruti permintaan Lulu, Wuneng malah mengeluarkan sebuah batu nisan kecil dan berlari ke arah hantu gadis hijau itu.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Kita pergi! Sungguh sial aku datang kemari!"
Wuneng menarik paksa Lulu ke batu nisan yang menjadi rumahnya, ditangan kirinya dia menggenggam sebuah batu kristal kecil berwarna biru yang kemudian diremasnya sampai hancur.
"Hm?"
Yao Han hanya melihat sambil menaikkan alis tanpa berniat menyerang Wuneng.
Tepat setelah Wuneng menghancurkan batu kristal, tubuhnya diselimuti Qi berwarna biru dan beberapa tarikan napas dia menghilang dari pandangan Yao Han dan lainnya.
"Ah, itu... Guru, apa dia baru saja menggunakan batu ruang?"
---