
Berbeda dengan wajah Yutian yang kusut karena tidak kebagian arak, Meirong tersenyum begitu lebar. Yutian jelas tidak mendapat arak karena kalah taruhan dengan Meirong dalam perlombaan perburuan siluman sebelumnya.
"Han'er, bagaimana bisa kau kejam pada gurumu ini? Mana arak untukku?" Yutian mengulurkan tangannya.
Yao Han tidak menjawab dan melirik Meirong. Wanita cantik itu langsung mengerti maksud lirikan muridnya.
"Jangan pura-pura lupa, ular payah. Kau kalah taruhan denganku, jadi tidak ada arak untukmu selama seminggu ke depan."
Wajah Yutian semakin kusut mendengar ucapan Meirong.
"Kalian bertaruh apa?" Bing Lizi langsung bertanya karena penasaran. Yao Han yang mewakili kedua gurunya untuk menjawab dan setelah mendengar penjelasan Yao Han, Bing Lizi berdecak pelan, "Sungguh kekanakan."
Tian Jian berpendapat sama dengan Bing Lizi tetapi dia lebih tertarik menikmati Arak Persik Bulan daripada mengomentari sikap kekanakan Meirong dan Yutian. Meskipun dalam wujud roh, dia tetap bisa minum arak.
"Ini adalah arak terbaik yang pernah kuminum, hahaha!" Tian Jian tertawa lantang setelah menghabiskan satu tegukan arak.
Meirong melirik Yutian lagi, lalu berdecak pelan, "Han'er, berikan arak untuk ular jelek ini. Hari ini adalah hari keberuntunganmu bisa bertemu dengan Senior Bing dan Senior Tian, jangan dinodai oleh wajah jelek menjijikan ular bodoh ini."
Yao Han tersenyum canggung sebelum memberikan satu guci arak pada Yutian. Sang Gerbang Racun itu tersenyum lebar seolah menemukan harta berharga.
"Aih, selain cantik, Rongrong begitu baik padaku..." Yutian berniat mencubit pipi Meirong, yang segera ditepis wanita cantik itu. Tidak lupa Meirong mendaratkan satu pukulan di kepala Yutian.
"Mau apa kau? Jangan menyentuhku sembarangan dengan tangan kotormu itu. Menjijikkan. Berhentilah memberikan pujian tak bergunamu itu padaku." Meirong mendengkus keras.
"Hm, padahal aku hanya gemas. Kenapa kau tidak suka? Harusnya kau senang karena aku ini pria tampan."
"Oh, kau mau kupukul lagi, Yutian?" Meirong menunjukkan kepalan tangannya yang diselimuti Api Feniks.
"Baik, baik, lupakan." Yutian tidak lagi menggoda Meirong dan mulai minum Arak Persik Bulan.
Yao Han cekikikan, sedangkan Bing Lizi menggelengkan kepala. Dia kagum pada Yao Han yang bisa tahan dengan kelakuan kedua gurunya ini.
'Sebenarnya mereka ini sudah berdamai atau belum?'
Bing Lizi bisa membayangkan, selama di Pulau Bulan Bintang, Meirong dan Yutian seringkali berdebat untuk masalah sepele.
"Paman Guru Bing, aku berniat menghubungi Guru Feng. Apa anda ingin berbicara dengan beliau?" Yao Han menunjukkan benda berbentuk kotak persegi.
"Ah, giok suara itu..." Bing Lizi antusias melihat giok suara milik Yao Han, "Ternyata Saudara Feng memberikanmu benda itu..."
Giok suara ini bisa dibilang spesial karena hanya dimiliki Jagoan Empat Penjuru dan sudah dimodifikasi oleh Bing Lizi dan Chen Long. Kualitasnya bahkan diatas kualitas giok suara terbaik yang dimiliki sekte bintang sepuluh sekalipun. Milik Chen Long dan Bing Lizi hancur saat mereka berhadapan dengan kawanan Rubah Api Giok Berekor Sembilan.
Karena Yao Han membawa giok suara, Bing Lizi menerima tawaran pemuda itu. Bing Lizi mengambil posisi sedikit jauh, lalu mengalirkan Qi pada giok suara itu dan tidak lama tersambung ke Pulau Bulan Bintang.
***
"Diantara banyaknya guci arak yang kau simpan, kau hanya memberiku satu dan itupun aku hanya kebagian dua cangkir. Senior Feng, bukan hanya pelit, kau juga begitu kejam."
Feng Xian baru ingin meneguk arak yang kesekian, disaat yang sama terdengar suara keluhan seorang pria disampingnya.
Feng Xian tidak benar-benar tinggal sendiri di puncak gunung yang menjadi kediamannya di Pulau Bulan Bintang. Ada Xiao Ni, pria berwajah ramah yang memiliki wujud lain seekor Bangau Pelangi. (Baca episode 40 bagian akhir).
Tidak seperti Bing Lizi, Meirong, dan Yutian, Xiao Ni memang hewan roh seperti Bolang. Kekuatannya sudah mencapai Ranah Jiwa Agung. Yao Han dan kedua gurunya tidak pernah melihat Xiao Ni karena selama mereka disana, dia berdiam di hutan Pulau Bulan Bintang.
"Omong kosong apa yang kau katakan? Masih bagus aku mau berbagi satu guci arak denganmu daripada tidak sama sekali." Feng Xian menyahut santai.
Dalam situasi dan kondisi biasa, Xiao Ni akan menunjukkan wajah ramah, tetapi sifat Feng Xian yang pelit membuatnya kesal.
Xiao Ni ingin menanggapi, tetapi belum sempat dia mengeluarkan suara, giok suara Feng Xian menyala terang. Keduanya sedikit kaget tetapi hanya sebentar karena mengetahui Yao Han yang menghubungi Feng Xian.
"Oh, Xiao Han, akhirnya kau menghubungiku. Ada apa?" Feng Xian langsung menyapa lebih dahulu. Tidak mendapat jawaban membuat Feng Xian mengerutkan dahi, "Xiao Han?"
"Saudara Feng, senang bisa mendengar suaramu lagi. Apa kau bisa mengenaliku dari suaraku?"
Wajah tenang Feng Xian mendadak hilang, mengejutkan Xiao Ni, karena mengetahui hanya sedikit hal yang bisa membuat Feng Xian bereaksi demikian.
"Saudara Bing?!"
Xiao Ni terkejut lagi. Satu-satunya orang bermarga Bing yang dipanggil 'Saudara' oleh Feng Xian adalah Bing Lizi sang Es Utara.
Otak Xiao Ni langsung berputar cepat, 'Mungkinkah...'
Sementara itu diseberang yang berjauhan dari posisi keduanya, Bing Lizi tertawa lepas.
"Kenapa kau terkejut, Saudara Feng? Apa kau berpikir aku sudah mati karena seratus tahun tidak ada kabarnya? Justru aku yang terkejut saat bertemu dengan Xiao Han dan mengetahui anak muda itu ternyata muridmu."
Keterkejutan Feng Xian terbilang wajar. Jika Bing Lizi, Xi Lei, dan Chen Long tidak menghilang selama seratus tahun terakhir serta membawa giok suara khusus yang hanya dimiliki Jagoan Empat Penjuru, maka Feng Xian tidak bisa langsung menebak orang yang menghubunginya.
Setelah seratus tahun berlalu, adalah Yao Han yang memiliki giok suara khusus ini karena dia murid Feng Xian. Jadi Feng Xian bisa langsung menebak orang yang menghubunginya melalui giok suara adalah Yao Han. Namun siapa sangka hari ini dia mendapat kejutan tak terduga.
"Ah, jadi begitu. Kau bertemu dengan Xiao Han..."
Feng Xian merasa muridnya lebih beruntung darinya. Dulu saat dia beberapa kali keluar pulau untuk mencari keberadaan Jagoan Empat Penjuru selain dirinya, dia tidak menemukan petunjuk keberadaan mereka, kecuali peninggalan Chen Long. Sementara Yao Han baru pergi kurang dari enam bulan, sudah bisa bertemu dengan Bing Lizi.
"Aku ingat kau pergi berkelana bersama si Naga Tua aneh itu, Saudara Bing. Kemana sebenarnya kalian? Apa kalian menemui masalah dalam perjalanan sampai tidak ada kabarnya selama seratus tahun?"
"Ah, ceritanya panjang..."