
Catatan kecil berisi informasi singkat tentang novel Mortal to Immortal (MTI).
Tokoh utamanya bernama Yao Han. Memiliki lima akar roh murni unsur dasar, tubuh surgawi Tubuh Sembilan Bintang, dan mata surgawi Mata Tembus Pandang.
Guru resmi Yao Han ada tiga, yaitu Feng Xian, Dewi Pedang Api Hong Meirong, dan Pangeran Racun She Yutian. Guru tidak resminya ada Bing Lizi, Chen Long, Tian Jian, dan Xi Lei (segera).
Nama kota di Benua Bulan Biru (3 negeri besar: Negeri Awan Biru, Negeri Tanah Merah, dan Negeri Hutan Hijau):
Bukit Bunga, Harta Giok, Harta Langit, Harta Bumi, Musim Semi, Giok Ungu, Rubah Salju, Cahaya Bulan, Mawar Hitam, Bangau Merah, Rumput Besi, Merak Putih.
Jagoan kultivator terkuat Benua Bulan Biru terbagi menjadi 4:
Jagoan Pilar aliran putih, Jagoan Gerbang aliran hitam, Jagoan Raja aliran netral, dan Jagoan Empat Penjuru (tanpa aliran).
Jagoan aliran putih:
Pilar Cahaya Ji Guang, Pilar Bumi Wu Bai, Pilar Pedang Shen Jian, Pilar Api Huo Wang, dan Pilar Air Shui Rong.
Jagoan aliran hitam:
Gerbang Maut Yun Ming, Gerbang Darah Yue Song, Gerbang Hantu Gui Tian, Gerbang Iblis Mo Da, Gerbang Racun Xu Gang, dan Gerbang Guntur Lei Hai.
Jagoan aliran netral:
Raja Es Bing Houyi, Raja Harta Bao Fan, Raja Buas Wang Hao, Raja Pedang Langit Tian Jian, dan Raja Jimat Tang An.
Jagoan tanpa aliran:
Angin Timur Feng Xian, Es Utara Bing Lizi, Petir Barat Xi Lei, dan Naga Selatan Chen Long.
Generasi muda laki-laki:
Yao Han, Ji Wentian, Shen Qi, Shen Bai, Wu Shenghao, Wu Honghao, Bing Xinhai, Huo Li, Wang Bei, Bao Wei, Fang Jun, Xu Yang, Mo Feng, dan Gui Wuneng.
Generasi muda perempuan:
Peri Cahaya Huang Mingzhu, Peri Es Bing Xueyu, Peri Api Huo Lin, Peri Bunga Shui Hua, Peri Harta Qian Yue, Peri Awan Darah Yun Lian, Peri Racun Xu Yin, dan Tuan Putri Li Lanyun.
Sekte aliran putih:
Sekte Gunung Langit, Sekte Pedang Suci, Sekte Teratai Putih, Istana Bintang Api, dan Sekte Ombak Bunga.
Sekte aliran hitam:
Lembah Hati Racun, Sekte Awan Bulan, Sekte Langit Kelabu, Sekte Iblis Langit, dan Sekte Guntur Hitam.
Sekte/ kelompok aliran netral:
Benteng Es Utara, Sekte Taring Buas, dan Menara Harta Giok.
Tingkatan kultivasi:
Ranah Dasar - Ranah Pondasi - Ranah Inti - Ranah Jiwa - Ranah Abadi
Ranah Dasar (yang asli) terbagi lagi menjadi 20 tingkat. Setelah evolusi ratusan ribu tahun, menjadi hanya 15 tingkat (yang paling tinggi bisa dicapai).
Ranah Pondasi, ada lima jenis (bukan tingkatan) pondasi (yang asli): Pondasi Fana, Pondasi Bumi, Pondasi Langit, Pondasi Surgawi, dan Pondasi Abadi.
Ranah Inti, ada enam jenis inti berdasarkan warnanya: kuning, merah, biru, ungu, perak, dan emas.
Ranah Pondasi, Ranah Inti, dan Ranah Jiwa dibagi menjadi beberapa tingkatan yang lebih kecil: tahap awal, tahap menengah, tahap akhir, dan tahap puncak.
Untuk Ranah Jiwa, tingkatan tertingginya (setelah tahap puncak) adalah Ranah Jiwa Agung (sama seperti Nascent Soul Great-circle stage).
Ranah Abadi adalah tingkatan kultivasi tertinggi dalam novel MTI. Sekedar bocoran, Yao Han akan menjadi orang ketiga di seluruh Benua Bulan Biru yang akan mencapai tingkatan ini.
Tingkatan pusaka (revisi terbaru):
Fana - Bumi - Langit - Surgawi - Kuno - Abadi.
Tingkatan kualitas batu roh:
Batu roh kuning/ kualitas rendah, batu roh biru/ kualitas menengah, batu roh merah/ kualitas tinggi, dan batu roh ungu/ kualitas super.
Tingkatan kualitas pil kultivasi: normal - baik - super - sempurna.
Pil dan racun dibagi menjadi 10 kelas (revisi terbaru).
Peringkat dan julukan Alkemis dibagi berdasarkan pengalaman dan keberhasilan membuat pil kelas tertentu:
Alkemis Putih/ pemula (mempelajari dasar alkemi dan membuat bubuk obat )
Alkemis Perak (pil kelas 1 dan 2)
Alkemis Emas (pil kelas 3 dan 4)
Alkemis Giok (pil kelas 5 dan 6)
Raja Pil (pil kelas 7 dan 8)
Kaisar Pil (pil kelas 9 dan 10)
Harta Yao Han (saat catatan ini dibuat):
Manual praktik Kitab Bintang Surgawi (tersegel dalam pikiran)
Gelang ruang, pusaka Kuno
Cincin ruang, pusaka Bumi
Seruling giok, pusaka Bumi
Pedang Awan Putih, pusaka Surgawi
Pedang Raja Malam, pusaka Surgawi
Pedang Kaisar Langit, pusaka Abadi
Pagoda Bintang Merah, pusaka Abadi
Lain-lain:
Diantara ketiga guru resminya, Feng Xian adalah yang paling dia hormati dan Hong Meirong adalah yang paling dia sayangi. Yao Han juga menghormati She Yutian sebagai sosok ayah, meskipun hampir tidak pernah dia tunjukkan secara terang-terangan.
Jika harus memilih, Yao Han akan memilih Feng Xian sebagai guru satu-satunya, karena Feng Xian adalah penolongnya dan orang pertama yang dia temui setelah siuman.
Yao Han akan mewarisi (hampir) seluruh kemampuan guru resmi dan guru tidak resminya, bahkan menciptakan beberapa ilmu baru.
Yao Han akan menikah pada usia matang setelah mendapatkan mimpi aneh selama beberapa hari yang mengganggu pikiran dan hatinya.
*****
CUPLIKAN-CUPLIKAN:
Yao Han melayang diudara dengan berdiri diatas Kipas Dong Feng, sementara Jiu Jinyu juga ikut melayang didekatnya. Pandangan keduanya mengarah ke bawah mengamati keramaian.
"Bocah manusia berkepala nyaris botak itu memanggilmu namamu. Kau mengenalnya, Yao Zi?" tanya Jiu Jinyu datar tapi penasaran.
Yao Han mengangguk pelan, raut wajahnya juga datar dan cenderung dingin. "Ya, itu Saudara Shenghao, salah satu murid jenius Sekte Teratai Putih."
"Sekte Teratai Putih..." Jiu Jinyu berpikir sejenak. "Oh, sekte pemburu siluman dan beberapa kalangan hewan roh itu."
Ucapan Jiu Jinyu hanya dibalas anggukan pelan oleh Yao Han. Jiu Jinyu melirik sekilas pada pemuda disampingnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
***
"Senang bisa bertemu denganmu kembali, Saudara Yao." Shenghao menyapa Yao Han setelah mendarat didekatnya.
"Begitu juga denganku, Saudara Shenghao. Namun aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini."
Yao Han mengamati sekeliling setelah berkata demikian. Shenghao hanya bisa tersenyum kaku karena sikap dan nada bicara Yao Han tidak seperti yang diingatnya. Lebih dingin. Tanpa harus bertanya, Shenghao dapat memahami alasan perubahan sikap Yao Han.
"Saudara Shenghao, berapa lama waktu sejak terakhir kali kita bertemu?"
"Hm, aku tidak yakin, tapi kurasa sekitar sembilan bulan."
***
Yao Han dan semua orang diarea itu diam memperhatikan langit. Seluruh perhatian mereka saat ini terpusat pada langit yang tiba-tiba dipenuhi awan gelap, mendung pertanda hujan. Perubahan cuaca yang mendadak dalam waktu singkat membuat mereka terlihat kebingungan.
Tidak hanya awan gelap yang menutupi seluruh penjuru langit sejauh mata memandang, juga terdengar suara gemuruh saling bersahutan. Dari arah timur, angin berhembus cukup kencang. Sebagian besar dari mereka mengira akan ada badai, yang terasa aneh sekali jika benar terjadi.
"Ada apa, Yao Zi?" Jiu Jinyu yang tidak sengaja melirik ke arah Yao Han bertanya penasaran karena Yao Han terlihat tidak tenang.
"Entahlah, Senior. Mungkin hanya perasaanku saja dan kuharap itu salah..."
"Bicara apa kau? Aku sama sekali tidak mengerti."
Yao Han baru akan menjawab, tetapi terpotong saat awan gelap diatas langit tiba-tiba terbelah. Sesuatu berukuran besar dan bersinar biru turun dari balik awan gelap menuju area Yao Han dan lainnya berada.
Semua yang ada disana terkejut, tidak terkecuali Yao Han yang paling terkejut melihat sesuatu berukuran besar itu adalah sebuah tangan raksasa berwarna biru terang dengan kelima jarinya terbuka. Pada bagian telapaknya terdapat sebuah kata 'segel' berwarna emas.
"Apa-apaan itu?" Jiu Jinyu merinding melihat sebuah tangan raksasa itu.
"Aish..." Yao Han segera mendapatkan ketenangannya, lalu dengan cepat menoleh ke arah kultivator aliansi putih-netral dan berteriak, "Semuanya-! Cepat menghindar sejauh mungkin! Itu adalah salah satu teknik guruku!"
Tidak ada yang tidak melotot mendengar ucapan Yao Han. Itu artinya Angin Timur sedang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
Yao Han mengalirkan Qi pada kipas Dong Feng, membuat ukurannya menjadi tiga kali lebih besar lalu menarik Shenghao untuk naik ke atasnya.
Tanpa menunggu yang lain, Yao Han segera melesat menjauh menghindari tangan raksasa itu sambil membawa Shenghao. Satu tarikan napas berikutnya Jiu Jinyu melesat mengikuti Yao Han. Barulah yang lain ikut menyusul dengan secepat yang bisa mereka lakukan.
***
Yao Han menghela napas panjang setelah kondisinya cukup tenang. Meskipun terlihat cukup tenang, sebenarnya jantungnya berdebar kencang saat melihat salah satu teknik Feng Xian muncul secara tiba-tiba.
"Saudara Yao, apa itu tadi?" Shenghao bertanya dengan wajah pucat. Mendengar Yao Han menyebut tentang gurunya saja sudah membuatnya takut.
"Tapak Awan Penyegel Surga. Aku hanya pernah melihatnya sekali saat masih tinggal di Pulau Bulan Bintang."
Yao Han benar-benar tidak menyangka akan melihat Tapak Awan Penyegel Surga milik Feng Xian untuk kedua kalinya. Saat pertama kali melihatnya, Feng Xian menggunakan teknik itu untuk memberi pelajaran pada salah satu Raja Siluman berwujud burung kakaktua yang berulah, sekaligus untuk menunjukkan pada Yao Han salah satu teknik jarak jauh miliknya.
"Kurasa kita beruntung bisa terhindar dari teknik serangan gurumu, Saudara Yao..." Shenghao tersenyum kaku.
"Beruntung? Mungkin iya, tapi jika dibandingkan dengan Tapak Awan Penyegel Surga yang pertama kali kulihat, yang barusan tadi tidak ada apa-apanya. Mungkin sekitar sepuluh persen dari kekuatan aslinya."
Shenghao menatap Yao Han aneh, lalu Jiu Jinyu masuk ke dalam pembicaraan keduanya.
"Kurasa kalian beruntung karena adanya Yao Zi disisi kalian. Kalau tidak, kalian sudah akan menjadi korban guru anak ini." Jiu Jinyu berkata sinis, membuat Shenghao dan lainnya canggung.
"Setidaknya kita masih terhindar dari kematian untuk saat ini."
"Tapak Awan Penyegel Surga bukan teknik pembunuh, melainkan pelumpuh. Tidak akan ada yang mati, paling parah hanya sekarat. Namun, mungkin lebih baik mati daripada sekarat setelah terkena Tapak Awan Penyegel Surga."
Tidak terkecuali Jiu Jinyu, semuanya menatap Yao Han dengan aneh karena masih bersikap tenang sambil menjelaskan dengan santai. Dalam benak mereka berpikir ada yang salah dengan akal sehat Yao Han.
"Tapak Awan Penyegel Surga, ya... Sudah lama aku tidak melihatnya." Di Dimensi Pagoda, Chen Long berkomentar. "Jika berdasarkan waktu dunia luar, mungkin sudah dua ratus tahun sejak terakhir kali aku melihatnya."
Bing Lizi hanya mengangguk pelan, menyetujui ucapan Chen Long.
"Jika aku tidak salah ingat juga, Senior Feng pernah meratakan salah satu sekte menggunakan Tapak Awan Penyegel Surga. Kasihan sekali."
Yutian, Meirong, Tian Jian, dan Bo Lang hanya diam sambil tidak habis pikir dengan pola pikir keduanya yang membicarakan kehancuran salah satu sekte besar ditangan Feng Xian dengan begitu santai.
***
Tatapan Yao Han berkeliling melihat orang-orang dari aliansi putih-netral, sampai kemudian berhenti pada satu orang. Kedua alis Yao Han naik saat bertatapan dengan sepasang mata berwarna indah yang dimiliki oleh orang itu, yang tidak lain adalah Huang Mingzhu.
Kaki Yao Han kemudian melangkah mendekati rombongan Sekte Gunung Langit, membuat hampir semua orang memperhatikannya sambil menahan napas sekaligus penasaran.
Tidak sedikit yang menduga Yao Han berjalan ke arah rombongan Sekte Gunung Langit karena tertarik dengan keindahan paras Huang Mingzhu, sebab pandangan matanya tidak pernah terputus pada gadis itu.
"Ini pertama kalinya Han'er melihat seorang gadis sampai seperti itu. Apa dia tertarik dengannya?" Meirong bertanya penasaran.
"Kau tidak menyadarinya, Rongrong?" tanya Yutian, meskipun sebenarnya Meirong tidak membutuhkan jawaban dari Yutian.
"Menyadari apa?" tanya Meirong balik tanpa menghiraukan panggilan aneh Yutian padanya.
"Gadis kecil itu terlihat begitu mirip denganmu saat masih remaja."
"Benarkah?"
"Menurutmu? Kau pikir aku pikun? Padahal kita sudah pernah bertemu sejak remaja."
Meirong tidak menanggapi jawaban Yutian, melainkan kembali memperhatikan Huang Mingzhu dari Dimensi Pagoda.
***
"Kalau aku boleh tahu, apa hubungan Saudara Ji dan Nona Huang dengan Patriark Ji dan Senior Pilar Cahaya?" tanya Yao Han penuh minat.
Ji Wentian dan Huang Mingzhu saling melirik sejenak sebelum Ji Wentian yang menjawab.
"Patriark Ji adalah ayahku, sedangkan Tetua Agung yang juga dikenal sebagai Pilar Cahaya adalah ayah teman seperguruanku ini, Saudara Yao."
"Lebih tepatnya aku adalah anak angkat Pilar Cahaya." Huang Mingzhu menambahkan.
"Oh." Mata Yao Han sedikit melebar karena terkejut, lalu dia tersenyum lebar. "Begitu rupanya."
Yao Han mengamati keduanya selama beberapa saat sebelum mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan rombongan Sekte Gunung Langit.
"Aku hanya tidak menyangka, ada dua orang yang mewarisi sesuatu yang dimiliki oleh Dewi Pedang Api. Saudara Ji mewarisi Tubuh Roh Pedang dan Nona Huang mewarisi kecantikannya. Kurasa Sekte Gunung Langit akan memiliki Dewi Pedang Api kedua dalam diri Nona Huang."
Sebenarnya, dibandingkan terkejut dengan kata-kata Yao Han, mereka lebih terkejut dengan sikap dan pembawaannya. Tidak seperti Feng Xian yang dikenal luas tidak menyukai dan bersikap dingin pada orang-orang aliran putih, Yao Han justru sebaliknya.
Mereka disana hanya tidak mengetahui dengan baik Yao Han memang berbeda gurunya. Selain itu juga, sikap ramah dan hangat Yao Han pada rombongan Sekte Gunung Langit disebabkan Meirong berasal dari sekte itu. Bisa dibilang, Yao Han masih memiliki hubungan dengan mereka karena juga menjadi murid Meirong yang dulunya berasal dari Sekte Gunung Langit.
***
"Kalau begitu, sudah waktunya kita berpisah. Aku akan menuju Kota Musim Semi. Cepat atau lambat, kita akan bertemu kembali disana saat lelang diadakan."
Yao Han melesat pergi menggunakan Kipas Dong Feng bersama dengan Jiu Jinyu. Orang-orang disana hanya diam memperhatikan Yao Han sampai menghilang dari pandangan mata.
"Jadi, dialah murid Senior Angin Timur?" gumam Huang Mingzhu. "Mungkin pengamatanku salah, tapi tubuhnya memancarkan aura pedang samar. Selain Dao Alkemi, apa mungkin Saudara Yao juga mendalami Dao Pedang? Jika benar, dia seperti Bibi Guru Hong..."
***
"Lancang!"
BRAKKK!!!
Teriakan lantang yang diikuti suara keras hancurnya sebuah benda itu terdengar setelah Wang Hu selesai berkata-kata dengan nada meremehkan. Aura Sang Penakluk dan aura pembunuh terpancar kuat dari tubuh Yao Han, juga seluruh Qi miliknya. Pada saat itu, Yao Han melepaskan semua kekuatannya, yang membuat ruangan tempatnya berada bergetar hebat.
Emosi Yao Han tersulit karena ucapan Wang Hu yang merendahkan gurunya.
"Berani sekali kau bicara seperti itu tentang guruku?! Apa kau pikir karena Sekte Taring Buas adalah sekte bintang sepuluh sehingga aku takut?! Hah-! Kalian bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ujung kuku kaki guruku!"
Wang Hu mengerutkan dahi. Dia cukup terkejut dengan reaksi itu sekaligus tersinggung meskipun dia penasaran dengan latar belakang Yao Han yang belum diketahuinya.
"Berani kau berkata demikian tentang Sekte Taring Buas. Sebenarnya siapa kau dan dari mana asalmu, anak muda?" tanya Wang Hu yang berusaha menekan emosinya.
"Namaku Yao Han, murid Angin Timur Guru Feng Xian dari Pulau Bulan Bintang!"
Satu detik setelah Yao Han membuka identitasnya dengan suara lantang, suasana mendadak hening total. Tidak ada yang berani membuka suara setelah sebelumnya terdengar suara tarikan napas dingin dari sebagian besar orang disana.
"Aku tantang sekali lagi kau mengulangi kata-katamu tentang guruku!"
Angin Timur dan Pulau Bulan Bintang, dua hal yang sudah diketahui oleh umum dan hanya orang bodoh yang tidak mengetahuinya, membuat wajah Wang Hu pucat pasi, seolah darah meninggalkan wajah dan tubuhnya.
Mendadak tubuh Wang Hu menggigil ketakutan karena baru menyadari kesalahan fatal yang dia buat. Bukan hanya dia yang akan menerima akibatnya, juga Sekte Taring Buas secara keseluruhan.
Cukup lama hening sampai dipecahkan oleh suara tawa dan kata-kata dingin seseorang yang entah dari mana asalnya tapi terdengar oleh semua orang seolah berbicara tepat disamping telinga mereka.
"Hehehe, kurasa setelah ratusan tahun berlalu, akan ada satu sekte besar lagi yang lenyap di Benua Bulan Biru..."
Belum lagi semua orang sempat terkejut, guncangan hebat melanda seluruh penjuru Kota Musim Semi.
***
Sampai jumpa.