Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 107 - Candaan Buruk



Xu Lao dan She Liu berpandangan sejenak setelah mendengar perkataan Feng Xian yang tanpa basa-basi itu. Perasaan mereka sedikit campur aduk, tetapi mereka senang mengetahui Feng Xian bersedia mendengarkan penjelasan mereka.


Terbukti dari tindakan Feng Xian yang meminta mereka mengikuti dirinya ke teras kediamannya. Xu Lao dan She Liu duduk berhadapan dengan Feng Xian.


"Kalian sudah jauh-jauh datang kemari, aku tuan rumah yang buruk jika tidak menjamu kalian, bukan?" Feng Xian tidak menunggu jawaban keduanya dan memanggil seseorang, "Xiao Ni-!"


Hanya selang beberapa tarikan napas, seorang pria dengan penampilan fisik sedikit lebih muda dari Feng Xian muncul dan mendekati mereka membawa peralatan minum teh.


Kehadirannya mengejutkan Xu Lao dan She Liu yang selama ini mengetahui Feng Xian tinggal sendirian di Pulau Bulan Bintang. Tidak hanya itu, dari tubuh Xiao Ni juga memancarkan aura kuat yang seolah sengaja tidak disembunyikan.


"Senior, dia ini..." She Liu melirik Xiao Ni penasaran.


Feng Xian tidak menjawab. Dia memberi kode pada Xiao Ni lewat lirikan mata.


"Para senior sekalian, namaku Xiao Ni, pengikut Senior Feng. Sebuah kehormatan bertemu dengan Kakek Kodok Senior Xu Lao dan Nenek Ular Senior She Liu." Xiao Ni memperkenalkan diri setelah menyajikan teh pada ketiga orang disana.


Cukup mengejutkan bagi keduanya bahwa Xiao Ni mengetahui julukan bahkan nama lengkap mereka, sesuatu yang tidak banyak diketahui orang luar sekte. Namun perhatian mereka lebih tertuju pada kata 'pengikut'.


"Pengikut?" Xu Lao dan She Liu mengerutkan dahi bersamaan, "Kupikir dia ini muridmu, Senior Feng." She Liu melanjutkan.


"Oh, kalian sudah mendengar tentang muridku? Kabar menyebar begitu cepat, padahal baru sebentar saja aku muncul kembali ke dunia luar, begitu pula dengan muridku."


Xu Lao dan She Liu sama-sama berpikir Feng Xian sedang berpura-pura bodoh, tidak tahu, dan terkejut.


"Ini memang sebuah kejutan Senior. Sebelumnya kami hanya mendengar kabar tentang dirimu dan baru mendengar tentang muridmu dalam perjalanan kemari. Muridmu memang hebat, dalam waktu singkat sudah mendapat julukan."


Feng Xian menaikkan sebelah alisnya, "Julukan? Apa maksudmu?"


"Eh, Senior tidak tahu? Kami mendengar muridmu dijuluki sebagai Tabib Teratai Biru."


Feng Xian terdiam sejenak sebelum tertawa lantang. Reaksinya mengejutkan Xu Lao dan She Liu, tetapi tidak dengan Xiao Ni yang tersenyum tipis.


Feng Xian belum mengetahui dengan jelas tindakan Yao Han sejak meninggalkan Pulau Bulan Bintang, tetapi dia mendapatkan sedikit gambaran saat mendengar julukan 'Tabib Teratai Biru' yang disematkan pada muridnya.


"Apa ada yang lucu, Senior?" tanya Xu Lao.


Tawa Feng Xian perlahan mereda lalu mengibaskan tangannya pelan beberapa kali, "Lupakan, tidak perlu kalian pikirkan. Minumlah Teh Rumput Perak ini, muridku sendiri yang meracik bahannya."


Memang setelah Xiao Ni selesai menyajikan teh untuk para tamu, Xu Lao dan She Liu tergoda dengan aroma teh yang harum. Setelah merasakan sedikit teh itu, pikiran Xu Lao dan She Liu menjadi sedikit lebih tenang dan tubuh mereka lebih santai.


Feng Xian sengaja meminta Xiao Ni menyajikan Teh Rumput Perak setelah merasakan kehadiran keduanya, karena merasa sayang jika menyajikan Arak Persik Bulan untuk tamu. Tentu saja Xiao Ni memahami betapa pelitnya Feng Xian untuk arak sekalipun.


"Tidak perlu berbasa-basi, jadi ceritakan maksud kalian kemari."


Xu Lao dan She Liu berdeham pelan menutupi kecanggungan mereka, Feng Xian seolah bisa membaca pikiran mereka. Kemudian Xu Lao yang menyampaikan keperluan keduanya.


Tanpa berpikir dua kali melihat sikap terbuka Feng Xian yang tidak disangka keduanya, Xu Lao langsung menceritakan semuanya, termasuk segala cara yang dilakukan pihak Lembah Hati Racun untuk menangani kondisi Xu Yang.


Feng Xian mendengarkan dengan cermat tanpa memotong. Cerita Xu Lao mungkin terlalu rinci, tetapi itu memudahkan Feng Xian berpikir cepat mengenai penanganan racun dalam tubuh Xu Yang.


Selesai mendengarkan cerita itu, Feng Xian menghela napas panjang dengan raut wajah serius, membuat Xu Lao dan She Liu waspada.


"Senior, kami harap anda bersedia membantu." Xu Lao harap-harap cemas.


Feng Xian justru tertawa pelan dan menyeringai, "Nyawa putra Patriark tentulah sangat penting. Anggaplah aku mau membantu, apa kalian bersedia membayarku dengan separuh harta Lembah Hati Racun?"


Xu Lao, She Liu, dan Xiao Ni terbatuk-batuk bersamaan, bahkan Xiao Ni mempelototi Feng Xian.


"Senior Feng-! Kau keterlaluan sekali!" Xiao Ni sampai menunjuk Feng Xian, "Dasar manusia serakah! Tamak! Gila harta!" Xiao Ni seolah melampiaskan semua emosinya.


Reaksi Feng Xian? Dia hanya mengangkat bahu santai tanpa merasa tersinggung sama sekali. Xu Lao dan She Liu lebih terkejut dengan ucapan Feng Xian sebelumnya dibandingkan reaksi Xiao Ni terhadap Feng Xian.


Xu Lao menelan ludah gugup, "Senior..."


Feng Xian mengangkat tangan, menghentikan 'rengekan' Xu Lao.


"Anggap saja aku sedang bercanda tadi."


Xu Lao dan She Liu langsung tersenyum canggung, sedangkan Xiao Ni mendengkus pelan. Dalam hati, mereka merutuki candaan Feng Xian.


'Senior Feng memiliki selera humor yang buruk.' Sulit untuk bisa menebak apakah Feng Xian sedang bercanda atau tidak.


"Kembali pada masalah bocah bernama Xu Yang ini. Jujur saja, dia beruntung karena langit masih mengasihinya. Kondisinya sangat buruk dan aku belum tentu bisa menyembuhkannya dengan pil buatanku. Proses penyembuhannya terbilang rumit dan memakan waktu yang tidak sebentar. Karena tidak bisa langsung disembuhkan begitu saja, jadi harus dilakukan beberapa kali sampai dia sembuh sempurna."


Jawaban Feng Xian seperti sambaran petir di siang bolong bagi Xu Lao dan She Liu. Meski menyadari buruknya kondisi Xu Yang, mereka tidak menyangka Feng Xian sekalipun ragu dengan kemampuan penyembuhannya.


Feng Xian tersenyum tipis melihat raut wajah buruk kedua tangannya.


"Sebenarnya ada satu orang yang mampu menyembuhkan cicit kalian itu. Penanganannya dalam racun lebih baik dariku dan waktu yang dibutuhkan dalam prosesnya terbilang singkat. Dan yang terpenting... kalian tidak perlu mengeluarkan bayaran separuh harta sekte kalian."


Feng Xian tertawa kecil diujung kalimatnya. Dia tidak menyadari sudah mempermainkan perasaan dua orang sepuh didepannya.


"Maafkan aku, Senior Feng, sepertinya tadi aku salah mendengar. Ada yang melampaui kemampuanmu dalam pengobatan? Siapa dia?" She Liu bertanya ragu. Dia cukup takjub mendengar pujian tak langsung Feng Xian pada orang lain.


"Tentu saja ada. Sejujurnya sulit aku mengakui ini, tetapi dia akan melampauiku dimasa depan. Ah, tidak, kurasa sudah cukup lama dia melampauiku. Seiring berjalannya waktu, kemampuannya akan semakin matang."


She Liu sedikit menyipitkan matanya, "Senior Feng, orang yang dirimu maksud ini... jangan bilang adalah muridmu?"