
Melihat benda di tangan Yao Han, Bing Lizi berkomentar pelan, "Oh, aku hampir lupa kau menemukan peninggalan Saudara Chen di gua ini," katanya sambil melirik Tian Jian.
Pada slip giok itu terdapat nama Chen Long dan sesuatu bertuliskan 'Serum Waktu', tetapi yang membuat Yao Han kebingungan adalah dia tidak bisa membaca sebagian besar penjelasan tentang 'Serum Waktu' ini, kecuali bagian awalnya saja.
"Serum Waktu? Apa ini? Kenapa sebagian besar tulisannya tidak bisa dibaca?" tanya Yao Han pada Tian Jian.
Pria berjulukan Raja Pedang Langit itu mengangkat bahu tanda tidak tahu. Justru yang menjawab adalah Bing Lizi.
"Kurasa itu adalah salah satu sihir ciptaan Saudara Chen. Berdasarkan nama sihirnya, itu berkaitan dengan hukum waktu, mengingat Saudara Chen juga menguasai sihir ruang dan waktu selain Saudara Xi."
Yao Han kemudian teringat pada saat dia baru saja menjadi pemilik pusaka pagoda yang menjadi pintu masuk Dimensi Pagoda. Saat itu Feng Xian mengatakan Chen Long menguasai sihir ruang dan waktu, terbukti dengan dia mampu mengubah komposisi ruang dan waktu dimensi saku menjadi sebuah pusaka pagoda.
"Perbedaan diantara keduanya adalah Saudara Xi lebih ahli dalam sihir ruang, sementara Saudara Chen lebih ahli dalam sihir waktu." Bing Lizi menambahkan keyakinan pendapatnya tentang sihir bernama Serum Waktu ciptaan Chen Long.
Meirong yang juga memperhatikan slip giok yang diberikan Tian Jian, kemudian ikut masuk ke dalam pembicaraan, "Han'er, bukankah pola ukiran slip giok itu mirip dengan slip giok yang diberikan Senior Feng padamu?"
Yao Han menoleh pada Meirong sejenak sebelum memperhatikan slip giok ditangannya lebih teliti.
"Eh? Guru Hong benar..." Yao Han kemudian mengeluarkan slip giok lain yang dimaksud Meirong. Benda ini diberikan Feng Xian beberapa hari sebelum Yao Han meninggalkan Pulau Bulan Bintang.
Selain memiliki kesamaan pada polanya ukirannya, slip giok yang diberikan Feng Xian sama sekali tidak terbaca jelas. Feng Xian sudah lama menemukannya dan meyakini benda itu termasuk salah satu peninggalan Chen Long yang tersebar di Negeri Hutan Hijau. Namun karena slip giok itu tidak berguna baginya, dia hanya menyimpannya sampai kemudian diberikan pada Yao Han.
Yang mengejutkan penghuni Gua Abadi itu adalah saat Yao Han mendekatkan dua slip giok, seolah kedua benda itu saling tarik menarik kemudian menyatu. Setelahnya benda tersebut bergetar dan kemudian memancarkan cahaya hijau menyilaukan, memaksa orang-orang disana melindungi indera penglihatan mereka.
"Aduh, ya ampun..." keluh Yao Han. Cahaya menyilaukan itu hanya muncul sebentar. Yao Han mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum melihat kembali ke arah slip giok pemberian Tian Jian dan Feng Xian.
"Ng?"
Dua slip giok itu benar-benar menyatu dengan sempurna secara ajaib. Yang ditangan Yao Han ada sebuah slip giok baru, berukuran sedikit lebih besar, tetap memiliki pola ukiran yang sama, hanya saja warnanya lebih terang, seperti warna mata hijau giok milik Yutian.
Uniknya, sekarang Yao Han bisa membaca dengan jelas isi slip giok tersebut. Meirong dan Yutian disisi kanannya dan kirinya, ikut membaca karena begitu penasaran. Bing Lizi juga ikut-ikutan, tetapi menggunakan Indera Surgawi karena tidak ingin berdesak-desakan.
Hening cukup lama setelah mereka membaca isi slip giok itu. Yao Han dan kedua gurunya masih mencoba mencerna isi slip giok tersebut, sampai kemudian terdengar suara tawa Bing Lizi.
"Apa ada yang lucu, Paman Guru Bing?" Yao Han mewakili isi kepala yang lain karena keheranan dengan reaksi Bing Lizi.
"Kau tentunya sudah menyimpulkan garis besar sihir Serum Waktu itu, bukan?"
Yao Han mengangguk pelan. Serum Waktu memang sihir unik yang berguna untuk mempercepat penuaan usia tanaman. Dalam penjelasan slip giok itu, wujud Serum Waktu berupa cairan yang memancarkan cahaya hijau giok.
Kelebihannya adalah siapapun yang menguasai sihir unik ini, selain Chen Long tentunya sebagai penciptanya, maka akan mendapatkan tanaman sihir berusia sesuai keinginan atau berusia sangat tua dengan begitu mudah.
"Tapi aku tidak menemukan sesuatu yang lucu."
"Benar tidak ada yang lucu, tetapi apa kau sudah mendengar tentang kebiasaan aneh Saudara Chen?"
"Maksudnya memakan tanaman sihir seperti camilan?"
Jawaban itu membuat Yao Han dan lainnya terpana.
"Tidak heran Senior Feng menyebut Senior Chen sebagai orang aneh dan juga gila. Salah satu alasannya karena ini." Yutian menghela napas sambil menggelengkan kepala.
***
"Senior Tian, apa kau keberatan mengajarkan Han'er ilmu pedang?"
Tian Jian terkejut dengan pertanyaan Meirong. Kedua alisnya terangkat dan menatap wanita cantik itu dengan pandangan aneh.
"Ini bukan masalah aku keberatan atau tidak, tetapi kau adalah guru Dao Pedang Han'er." Tian Jian mengikuti panggilan Meirong dan Yutian pada Yao Han, "Bukankah tidak etis jika aku juga mengajarinya ilmu pedang? Padahal dirimu menguasai ilmu pedang sama baiknya denganku."
"Jangan merendah, Senior. Anda harusnya tahu karena diriku perempuan, ilmu pedangku tidak terlalu cocok untuk Han'er. Dia akan kesulitan jika mempelajari ilmu pedang terbaikku atau ilmu pedangku secara keseluruhan. Ada baiknya jika Han'er bisa belajar Dao Pedang darimu dan beruntungnya langit mempertemukan kami denganmu."
"Hm..." Tian Jian mengelus dagu sambil menimbang keputusannya. Dia menatap Meirong sejenak, lalu berganti pada Yao Han yang juga menatapnya. Tian Jian bisa melihat ada cahaya antusias dan harapan di mata Yao Han pada dirinya, "Han'er, ikuti aku."
Tian Jian mengajak Yao Han keluar gua, yang kemudian diikuti Bing Lizi dan lainnya. Mereka berhenti tidak terlalu jauh dari gua. Tian Jian mengambil dua ranting kayu berukuran satu meter dan memberikan salah satunya pada Yao Han.
"Saudari Hong, aku tidak meragukan kemampuanmu dalam ilmu pedang, tetapi aku harap kau tidak keberatan atau tersinggung jika aku menguji Han'er dalam penguasaan ilmu pedang."
"Tidak masalah, Senior."
Bing Lizi dan lainnya memperhatikan keduanya sedikit jauh. Tian Jian dan Yao Han berdiri saling berhadapan, dipisahkan jarak beberapa langkah.
"Han'er, mari kita berlatih tanding ilmu pedang. Gunakan ranting itu sebaik mungkin." Tian Jian tersenyum penuh makna.
Yao Han mengangguk pelan sebelum memperhatikan ranting ditangannya. Terlihat begitu rapuh, kemungkinan besar akan langsung patah hanya dengan sekali adu.
Yao Han menarik napas dalam, lalu mengalirkan Qi unsur tanah dan logam bersamaan ke pedang ranting miliknya. Tian Jian menyadari tindakan Yao Han, membuatnya tersenyum tipis. Secara perlahan, raut wajah dan aura di sekitar Yao Han berubah.
"Bukankah mereka hanya berlatih tanding? Kenapa Xiao Han terlihat serius sekali?" Bing Lizi bergumam heran.
Meirong menjelaskan Yao Han berubah menjadi lebih serius saat berlatih tanding dengan mereka sejak Feng Xian melatihnya secara langsung.
"Pertarungan hidup dan mati saat berlatih tanding? Bahkan pada muridnya sendiri Saudara Feng terlalu berlebihan."
Catatan Author:
Akhirnya tembus 100 episode di umur novel Mortal to Immortal yang ke 100 hari!!!
Wohoooo!!!