
Sudah cukup lama Yao Han berada di Kota Rubah Salju dan dia tidak berniat tinggal lebih lama. Mungkin akan menghabiskan dua atau tiga hari lagi, tetapi setelah kedatangan Feng Xian, Yao Han pikir dia sebaiknya pergi lebih cepat dan melanjutkan perjalannya.
Zhao Yi cukup kecewa dengan keputusan Yao Han. Dia berharap Yao Han bisa tinggal lebih lama bahkan selamanya. Dengan adanya Yao Han, suasana Kota Rubah Salju menjadi lebih hidup karena kedatangan banyak orang ke Rumah Pengobatan. Toko Harta Giok dan Restoran Nagarasa juga ikut kedatangan banyak pengunjung.
Namun tentu saja Zhao Yi tidak mengatakan niatnya untuk menahan Yao Han. Dia tidak berani dan hanya bisa berandai-andai. Setidaknya dia bisa mengenal Yao Han sedikit lebih dekat dan merasakan dampak positif dengan keberadaannya di kota ini.
Yao Han berniat pergi secara diam-diam agar tidak menarik perhatian, kemungkinan dimalam hari, tetapi dia memikirkan Rumah Pengobatannya. Jika dia menghilangkannya, maka orang lain akan bertanya-tanya dan mengetahui niat kepergiannya.
"Tidak perlu kau pikirkan, Saudara Yao. Tentang Rumah Pengobatanmu ini, serahkan saja padaku."
Yao Han tidak sungkan menerima bantuan Zhao Yi. "Terima kasih, Manajer Zhao. Jika begitu, aku akan merepotkanmu."
"Jangan sungkan. Apa kau ingin pergi malam ini?"
"Ya."
Setelah dirasa cukup menyampaikan beberapa hal, Zhao Yi berpamitan pada keduanya dan kembali ke toko untuk bekerja.
Sebelum dia pergi, Feng Xian menyuruhnya agar tidak ada orang yang mendatangi Rumah Pengobatan.
**
Yao Han kembali menutup Rumah Pengobatan dan Feng Xian langsung memasang formasi penghalang cukup luas.
Seluruh penghuni Dimensi Pagoda menampakkan diri bersamaan, termasuk Bo Lang.
"Senior Feng..."
Kecuali Bing Lizi, semua penghuni Dimensi Pagoda memberi salam pada Feng Xian, yang dibalas gumaman dan anggukan singkat. Pandangan Feng Xian lebih tertuju pada Bing Lizi yang tersenyum hangat ke arahnya.
"Kau masih begitu sehat, Saudara Feng."
Feng Xian ikut tersenyum hangat dan memberi salam. "Begitupun denganmu, Saudara Bing. Senang bisa bertemu kembali denganmu, teman lama."
Yao Han dan lainnya sangat terkejut karena ini pertama kalinya Feng Xian bersikap hangat dan sopan pada orang lain. Feng Xian terlihat menghormati Bing Lizi, terlepas dari nama besarnya sebagai Angin Timur. Namun jika diingat kembali, Feng Xian wajar bersikap demikian karena Bing Lizi berusia lebih tua darinya.
Bing Lizi tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Feng Xian. Sekali lagi, Yao Han dan lainnya dibuat takjub. Mungkin hanya Bing Lizi yang bersikap sedemikian akrab pada Feng Xian sampai bisa menepuk pundaknya dengan santai.
"Aku selalu bertanya-tanya dimana keberadaan kalian bertiga, tidak kusangka kau menjadi hewan roh. Kupikir hal ajaib seperti itu hanya menimpa pada dua orang ini saja." Feng Xian menunjuk pada Yutian dan Meirong.
"Anggap saja ini takdir dari langit. Setidaknya aku masih bisa bertahan hidup. Kurasa hidup sebagai hewan roh tidak buruk juga." Bing Lizi tertawa lagi lalu berubah wujud sejenak menjadi Kirin Es.
Feng Xian memperhatikan wujud Kirin Es itu selama beberapa detik. "Hm... kalau kau mau menjual tandukmu, harganya pasti bisa mencapai puluhan juta batu roh."
Bing Lizi berubah wujud kembali menjadi manusia sambil berdecak pelan. "Dasar gila harta. Meskipun bisa tumbuh kembali setelah dipotong, aku akan berpikir dua kali untuk menjualnya."
Bukannya tersinggung, Feng Xian justru tertawa seolah merasa Bing Lizi sedang melucu. "Memangnya apa yang salah dengan gila harta? Semakin banyak batu roh, semakin baik."
"Ya, ya, ya. Kau masih tidak pernah berubah. Untungnya, Xiao Han tidak meniru sifatmu ini."
Feng Xian kembali tertawa, kali ini lebih keras. "Dia sedikit mirip denganmu, Saudara Bing. Juga sedikit mirip dengan si Naga Tua. Meskipun aku adalah gurunya, tapi ada bagusnya anak nakal ini tidak meniru sifatku. Dan akan lebih baik begitu."
Feng Xian mengacak-acak rambut Yao Han dan Yao Han sengaja membiarkan, meskipun sebenarnya jengkel. Tidak seperti Meirong yang selalu mengelus rambut dan kepalanya dengan lembut penuh kasih sayang.
"Sebuah kehormatan bertemu denganmu, Senior Feng."
"Bersikaplah biasa. Aku rasa perlu berterima kasih padamu karena bersedia mengajari ilmu pedang monster kecil ini."
Tian Jian tersenyum tipis. "Aku bersedia karena dia murid yang berbakat. Aku belum pernah menemui anak muda yang bisa menyerap banyak ilmu seperti Xiao Han."
"Itu yang kuherankan. Memang pantas dia disebut monster kecil."
"Anda sungguh beruntung memiliki Xiao Han sebagai murid, Senior Feng."
"Entahlah. Kau bukan gurunya, tapi kau bisa menganggapnya sebagai muridmu karena kau mengajarinya ilmu pedang."
Feng Xian kemudian beralih pada Bo Lang. "Kau mengingatkanku dengan Xiao Ni. Aku tidak akan berkata banyak, tapi aku berpesan jagalah anak ini sebaik mungkin."
"Aku mengerti, Senior. Murid anda adalah penolongku dan sebagai pengikutnya, sudah kewajibanku melindungi Tuan Yao."
"Jangan terbebani dengan ucapanku, lakukan saja semampumu."
"Baik, Senior."
Feng Xian kembali ke pembawaan aslinya saat menoleh pada Yutian dan Meirong.
"Apa kalian masih suka berdebat hal tidak penting? Jangan suka merepotkan Xiao Han."
Yutian dan Meirong tersenyum canggung. "Senior, kapan kami merepotkan Han'er. Jangan menuduh sembarangan."
Tanggapan Yutian dibalas dengkusan jengkel. Sudah lama Feng Xian ingin menendang keluar Yutian atau Meirong dari Pulau Bulan Bintang. Namun dia selalu membatalkannya, karena Yao Han begitu menghormati kedua orang itu.
"Monster kecil, kalau kau dimasa depan menikah dengan putri Raja Es, kau juga akan menjadi bagian dari keluarga Saudara Bing." Feng Xian membahas hal berbeda.
"Hah? Maksudnya?"
"Oh, aku lupa bercerita. Saudara Bing berasal dari Benteng Es Utara, tapi memilih menjadi kultivator bebas dan kemudian dikenal sebagai Es Utara. Dia adalah kakak dari kakek buyut gadis kecil itu."
Semua tercengang karena baru mengetahui hal ini. Ternyata Bing Lizi masih berkaitan dengan Benteng Es Utara. Selain itu, dia juga masih berhubungan darah dengan Raja Es dan Putri Es.
Bing Lizi tersenyum penuh arti pada Yao Han. "Bagaimana menurutmu, Xiao Han? Aku akan senang kau bisa menjadi pasangan cucu buyutku."
Meskipun baru pertama kali melihat Bing Xueyu, Bing Lizi merasa gadis cantik itu akan cocok jika menjadi pasangan Yao Han, karena keduanya sama-sama berbakat tinggi.
"Paman Guru Bing, aku belum terpikirkan untuk menikah."
Feng Xian langsung menyahut. "Tidak masalah. Ada banyak pilihan gadis cantik, kau bisa memilih satu. Dua juga boleh, tiga juga tidak masalah, dan empat mungkin lebih baik."
"Guru Feng..." Yao Han tidak habis pikir dengan gurunya.
"Kau harus menikah, monster kecil. Kalau kau merasa sulit mencari pasangan, gurumu akan membantumu. Tenang saja."
- - -